CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
KEDATANGAN YUDA


__ADS_3

" Assalamualaikum!!"


" Waalaikum salam!!"


" Itu Yuda dateng Rin."


Arin segera berdiri dari duduknya, berpura-pura antusias menyambut kedatangan Yuda. Dia masih ingat pesan suaminya, jangan sampai mamanya tau jika mereka sedang bertengkar.


Yuda datang sembari membawa satu kantong besar berisi makanan ringan dan steak pesanan mamanya. Arin segera mengambilnya dari tangan Yuda.


Yuda menatap Arin sedikit sinis, dan melirik mamanya yang masih serius melihat televisi.


" Ingat!! jaga sikapmu!!" Bisik Yuda. Tatapan Yuda seperti mengintimidasi Arin, ditambah kalimat menohoknya yang sangat menyakitkan.


Arin hanya menarik nafas, sekuat tenaga ditahannya rasa jengkel luar biasa yang tiba-tiba membuat dadanya terasa sesak.


" Hei kemana aja kamu selama 10 tahun lebih pernikahan kita? enak aja... yang sering marah di depan umum dan nggak bisa jaga sikap itu kamu lho dan bukan aku." Kata Arin berteriak dalam hati.


Yuda seperti tidak mengenal Arin. Padahal selama ini Arin selalu bisa menyembunyikan perasaannya di hadapan orang lain demi menutupi rasa sedihnya diperlakukan seperti itu oleh Yuda. Arin hanya curhat dengan beberapa orang yang dipercaya saja. Arin lebih banyak menumpahkan kesedihan hatinya di dalam kamar dan menangis. Jika perasaannya sudah lega, baru dia akan keluar dan mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengobrol bersama asisten rumah tangganya.


" Nonton apa sih ma?? anaknya dateng dicuekin." Sengaja berdiri di depan televisi menghalangi pandangan mamanya.

__ADS_1


" Yuda issshhhhh...minggir buruan!! Lagi seru ini!!"


" Seru apaan sih?? palingan juga mama nonton sinetron perselingkuhan kalau nggak rebutan warisan, kalau nggak pelakor kan?"


" Iihhhh...minggir Yuda!!"


" Nggak...aku matiin ahh." Memutar badan dan hendak mencabut kabelnya.


" Yuda jangan!! Sebentar ihhh lagi seru ini!! minggir buruan!!!!" Mama Yuda terus berteriak dan berusaha menghalau tubuh Yuda dari pandangannya.


" Nggak mau...yeee..!!"


" Ohhh nih anak." Berdiri lalu tangannya meraih telinga Yuda.


" Ayo, minggir nggak?"


" Iya...iya ma...Yuda minggir..lepasin dulu, sakit telingaku mah."


Arin datang sembari membawa secangkir kopi untuk Yuda, dia hanya memperhatikan candaan orang tua dan anak lelakinya itu. Terlihat sekali Yuda begitu ceria menggoda mamanya. Arin merasa cemburu melihat kemesraan mereka berdua, bukan cemburu karena kedekatan mereka, tapi cemburu kenapa Yuda bisa seenjoy itu bersama mamanya, sedangkan bersamanya tidak? jangankan bercanda seperti itu, mengobrol biasa saja bisa menimbulkan masalah.


Arin sangat cemburu, begitu mudahnya Yuda memaafkan setiap kalimat mamanya yang membuat Yuda jengkel, tetapi sebaliknya pada Arin. Yuda selalu mengatakan pada Arin, karena mamanyalah yang telah melahirkan dan membesarkan dia, maka dia berhak mendapatkan perlakuan yang lebih dari Yuda. Tapi Yuda lupa, bahwa Arin juga yang melahirkan dan membesarkan anak mereka berdua.

__ADS_1


Yuda selalu bilang, kasih sayang orang tua tak akan hilang sampai nafas berhenti, dan mamanyalah yang merawatnya sebelum menikah dulu. Tapi Yuda bahkan tidak mengingat, bahwa saat setelah menikah, Arinlah yang merawat dia, bahkan orang pertama yang merasakan segala sesuatu yang berkaitan dengan suaminya, bahkan penderitaan sekalipun, Arinlah yang selalu berada di sampingnya, karena tidak mungkin Yuda akan mengeluh pada orang tuanya. Namun kenapa, jika bersama Arin Yuda tidak bisa berlaku manis? walaun tidak harus menyamai mamanya, minimal jangan keterlaluan seperti sekarang ini.


Yuda kemudian berjalan ke belakang, dia seperti tidak menghiraukan Arin. Yuda langsung menuju ruang makan, namun kosong, tidak ada menu yang siap di sana.


Arin kemudian mengikutinya dari belakang.


" Keterlaluan!! Tau aku mau pulang, tapi dia malah membiarkan meja ini kosong tanpa makanan!!" Gerutunya.


Benar perkiraan Arin, Yuda bakalan marah jika tau dia tidak membuatkan masakan untuknya.


" Mas lapar? Maaf aku belum masak, tadi..."


" Nggak perlu banyak alasan!!" Sambil berjalan pergi, dan mukanya begitu masam. Lalu dia duduk di sebelah mamanya.


" Yud...kita nanti makan steak bareng-bareng aja ya. Mama tadi yang melarang Arin masak, karena mama udah bawa banyak makanan." Kata mama Yuda tanpa tau bahwa anak dan menantunya tadi sempat bersitegang akibat makanan yang belum siap.


" Oh iya mah..siappp...tapi Yuda mau mandi dulu ya!!"


Yuda menjawabnya begitu santai seolah tidak terjadi apa-apa, padahal tadi saat tau Arin tidak membuatkan masakan untuknya, seolah kepalanya dipenuhi asap serasa ingin meledak dan memarahi Arin saat itu juga, namun karena ternyata mamanya yang meminta, semua kemarahannya musnah, begitu mudahnya Yuda memaafkan mamanya. Sebenarnya selama beberapa hari ini Yuda sudah sangat bosan makan masakan warung. Dia berharap saat di rumah nanti bisa menikmati masakan yang dibuatkan Arin, namun ternyata perkiraan dia justru meleset jauh, membuat hatinya dongkol luar biasa.


" Yup...begitu kan manis!!" Gerutu Arin dalam hati.

__ADS_1


Arin kembali menarik nafas panjang. Seandainya saja yang memiliki inisiatif untuk makan steak adalah Arin, bisa jadi Yuda akan langsung memarahinya habis-habisan. Yuda mana mau makan steak untuk menu makan malamnya, yang dia tau makan itu ya harus nasi dan lauk pauk lengkap, bukan hanya daging dan kentang goreng seperti itu. Jika ingin makan steak, ya hanya untuk selingan saja dan bukan menu utama. Untung yang memintanya adalah mama Yuda sendiri, jadi Arin bisa bernafas lega, walaupun tadi dia sempat melihat wajah Yuda berubah garang saat mendapati meja makannya kosong. Makanya kenapa Arin begitu mengharapkan kedua mertuanya tinggal bersama dia, minimal dia bisa menghindari kemarahan Yuda, karena Yuda begitu lemah dengan mamanya.


__ADS_2