CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MENELFON MAYA


__ADS_3

Sepulang kerja, Yuda langsung merebahkan diri di kamar hotel yang telah disewanya beberapa hari ini. Sebenarnya saat pulang ke rumah kemarin, kemarahannya sudah sedikit reda, namun ternyata sikap Arin membuat emosinya naik kembali.


Sebenarnya bisa saja Brian tidur di rumah orang tuanya, kebetulan orang tua Brian tinggal satu kota dengannya, namun itu tidak mungkin dilakukannya, karena pasti seribu macam pertanyaan bakal dilontarkan kedua orang tuanya, dan sudah bisa dipastikan, dia akan langsung disuruh pulang ke rumah. Apalagi Arin adalah satu-satunya menantu perempuan di rumah itu, dan sangat dekat dengan ibunya, sudah jelas ibunya lebih membela Arin dibanding dirinya.


Perutnya terasa sangat lapar, tadi saat pulang kerja dia tidak sempat membeli makanan karena jalanan macet, dan sangat malas jika di situasi seperti itu harus mampir kemana-mana. Brian teringat, jika pulang kerja seperti ini, Arin akan langsung menyambutnya dengan secangkir kopi, dan beberapa camilan. Dan jika lapar, sudah pasti makanan favoritnya lengkap terhidang di meja, karena Arin selalu berusaha memasak makanan yang digemari suaminya itu.


Yuda membuka lemari es yang ada di kamarnya, ternyata masih ada satu buah apel sisa kemarin.


" Hemmmm....lumayan untuk mengganjal perut, nanti malam saja makannya, sekalian keluar." Kata Yuda dalam hati.


Yuda lalu segera melahapnya, sembari ditemani secangkir kopi yang baru saja dipesannya. Rasanya sangat tidak cocok makan apel dan minum kopi, namun apa boleh buat, kondisi terpaksa, dan gengsi untuk pulang.


Yuda duduk sembari menaikkan kedua kaki ke atas meja yang ada di depannya, lalu dihidupkannya televisi yang ukurannya jauh lebih kecil dari televisi layar datar yang ada di rumah.


Entah kenapa, selama meninggalkan rumah, dia tidak memikirkan Arin sama sekali. Bagaimana keadaan istrinya di rumah, tidak pernah menelfonnya, dan tidak perduli apa yang dilakukan Arin selama kepergiannya. Yang dia ingat adalah, bahwa dia sakit hati dengan sikap Arin, dan benar-benar marah terhadap istrinya itu. Sedangkan Arin sendiri bukan tidak mau menelfon Yuda, tapi dia memang ingin tahu usaha suaminya itu untuk memperbaiki hubungan dengannya, karena selama ini, jika Yuda marah selalu Arin yang berusaha minta maaf.


Sesaat kemudian terdengar ada pesan masuk. Yuda segera mengambil hpnya yang tadi diletakkan di atas kasur.


" Seandainya Arin yang mengirim pesan, aku tidak akan membalasnya, biar dia benar-benar menyesali perbuatannya dulu." Kata Yuda dalam hati. Sepertinya hati Yuda telah dipenuhi dendam, rasa sakit hati beberapa hari kemarin belum juga berkurang.


Yuda kemudian membuka pesan itu, tapi perkiraannya salah, yang mengirim pesan ternyata Maya, mantannya dulu yang baru saja bertemu beberapa hari yang lalu.


" Maya??" Kata Yuda sedikit antusias.


" Hehehe..aku sudah mengira, pasti kamu akan mengirim pesan duluan padaku." Kata Yuda sambil tersenyum penuh kemenangan. Yuda sengaja sok jual mahal dan tidak ingin menghubungi Maya duluan.


Tanpa basa basi Yuda langsung memencet nomor telefon Maya. Tanpa harus menunggu lama, telfonnya segera diangkat.


" Assalamualaikum."


" Wa'alaikum salam." Jawab Maya.


" Kok telfon?"


" Aku paling malas kalau harus disuruh ngetik-ngetik tulisan, tinggal telfon, apa perlunya, selesai."


" Hehehe...kamu masih belum berubah, selalu ingin yang praktis-praktis ya Yud."


" Ya iyalah, kalau ada yang mudah kenapa dibuat susah?"

__ADS_1


" Lagi dimana kamu? Kok berani telfon?"


" Kenapa nggak berani?"


" Maksud aku tuh, apa istrimu nggak cemburu kamu telfon perempuan lain?"


" Kenapa cemburu? kan cuma telfon aja, nggak ngapa-ngapain."


" Emang istrimu dimana?"


" Dia di rumah."


" Lho kamu emang nggak di rumah?"


" Nggak."


" Terus dimana?"


" Ada deh...mau tauuu aja."


" Yeee...terserah kamu ajalah."


" Ya tanya kabar aja."


" Lahhhh baru beberapa hari ketemu kok udah nanya kabar lagi? basa basinya basi hahaha."


" Lagi ngapain kamu?"


" Nih masih ngopi, baru aja pulang kerja."


" Udah lama ya kita nggak ngobrol?"


" Ya iyalah, semenjak kamu ninggalin aku, dan diboyong suamimu ke kota Y."


" Ahhhh udah deh nggak usah bahas masa lalu."


" Jadi sekarang kamu tinggal sama orang tuamu lagi?"


" Ya gitu deh."

__ADS_1


" Eh tar malem ada acara nggak?" Tanya Yuda.


" Hemmmm...kayaknya sih nggak."


" Kok pakai kayaknya?"


" Ya kan belum tau, kita kan nggak ngerti satu jam ke depan tiba-tiba ada kepentingan mendadak gimana?"


" Ohhh iya..ya..."


" Emang mau ngajak kemana?"


" Ya...ngobrol sambil makan gitu, mau?"


" Ajak istrimu juga ya, biar sekalian kenalan sama aku."


" Hahaha...ya nggak jadi ngobrol kalau ngajak dia."


" Kok nggak jadi?"


" Ya iya, nggak bisa nyantai kita ngobrolnya nanti. Gampanglah biar nanti aku bilang sama dia, kalau aku ketemuan sama teman lama."


" Oke, yang penting aku nanti nggak jadi sumber permasalahan dalam rumah tanggamu."


" Tenang aja, istriku itu nurut banget sama aku."


" Ya iya, model pria kayak kamu, kalau nggak dapet istri yang nurut, udah pisah 1 jam setelah akad nikah hahaha."


" Ihhhhh...sialan!!"


" Ya udah, nanti aku jemput jam 8 malem ok?"


" Ok!"


" Assalamualaikum."


" Waalaikum salam." Kemudian telfon ditutup, dan Yudapun tersenyum-senyum sendiri.


" Kamu belum berubah ternyata Yud." Sambil meletakkan telfon genggamnya, kemudian pergi ke belakang, karena adzan magrib mulai terdengar berkumandang.

__ADS_1


__ADS_2