
Obrolan mereka terputus, saat seorang pelayan masuk sambil membawa nampan, berisi pesanan mereka berdua.
" Kenapa jadi bahas hal ginian sih?" Bahas yang lain aja ah!!" Kaya Yuda kemudian sesaat setelah pelayan pergi.
" Gimana bisnismu?" Sambungnya.
" Alhamdulillah lancar."
" Syukurlah...dulu kita pernah ngerasain sama-sama di bawah, dan sekarang saatnya kita menikmati hasil jerih payah kita."
" Yang jelas jangan pernah lupa sejarah Yud. Saat sudah di atas, jangan sombong dan takabur."
Dika terus memperhatikan Yuda yang tidak berhenti-berhentinya merokok. Habis satu puntung, sambung lagi dengan yang baru.
" Gila!!! Merokokmu kayak kereta gitu?" Yuda cuma tersenyum tipis.
" Laki-laki kalau merokoknya udah kayak model kamu ini, biasanya dia sedang gelisah, kalau nggak sedang menghadapi masalah. Benar nggak tebakanku?"
" Hahaha sok tau kamu."
" Yuda..Yuda...aku kenal kamu dari dulu. Kamu memang pecandu rokok, tapi merokok dengan cara seperti ini yang menurutku nggak wajar. Kenapa? Ayolah cerita."
" Apa yang perlu aku ceritain?"
" Udah deh nggak usah bersandiwara. Terus ngapain malem-malem kayak gini ngajak nongkrong aku?"
" Pengen aja ngobrol sama kamu. Ya kan kita udah jarang banget nongkrong kayak gini Dik."
" Iya betul, tapi ini nggak biasa lho, beneran deh. Ayo dong cerita Yud, ada apa?"
Yuda diam saja. Dia terus-terusan menghisap rokok yang ada di tangannya.
" Masalah kantor?"
" No!!"
__ADS_1
" Masalah wanita?"
" Amit-amit!!"
" Terus apa Yud? Arin ya?" Yuda diam saat Dika menyebut nama istrinya.
" Begitulah."
" Kenapa?"
Kemudian Yuda bercerita panjang lebar dari A sampai Z.
" Bayangkan Dik, seandainya istrimu itu melawanmu seperti itu, apa kamu nggak akan marah besar seperti aku?"
" Mungkin iya, mungkin juga nggak."
" Kok mungkin?"
" Ya mungkin. Karena sebelum aku marah, aku akan mencegah masalah itu terjadi, agar tidak membuat istriku melawan."
" Setiap permasalahan yang timbul harus kita runtun dulu sumbernya, jangan semata-mata menyalahkan istri yang melawanmu."
" Tapi pada intinya dia sudah berani melawanku."
" Sering atau hanya sekali itu? Jika sudah sering melawanmu, berarti dia istri durhaka, tapi jika baru sekali itu melawanmu, harus kamu cari dimana letak kesalahannya, kenapa tiba-tiba dia melawanmu."
" Tapi tetap tidak ada alasan, titik."
" Itu yang dinamakan ego. Selama ini dia pernah bilang nggak bahwa ada sikapmu yang tidak dia sukai?" Yuda diam tidak menjawab.
" Nggak kan?"
" Padahal pasti Arin juga memiliki ketidaksukaan terhadap beberapa sikapmu, tapi kenapa dia diam? Karena dia berusaha menerimamu apa adanya."
" Dan pada saat itu, mungkin dia juga tidak suka dengan sikapmu, makanya kemudian dia melawanmu."
__ADS_1
" Berarti kamu membenarkan sikapnya yang melawanku?"
" Bukan membenarkan, dia juga tetap salah. Namun seharusnya kamu sebagai seorang suami juga nggak bisa semata-mata menyalahkan istrimu yang tiba-tiba melawanmu. Masuk akal nggak alasan istrimu, sehingga marah sama kamu."
" Baik buruknya istri itu, tergantung juga bagaimana seorang suami mendidiknya Yud."
" Berarti dia memang sudah nggak bisa kudidik dong."
" Bukan nggak bisa, tapi mungkin cara mendidiknya kurang benar."
" Bicarakan baik-baik masalahmu dengan Arin. Kalau kau pergi seperti ini, justru masalah rumah tanggamu akan menjadi bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu."
" Udahlah Yud, hilangkan egomu. Berusahalah mengerti dan memahami Arin."
" Tapi pasti sekarang dia merasa bebas nggak ada aku di rumah."
" Kenapa bisa begitu?"
" Ya kan kalau aku di rumah nggak ada orang yang mengaturnya ini itu, nggak ada orang yang memerintahnya. Pasti dia bisa leluasa berbuat apa saja tanpa ada aku yang mengawasinya."
" Kok bisa begitu ya? apa selama ini kamu tau bahwa kalau ada kamu Arin itu nggak bebas?"
" Ya pastilah Dik, aku tau yang dia rasakan."
" Bahaya dong seorang istri ada di samping suami, bukannya bahagia, bukannya nyaman, malah jadi seperti seorang pesakitan dan merasa terkekang hahaha."
" Heiii kamu menyindirku?"
" Bukan menyindirmu, cuma membuka pikiranmu. Kamu sadar arti keberadaanmu di samping Arin seperti itu, malah tetap kamu teruskan. Kamu nggak takut tiba-tiba Arin berontak, terus pergi ninggalin kamu, karena dia sudah nggak nyaman lagi ada di samping kamu?"
" Mana berani dia seperti itu? dia mau mengorbankan masa depan Flo hidup tanpa ayahnya? nggak gampang besarin anak sendirian lho."
" Heiii jangan sesumbar kamu. Wanita itu jika sudah nekad, dunia aja bisa ditaklukan, jangan pernah meremehkan kemampuan mereka Yud."
" Wanita itu mahluk yang serba bisa Yud, tanpa kita, mereka itu bisa apa saja. Coba kalau kita, baru ditinggal istri 3 hari aja rumah udah kayak habis perang."
__ADS_1
Yuda diam saja. Entah dia itu membenarkan kalimat Dika atau memang dia tetap keras dengan pendiriannya. Karena orang yang diam itu, bukan berarti dia mau menerima ide kita.