
Sejak pertengkaran siang tadi, Jenny terus mengurung diri di dalam kamarnya. Dia tidak mau makan sama sekali hingga malam. Dia merasa mamanya benar-benar tidak memihaknya dan justru membela Yuda. Jenny curiga bahwa Maya memang masih memiliki perasaan khusus pada Yuda.
" May...Jenny dari pulang sekolah tadi nggak mau keluar kamar lho, kamu memang belum menjelaskan sama dia?"
" Belum mah. Mama tau sendiri sifat Jenny, kalau masih marah pasti nggak mau diganggu sama sekali, nanti justru malah akan semakin membuat emosinya semakin menjadi-jadi."
" Iya betul...tapi dari tadi siang dia juga belum makan lho."
" Hehhhh....ternyata sifatnya belum juga dewasa ya mah, dia masih Jennynya Maya dulu yang kalau ngambeg langsung ngurung diri."
" Untung udah sedikit berubah. Kalau dulu kan pakai nyumput segala, sampai kamu kelabakan nyariin. Padahal tiap marah selalu begitu, dan kalau udah kelaparan pasti bakal keluar sendiri dari tempat sembunyinya terus langsung makan, tapi tetep aja kamu selalu bingung nyariin."
" Hehehe..iya ya mah, namanya juga darah daging ya mah, pasti khawatirlah."
" Iya, kelakuan dia mirip banget tuh sama kamu, kalau ngambeg susah banget nyembuhinnya." Sambil menoel hidung Maya.
" Iya mah, Maya sekarang ngerasain gimana susahnya jadi seorang ibu. Maafin kenakalan-kenakalan Maya yang buat mama repot ya mah, dan maaf belum bisa bahagiain mama dan papa." Sambil mencium tangan mamanya.
" Mama selalu memaafkan apapun kesalahanmu nak, dan selalu meminta doa yang terbaik buatmu dan juga Jenny. Yang penting buat mama, bisa melihat anak-anak mama bahagia itu udah lebih dari cukup."
" Makasih ya mah...Hemmmm Maya kok malah nggak pengen Jenny cepet besar ya, Maya pengen dia tetep menjadi Jenny Maya yang lucu dan manja, dan selalu ada di samping Maya. Maya pengen bisa selalu melindungi dia mah."
" Hukum alam tetap berlaku nak. Suatu saat nanti, Jennypun akan memiliki keluarga, dan itu artinya kamu harus siap melepaskan dia dan berbahagia bersama laki-laki pilihannya."
" Pasti saat itu Maya akan sedih banget mah."
" Mamapun dulu begitu saat melepasmu keluar dari rumah ini. Rasanya sepi, dan ada yang berbeda. Namun kita sebagai orang tua harus ikhlas, dan yang penting selalu berdoa untuk keselamatan mereka."
" Udah sana temui anakmu, bawakan makanan buat dia. Egonya masih terlalu tinggi, jadi kita sebagai orang tua yang harus bisa lebih fleksibel."
" Iya mah." Jawab Maya sembari menuju meja makan.
Tadi sore dia sengaja membuat semur ayam kesukaan Jenny. Biasanya jika aroma masakan kegemarannya itu sudah tercium, maka tanpa menunggu lama, Jenny sudah akan langsung menyerbunya. Namun karena sedang ada aksi ngambeg, masakan yang di buat Maya belum tersentuh sedikitpun. Padahal Maya yakin, aromanya sudah pasti menyusup ke dalam lubang angin kamar Jenny dan menari-nari di dalam indra penciuman anak kolokannya itu.
Maya membawa nampan yang berisi nasi dan semangkuk semur ayam yang ditatanya sedemikian rupa. Bau khas bawang goreng yang baru saja ditaburkannya menambah aroma tajam yang membuat perut berteriak-teriak minta diisi.
Maya tersenyum simpul. Mana bisa Jenny tahan, jika sudah melihat apa yang dibawanya itu.
" Ceklek."
" Jen, mamah masuk ya?" Maya mengintip di balik pintu kamar Jenny yang baru saja dia buka.
Jenny yang sedang tidur-tiduran sambil memainkan hpnya, hanya melirik sebentar ke arah Maya, kemudian kembali menatap benda segi empat itu.
Maya terus masuk walaupun tanpa persetujuan Jenny. Dia mendorong pintu menggunakan punggungnya, karena kedua tangannya memegang nampan yang berisi makanan. Tak lupa ditutupnya kembali dengan mendorong menggunakan satu kakinya.
__ADS_1
Setelah meletakkan makanan di atas meja belajar Jenny, Maya kemudian duduk di sebelah Jenny yang sedang terbaring.
" Jen, boleh mama bicara sebentar sama kamu?" Tanyanya selembut mungkin.
Jenny kemudian bangun, dan meletakkan hpnya.
" Mama minta maaf ya tadi udah sedikit keras sama kamu. Bukan maksud mama memarahi kamu, cuma mama nggak mau, Jenny anak mama yang selama ini mama didik dengan baik, agar memiliki ahlak dan juga sikap yang baik, melakukan perbuatan yang menurut mama sangat tidak terpuji."
