
Sepeninggal Yuda, Maya segera masuk ke dalam rumahnya. Dilihatnya gerbang telah terkunci rapat. Kemudian dia mengambil anak kunci cadangan dari dalam tas. Maya terus masuk ke dalam rumah. Lampu telah padam semua, namun saat melewati kamar Jenny, terlihat lampu masih menyala terang. Maya melihat arlojinya, pukul 11.48.
" Kenapa lampu kamarnya masih menyala? apa dia belum tidur?"
Maya bertanya-tanya dalam hati. Karena anak perempuannya itu paling tidak suka tidur dalam keadaan lampu menyala terang.
Maya kemudian mengintip dari lubang kunci, namun ternyata sama sekali tidak terlihat. Dia kemudian mencoba mengetuk, namun diurungkannya, karena dia takut jika Jenni saat itu sudah tidur, dan dia bisa terganggu. Iseng-iseng Maya mencoba membuka pintu. Saat handle didorong, ternyata pintu kamar Jenny tidak dikunci. Maya langsung melongokkan kepalanya. Dia menengok ke kiri dan ke kanan, namun dia tidak menemukan anak semata wayangnya itu.
" Lho kemana Jenny?? kenapa dia tidak ada di kamarnya?" Tanya Maya dalam hati.
" Masak dia tidur dengan nenek dan kakeknya?? ahhh nggak mungkin. Jadi kemana dia?"
Maya lalu mencoba masuk ke dalam kamar Jenny, dan mencarinya ke dalam tolilet. Tetap nihil, Jenny memang tidak ada di kamar itu.
" Kemana sih dia??" Maya memutar otak, mencoba menebak-nebak dimana gerangan Jenny sehingga tidak ada di kamarnya.
" Nggak mungkin kan malam-malam begini aku teriak manggilin dia? bisa-bisa tetangga pada kabur. Duhh Jen, kemana sih kamu nak??"
" Oh iya!!" Kemudian Maya mengeluarkan hpnya. Dia berniat menelfon Jenny, siapa tau dia mengangkatnya.
" Kriiingg...!!" Terdengar nada sambung berbunyi.
" Kriiinggg...!!" Tetap tidak ada jawaban.
Kemudian Maya keluar dari kamar Jenny, dan berjalan ke arah kamarnya sendiri, sambil terus menelfon. Maya terlihat panik, karena Jenny tidak mengangkat hpnya, padahal terdengar nada dering di sana.
Saat masuk ke dalam kamar, Maya terkejut karena Jenny sedang berada di dalam.
" Jenny??? kok kamu di sini?" Mematikan telfon.
" Mama barusan pulang?" sambil melihat jam dinding yang berada di atas. Wajahnya terlihat sangat tidak suka menatap Maya.
" Iya, kenapa Jen? kok mukamu cemberut gitu? jelek ihhh!!" Sambil mencubit pipi.
__ADS_1
" Kenapa kamu belum tidur?"
" Nungguin mama pulang."
" Biasanya juga nggak pernah nungguin." Sembari melepaskan seluruh asesoris yang menempel di tubuhnya.
" Jenny nggak suka mama pergi dengan laki-laki itu." Tanpa basa basi sambil melipat tangan ke dada.
" Om Yuda maksudnya?"
" Entah siapa namanya, yang jelas Jenny nggak suka."
" Alasan Jenny apa?"
" Karena Jenny belum tau siapa dia, dan mama belum pernah mengenalkan pada Jenny."
" Om Yuda itu teman lama mama sayang, dan mama nggak ada hubungan apa-apa."
" Tapi setiap teman lelaki yang pergi dengan mama, pasti mama mengenalkannya dulu pada Jenny."
" Ya iyalah...Jenny nggak mau mama itu disakiti lagi. Dan Jenny nggak mau jadi korban kegagalan rumah tangga mama untuk kedua kali."
" Dengar nak!" Sambil menarik tangan Jenny dan mengajaknya duduk di atas ranjang.
" Mama sangat tau apa yang harus mama lakukan. Mama juga nggak mau salah memilih laki-laki yang nantinya akan menjadi papa sambungmu. Mama pasti akan memberikan yang terbaik buatmu, jadi kamu jangan khawatir ya?"
" Kalau masalah kamu jadi korban, maafkan mama. Mama juga sebenarnya nggak mau kamu merasakan itu semua, tapi kamu tau posisi mama kan? Nggak ada orang yang mau rumah tangganya berhenti di tengah jalan nak, tidak juga mama."
" Maka dari itu, Jenny mau mama lebih hati-hati milih pasangan hidup. Dan satu yang harus mama ingat! kalau mama ingin menjalin hubungan dengan laki-laki manapun, mama harus memberitahu Jenny dulu."
" Okkk siap nak, maafin mama ya. Ternyata anak mama udah besar dan udah pinter ya."
" Bukan Jenny ngajarin mama, mama pasti lebih berpengalaman dari Jenny. Tapi bukan berarti mama tidak mendengarkan pendapat Jenny."
__ADS_1
" Mama sangat mendengarkan sayang, karena kalau mama mencari suami lagi itu bukan cuma buat mama, tapi juga harus bisa menjadi sosok papa buat kamu, yang bukan hanya mencintai mama, tapi juga menyayangi juga nak."
" Mama janji ya?"
" Ya mama janj sayang!!"
" Maafin Jenny ya mah, Jenny cuma nggak mau mama itu sedih lagi."
" Iya mama tau sayang."
" Apapun akan mama lakukan asalkan itu terbaik buat kamu."
" Makasih ya mah." Sambil memeluk Maya.
" Iya sayang."
" Ya udah tidur sana, besok sekolah kan?"
" Boleh nggak malam ini Jenny tidur sama mama?"
" Ya boleh dong, ayo sini!"
Kemudian mereka berdua berbaring di atas ranjang. Maya membelai rambut Jenny dengan penuh kasih sayang. Ditatapnya wajah anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa. Ada rasa sedih dalam hatinya, karena tidak bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya, sehingga Jenny kehilangan sesosok papa.
" Maafin mama ya nak." Sambil mencium kening putri satu-satunya itu.
Sementara itu, Yuda terus mengendarai mobilnya menuju hotel. Wajahnya terlihat sumringah. Entah kenapa, setelah bertemu dengan Maya, semangatnya kembali tumbuh, hatinya begitu gembira. Ada sebuah perasaan yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata.
Rasa penat akibat pertengkarannya dengan Arin tiba-tiba saja hilang tak berbekas. Yang ada saat ini adalah rasa bahagia yang tak terhingga.
Sesampainya di kamar hotel, Yuda segera melemparkan tubuhnya di ranjang. Wajahnya menatap langit-langit kamar.
" Hemmmm sedang apa dia ya?" Yuda kemudian melihat jam di hpnya, pukul 11.58.
__ADS_1
" Ahhhh nggak pantas kalau aku kirim pesan malam-malam begini." Kata Yuda dalam hati, kemudian dia letakkan kembali hpnya.