
" Yud, mana ada orang yang suka nunggu? nggak ada Yud. Apalagi ini adalah konsumenku, tanpa mereka butikku nggak akan bisa bertahan."
" Alah cuma karena satu pelanggan kamu nggak akan gulung tikar May."
" Kamu jangan memandang remeh gitu!! Dari dulu aku itu punya prinsip tetap memberikan pelayanan yang terbaik buat semua konsumen. Dan aku nggak bisa membatalkan janji seenaknya sendiri, itu namanya nggak profesional!!" Mulai naik darah.
" Lha kamu kan ada asisten? Buat apa asisten kamu kalau nggak becus kerja saat ditinggal kamu kayak gini?"
" Ditinggal untuk keperluan yang sangat mendesak its ok, tapi kalau cuma sekedar makan siang kayak gini menurutku itu nggak etis. Aku lebih prioritas yang penting dulu."
" Jadi menurutmu aku mengajak makan siang dan membicarakan bisnis yang udah kita sepakati itu nggak penting?" Tidak mau kalah.
" Karena menurutku yang kita bicarakan nanti itu tidak akan mendapatkan kesimpulan apa-apa. Karena saat inipun aku udah memutuskan untuk tidak memilih bahan sebelum samplenya datang, dan bukan cuma sekedar melihat dari gambar saja!!"
" Berapa sih keuntungan yang kamu dapet dari pelangganmu itu, kok kayaknya spesial banget!!"
" Heiii....jangan sombong kamu ya. Seandainya pelangganku itu nanti pulang dengan tangan kosongpun aku nggak akan mempermasalahkannya. Namun sebaliknya, aku akan menganggap masalah jika aku mengecewakan dia karena kemarin aku sudah janji bertemu dengannya. Jangan melulu memikirkan materi Yud."
" Lalu apa lagi tujuanmu menemani pelanggan itu selain materi? Hehhhh...repot amat, udah punya asisten masih aja dipusingin ama pelanggan yang minta ketemuan. Kamu itu udah harus bisa mengatur sendiri, agar pelangganmu nggak terlalu ketergantungan sama kamu. Didik asistenmu agar bisa seperti kamu."
" Walaupun seandainya asistenku itu lebih pandai dari aku, namun kita tidak bisa menyamakan sifat pelanggan, karena ada yang lebih senang dilayani oleh ownernya dibanding dengan pegawainya. Membangun hubungan baik dengan pelanggan itu bagiku sangat penting. Dan satu lagi !! kamu nggak bisa ngatur apapun mengenai caraku bekerja!! Ngerti!!" Emosinya sudah mulai naik ke ubun-ubun.
" Lha seandainya nanti kamu udah mulai disibukkan ama bisnis kita gimana? Apa masih bisa kamu menemani pelangganmu?"
" Seandainya usaha itu benar-benar udah jalan kan semuanya bisa dimanage. Kita yang punya usaha, jadi harus pinter-pinter kita dong yang ngatur waktu."
" Kamu itu kudu bisa memulainya sekarang. Kamu bayangin seandainya usaha kita itu jalan, keuntungan butikmu itu nggak ada seperempatnya, bahkan mungkin cuma seujung kukumu."
__ADS_1
" Hehhhh...sesumbar banget sih kamu!! Belum juga jalan udah ngomongin untung. Iya kalau bisnis kita jalan, kalau nggak?"
" Apalagi merintis usaha dan menembus pasar itu tidak mudah Yud. Banyak pesaing yang berlomba-lomba untuk menjadi pemenangnya. Walaupun mungkin benar katamu keuntungan yang aku dapat itu lebih kecil dari bisnis kita, tapi aku nggak akan ninggalin itu. Butikku adalah bisnis yang aku rintis sejak lama. Bahkan aku udah memiliki pelanggan tetap tanpa harus susah-susah promosi seperti yang akan kita lakukan nanti. Dan yang perlu kamu ingat, mentang-mentang kamu sudah mendapatkan yang besar, jangan pernah menyepelekan yang kecil, karena pada suatu hari nanti kamu pasti akan membutuhkannya juga!!"
" Oke..oke aku minta maaf. Aku cuma nggak paham aja jalan pikiran kamu. Dan aku mau menyatukan pendapat kita dulu agar bisnis kita ke depannya itu lancar, karena aku rasain pemikiran kita itu selalu berseberangan arah."
