
Sementara itu Maya terlihat sedang bersolek diri bersiap pergi ke sekolah Jenny. Hari ini kebetulan ada undangan rapat untuk wali murid, jadinya pagi-pagi sekali Maya sudah bersiap-siap pergi ke sekolah anaknya.
" Maa.. aku pinjem hpnya ya paket dataku abis." Sembari meraih hp Maya yang sedari tadi tergeletak di atas kasur.
" Lho...kemarin kan udah mama kasih uang buat beli paketan?? kamu buat jajan ya?"
" Ihhh mamah suudzon aja. Memang belum Jenny beliin mah, ntar nunggu akhir bulan, kan tinggal dua hari."
" Ihhh apa bedanya?"
" Ya bedalah...kan ini tenggang waktunya belum habis."
" Ya udah terserah kamu, yang penting jangan minta lagi ya."
" Siap ma!!" Kemudian Jenny keluar.
Jenny langsung membuka aplikasi wattsapp berniat mengirim pesan pada sahabatnya. Namun matanya langsung melotot sempurna saat melihat chat Maya dengan Yuda semalam, sepertinya Maya lupa menghapusnya.
" Issshhh...nggak ada kapoknya nih orang gangguin mamaku!! Padahal mama udah nggak ngeladeni, kayaknya perlu aku kasih pelajaran deh."
" Hemmmm...aku kerjain lagi nih?" Sambil mengetikkan sesuatu lalu dikirimlah ke nomor Yuda.
" Hayyy...Yud...udah berangkat kerja??" Sapaan ringan di pagi hari dikirimkan Jenny untuk Yuda.
Yuda yang saat itu baru selesai mandi iseng mengecek hpnya, dan entah kenapa hatinya girang bukan kepalang saat mendapati chat dari Maya.
" Ehhhh ni orang pagi-pagi udah ngechat aja, hemmm...pasti mau minta maaf yang semalam." Dengan pedenya Yuda berasumsi sendiri.
" Tumben ngechat pagi-pagi, ada angin apa?" Balasnya sok cuek, padahal hatinya sedang berbunga-bunga.
" Angin sepoi-sepoi dong, pelan tapi menyejukkan." Sambil mengirimkan pesan, Jenny tergelak sendiri, seakan umpannya mulai ditangkap oleh ikan yang hendak dia pancing.
" Idiiihhh...bisa mengarang indah ya sekarang."
" Iya semenjak ketemu kamu."
" Hahahaha....hueekkk...basiiii....!!" Jenny kembali ngskak saat menulis kalimatnya sendiri, namun buru-buru menutup mulutnya takut terdengar Maya.
" Hemmm...mulai pinter nggombal yaa ...semalem kok jutek banget sih?"
" Masak sihhh?"
__ADS_1
" Ihhhh lupa....emang penyakit lupa mendadak tuh lagi viral ya sekarang."
Jenny mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna kalimat Yuda. Dia lalu menscroll ke atas chat mamanya dengan Yuda semalam, baru kemudian dia paham dengan kalimat "lupa" yang dimaksud Yuda. Dia juga jadi tau bahwa Yuda adalah laki-laki yang sudah beristri.
" Salah sendiri malem-malem ngechat, mana nggak penting lagi."
" Emang nggak boleh ya?"
" Nggak bolehlah, kan ada etikanya komunikasi sama orang, harus inget waktu juga. Mentang-mentang aku janda, kamu jadi bisa hubungin aku sewaktu-waktu gitu? nggak juga dong."
" Ohhh iya maaf May, kebiasaan jaman kita bareng dulu."
Jenny kembali mengernyitkan dahinya.
" Apa nih maksudnya? bareng? emang ada hubungan masa lalu apa mama dengan Om Yuda?"
Jiwa menyelidik Jenny meronta-ronta. Dia ingin tau lebih dalam yang telah terjadi antara Maya dan Yuda di masa muda mereka.
" Emang kenapa dengan jaman kita bareng dulu? sekarang kan aku udah punya anak, nggak bisa dong disamain dengan jaman dulu."
