CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PERTENGKARAN


__ADS_3

Arin langsung naik ke dalam taksi yang baru saja dia hentikan, dia sudah tidak perduli lagi Yuda berteriak-teriak memanggilnya seperti orang kesurupan. Padahal saat itu Yuda marah besar, tapi Arin tetap pergi.


Ingin rasanya menangis, namun sekuat tenaga ditahannya. Arin tidak mau jadi tontonan gratis supir taksi bak sinetron melankolis di tv-tv. Arin menatap ke jendela samping, mencoba mengontrol emosi yang sebenarnya sudah mencapai level tertinggi. Ibarat ada sebuah bom waktu di kepalanya yang siap meluluhlantakkan bumi dalam hitungan detik.


Perjalanan ke rumah kakaknya sebenarnya masih jauh, ditambah jalanan yang sedikit macet, sudah bisa dipastikan argo akan melesat naik seperti roket. Padahal dia memiliki aplikasi angkutan yang lebih murah, namun tadi tidak sempat terpikir.


" Terimakasih pak." Seraya membuka pintu taksi yang baru saja dinaikinya.


" Sama-sama bu."


Arin berjalan menuju rumah minimalis yang terlihat asri. Kakaknya memang suka sekali tanaman. Rumahnya dipenuhi aneka macam bunga warna warni, sehingga terlihat indah dan menarik.


" Assalamualaikum!" Arin langsung masuk ke dalam pintu rumah yang terbuka itu.


" Wa'alaikum salam!" Terdengar teriakan kakaknya dari dalam.


" Hei...!! Tumben kesini!!" Sisi keluar dari arah dapur, dan masih terlihat kerepotanan dengan adonan tepung yang belepotan di tangan.


" Iya, pengen aja." Jawab Arin sambil mengikuti kakaknya ke dapur.


" Bikin apa mbak? kok kayak habis perang gitu?"


" Ini Mas Erwin minta dibikinin brownis, mau bantuin?"


" Ogahhhh!!" Jawab Arin tanpa basa basi.


" Kamu tuh nggak berubah dari dulu ya, paling malas kalau disuruh masak."


" Aku dan mas yuda kan nggak suka ngemil, jadi nggak perlu repot-repot dong di dapur tiap hari."


" Iya, kamu mah sukanya praktis."


" Emang iya, di toko banyak hahaha."


" Dasar cewek kok males masak."


" Biarin yeee."


Arin dan Sisi memang berbeda. Jika disuruh memilih, Arin lebih suka kegiatan fisik dan mengeksplor alam dibanding memasak di dapur.


" Udah ada yang jadi belum? lihat sini aku cicipi."


" Yeee katanya nggak suka ngemil?"


" Nggak suka sih, tapi kalau sekedar nyicip kan nggak papa hehehe."


" Tuh udah ada yang jadi, tinggal masukin satu ini lagi, selesai deh!" Sambil membuka oven, lalu memasukkan adonan yang telah siap ke dalamnya.


" Darimana kamu? kok tampilannya kayak mau ke pesta?" Sembari meletakkan irisan brownis di hadapan Arin. Arin mencomotnya satu, dan langsung melahapnya.


" Hemmmm....enak mbak!"


" Enaklah bikinnya kan pakai bumbu cintahhhh!!"


" Idihhh biasa aja sih bibirnya, nggak usah sok manis gitu."


" Hihihi emang manis."


Sisi lalu membasuh tangannya, kemudian menarik kursi yang ada di hadapan Arin.


" Ada apa?"


" Ada apa gimana mbak?"


" Udah...nggak usah pura-pura. Kamu itu jarang banget kesini kalau nggak ada sesuatu."

__ADS_1


" Hemmmm....nyindir nih mentang-mentang aku jarang kesini!!"


" Bukannya nyindir, mbak kan kenal watak suamimu."


Arin menarik nafas. Arin memang jarang sekali mengunjungi kakaknya itu, paling mereka berdua hanya berkomunikasi melalui telfon. Padahal Arin dan Sisi sangat dekat. Saat belum menikah, kemanapun mereka selalu berdua. Bahkan tidak pernah ada rahasia yang mereka sembunyikan satu sama lain. Namun setelah beberapa tahun menikah, Yuda berubah, dan akhirnya Arin jadi jarang sekali bertemu kakaknya itu.


" Ibu ada di rumah kak?" Arin mengalihkan pembicaraan.


" Aku kangen ibu kak."


" Ya udah, pulanglah!"


" Hehhh...Mas Yuda sibuk!!"


" Kan kamu bisa bawa mobil sendiri. Ehhh...jangan!! nanti suamimu ngomel-ngomel lagi." Sisi meralat kalimatnya.


" Mbak ini apa sih!!"


" Hahaha...ya emang gitu kan!"


" Kamu lagi berantem ya? ayo cerita sama mbak, nggak usah ngeles gitu."


" Mbak sok tau!"


" Kamu tuh nggak bisa bohongin mbak. Kita itu besar bareng, ngapain aja bareng, jadi kamu nggak akan bisa bohongin mbak Rin!!"


" Beneran ya habis berantem?"


Arin menarik nafas panjang.


" Kasih tau nggak ya??"


" Yeee bodo amat, nggak ngasih tau juga nggak ngefek tuh!!"


" Kenapa sih?" Wajah Sisi berubah serius.


" Berantem lagi?"


" Iya mbak!"


" Kenapa ? masalah makanan? masalah bikin kopi? atau masalah rokoknya yang lupa kamu bawa?"