" Itu karena kamu tidak bisa berempati dengan orang lain. Kamu berpikir dari sudut pandang kamu sendiri, sedang kamu itu tidak mau mengerti keadaan orang lain, dan taunya pendapatmu selalu benar."
" Tapi itu berdasarkan pengalamanku May, dan aku udah buktikan itu, kamu lihat sendiri kan sekarang hasilnya."
" Itulah letak bedanya Yud. Kamu bertindak sesuai dengan pengalaman kamu, tapi orang lain juga memiliki pengalaman yang berbeda dengan kamu, dan itu mempengaruhi pola pikir mereka, kamu harus hargai itu, bukannya seenaknya sendiri memaksakan kehendak. Memberi ide boleh, tapi bukan menggurui dan memaksa orang lain memakai idemu. Enak aja!!"
" Ihhh kok jadi jutek gitu sih!! Harusnya kamu itu bisa mencerna kata-kataku dengan baik, itu semua demi kebaikanmu dan juga masa depan usahamu, dan bukannya malah jutek kayak gitu."
" Oke....makasih atas perhatianmu yang sangat berlebihan pada usahaku itu. Tapi menurutku, alangkah lebih baik lagi jika sekarang kamu antarkan aku kembali ke butik, karena aku pikir demi masa depan usahaku, aku mendingan menunggu pelangganku datang daripada makan siang dengan kamu dan ujung-ujungnya berdebat di sini!!"
Yuda spontan menepikan mobilnya.
" Maaf Yud, aku udah nggak mood buat makan siang dengan kamu!!" Kata Maya tanpa basa basi."
" Duhhh kok jadi marah sih?? Pleas deh May, dewasa dikit dong, harusnya kalau kamu emang nggak mau nerima saranku, biasa aja dong, jangan malah tersinggung kayak gitu."
" Karena menurutku saran kamu itu melebihi batas jika itu hanya untuk memberi masukan. Kamu itu lebih tepat dikatakan mendikteku dan mencoba mengatur cara kerjaku."
" Tapi May!!"
" Stop Yud!!! Kita balik ke butik, atau aku pulang sendiri!!"
__ADS_1
" Oke...oke kita balik ke butikmu." Akhirnya Yuda menyerah, dan kembali menghidupkan kendaraannya.
" Hehhhh...kenapa malah berakhir kayak gini sih???"
" Kenapa sih sifat keras kepala Maya itu nggak pernah berkurang?? selalu saja berakhir dengan bertengkar kalau sedang membicarakan sesuatu hal." Kata Yuda dalam hati. Bahkan dia tidak menyadari akan kesalahannya, namun tetap saja mencari-cari kesalahan orang lain atas segala sesuatu di luar rencananya.
" Aku turun!!" Kata Maya sambil membanting pintu ketika sudah tiba di depan butik.
" Ehhh May tunggu dulu!!:" Kata Yuda sembari ikut turun.
" Apa lagi??" Membalikkan tubuhnya menghadap Yuda.
" Itu...masalah bahan baku yang aku bilang tadi gimana?"
" Aku kan udah bilang, tunggu samplenya datang baru aku putuskan!!" Jawab Maya sedikit kesal karena Yuda sepertinya tidak mengerti maksud perkataannya sedari tadi.
" Oke..oke..gimana kalau kita bicarakan di dalam butikmu, sembari menunggu pelangganmu. Ini sambil kita lihat katalognya." Menunjukkan buku tebal yang dipegangnya.
" Aku bilang NO!! Nggak ada toleransi titik!!"
" Ayolah May, ini bisa kita bicarakan baik-baik di dalam, kamu juga belum makan siang kan?? biar nanti aku order lewat aplikasi aja, gimana?" Yuda masih kekeuh berusaha Merayu Maya agar mau makan bersamanya.
" Aku udah kenyang dengar ocehanmu Yuda!! Aku pusing, aku mau masuk!!" Kesabaran Maya habis dan dia meninggalkan Yuda sendirian.
" Mayyy!!!"
Maya tidak mempedulikan panggilan Yuda, dia terus masuk ke dalam butiknya.
__ADS_1
Yuda menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Maya yang sudah terlanjur kesal tidak mau lagi mendengar omongan mantan kekasihnya itu.
" Hehhhhh....kenapa dari dulu aku nggak bisa hafal sifatnya yang keras kepala itu sih?? Coba aku bisa sedikit menahan diri." Sesal Yuda dalam hati. Lalu dia melangkah gontai masuk ke dalam mobilnya dan memutuskan kembali ke kantornya lagi.