" Iya sih...cuma aku merasa saat chat sama kamu kayak de javu aja seperti kita pacaran dulu."
" Ohhhh...oohhhh..ohhh...jadi Om Yuda mantan mama, pantesan sampai mengabaikan aku, pergi nggak ngomong aku, rupanya mengulang romantisme masa lalu."
" Terus reaksi keluargamu gimana?"
" Kalau aku jadi istrimu, dan tau suamiku chat perempuan lain, langsung aku banting tuh hp."
" Hahaha..galak amat."
" Harus dong. Enak aja, kita juga kaum wanita punya harga diri dong, nggak bisa sembarangan diinjak-injak kaum lelaki, dan bukan cuma hpnya yang kubanting, mungkin orangnya juga kuinjak-injak." Jenny jadi meradang sendiri, dan sepertinya kalimat yang ditulisnya lebih mewakili kata hatinya padahal dia sedang menyamar menjadi Maya.
" Hahaha...maksudmu perempuan yang aku chat yang diinjiak-injak? berarti itu kamu dong hahaha..." Kembali tergelak.
" Dua-duanya dong...karena nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api." Jenny tetap tidak mau kalah. Jenny menjelma seperti masa muda Maya yang tidak pernah mau kalah berdebat jika dia merasa benar. Jenny tanpa sadar telah menyalahkan mamanya sendiri.
" Hemmm....kamu masih belum berubah May, dulu kita sering berdebat banyak hal, dan aku belum pernah sekalipun menang."
Jenny baru menyadari perannya. Saat ini dia sedang menyamar menjadi Maya dan ingin mengerjai Yuda, bukannya ingin beradu argumen dengan Yuda.
" Maaf Yud, jiwa ngototku meronta-ronta."
__ADS_1
" Iya May ngga papa, aku udah nggak kaget sama sifatmu yang satu ini."
" Ehhh...gimana kalau nanti kita ketemuan, sambil sekalian makan siang."
" Boleh, dimana?" Tanpa pikir panjang lagi Yuda mengiyakannya.
" Idihhh cepet amat jawabnya?"
" Hehehe...kan lama nggak nongkrong bareng kamu."
" Waktu malem-malem itu emang ngapa kalau nggak nongkrong?"
" Ya kan baru sekali, belum puas cerita-cerita sama kamu."
" Ohhhh..masih banyak yang mau diceritain ke aku nih?"
" Ya kan lama nggak ketemu, bayangin aja 10 tahun lho, kalau dibikin sinetron udah puluhan episode."
" Ya udah, nanti jam 1 aku tunggu di cafe X ya?"
" Cafe X?? jauh amat?? 1 jam perjalanan lho dari tempat kerjaku."
" Mau nggak?"
" Ehhh iya..mau-mau." Yuda tidak mau melewatkan tawaran Jenny yang mengaku sebagai Maya.
" Emang kamu sekarang lagi dimana? kon ngajak ketemuan di cafe X?"
" Aku sekarang lagi di rumah, cuma sebentar lagi mau otw ke daerah X, biasalah ada urusan."
" Kamu tuh...makanya cepet cari suami biar kalau pergi-pergi ada yang nganter."
" Cari suami mah gampang, cari suami yang bisa jadi ayah yang baik buat anakku itu yang sulit."
" Ahhh itu kan perasaanmu aja."
" Isssshhh...jangan bilang kamu termasuk salah satu kandidat calon papaku yang baik ya. Itu kan katamu dan keluargamu, enak aja!!" Gerutu Jenny dalam hati.
" Kok malah bahas statusku sih? udah ahhh jangan lupa jam 1 siang di cafe X ya. Nggak ada toleransi, telat dikit aku tinggal pulang."
" Oke siappp tuan putri."
__ADS_1
Kemudian chat merekapun berakhir. Jenny tersenyum puas, karena sebentar lagi misi mengerjai Yuda akan segera terwujud."
" Rasain...emang enak nunggu?? dan yang ditungguin nggak dateng-dateng hahaha....!!" Jenny tertawa girang.