" Ihhh mbak nih, kenapa hal-hal receh gitu sih yang ada di pikiran mbak!!"


" Lahhh kan emang gitu. Suamimu selalu mempermasalahkan hal receh yang seharusnya bisa diatasi dengan mudah kan?"


" Iya juga sih!!"


" Tapi kali ini bukan masalah itu."


" Terus masalah apa? pelakor?"


" Bukan mbak!"


" Lalu?"


" Masalah kelamaan nungguin aku." Sambil mencomot lagi brownis yang disediakan kakaknya.


" Hahaha...tetep aja receh. Apa nggak ada sih permasalahan yang lebih berkwalitas dikit? misalnya kdrt, atau apalah."


" Idih amit-amit!! malah doain yang serem-serem gitu."


" Ya bukan begitu. Kenapa hal nggak penting harus jadi masalah? apa karena hidup kalian udah sangat sempurna, jadi pengen ngerasain sensasi lain?"


" Nggak gitu juga mbak."

__ADS_1


" Terus apa?"


" Buatku ini udah sangat keterlaluan, dan amat sangat menyebalkan mbak!" Arin menceritakan semua kronologinya.


" Coba kalau mbak jadi aku, gimana coba rasanya selalu disalahin kayak gitu?"


" Yahhh memang menyebalkan sih. Tapi dalam rumah tangga kalau mau tetap utuh, jangan saling cari kesalahan, tapi carilah cara untuk mencari jalan keluar dari kesalahan itu. Kalau terus saling menyalahkan dan nggak ada yang mau ngalah, ya jadinya begini."


" Tapi aku udah sering ngalah mbak."


" Mengalah dalam sebuah rumah tangga jangan pernah diperhitungkan Rin. Kalau yang satu keras, yang satunya harus lunak."


" Apa harus terus begitu mbak? sampai kapan?"


" Sampai suamimu benar-benar menyadari kesalahannya."


" Kalau dia nggak sadar-sadar?"


" Kamu harus bisa terima kalau mau rumah tanggamu nggak berantakan."


" Mbak itu udah tau dari awal kalau sifat suamimu itu keras, dan orang keras jika dilawan dengan kekerasan justru dia akan tambah menjjadi."


" Jadi intinya aku harus terima dengan keadaan ini? dan terus menunggu dia sadar?"


" Ya memang harus begitu Rin. Biasanya orang yang keras kepala dan egois itu, jarang mau mendengar pendapat orang lain. Dia akan sadar jika sudah mentok dan merasakan akibat dari perbuatannya sendiri."


" Rin, apapun dan bagaimanapun dia tetep suamimu, dia juga pilihan kamu. Kamu harus pulang. Karena kalau tidak, dia akan semakin marah besar."


" Nggak mbak, aku malas pulang!"


" Kamu kenal kan watak Yuda? dia nggak akan mungkin mengalah dan mencarimu. Justru dia akan lebih rela lepasin kamu, daripada memintamu pulang. Karena menurut dia, sikapmu itu udah merendahkan harga dirinya."


" Kenapa sih dia seegois itu mbak?"


" Sifat Rin, jika sudah sifatnya akan sulit dirubah. Apalagi dia merasa sebagai kepala rumah tangga maka kamu harus mengikuti aturan, dan tidak boleh membantahnya."


" Kenapa dia nggak bisa sedikit aja ngertiin aku mbak? Dia sombong dengan semua yang dimilikinya saat ini. Dia seperti sudah merasa hebat dengan kesuksesannya. Dia berpikir bahwa dengan mencukupiku, dia bisa memperlakukanku seenaknya!"


" Doa Rin, semoga dengan kamu terus berdoa sama Allah, dia bisa sadar dengan sendirinya."


" Mbak nggak akan ijinin kamu di sini kalau keadaan rumah tanggamu sedang kacau. Pulanglah, dan selesaikan masalahmu!"


" Tapi mbak, dia akan semakin besar kepala!"


" Inget Rin, cuma mengalah dan bersabar yang bisa menyelamatkan pernikahanmu dengan Yuda."


" Tapi aku pengen nginep di sini aja semalem mbak, boleh ya?"


" Nggak Rin!! Jangankan semalam, kamu pergi ninggalin dia aja, dia udah amat murka, apalagi sampai kamu nggak pulang. Mbak nggak mau jadi orang ketiga yang memperkeruh masalahmu. Pulang ya?"


Arin cuma menunduk saja. Benar apa yang dikatakan kakaknya. Dia sudah bisa membayangkan, saat dia pergi tadi Yuda pasti sangat marah, dan menganggap Arin melawannya. Suaminya tidak pernah bisa mengontrol emosinya, dan selalu saja menyalahkan orang lain jika terjadi masalah, dan bukannya intropeksi diri.


" Ya udah mbak, aku pulang ya."


" Kamu jangan tersinggung ya? ini demi kebaikanmu juga."


" Nggak kok mbak."


" Sabar ya Rin!"


" Inshaallah mbak, semoga kesabaranku ini nggak pernah habis." Sembari berjalan keluar.


" Ehhhh kamu naik apa?"


" Aku pesan lewat aplikasi aja." Kata Arin sambil mengeluarkan hpnya. Sisi hanya memperhatikan adiknya dengan iba. Arin memiliki apa saja, tapi satu yang tidak dia miliki, yaitu rasa nyaman berada di samping suaminya.

__ADS_1


__ADS_2