CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
ROKOK


__ADS_3

" Bik tolong dibereskan ya." Memanggil asistennya sembari bangun dari tempat duduknya.


" Iya bu."


Arin dan mertuanya kemudian bergegas meninggalkan ruang makan dan menuju ruang santai, ternyata Yudapun sedang berada di sana.


" Kamu tuh, ininya dikurangin." Sembari mengambil rokok yang masih menyala di tangan Yuda, lalu membuangnya ke asbak.


" Mama apaan sih, bawa sini rokoknya!!" Langsung mematikan rokok yang masih menyala itu, kemudian meremas-remasnya.


" Nih...ambil aja."


" Mamah kok diancurin gitu? sayang kan masih separuh? abis makan nih mah, mulutku asam."


" Makan gula biar ga asam."


" Ahhh mama, nggak asyik."


" Kamu tuh yang nggak asyik. Mama dulu bilang kan, kamu harus mengurangi rokok, kamu bilang iya, buktinya mana?"


" Lho ini kan aku sudah mengurangi rokok ma?"


" Mengurangi apanya? lihat tuh asbak di depan kamu, udah berapa batang kamu habisin? baru 5 menit duduk di situ, udah bertumpuk gitu. Ruangan udah kayak asbak semua baunya."


" Ini kan aku lagi ngurangin rokok mah, itu di bungkus tadi ada 16 **, coba mama hitung sekarang tinggal berapa?"


" Ini anak, masih becandain mamanya ya!!" Sambil menjewer telinga Yuda.

__ADS_1


" Awwww...sakit mah!!"


" Denger nggak omongan mama?"


" Iya..iya Yuda denger!!"


" Denger apanya? merokok masih kayak kereta gitu, apanya yang didengerin? Bilang janji-janji terus, mana buktinya?"


" Iya janjiiii.....!! Ampunnn..!! Lepasin dong, panas nih telinga Yuda!!" Sambil mengacungkan dua jarinya.


Kemudian mama Yuda melepaskan jewerannya.


" Janji apa?"


" Janji...kalau ada mama, Yuda akan ngurangin rokok."


" Eehhhh iya..iya...ngurangin rokoknya kalau ada mama dan nggak ada mama!!" Sambil menggeliat kesakitan.


" Awas kalau mama lihat kamu masih merokok!!"


" Ya kan harus pelan-pelan mah, nggak bisa langsung berhenti gitu, kaget nanti jantungnya kalau langsung di cut." Sembari mengusap-usap pinggangnya yang masih sedikit perih setelah dicubit mamanya tadi.


" Kaget apanya? justru kalau merokok terus nggak baik buat jantungmu. Alasan aja!!"


" Iya mama sayang....tambah cantik deh kalau ngomel-ngomel gitu.."


Dalam hati mama Yuda sebenarnya tertawa geli. Yuda, anak lelaki satu-satunya itu memang sangat dekat dengannya, dan selalu saja bisa membuatnya tertawa di situasi apapun. Dan sedewasa apapun seorang anak lelaki, dia akan tetap menjadi anak ibunya , berbeda jika dengan seorang anak perempuan.

__ADS_1


Arin hanya terus memperhatikan mereka berdua, lagi-lagi Arin hanya menarik nafas panjang.


" Rin, besok lagi kalau suamimu merokoknya masih kayak kereta, ambil aja rokoknya."


" Ya beli lagi." Jawab Yuda.


" Aduin ke mama ya Rin."


Arin hanya tersenyum.


" Boro-boro menyembunyikan rokok, Mas Yuda lupa naruh rokok aja, aku yang akan dimarah mah." Kata Arin dalam hati.


" Rokok itu nggak baik buat kesehatan Yud, gimana kalian bisa punya anak lagi kalau rokokmu udah macam kereta ekspres gitu. Kamu pikir itu nggak berpengaruh pada kesuburanmu Yud?"


Mertua Arin terus berbicara panjang lebar. Sebenarnya sudah dari dulu Arin ingin memberikan Flora seorang adik, tapi Yudalah yang tidak mau. Dia beralasan, selama memiliki bayi, Arin waktunya begitu tersita dan terkadang Yuda terabaikan. Entah kenapa Yuda bisa perpikiran begitu, padahal anak itu adalah rejeki, dan Arin sangat menikmati proses itu. Memang dulu saat Flora masih kecil, Yuda tidak ingin perhatian Arin berkurang padanya, terlebih melayaninya dalam segala hal. Terkadang Arin yang kewalahan sendiri. Namun dulu Yuda belum searogan sekarang yang tidak mau tau situasi dan kondisi. Yah walaupun akhirnya dia yang mengalah, namun tetap saja ujung-ujungnya dia tidak ingin memberi adik pada Flora, dan hingga sekarang Arin masih mengkonsumsi pil penghambat kehamilan.


" Anak itu rejeki mah...jadi nggak bisa dipaksakan kalau belum saatnya. Emang bikin anak kayak bikin gorengan, sekali celup langsung mateng?"


" Ya tapi harus berusaha dong!! kurangin tuh rokok kamu, cobalah gaya hidup sehat Yud, olahraga atau apalah."


" Hehhh...sok bijak dia, padahal kan emang dia nggak menginginkan punya anak lagi." Kata Arin dalam hati.


" Mama...udah dong jangan salahin rokok, kasihan, dia nggak berdosa, pasti dia sedih mah."


" Kamu tuh diajak ngomong serius masih aja bercanda."


" Iya mamaku cantik...jangan serius-serius ahh, nanti cantiknya hilang."

__ADS_1


Walaupun malam itu mereka mengobrol bertiga, namun di dalam hati Yuda dan Arin merasa sangat tidak nyaman dengan kepura-puraan itu. Berusaha bersikap akrab di depan orang tua, padahal perasaannya sangat dongkol.


__ADS_2