
Saat di dalam kamar, ekspresi Yuda kembali ke asal, langsung berubah menyeramkan. Arin yang baru keluar dari toilet bersikap biasa saja, walaupun dalam hati dia sangat jengkel dengan sikap suaminya itu.
Yuda langsung melepas bajunya, dan mengganti kaos serta celana pendek. Tak dihiraukan sedikitpun Arin yang saat itu sedang menghapus make up di depan cermin.
" Kenapa kok hatiku nggak gentar sama sekali lihat dia marah seperti ini?? duh jangan-jangan cintaku benar-benar hilang padanya." Kata Arin.
" Heeemmm...ternyata kamu sekarang udah berani membangkangku, dan nggak ada inisiatif meminta maaf padaku, lihat aja ya." Yuda dan Arin mengeluarkan argumennya sendiri-sendiri. Namun Yuda dibumbui ancaman. Dia melihat perubahan Arin yang tak lagi perduli didiamkan, tidak seperti dulu yang begitu kelimpungan jika mendapati suaminya mulai memasang tampang angker.
Sebenarnya Yuda enggan tidur satu kamar dengan Arin, namun jika tidur di tempat lain, dia khawatir ibunya akan tau, dan sudah pasti seribu satu pertanyaan akan dilemparkan padanya. Aksi diam Yuda terus berlanjut, walaupun sempat bersandiwara sebentar di hadapan mamanya tadi.
Yuda lalu mengambil bantal dan guling, kemudian memilih tidur si sofa panjang yang ada di kamar besar mereka. Biarpun sudah satu ruangan, tapi dia tidak ingin satu ranjang bersama Arin.
Arin hanya melirik dari kaca yang ada di hadapannya. Dia melihat Yuda menuju sofa, kemudian tidur di sana. Arin diam saja. Kemudian dia berjalan ke ranjang besarnya dan langsung merebahkan tubuh dengan santai.
" Heemmmm......nyamannya...!!" Sengaja mengeraskan suara agar Yuda mendengar. Dia tau bahwa tidak akan mungkin Yuda betah berlama-lama tidur di sofa yang ukurannya lebih pendek dari tubuhnya itu. Tinggal menunggu waktu saja, kapan dia akan pindah ke ranjang, atau justru keluar meninggalkan kamarnya.
Saat sedang menunggu moment Yuda meninggalkan sofa tersebut, tiba-tiba Arin teringat Brian, seharian ini dia tidak mengecek hp satunya, dan baru tadi pagi saja menuliskan satu status karena disibukkan oleh kedatangan mertuanya.
" Pasti dia nunggu kabarku, tapi biar saja dulu, besok saja aku hubungi dia, karena aku nggak mau Mas Yuda curiga melihat aku bawa hp ke dalam toilet." Kata Arin dalam hati.
Arin kemudian berusaha memejamkan matanya, walaupun masih memikirkan Brian yang pasti gelisah karena tidak ada kabar darinya. Dia sempat melirik Yuda terlebih dahulu, memastikan bahwa dia bisa tidur atau tidak. Terlihat sekali Yuda sangat gelisah. Sebentar-sebentar dia berpindah posisi. Bagaimana tidak, tubuhnya terpaksa harus menekuk agar dapat cukup di sofa yang dia tempati sekarang.
Arin hanya tersenyum geli.
" Syukur...emang enak!! Itu namanya susah dibuat sendiri." Sedikit geli tapi juga sebenarnya kasihan melihat penderitaan suaminya
" Ahhh biar saja, dia lebih tau apa yang dia mau." Katanya lagi dalam hati. Perlahan Arin segera terlelap dan dibuai mimpi indah, beralasan kasur yang sangat empuk.
" Sial...!! Gimana aku bisa tidur kalau kakiku tertekuk seperti ini." Gerutu Yuda.
__ADS_1
Yuda sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Kemudian bangun, lalu melihat Arin.
" Hemmmm enak ya tidurmu!! Nyenyak ya....!! kayaknya sengaja banget pengen mamerin tidurnya yang pules itu, seolah nggak bersalah sedikitpun!!"
