CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
DI BUTIK MAYA


__ADS_3

Tak lama kemudian Yuda telah tiba di depan butik milik Maya. Yuda tersenyum melihat tatanan busana yang nampak dari kaca besar yang ada di depan.


" Selera Maya dari dulu memang sangat luar biasa." Bathinnya. Yuda mengagumi sebentar display pakaian yang begitu apik dan elegan itu, sehingga jika ada orang menatap pasti langsung tertarik untuk mampir ke butik tersebut.


Yuda melirik arlojinya, sebenarnya masih pukul 11.00, dan itu artinya dia harus menunggu 3/4 jam lagi dari waktu yang telah Maya janjikan. Namun karena sudah terlanjur tiba di depan butik, maka tanpa ragu Yuda segera memasuki butik tersebut.


" Assalamualaikum." Yuda langsung masuk saja ke dalam.


" Waalaikum salam."


" Silahkan pak!! Mau nyari baju buat istrinya ya?" Tanya salah satu pegawai Maya ramah.


" Ohhh nggak mbak, saya nyari pemilik butik ini."


" Ohhh ibu Maya?"


" Benar mbak."


" Sebentar ya pak, ibu ada di dalam."


" Ok!!" Kata Yuda sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


" Hemmmm....luas juga butiknya, dan sudah lumayan lengkap barang yang dia jual." Sambil mengamati setiap sudut butik yang telah lama dikelola mantannya itu.


" Bu, ada yang nyari ibu?"


" Siapa?" Tanpa menoleh karena masih terlihat serius mengecek satu persatu barang yang berserakan di lantai itu.


" Nggak tau bu, laki-laki lumayan ganteng sih."


" Apa Yuda ya?? tapi kan dia nggak terlalu ganteng? menurutku sih hihihi". Bathinnya, merasa geli dengan kalimat yang diucapkan pegawainya.


" Tapi ini kan masih pukul 11, ahhhh mengganggu saja." Gumamnya.


" Mon, ini yang udah aku contengin kamu pisah ya, terus kamu kasih kode harga." Memberi perintah pada asistennya.


" Siyaaap laksanakan bu!!" Jawab Mona yang sudah sangat akrab dengan bosnya itu.


Maya kemudian bangkit dari duduknya dan segera berjalan keluar. Benar tebakannya, dilihatnya Yuda sedang duduk dan asyik memainkan ponsel di sofa butik miliknya.


" Kok udah dateng sih? aku bilang kan jam 11.45." Memandang tidak suka sambil menjatuhkan tubuh di kursi kasirnya.


" Kebetulan aku lagi nggak ada kerjaan, jadi mendingan langsung ke sini aja daripada nanti macet. Kan kita nggak tau kondisi jalanan, apalagi bareng sama waktu makan siang."


Maya malas meladeni lagi kalimat Yuda yang mengeluarkan argumennya, karena laki-laki itu jika sudah mengungkapkan sebuah alasan, maka itu dianggapnya sebagai sebuah pembenaran.


" Hehhhh...aku itu paling nggak suka kalau lagi kerja ada yang nungguin kayak gini, aku jadi nggak nyaman, kesannya kayak diburu-buru." Gerutu Maya.


" Ya udah lanjutin aja kerjanya, lagian aku nggak nyuruh kamu buru-buru kok, nyantai aja lagi May."


" Hemmmm...ya udah deh, kamu tunggu di sini dulu. Mau kopi apa teh?"


" Kopi aja."

__ADS_1


" Ok." Jawab Maya sambil melenggang lagi masuk ke dalam.


" Mon, bawa sini notanya, tolong buatin kopi tamu saya." Kata Maya meminta asistennya untuk membuatkan kopi Yuda.


" Siyaap bu...."


" Kamu tuh siap..siap...udah kaya satpam kompleks aja."


" Hihihi......Bu gebetan baru nih?? jarang-jarang ada cowok nungguin ibu di sini." Bisik Mona lagi.


" Ihhhh rese'...kepo amat...udah sana buruan!! Potong gaji nih!!" Sambil mendorong tubuh Mona.


" Hahaha...ampun bu...kejam amat, dikit-dikit potong gaji." Di sisa tawanya.


Kemudian Maya kembali sibuk dengan pekerjaannya. Namun konsentrasinya benar-benar terganggu mengingat ada Yuda yang sedang menunggunya di depan.


" Ahhhh...jadi nggak fokus kalau kayak gini." Gerutu Maya.


" Silahkan diminum pak kopinya." Sembari meletakkan kopi yang baru saja dibuat di dekat tempat duduk Yuda.


" Makasih mbak."


" Sama-sama pak."


