CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
SURPRISE UNTUK BRIAN


__ADS_3

" Aku punya sesuatu buat kamu." Kata Arin sambil membuka tas, dan mengambilnya dari dalam.


" Apa yank? Onde-onde ya?"


" Bukan."


" Terus apa?"


" Klepon isi cabe rawit."


" Emang ada?"


" Ada, tapi nanti kamu yang makan ya."


" Hahaha...jutek amat!"


" Nih!" Sembari menyerahkan sebuah kotak.


" Klepon kok dikotakin, biasanya diplastikin?"


" Namanya juga klepon kekinian." Jawab Arin sekenanya


" Udah buruan buka, tar basi lho, kan bungkusnya dah dari tadi."


" Apa sih ini?"


" Makanya buruan buka deh!"


" Ehhh kok malah kamu yang nggak sabar, aku yang dapet surprise biasa aja kok."


" Hiiihhh...nih orang!" Sembari mencubit pinggang Brian.


" Ehhh..ehh...iya..iya..aku buka ya!"


Brian membolak-balik bungkusan itu. Lalu perlahan-lahan membukanya. Pertama yang terlihat adalah sebuah kotak kardus kecil. Brian kemudian membuka kardus itu, barulah terlihat apa yang ada di dalam kotak segiempat yang diberikan Arin. Itu adalah sebuah jam tangan eksklusif berwarna silver.


" Yank??? ini kan mahal?" Sembari melihat merk yang menempel pada jam tangan itu.


" Udah nggak usah lihat merknya."


" Maksudnya aku jual aja ya, lumayan buat beli beras hihhihi!!"


" Hiiihhh nyebelin banget!"


" Hehehe..bercanda."


" Kapan kamu beli?"


" Nggak usah nanya belinya kapan, coba kamu pakai dulu!"


Brian lalu memakai jam tangan tersebut di pergelangan tangannya.


" Bagus yank!!" Kata Arin sambil tersenyum puas.


" Ngapain sih kamu beliin aku jam mahal kayak gini?"


" Sebenernya aku pengen nyari yg murah, tapi ternyata aku salah masuk toko, jamnya mahal semua hahaha!!"

__ADS_1


" Hahaha... salah masuk toko ya judulnya?"


" Hihihi dikittt...."


Brian mengamati terus pergelangan tangannya.


" Itu buat ngingetin kamu akan waktu kebersamaan kita ini. Kalau suatu hari kita bisa ketemu lagi, aku harap jam itu masih ada di pergelangan tangan kamu, tapi kalau kita nggak bisa jumpa lagi, aku harap itu bisa bermanfaat buat kamu, dan tetap kamu jaga."


" Kenapa kamu ngomong gitu? berdoa aja dong, suatu hari nanti kita bisa dipertemukan lagi, dan bukan untuk menjadi sepasang kekasih."


" Terus sepasang apa? sepasang merpati?"


" Kok sepasang merpati sih? sepasang suami istri dong, pendamping hidup yank!!"


" Ohhh pendamping hidup, bilang dong dari tadi."


" Nih orang yang kok malah nggak diaminin sih?"


" Eh iya lupa...Amiinn...!!"


" Amin aja pakai disuruh."


" Kasian yang punya nama amin dipanggilin terus, butuh istirahat dia yank." Sambil cekikikan


" Emang gua pikirin!!"


" Idiihhh baper." Lagi-lagi Arin mencandai Brian.


Brian terus memandangi jam tersebut, sambil mengingat-ngingat sesuatu.


" Hiiihhh..ngagetin aja!!" Sambil memukul bahu Brian.


" Kamu tadi bilang mau cari toilet kan?


" Tapi sebenernya kamu beli ini kan? Ayo ngaku?""


" Nggak penting kapan aku belinya, yang jelas jam itu udah ada di tangan kamu. Itu buat ngingetin waktu-waktu berharga dalam hidup kamu. Waktunya sholat, waktu makan, waktu tidur, biar kamu nggak lupain itu."


" Yank...?"


" Iya?"


" Kamu siap?"


" Siap apanya?" Sambil menatap Brian yang duduk di sebelahnya.


" Siap pisah sama aku?"


