CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MENGOBROL DENGAN SUAMI SISI 2


__ADS_3

Arin menarik nafas panjang. Rasanya dadanya begitu sesak dan perih, seperti ada ribuan duri yang menusuknya.


" Aku kadang pengen nyerah mas, capek rasanya ngadepin dia. Susah banget dipahami isi kepalanya. Baru 5 menit wajahnya begitu manis, ehhh tiba-tiba dalam waktu satu detik, dia bisa berubah seperti harimau lapar."


" Moodnya susah ditebak mas."


" Rin...Sebagai istri yang baik, seharusnya kamu harus bersabar dampingi suamimu. Karakter dia kan cuma kamu yang tau, jadi kamulah yang harus pandai-pandai memahaminya."


" Udah mas, tapi sampai sekarangpun aku tetap selalu salah di matanya."


" Mungkin dia sedang khilaf Rin."


" Ya mungkin benar kata mas, dia sekarang sedang khilaf karena merasa dunia telah ada di genggamannya. Itulah kenapa kadang manusia terlalu percaya diri dengan kemampuannya, padahal dengan sekejap mata Allah bisa ambil semua itu."


" Tapi mas, perempuan mana yang kuat coba kalau setiap hari tuh adaaa aja permasalahan yang bikin dia marah, terus nyudutin dan nyalahin aku. Nggak capek apa tiap hari tegang bawaannya?"


" Seandainya dulu aku nggak berhenti kerja, mungkin aku nggak pikir panjang lagi mas!"


" Nahhh itulah. Kadang perempuan itu kalau punya penghasilan sendiri, jadi lupa kodratnya. Terus mentang-mentang punya penghasilan sendiri jadi berani mengambil resiko gitu?"


" Ya gimana mas. Bener kodrat wanita itu menjadi makmum seorang laki-laki. Tapi bukan berarti laki-laki itu semaunya sendiri memperlakukan wanita. Seolah tanpa mereka kami nggak bisa hidup."

__ADS_1


" Udah Rin....jangan turuti emosi. Denger deh kata mas. Nyesel itu belakangan lho."


" Iya mbak aku tau. Tapi aku dan mas Yuda itu bukan seperti suami istri. Seharusnya aku itu jadi tempat segala keluh kesah dia, jadi pengobat disaat dia mengalami kepenatan. Tapi ini justru sebaliknya, aku itu malah jadi sumber kemarahan mas Yuda, dan jadi tempat luapan emosi kalau dia sedang ada masalah. Kenapa dia nggak bisa perlakukan aku layaknya seorang istri secara baik sih?"


" Rin...itu cobaan kamu. Ujian setiap rumah tangga itu beda-beda."


" Tapi mbak, aku lihat keluarga mbak baik-baik aja, nggak pernah aku dengar sedikitpun mbak ada masalah. Sampe sekarang adem ayem aja."


" Hahaha...kamu mana tau ya mas?" Kata Sisi sambil menengok suaminya. Suami Sisi hanya mengangguk-angguk saja.


" Buktinya aku belum pernah lihat."


" Tapi mbak nggak pernah cerita ke aku?"


" Gimana mbak mau cerita, lihat kamu aja udah penuh masalah, masak masih mbak tambahin sama masalah mbak? Tambah stres kamu nanti jadinya hahaha."


" Ihhh nyebelin deh."


" Rin, kami berdua itu kakakmu. Sebenarnya kami berduapun merasa sakit hati mendengar kamu diperlakukan seperti itu, tapi kami nggak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa memberi saran saja, agar kamu jangan sampai berpisah dengan Yuda. Perpisahan itu adalah pilihan terakhir. Jika masih bisa diperbaiki perbaikilah. Karena kalau kamu bercerai, kamulah yg menanggung semua resikonya dan bukan kami, mungkin kami lagi-lagi hanya bisa menghibur, tidak bisa membantu apa-apa. Kami berdua tidak ingin kamu dan flo hancur. Bersabarlah Rin, pasti lama-kelamaan Yuda berubah."


" Setiap aku berdoa selalu itu yang kuminta mas. Aku itu cuma takut, apa yang kami miliki hari ini belum tentu bisa bertahan selamanya. Jangankan selamanya, satu jam, satu menit, bahkan satu detik kedepan saja kita belum tentu bisa tau rahasia Allah buat kita. Jadi apa yang perlu disombongkan?"

__ADS_1


" Mungkin benar sekarang Mas Yuda dihormati oleh semuanya karena dia bisa membeli apa saja yang dia inginkan, tapi penghormatan dia hanya sebatas itu. Jika semuanya habis, apa mereka masih mau menghargai Mas Yuda? terlebih dengan sikap Mas Yuda yang angkuh pada mereka. Mas Yuda siap nggak dengan semua itu mas?"


" Mas Yuda lupa, sebanyak dan sebesar apapun jasa kita terhadap orang lain, jika lisan kita nggak kita jaga, itu semua akan melenyapkan segala kebaikan kita yang telah kita semai."


Sisi dan suaminya hanya menarik nafas panjang. Benar semua dengan yang dikatakan Arin. Namun, menyadarkan seseorang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses dan kesabaran. Bahkan tidak sedikit yang sadar disaat semuanya sudah terlambat, dan Arin tidak ingin terjadi seperti itu.


" Manusia itu kadang aneh ya Rin?"


" Aneh gimana mas?"


" Banyak orang yang berkorban demi harta, bahkan nggak sedikit yang rela menikah dengan orang yang nggak dicintai, bahkan jauh dari type yang mereka idamkan. Terpaksa semua mereka jalani demi mendapatkan kebahagian duniawi. Giliran kamu sekarang, kamu menikah dengan pria pilihan kamu sendiri, bahkan apa yang kamu miliki sekarang ini sudah membuat kamu hidup sejahtera, tapi nyatanya kebahagiaan yang kamu idamkan tidak kamu dapatkan."


" Itulah mas, buat aku sumber kebahagian adanya di sini, dan bukan di sini." Sambil menunjuk dada dan menjentikkan telunjuk serta ibu jarinya.


" Tapi tetap bersyukur Rin. Apapun yang terjadi atas kamu saat ini, sudah menjadi takdir Allah. Mungkin sekarang kamu harus menghadapi ujian seperti ini, tapi kita nggak tau yang terjadi di kemudian hari kan?"


" Iya mas. Yang membuat aku kuat saat ini adalah Flo. Kadang aku kasihan sama dia. Dia itu masih tergolong anak-anak, namun pemikirannya sangat dewasa. Seharusnya dia itu bisa dekat dengan kedua orang tuanya, tapi Mas Yuda cenderung cuek dengan Flo, akhirnya apa-apa Flo cuma bisa cerita ke aku."


" Makanya, bertahanlah demi dia Rin, demi masa depan Flo."


" Inshaallah mbak doain aja." Jawab Arin pelan sembari memainkan jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2