
" Selama pergi bersama teman-temannya, Arin sama sekali tidak bisa menikmati kebersamaan dengan mereka. Dia malah sibuk memikirkan Brian yang saat ini berada di hotel sendirian. Arin malah membayangkan apa yang sedang dilakukan Brian saat ini. Arin terus gelisah, bahkan dia tidak nyambung dengan apa yang sedang dibicarakan teman-temannya. Arin lalu mengeluarkan hpnya dan mengirim wa pada Brian.
" Yank....kamu lagi ngapain, aku....??" Baru saja ingin mengetik lagi, tiba-tiba Yuda menelfonnya. Arin segera mengangkatnya, dan tidak menyelesaikan tulisannya, karena dia tau Yuda sedang mengeceknya dan dia paling tidak suka jika Arin lama mengangkat telfonnya.
" Mas?"
" Lagi dimana kamu?"
" Idihhh pertanyaannya ga bisa ya kalem dikit? selalu aja gas pol." Kata Arin dalam hati.
" Aku lagi sama temen-temenku, nih mereka!!" Arin lalu membalik kameranya menggunakan kamera belakang, dan mengeshoot teman-temannya.
Kebetulan Yuda dulu sudah pernah dikenalkan pada teman-teman Arin, dan sudah sering bertemu mereka, maka Yuda sudah percaya jika bersama mereka Arin akan aman-aman saja.
" Emang lagi dimana?" Yuda melanjutkan pertanyaannya. Arin kemudian sedikit menjauh, karena suara teman-temannya membuat dia tidak bisa mendengar suara Yuda.
" Ini lagi di cafe X mas, pada ngajakin makan."
" Habis itu kemana lagi?"
" Belum tau mas. Tergantung mereka pengen ngajak kemana."
" Besok pergi sama mereka lagi?"
" Kalau mereka bisa, tapi kalau pada sibuk mungkin aku keliling-keliling sendiri aja."
" Oh ya udah. Kamu udah pesen tiket pulang?"
" Udah mas, hari minggu siang aku pulang."
" Sekarang hari apa ya?"
" Sekarang kamis mas."
" Oh iya. Ya udah kalau gitu."
" Iya mas." Yuda lalu menutup telfonnya dan tetap dengan kebiasaannya yang tanpa basa basi ataupun salam. Arin lalu berjalan ke arah teman-temannya lagi.
" Siapa Rin?" Alma teman akrabnya semasa kuliah menanyainya.
" Suamiku."
" Ohhh...masih konsinten ga dia?"
" Konsisten apanya?"
__ADS_1
" Konsisten galaknya hahaha."
" Issshhhh sialan kamu." Alma memang sudah tau semuanya, karena Arin sering menceritakan kesedihannya pada sahabatnya itu. Sebelum memasukkan hpnya ke dalam tas, dia membuka lagi wa-nya, dan ternyata wa yang dia tulis tadi belum selesai, maka Arin melanjutkan tulisannya dan mengirimkan pada Brian.
" Kemana dia? atau jangan-jangan lagi tidur?" Arin mencoba menerka-nerka, apa yang sedang dilakukan kekasihnya itu.
" Kenapa sih Rin? kok kayaknya nya kamu lagi bingung?"
" Nggak Al, nggak apa-apa." Lalu Arin memasukkan kembali hpnya ke dalam tas.
" Bisa bahaya kalau Alma tau aku di sini sama Brian." Kata Arin dalam hati.
" Nggak apanya? Dari tadi tuh aku perhatiin kamu kayak gelisah gitu, ada apa? apa ada yang kamu pikirin?"
Alma sangat tau watak Arin, mereka sudah lama bersahabat. Padahal jika sedang kumpul begini, Arin biasanya akan sangat antusias namun kali ini terlihat beda, bahkan seperti tidak menikmati kebersamaan mereka.
" Beneran Al, aku nggak papa."
" Ya udah kslau nggak mau cerita, cuma aku tetep nggak percaya kalau kamu baik-baik aja." Kata Alma lagi.