" Mama tau Jenny nggak suka sama Om Yuda, mama minta maaf ya. Mama sama sekali nggak ada hubungan apa-apa sama Om Yuda, percaya deh sama mama."
" Mah, Jenny tau perbuatan Jenny salah. Tapi Jenny cuma mau kasih pelajaran sama Om Yuda, biar nggak seenaknya sendiri. Dia kan tau statusnya udah beristri, kenapa masih terus deketin mama? kasihan istrinya ma!!"
" Iya sayang...mama ngerti maksudmu. Mama janji antara mama dan Om Yuda nggak akan ada hubungan apa-apa, hanya sebatas teman biasa aja. Lagian dia mantan mama, nggak baik juga memutus hubungan silaturahmi nak."
" Mama janji, hanya sebatas teman nggak lebih?"
" Iya sayang mama Janji."
" Mama janji akan cerita semuanya sama Jenny jika itu menyangkut hubungan mama dengan pria manapun yang berusaha deketin mama?"
" Iya sayang, mama janji. Karena saat ini mama cuma punya kamu, dan masa depan mama itu kamu. Mama pasti kasih yang terbaik buat kamu."
" Peluk mama dong." Sambil merentangkan kedua tangannya.
" Maafin Jenny ya mah, Jenny udah bikin mama malu." Menyambut pelukan mamanya.
" Iya mah, Jenny cuma takut mama disakiti lagi."
" Nggak sayang, nggak ada yang akan menyakiti mama dan kamu lagi, mama janji itu."
" Tujuan mama sekarang adalah membesarkan kamu dan mencari uang untuk kebutuhan kamu. Kalaupun Allah memberikan jodoh untuk mama lagi, pasti mama mencari sesosok laki-laki baik yang bisa menjadi papamu sekaligus menyayangimu."
" Makasih ya mah."
" Mama dulu lama ya pacaran sama Om Yuda?"
" Hemmm lumayan lama sih."
" Kenapa kok putus?"
" Adalah hal yang membedakan prinsip kami berdua. Mama merasa nggak bisa ngelanjutin hubungan sama Om Yuda, karena jika diteruskan, mungkin akan terus bertentangan."
" Makanya, kalau dulu aja waktu kami masih sama-sama single mama nggak mau sama Om Yuda, apalagi sekarang, itu namanya mama menjilat ludah sendiri."
" Ya siapa tau CLBK, kenangan lama itu kadang bisa timbul dan semakin indah lho mah."
__ADS_1
" Idihhh anak mama kayak udah berpengalaman aja."
" Yeee...Jenny kan udah besar mah."
" Tapi masih suka ngambeg."
" Jangankan Jenny yang masih remaja, yang udah tua-tua aja masih banyak yang suka ngambeg mah."
" Ngambeg itu nggak liat usia mah." Protes Jenny dan Maya hanya tertawa saja.
" Jadi dulu mama memilih papa dan meninggalkan Om Yuda?"
" Ya begitulah."
" Mama pikir dulu papa lebih baik dari Om Yuda, begitukan?"
" Manusia itu cuma berharap dan berusaha nak, tapi Allah yang menentukan. Mungkin ini udah garis hidup mama, sekuat apapun mama mempertahankan keutuhan rumah tangga, tapi yahhhh....mama akhirnya menyerah juga. Makanya hati-hatilah mencari pasangan hidup, kadang yang sudah berhati-hati saja masih sering tersandung."
" Iya mah...Jenny pasti inget pesen mama."
" Jenny janji akan nemenin mama, kalaupun udah nikah, Jenny nggak akan ninggalin mama."
" Hahaha...nggak bisa gitu sayang, itu hak suamimu. Kalau suamimu nggak pengen mama tinggal dengan kamu, itu artinya kamu harus nurut dia."
" Hehhhh...susah ya mah jadi perempuan??"
" Itu udah kodrat wanita nak, kita harus terima itu."
Tiba-tiba mimik wajah Jenny berubah, sembari meringis seperti menahan sesuatu.
" Mahhh..Jenny lapar!! Tadi mama masak semur ayam ya??" Sambil mengusap-usap perutnya.
Maya tertawa. Tebakannya benar, Jenny pasti sudah tau mamanya membuatkan masakan kegemarannya.
" Hahaha..kirain kalau ngambeg lupa laper."
" Yeee...ya laperlah mah, masak laper bisa lupa, itu mah panggilan jiwa mah." Sambil manyun.
" Gitu aja pake acara ngambeg."
" Itu yang di nampan boleh dimakan ma?"
Maya tertawa sambil mengacak-ngacak rambut Jenny, kemudian mengangguk.
" Asyikkk...makasih ya mah..." Mencium pipi Maya, kemudian segera menyerbu makanan yang ada di atas meja belajarnya.
__ADS_1
Maya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis manjanya itu.