CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PERTEMUAN


__ADS_3

Malam ini Yuda terlihat sangat rapi dengan memakai kemeja lengan panjang dan ditekuk hingga ke sikunya, membuat ketampanannya bertambah dua kali lipat. Sedari dulu dia memang memiliki wajah yang bisa dibilang di atas rata-rata. Namun sayang sifatnya itu yang membuat ketampanan Yuda jadi tak menarik lagi terutama bagi orang yang telah mengenalnya dekat.


" Aku nanti pulang malam!!" Pamit Yuda pada Arin. Sembari mematut dirinya kembali di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mereka.


" Emang mas mau kemana?" Tanya Arin sembari mengubah posisinya tidurnya yang awalnya rebahan kemudian menyandarkan badannya.


" Aku mau ketemu klien penting ngomongin pekerjaan."


" Tumben malem-malem?"


" Ya karena mereka bisanya diajak ketemuan malem."


" Di mana mas??" Tanya Arin sedikit kepo. Dan hal itulah yang amat tidak disukai Yuda. Arin selalu mau tau segala urusannya. Padahal sebenarnya hal itu sangat wajar karena Arin adalah istrinya. Namun Yuda memang tidak suka jika Arin terlalu banyak ikut campur.


" Di Cafe X. Mau aku kasih tau alamatnya sekalian nggak?"


" Nggak usah mas,siapa orang sini yang nggak tau letak cafe itu."


" Aku pikir kamu belum tau biar aku tulisin alsmatnya sekalian." Sedikit ketus.


" Maaf mas, aku kan cuma nanya, wajar kan aku itu istri kamu."


" Ya tapi jangan lebay juga!!"


" Aku itu kalau mau macem-macem udah dari dulu, dan kalaupun mau berbohong nggak bakalan kasih tau tempatnya."


" Iya mas, maaf!!" Jawab Arin singkat. Malas mendengar kalimat Yuda yang panjang seperti kereta.


Arin memutar matanya sebal. Dia selalu tidak boleh tau urusan suaminya saat berada di luar. Yuda hanya mau Arin diam di rumah, menerima hasil kerjanya tiap bulan, melayaninya setiap hari, dan menurut apa yang dia mau. Untungnya Arin sekarang sudah disibukkan dengan toko barunya, dia bisa sedikit terhibur, dan bisa mengalihkan perhatiannya pada usahanya itu.


Arin sebenarnya sedikit heran dengan kepergian Yuda, karena belum pernah sekalipun Yuda membicarakan pekerjaan bersama klien malam hari seperti ini. Jika iyapun, itu pasti dilakukannya pada saat siang hari, karena Yuda itu sangat menjunjung tinggi privacy. Saat dia sudah pulang ke rumah, itu artinya dia tidak mau diganggu lagi dengan namanya pekerjaan.


Yuda kemudian keluar kamar diikuti oleh Arin yang berjalan di belakangnya. Arin mengantarnya hingga di depan pintu pagar rumahnya. Setelah mobil yang dikendarai Yuda meninggalkan halaman rumah mewah mereka, Arin buru-buru menutup kembali pintu pagar. Tak lupa dia menutup rapat pintu garasi mobil miliknya.


Arin melenggang santai masuk ke dalam rumah. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan kepergian Yuda, toh selama ini juga Arin tidak pernah melarang kemanapun suaminya itu keluar rumah tanpa harus didampingi olehnya. Hanya saja Arin sebagai istri ingin tau kemana tujuan suaminya itu pergi, tidak lebih. Bukankah itu adalah hal wajar jika seorang istri ingin mengetahui dimana keberadaan suaminya saat di luar rumah? Namun Yuda sangat tidak menyukai sikap Arin yang katanya kepo itu. Padahal seharusnya Yuda lebih khawatir jika Arin tidak mau tau dengan aktifitasnya di luar, karena itu pertanda Arin tidak perduli lagi padanya.


Arin segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk rumahnya, mengambil remote control dan menghidupkan televisi.


" Lho bu kok sendirian? mana bapak?" Tanya salah seorang asisten rumah tangganya.

__ADS_1


" Husss...jangan tanya-tanya kemana bapak pergi mbak."


" Memangnya kenapa bu? Sekarang memang ada aturan baru nggak boleh nanya keberadaan bapak ya?"


" Iya bik, kalau bapak denger nanti mbak bisa kena semprot dikira mau kepo urusan bapak."


" Lahhh...nanya kan wajar bu, kan bapak nggak ada di rumah, kalau ada pasti nggak ditanyain bu."


" Itu kan menurut kita mbak, menurut bapak kan dipikirnya kita kepo mau tau urusan bapak."


