
Sementara itu, mobil yang dikendarai Yuda sudah mulai memasuki kawasan X, Cafe yang akan dikunjungi Yuda merupakan salah satu cafe elite yang cukup terkenal di daerah itu dan menjadi salah satu tempat favorit untuk nongkrong, sekedar menghabiskan waktu bersama teman ataupun keluarga. Tidak heran baik siang ataupun malam selalu ramai dikunjungi pembeli. Seperti siang ini, Yuda terlihat sedang celingukan mencari tempat yang kosong untuk memarkir mobilnya, karena kawasan parkir terlihat tidak ada sedikit ruangpun untuk kendaraannya.
Seorang petugas parkir mempersilahkan Yuda untuk mengikutinya. Tempat parkir kosong yang ditunjukkan lumayan jauh dari pintu masuk cafe. Pantas saja masih ada ruang untuk kendaraannya, karena jika tidak terpaksa, pasti pengunjung malas jika harus memarkir kendaraannya di sana.
" Mas ada ojeg nggak di sekitar sini?" Menyapa petugas parkir saat baru saja turun.
" Ojeg sih ada pak, tapi harus ke depan dulu. Tuh, biasanya mangkal di perempatan depan sana." Sambil memberi arah dengan jari telunjuknya.
" Tolong bisa panggilin nggak mas, saya males jalan ke arah pintu masuk cafe." Memasang muka serius. Petugas parkir bengong sesaat, lalu terbahak dan baru sadar dia sedang dikerjai Yuda.
" Hahaha..bapak ini ada-ada saja."
" Lagian jauh amat bikin parkiran, kenapa nggak sekalian di pusat kota sana." Sambil ngeloyor pergi. Mas parkir hanya nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Yuda terus berjala. Hingga saat di pintu masuk, dua orang waitress menyapanya ramah.
" Selamat siang Pak!!"
__ADS_1
" Siang!!"
" Buat berapa orang Pak?" Salah satu petugas mengajukan pertanyaan.
" Dua orang, Mbak."
" Minta di luar ruangan, atau yang ber-ac?"
" Di luar aja mbak, pakai ac alami." Canda Yuda.
Karena Yuda termasuk perokok akut, tidak mungkin dia akan memesan di dalam ruangan ber-ac, bisa-bisa dia diusir dengan tidak hormat karena telah menimbulkan polusi udara.
" Silahkan duduk Pak." Menarik kursi dan meletakkan buku menu di hadapan Yuda.
" Silahkan Bapak tulis pesanan Bapak di kertas ini dulu, sambil menunggu petugas yang kemari."
" Terimakasih Mbak."
__ADS_1
" Sama-sama Pak, saya permisi."
" Silahkan Mbak."
Lalu Yuda membolak-balikkan buku menu, membaca satu persatu nama makanan yang tersedia di cafe tersebut. Perlahan perut Yuda berbunyi nyaring, sepertinya cacing yang berada di dalam sudah menagih minta diisi, ditambah dengan gambar makanan yang ada di hadapannya itu benar-benar mengundang selera. Yuda terus membolak-balikan buku tersebut, dan berpindah ke menu minuman. Dia memang berniat menunggu Maya terlebih dahulu sebelum memesan makanan.
Tak lama petugas yang disebutkan datang. Sembari menunggu Maya datang, dia memesan secangkir kopi.
" Ini dulu saja Mbak."
" Baik Pak, tidak ada tambahan lagi?"
" Nanti saja Mbak, sambil menunggu teman saya datang." Kata Yuda kemudian.
" Baik Pak, pesanan Bapak akan segera kami proses, mohon tunggu sebentar Pak." Sambil membungkuk sebentar, lalu undur diri.
" Tidak salah memang cafe pilihan Maya, dari dulu seleranya memang jempolan." bathin Yuda dalam hati memuji kelebihan mantannya itu.
__ADS_1
Yuda kemudian menyulut rokok, dan menyibukkan diri bersama benda segiempat yang selalu setia mendampingi dimanapun dia berada. Bahkan kehadirannya melebihi pentingnya kehadiran Arin yang siap melayaninya 24 jam. Sungguh jaman yang aneh, kedudukan manusia bahkan lebih berharga dari sebuah benda.