Arin diam saja. Arin memang tidak bisa menyembunyikan sedikitpun rahasia pada sahabatnya itu, apapun selalu dia ceritakan walaupun sekarang mereka tidak bersama-sama lagi. Namun untuk kali ini, Arin tidak mungkin menceritakan perselingkuhannya dengan Brian pada Alma.
Sementara itu Brian sedang asyik berjalan sendiri menyusuri pertokoan yang tidak jauh dari hotelnya. Tiba-tiba saja matanya berhenti pada sebuah patung yang ada di dalam toko busana muslim. Brian mendekati patung tersebut, dan diamatinya model baju yang melekat pada patung itu.
" Hemmmmm....baju itu bagus banget. Pasti Arin kelihatan cantik kalau pakai itu." Yang ada di pikiran Brian saat ini hanya Arin, Arin dan Arin. Dia bahkan tidak ingat, mungkin istrinyapun juga pantas memakai baju itu.
" Oh iya mas!"
" Saya lihat yang ini." Sembari menunjuk patung yang ada di sebelahnya.
" Oh iya mas, ukurannya apa ya?" Brian sedikit mengingat-ingat ukuran baju yang pas untuk Arin.
" Aduh...apa ya mbak, saya nggak tau."
" Orangnya sebesar saya?"
" Tinggi lagi sih mbak, sekitar 165 cm."
" Yang L aja ya pak, takutnya kl yang lebih kecil nanti panjangnya nggak pas, kalau kebesaran kan masih bisa dikecilin."
" Oh iya mbak."
" Sebentar saya ambilkan ya mas!"
" Iya mbak."
__ADS_1
Kemudian pelayan tersebut meninggalkan Brian, tak lama kemudian dia sudah kembali sambil membawa baju yang diminta Brian.
" Ini mas, ada 3 warna. Silahkan mas lihat dulu."
Brian lalu memeriksa baju itu.
" Yang ini aja mbak."
Brian memilih warna baju coklat muda yang pertama dilihatnya di patung tadi.
" Baik mas." Kemudian kasir tersebut memasukkan baju ke dalam kantong.
" Ini mas, langsung bayar di kasir aja!"
" Makasih mbak!"
" Sama-sama mas."
Type pria dimana-mana hampir sama, tidak terlalu pusing dan terlalu njelimet dalam memilih pakaian, tidak seperti perempuan yang jika memilih satu baju saja bisa berjam-jam di dalam toko.
Brian keluar toko sambil menenteng plastik yang berisi baju tadi. Padahal selama menikah dengan Mirna, belum pernah sekalipun dia pergi sendiri seperti ini, dan memilih baju untuk istrinya. Palingan mereka pergi berdua, dan Mirna hanya meminta pendapatnya saja.
" Hemmmm....semoga Arin suka." Bathinnya dalam hati.
" Kriiinggg....!!!" Tiba-tiba hpnya berbunyi. Dilihatnya Mirna sedang menelfon.
" Mas?"
" Lho mas lagi di mana? kok kayak di pasar?"
" Iya emang. Lagi nyari makan. Hotelku kan deket pasar."
" Gimana mas? orangnya udah dateng?"
" Belum. Katanya masih ada urusan di tempat lain." Brian beralasan.
" Huuuhhhh...dasar!! Ngajak janjian tapi nggak dateng-dateng. Dia pikir bayar hotel murah??"
" Udah biar aja. Ya kalau seandainya dia nggak jadi ngasih proyek, berarti bukan rejekiku. Kita kan cuma berusaha."
" Tau gitu aku ikut mas."
" Tar kapan-kapanlah kesini sendiri."
" Ya udah mas kalau gitu." Kemudian Mirna menutup telfonnya. Brian hanya menarik nafas panjang. Mirna selalu tidak bisa menghilang kebiasaan menggerutunya itu.
__ADS_1
Brian melihat jam di hpnya, pukul 11 lebih, namun sesiang ini Mirna masih terlihat belum mandi, dan masih eksis dengan daster kebesarannya. Padahal urusan rumah sudah dibantu oleh asisten rumah tangganya, dan seharusnya dia bisa lebih memperhatikan penampilannya, minimal menyisir rambut dan mandi. Bukan seperti saat menelfonnya tadi. Brian hanya geleng-geleng kepala lalu melanjutkan menuju hotel.