" Kebersamaan kita beberapa hari ini, buat aku berat melepas kamu yank. Aku merasa udah deket banget sama kamu!" Sambil menatap ke atas, seolah mencari cahaya bintang yang sebenarnya tak nampak, karena terangnya sinar lampu yang menghiasi kota itu.


" Jangan ngeliat ke atas terus, kesandung lho nanti." Arin terus berusaha mengajak Brian bercanda, walaupun sebenarnya diapun sedih memikirkan perpisahan mereka esok.


" Ini orang bercanda terus ya."


" Biarin aja, daripada serius-serius bikin stres."


" Emang kamu nggak sedih ya?" Sambil melirik sebal pada Arin.

__ADS_1


" Ya sedih dong yank, cuma aku berusaha nggak mikirin aja."


" Malam ini adalah malam terakhir kita bersama, dan besok pagi kamu sudah harus pulang!"


" Yank...kapan ya kita bisa ketemu lagi?" Melirik Arin kembali yang sedang memainkan batu-batu kecil di bawah kakinya.


Arin hanya diam saja. Seandainya tidak ada jurang yang cukup dalam yang menyebabkan mereka berdua tidak bisa bersatu, mungkin Arin tidak akan berpikir dua kali lagi untuk hidup bersama pria yang ada di sebelahnya itu.


" Seandainya nanti sudah kembali ke rumah, jangan berubah ya yank, tetap cintai aku seperti ini?" Pinta Brian. Arin hanya mengangguk pelan tanpa kata-kata.


" Sebenernya waktu itu aku males banget yank ketemu kamu!" Kata Arin tiba-tiba.


" Lho kenapa? jadi kamu nyesel dateng jauh-jauh dan ketemu aku di sini? Terus kenapa kamu memutuskan mau ketemu sama aku?"


" Karena aku nggak mau menjalin hubungan sama seseorang, tanpa tau seperti apa sebenarnya dia."


" Maksudmu ingin tau aku secara fisik, asliku bagaimana ya?"


" Bukan itu. Aku hanya ingin memastikan, apakah kebersamaan kita itu seindah bayanganku saat di telfon. Apakah saat kita bersama, ada kecocokan satu sama lain. Itu yang jadi pertimbanganku yang kemudian memantapkan hatiku buat ketemu kamu."


" Dan sekarang kamu nyesel?"


" Ya, aku nyesel banget."


" Kenapa yank?" Sambil menarik dagu Arin dan memaksa untuk menatap matanya.


" Karena.....!"


" Karena apa yank?"


" Karena ternyata kamu lebih dari apa yang aku bayangin. Kamu bisa bikin aku nyaman, kamu bisa bikin aku tertawa, bikin aku berarti buat kamu. Dan sekarang aku bingung gimana aku harus menata hatiku kembali...gimana saat nanti aku pulang ke rumahku? apa yang harus aku lakuin? Aku pasti nggak akan bisa lupain kamu, dan ini sangat menyebalkan yank. Hal yang amat aku takutin akhirnya terjadi."


Brian menatap sendu pada wanita di hadapannya itu. Dia menarik nafas panjang.


" Maafin aku ya!!" Brian menunduk dalam.


" Nggak ada yang perlu dimaafin. Kita aja yang memaksakan ini semua. Padahal kita tau, kalau kita akan merasakan sakit."


" Kita nggak akan mengorbankan orang-orang yang kita sayangi demi ego kita kan? Karena kita pasti nggak akan mungkin bahagia di atas penderitaan mereka." Sambung Arin.


Brian hanya diam saja, yang dia rasakan saat ini adalah dadanya begitu sesak, dan dia tidak bisa melakukan hal apapun untuk mengobatinya.


" Yank! masuk yuk!!" Ajak Brian sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada Arin.


" Kenapa? kamu udah ngantuk?"


" Iya yuk! masuk!"


" Kan belum selesai ngobrolnya?"


" Udah ah nggak usah dibahas, nggak ada ujungnya."


" Pusing kan? hahaha...makanya nggak usah buka obrolan kayak gitu, bikin rusak suasana tau!!"


" Ayo ah masuk aja."


Arin kemudian berdiri dan meraih uluran tangan Brian, dan mereka masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2