" Yahhh...bapak ini aneh banget. Kita kepo kan itu artinya kita perduli bu. Coba seandainya kita cuek, nanti semisal bapak kenapa-napa di tempat yang kita nggak tau, gimana coba?"


" Ya udahlah mbak, maunya bapak begitu biarin aja. Saya mah cari aman aja daripada ribut terus."


" Bapak mah harusnya bersyukur punya istri kayak ibu."


" Yang nggak bersyukur kalau istrinya kayak kamu ya mbak hahaha."


" Hihihi...iya bu. Soalnya kalau saya yang digituin udah pasti saya ngamuk-ngamuk bu, biarin nggak saya urusin sekalian. Mau pergi mau di rumah, mau apa aja terserah!!"


" Hahaha...nggak boleh gitu mbak, dosa tau!! Kalau yang satu emosi yang satunya harus ngalah, kalau nggak bakalan bubar semua."


" Ya udah sana kunci dulu gerbang, habis itu duduk sini temenin saya nonton tv, acaranya bagus nih."


" Baik bu." Sembari berjalan keluar. Dan tak lama kembali lagi.


" Sini mbak!" Sambil menggusur tubuhnya dan meminta asisten rumah tangganya duduk di sampingnya.


" Kenapa nggak di belakang aja bu nontonnya." Sedikit segan karena memang tidak terbiasa bahkan lebih tepatnya tidak pernah duduk di dalam ruangan keluarga yang sering dikuasai oleh Yuda itu.


" Sekali-sekali gantian di sini mbak."


" Udah santai aja tuh acaranya bagus!!"


" Kayak nonton layar tancep saya bu." Sambil matanya terus menatap layar datar yang berukuran 65" itu.


" Hihihi....kenapa mbak?"


" Ya tv di belakang kan nggak sebesar ini, moga-moga mata saya nggak kelilipan artis ya bu."

__ADS_1


" Hahaha...mbak ini ada-ada aja. Lagian masak disamain layar tancep sih mbak?"


" Iya bu, di kampung saya dulu kalau liat layar tancep ya segede ini. Terus duduknya di bawah sambil gelar tiker."


" Itu kan jaman dulu mbak, jaman sekarang mana ada layar tancep mbak."


" Adanya layar datar kayak gini ya bu." Arin hanya tersenyum saja mendengar kalimat asisten rumah tangganya yang begitu polos itu.


Mereka berdua terlihat serius menikmati siaran televisi, sesekali terdengar tawa mereka saat melihat adegan lucu yang mengocok perut. Jarang sekali Arin tertawa lepas di dalam ruangan itu. Karena jika bersama Yuda, acara komedi yang paling lucu sekalipun tetap saja tegang sehingga terkadang Arin hanya menahan tawanya sendiri.


" Seru bu ya." Arin hanya mengangguk.


" Bu nanti kalau ada bapak saya langsung ke belakang ya."


" Iyalah mbak. Kalau bapak dateng juga mana mungkin kita berdua tetep nonton di sini. Pasti bapak yang akan mendominasi tempatnya.


" Hidup bapak tegang terus ya bu. Sekali-kali suruh nonton acara komedi kayak gini, jangan acara kriminal terus, biar auranya positif."


" Idihhhh mbak sekarang udah tau aura positif segala ya kemajuan nih."


" Iyalah bu. Saya kemarin liat di tv, kalau kita mau memiliki aura positif apapun hal yang bisa menimbulkan efek buruk pada kita mending kita jauhi aja."


" Emang tontonan tv juga termasuk mbak?"


" Iyalah bu. Tontonan tv itu kan akan tersimpan di memori kita, dan itu mau tidak mau mempengaruhi fikiran terus menerus, akhirnya bisa menimbulkan efek yang buruk bu."


" Hahaha...kamu lama kelamaan tambah cerdas mbak."


" Haruslah bu. Ilmu itu kan bisa didapat dimana aja bu."


" 100 buat mbak!!" Sembari mengacungkan kedua ibu jarinya.


Sementara itu Yuda terus melajukan kendaraannya.


" Bagaimana? kamu sudah siapkan semuanya?" Yuda terlihat menelfon asistennya saat berada di perjalanan.


" Bagus...10 menit lagi aku sampai di lokasi, tunggu sebentar. Jamu mereka dengan sebaik-baiknya agar bisa melancarkan urusan kita." Kata Yuda sambil tersenyum tipis.


Kemudian Yuda semakin mempercepat laju kendaraannya. Untungnya jalanan sedikit lengang, sehingga dia tidak mengalami hambatan yang pasti untuk segera tiba di lokasi yang telah dijanjikan.

__ADS_1


__ADS_2