Yuda jengkel sendiri saat melihat Arin tidur begitu nyenyak meringkuk dibalik selimut. Jangankan tidur nyenyak, untuk memejamkan mata saja Yuda begitu kepayahan. Yuda lalu bangun dan berjalan mendekati Arin.
" Rin bangun!! Rin!!" Yuda berusaha membangunkan istrinya sambil menggoyangkan tubuhnya.
Arin sebenarnya mendengar bahwa Yuda membangunkannya, tapi dia tetap pura-pura tidur.
" Hemmm.....coba aku lihat, dia betah nggak bangunin aku agak lama." Berkata dalam hati.
" Rin!! Kamu ini susah banget dibangunin!! Rin...bangun!!" Menggoyangkan badan Arin sedikit kasar.
" Hoaammmm...apa sih mas?" Menguap sembari melirik jam, pukul 11 malam.
" Bikinin aku kopi!!"
Yuda tidak menjawab dan langsung menuju ruangan keluarga, lalu menghidupkan tv di sana.
" Hihihi...kirain betah nggak nyuruh-nyuruh aku lagi, ternyata masih butuh juga, gitu aja sok pakai kabur dari rumah segala." Tertawa dalam hati.
Brian yang memang sedang tidak ingin tidur bersama Arin, segera menghidupkan televisi. Disulutnya satu batang rokok.
" Ini mas." Meletakkan kopi di atas meja, lalu pergi lagi ke kamar.
Sepeninggal Arin, tiba-tiba Yuda teringat Maya. Dia ambil hp yang ada di depannya.
" Udah tidur belum ya dia?"
__ADS_1
Dilihatnya waktu sudah terlalu larut, rasanya tidak pantas menghubungi sesorang semalam ini tanpa ada hal yang begitu penting untuk dibicarakan. Namun entah kenapa, rasanya Yuda sulit melupakan bayangan mantan kekasihnya yang tiba-tiba menari-nari di pelupuk matanya.
Sebenarnya saat itu dia sudah membuka hpnya, namun masih ragu. Tapi tiba-tiba saja dilihatnya Maya sedang online, tanpa ragu lagi dia segera mengetikkan sesuatu.
" Ahhh berarti dia belum tidur, aku chat saja dia."
Yuda seakan tidak perduli dan lupa waktu, yang jelas dia ingin sekali berkomunikasi dengan Maya.
" Malam maya..."
Yuda terus memandangi hpnya berharap Maya segera membalas chat darinya.
" Woooiii..udah malam gaisss...ngapain ngechat janda jam segini??" Balas Maya.
" Xixixi...dasar ya nih orang, masih suka gila juga." Kata Yuda dalam hati. Perlahan dia girang, karena gayung bersambut. Dia pikir Maya tidak akan membalas wa-nya.
" Lagian ngapain malam-malam masih online, ya aku chatlah."
" Kamu tuh ya...suka-suka aku dong. Lagian, kamu kan ada istri nggak enak kan ntar dipikir kita ada apa-apa lagi."
" Biar aja suka-suka aku juga dong."
" Kok belum tidur sih? chat'an sama siapa? pacar?" Lanjutnya.
" Ihhh kepo banget...Udah ah besok lagi ya, ini udah malem...mendingan kamu nemenin istrimu tidur daripada chat aku."
" Nggak bisa tidur, aku lagi di depan tv." Seolah menjelaskan dan memberikan kesempatan pada Maya untuk terus berbalas pesan dengannya.
" Ya udah lanjut aja...aku mau istirahat...bye!!" Dan Maya langsung melog off hpnya.
__ADS_1
" Ehhh nanti dulu dong." Balas Yuda lagi, namun yang terlihat hanya centang satu saja.
" Ihhhh ni orang ya...kebiasaan nggak pernah ilang dari dulu, kalau bilang udah ya udah, nggak ada toleransi sedikitpun." Sambil meletakkan hpnya.