CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
BERSAMA DIKA 2


__ADS_3

Obrolan mereka terputus, saat seorang pelayan masuk sambil membawa nampan, berisi pesanan mereka berdua.


" Kenapa jadi bahas hal ginian sih?" Bahas yang lain aja ah!!" Kaya Yuda kemudian sesaat setelah pelayan pergi.


" Gimana bisnismu?" Sambungnya.


" Alhamdulillah lancar."


" Syukurlah...dulu kita pernah ngerasain sama-sama di bawah, dan sekarang saatnya kita menikmati hasil jerih payah kita."


" Yang jelas jangan pernah lupa sejarah Yud. Saat sudah di atas, jangan sombong dan takabur."


Dika terus memperhatikan Yuda yang tidak berhenti-berhentinya merokok. Habis satu puntung, sambung lagi dengan yang baru.


" Gila!!! Merokokmu kayak kereta gitu?" Yuda cuma tersenyum tipis.


" Laki-laki kalau merokoknya udah kayak model kamu ini, biasanya dia sedang gelisah, kalau nggak sedang menghadapi masalah. Benar nggak tebakanku?"


" Hahaha sok tau kamu."


" Yuda..Yuda...aku kenal kamu dari dulu. Kamu memang pecandu rokok, tapi merokok dengan cara seperti ini yang menurutku nggak wajar. Kenapa? Ayolah cerita."


" Apa yang perlu aku ceritain?"


" Udah deh nggak usah bersandiwara. Terus ngapain malem-malem kayak gini ngajak nongkrong aku?"


" Pengen aja ngobrol sama kamu. Ya kan kita udah jarang banget nongkrong kayak gini Dik."


" Iya betul, tapi ini nggak biasa lho, beneran deh. Ayo dong cerita Yud, ada apa?"


Yuda diam saja. Dia terus-terusan menghisap rokok yang ada di tangannya.


" Masalah kantor?"


" No!!"

__ADS_1


" Masalah wanita?"


" Amit-amit!!"


" Terus apa Yud? Arin ya?" Yuda diam saat Dika menyebut nama istrinya.


" Begitulah."


" Kenapa?"


Kemudian Yuda bercerita panjang lebar dari A sampai Z.


" Bayangkan Dik, seandainya istrimu itu melawanmu seperti itu, apa kamu nggak akan marah besar seperti aku?"


" Mungkin iya, mungkin juga nggak."


" Kok mungkin?"


" Ya mungkin. Karena sebelum aku marah, aku akan mencegah masalah itu terjadi, agar tidak membuat istriku melawan."


" Setiap permasalahan yang timbul harus kita runtun dulu sumbernya, jangan semata-mata menyalahkan istri yang melawanmu."


" Tapi pada intinya dia sudah berani melawanku."


" Sering atau hanya sekali itu? Jika sudah sering melawanmu, berarti dia istri durhaka, tapi jika baru sekali itu melawanmu, harus kamu cari dimana letak kesalahannya, kenapa tiba-tiba dia melawanmu."


" Tapi tetap tidak ada alasan, titik."


" Itu yang dinamakan ego. Selama ini dia pernah bilang nggak bahwa ada sikapmu yang tidak dia sukai?" Yuda diam tidak menjawab.


" Nggak kan?"


" Padahal pasti Arin juga memiliki ketidaksukaan terhadap beberapa sikapmu, tapi kenapa dia diam? Karena dia berusaha menerimamu apa adanya."


" Dan pada saat itu, mungkin dia juga tidak suka dengan sikapmu, makanya kemudian dia melawanmu."

__ADS_1


" Berarti kamu membenarkan sikapnya yang melawanku?"


" Bukan membenarkan, dia juga tetap salah. Namun seharusnya kamu sebagai seorang suami juga nggak bisa semata-mata menyalahkan istrimu yang tiba-tiba melawanmu. Masuk akal nggak alasan istrimu, sehingga marah sama kamu."


" Baik buruknya istri itu, tergantung juga bagaimana seorang suami mendidiknya Yud."


" Berarti dia memang sudah nggak bisa kudidik dong."


" Bukan nggak bisa, tapi mungkin cara mendidiknya kurang benar."


" Bicarakan baik-baik masalahmu dengan Arin. Kalau kau pergi seperti ini, justru masalah rumah tanggamu akan menjadi bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu."


" Udahlah Yud, hilangkan egomu. Berusahalah mengerti dan memahami Arin."


" Tapi pasti sekarang dia merasa bebas nggak ada aku di rumah."


" Kenapa bisa begitu?"


" Ya kan kalau aku di rumah nggak ada orang yang mengaturnya ini itu, nggak ada orang yang memerintahnya. Pasti dia bisa leluasa berbuat apa saja tanpa ada aku yang mengawasinya."


" Kok bisa begitu ya? apa selama ini kamu tau bahwa kalau ada kamu Arin itu nggak bebas?"


" Ya pastilah Dik, aku tau yang dia rasakan."


" Bahaya dong seorang istri ada di samping suami, bukannya bahagia, bukannya nyaman, malah jadi seperti seorang pesakitan dan merasa terkekang hahaha."


" Heiii kamu menyindirku?"


" Bukan menyindirmu, cuma membuka pikiranmu. Kamu sadar arti keberadaanmu di samping Arin seperti itu, malah tetap kamu teruskan. Kamu nggak takut tiba-tiba Arin berontak, terus pergi ninggalin kamu, karena dia sudah nggak nyaman lagi ada di samping kamu?"


" Mana berani dia seperti itu? dia mau mengorbankan masa depan Flo hidup tanpa ayahnya? nggak gampang besarin anak sendirian lho."


" Heiii jangan sesumbar kamu. Wanita itu jika sudah nekad, dunia aja bisa ditaklukan, jangan pernah meremehkan kemampuan mereka Yud."


" Wanita itu mahluk yang serba bisa Yud, tanpa kita, mereka itu bisa apa saja. Coba kalau kita, baru ditinggal istri 3 hari aja rumah udah kayak habis perang."

__ADS_1


Yuda diam saja. Entah dia itu membenarkan kalimat Dika atau memang dia tetap keras dengan pendiriannya. Karena orang yang diam itu, bukan berarti dia mau menerima ide kita.


__ADS_2