
" Mama....!!" Yuda yang baru keluar dari kamar langsung memeluk mamanya dari belakang, dia terlihat ceria. Hatinya berbunga-bunga karena nanti siang dia akan bertemu sang mantan.
" Lepasin Yud, mama lagi bawa sayur nih."
" Hemmm....harum banget!! masak apa sih mah?"
" Kesukaanmu nih, ayo sarapan?"
" Ohh ya?? apa??" Melepas pelukan mamanya dan melihat yang sedang dibawa mamanya.
" Wooowww..soup daging!! Ahhh mama itu selalu tau caranya menyenangkan lidah anaknya ya. Kalau mamah di sini tiap hari dan selalu masakin aku, aku yakin badanku bisa bengkak dan bakalan selalu pengen cepet pulang ke rumah."
" Hemmmm....sepertinya dia lupa, jika setiap hari aku selalu berusaha membuatkan masakan kesukaannya." Arin menggerutu dalam hati
" Udah ayo duduk sini, kita sarapan bareng-bareng!!" Ajak mamanya.
Tak lama merekapun asyik menikmati sarapan pagi. Tidak ada suara, hanya sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar sesekali.
" Yud, pelan-pelan makanannya, nggak yang minta makanan kamu lho." Mengingatkan anaknya, karena Yuda terlihat begitu semangat sekali menikmati soup daging buatan mamanya.
__ADS_1
" Iya mah...masakan mama ini memang nggak ada duanya enakkkkkk banget, pokoknya nggak ada yang bisa saingin masakan mama deh." Yuda berbicara seolah tidak memikirkan perasaan Arin, namun Arin tidak memperdulikan omongan Yuda, terlalu buang-buang tenaga jika setiap kalimat Yuda fia masukan hati, toh Yuda memang sengsja sedang membuat Arin jengkel.
" Kamu ini Yud, tetep aja seenak-enaknya masakan mama, kamu juga patut berterimakasih pada Arin, karena sekarang dialah yang menggantikan mama untuk membuatkanmu masakan dan melayanimu, jadi kamu nggak bisa mengabaikan dia.
Yuda diam saja, dan melirik sebentar pada Arin, kemudian melanjutkan makan siangnya.
" Habis ini anter mama pulang ya Yud?"
" Lho mah, kan baru semalem? kok udah minta pulang aja?"
" Tadi papamu telfon mau pulang hari ini."
" Kapan-kapan mamah nginep sini lagi Rin."
" Ngajak papa sekalian ya mah?"
" Iyalah pastinya."
" Kerjaaanmu apa lagi banyak Yud? kok kayaknya udah rapih gitu?" Sambil menatap Yuda.
__ADS_1
" Usaha Yuda yang baru kan butuh perhatian ekstra mah, masih awal-awal merintis memang membutuhkan kehadiran Yuda terus."
" Pantesan kamu nggak pernah mampir ke rumah mama lagi, biasanya kalau pulang kerja aja walaupun sebentar, disempetin mampir ke rumah."
" Iya mah, maaf. Kadang Yuda pulangnya suka nggak tentu sih, masih banyak hal yang harus Yuda tata dulu, kalau sudah berjalan baik, baru bisa Yuda lepasin sama orang kepercayaan Yuda, kayak toko yang dulu."
" Lalu gimana perkembangannya?"
" Alhamdulillah mah, prospeknya sangat menjanjikan, dan Yuda yakin, untuk ke depannya bakal berkembang pesat. Sekarang kan sedang gencar-gencarnya pembangunan dimana-mana, dan alhamdulillah beberapa proyek besar memesan barang pada Yuda.
" Baguslah nak, semoga usahamu berkah. Tapi jangan lupa, selalu kunjungi orang tuamu, jangan mentang-mentang sibuk, kamu jadi lupa orang tua dan sanak saudaramu. kalau mikir kerjaan nggak akan ada habisnya Yud. Orang tua itu udah seneng dan bersyukur kalau lihat anak-anaknya sehat dan berkecukupan. Kalau kalian datang, dan kalian mau duduk, kemudian mendengarkan cerita-ceritanya, mereka pasti udah sangat bahagia. Nggak perlu kalian membawa macam-macam buah tangan. Yang penting jangan pernah bosan untuk mendengar cerita yang berulang-ulang. Karena orang tua itu kebanyakan jika usianya telah senja, mereka akan sering bercerita hal yang sama dan berulang-ulang, bahkan mungkin itu sudah kalian dengar berkali-kali."
" Dulupun omapun begitu, setiap mama dan papa berkunjung ke rumahnya, pasti oma akan bercerita tentang pohon jambu di depan rumah yang dulu pernah membuat papah jatuh, sehingga kemudian akhirnya ditebang, padahal buahnya sangat lebat dan manis."
" Tapi mama dan papa tidak pernah bosan mendengar, apalagi kemudian pergi menghindar saat nenekmu bercerita."
" Semoga saat mama dan papa tua nanti, kalian berduapun begitu, jangan pernah bosan menjadi pendengar papa dan mamamu ini nak."
Yuda dan Arin hanya mengangguk-angguk. Yuda menatap wajah mamanya yang semakin menua, kulit di tangannya yang semakin memgeriput. Dan tangan itulah dulu yang begitu telaten merawatnya dari kecil hingga dia sedewasa sekarang.
__ADS_1