Namun baru berjalan sebentar, Yuda sudah memanggil Mona kembali.


" Mbak!!"


" Iya pak."


" Lumayan pak, dari semenjak pertamakai butik ini dibuka."


" Udah senior berarti."


" Ya begitulah."


" Jadi sebelum ibu Maya cerai, mbak udah disini?"


" Ya udah dong pak. Ibu Maya kan merintis butik ini udah lama banget, jauh sebelum bercerai."


" Dulu suaminya sering kemari dong?"


" Ya iya pak, sering banget. Kadang kalau pulang kerja, suami Bu Maya mampir kemari dan pulang bareng Bu Maya."


" Ya..ya..ya.."


" Emang kenapa Bapak nanyain mantan suami Bu Maya, Bapak kenal ya?"


" Hehhh...lebih tepatnya aku sangat kenal, karena mantan suami bosmu adalah laki-laki yang pernah merampas kebahagiaanku bersama Maya." Gumam Yuda dalam hati.


" Lalu selama ini Bu Maya sendirian??"


" Ehhh kepo banget nih orang...hemmm...jangan-jangan lagi pdkt sama Bu Maya." Bisik Mona dalam hati.

__ADS_1


" Emang kenapa pak? Bapak ada titik-titik ya sama Bu Maya? kok kayaknya penasaran banget?"


" Ehh ehmmm enggak, cuma nanya aja." Jawab Yuda gugub. Tanpa sadar dia telah memberi celah pada Mona untuk bisa menebak apa yang dirasakan saat ini pada bosnya itu.


" Hihihi....udah deh pak nggak usah pura,pura!! Bapak jomblo nggak?? kalau nggak jangan harap bisa dekati Bu Maya."


" Emang kenapa?"


" Anak gadis Bu Maya galak, dia bakalan menyingkirkan Bapak untuk tidak bisa lagi mendekati Bu Maya."


Dahi Yuda berkerut, sempat memikirkan ulang kalimat Mona. Dan dia ingat beberapa hari yang lalu sempat dikerjai oleh anak perempuan Maya, bisa jadi jika dia terus mendekati Maya, maka anak baru gede itu akan semakin melakukan tindakan di luar batas untuk demi menjauhkan dia dengan mamanya. Namun kemudian mimik muka Yuda kembali tenang.


" Hemmm...kenapa harus merisaukannya?? toh dia pasti tidak mungkin bertindak yang lebih jauh lagi dibanding kemarin, namanya anak-anak." Kata Yuda menenangkan hatinya. Padahal dia belum tau watak Jenny yang sebenarnya. Bahkan gadis itu pernah melaporkan seorang pria pada istrinya yang sedang mencoba mendekati mamanya, sehingga akhirnya terjadilah perang dunia.


" Mon!!!" Terdengar teriakan dari dalam.


" Pak, ibu manggil, saya masuk ke dalam dulu ya. Ingat!! kalau bukan jomblo jangan coba-coba deketin Bu Maya pak, biar selamat dunia akhirat!!" Kata Mona cuek sembari berjalan ke dalam.


Yuda hanya bengong saja mendengar kalimat Mona yang tanpa basa basi itu.


" Bos sama anak buah sama aja, mulutnya sama-sama kayak cabe rawit." Gerutu Yuda sembari menyeruput kopinya.


" Ngapain aja sih lama banget??"


" Palingan lagi kepoin tamu ibu, Mona kan suka rempong bu kalau ada orang baru."


" Yeeee..enak aja, tamu Bu Maya tuh yang kepo, bukan aku."


" Kepo apaan Mon?"


" Nanya-nanyain mantan suami ibu."


" Terys kamu jawab apa?"


" Ya aku jawab apa adanya aja. Tapi aku bilang sama dia, jangan pernah deketin Bu Maya kalau dia bukan jomblo."


" Ohh ya?? reaksi dia gimana?"


" Kayaknya muka dia langsung shok bu."


" Hahaha...bagussss!!" Sembari menunjukkan kedua ibu jarinya.


" Ya iyalah siapa dulu? Monaaa!!" Dengan lagak songongnya.


" Gaji naik ya bu??" Lanjutnya.


" Oke, siapa takut. Besok gajimu naik 2000 Mon."


" Yaelah bu, itu mah cuma cukup buat gorengan sebiji."


" Yang penting kan naik Mon." Dan Monapun menekuk wajahnya sedemikian rupa.


" Hahahaha...!!" Disusul oleh tawa temannya yang lain.

__ADS_1


Lalu mereka berempat terlihat kembali serius menyelesaikan pekerjaannya, walaupun Maya hatinya tadi sempat dongkol akibat Yuda yang mengorek informasi tentangnya pada Mona.


__ADS_2