CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
DI RUMAH BRIAN


__ADS_3

Sementara di rumah Brian, pagi itu dia sedang menatap Mirna istrinya dari kejauhan. Dilihat Mirna sedang tertawa lepas dengan salah satu pembeli. Brian hanya geleng-geleng kepala. Sebenarnya Brian tidak cemburu, hanya saja dia kurang suka melihat cara tertawa istrinya yang berlebihan itu, apalagi jika pembelinya seorang pria. Rasanya dalam hal etikapun kurang pantas.


Brian masih sibuk mengawasi pegawainya menyelesaikan beberapa pesanan spanduk, sembari mengecek beberapa pesanan yang hendak diantar.


Tiba-tiba dia ingat Arin. Dibukalah hpnya untuk melihat status wanita pujaannya itu.


" Haiii sayang...selamat beraktivitas!!"


Status singkat namun sanggup membuat hati Brian begitu tenang. Dia tersenyum sendiri sambil menatap hpnya.


" Selamat beraktivitas juga, jangan lupa sarapan ya, biar nggak pingsan." Diakhiri dengan emote senyum. Kemudian meletakkan hpnya kembali di meja.


Brian kembali mengawasi pegawainya, setelah membaca status Arin tadi, rasanya seperti morfin yang merasuk ke pori-porinya, mengalir melalui aliran darahnya, dan berkumpul menjadi satu di jantungnya. Menimbulkan sensasi luar biasa. Rasanya semangatnya kembali berkobar, padahal beberapa menit yang lalu dia sempet bete menyaksikan istrinya yang tertawa berlebihan, namun semua itu hilang saat melihat status kekasihnya.


Beberapa menit kemudian, dia mengecek status lagi. Biasanya jika kebetulan Arin membaca wa-nya, dia akan langsung membalas melalui statusnya.


" Aku nggak akan pingsan kalau cuma nggak sarapan sayang, tapi aku bisa lebih dari pingsan jika aku kehilanganmu sayang.. !!"


" Hahahaha....!! Ups..!!" Brian langsung menutup bibirnya. Dia tidak mau melihat para pegawainya curiga.


" Kamu tuh ya selalu bisa bikin aku ketawa...udah kayak ratu gombal."


Setelah pesan dikirim, dia tidak langsung meletakkan hpnya, tapi menunggu terlebih dahulu, siapa tau Arin membalasnya.


" Jangankan jadi ratu gombal, jadi ratu gembel aja aku rela sayang, asalkan sama kamu." Kali ini Arin langsung membalasnya, karena tau Brian standby di depan hpnya.


" Kamu aja yang gembel aku mah ogahhh...!!"


" Ihhh beneran nih nggak mau?? yakin ya??"


" Ehhh mau mau mau...tapi jangan jadi rata gembel dong, jadi raja dan ratu dalam rumah tangga kita aku mau."


" Hahaha...apaan sih kok kita jadi jijai begini? lebay ahhh." Balas Arin.

__ADS_1


" Yeeeee...yang mulai kan kamu dulu."


" Hihihi...daripada ngomong serius melulu, bikin oleng."


" Lagi ngapain yank?"


" Ini lagi ngecek kerjaan pegawai."


" Tumben masih sempet ol? biasanya kalau udah kerja lupa segalanya....khususnya lupa aku."


" Hehehe...ya kan ini cuma ngawasin aja, nggak ikut kerja, jadi masih bisa sambil mainan hp." Sesekali Yuda menatap istrinya yang jaraknya sedikit jauh dari tempat dia duduk sekarang.


" Mertua udah pulang?"


" Udah, tadi dianter suami."


" Ooohhh...kok nggak ikut?"


" Nggak, aku lagi mau pergi juga."


" Ada proyek baru."


" Hemmmm...proyek apa nih? curiga aku."


" Apaan sih?? nanti kalau udah berjalan baru aku kasih tau ya."


" Yang penting nggak macem-macem ya."


" Macem-macem gimana ihh?? aku itu macem-macem cuma sama kamu, ini aja udah bikin pusing."


" Hihihi..udah resiko yank."


" Ya udah, aku udah mau pergi nih."

__ADS_1


" Sendirian?"


" Iya sendirian."


" Ya udah hati-hati ya."


" Ok...assalamualaikum."


" Waalaikum salam." Kemudian Arin segera meluncur ke lokasi toko barunya.


Brian sendiri kemudian langsung menghapus seluruh chatnya dengan Arin, karena jika sampai lupa, bisa-bisa Mirna membacanya, karena istrinya itu sering membuka buka hpnya dan sering memakai hp Brian untuk aktivitas medsosnya.


Dulu saat belum mengenal Arin, dia sangat cuek dengan keberadaan benda segi empat miliknya itu, namun sekarang dia begitu waspada dan lebih berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak yang bisa mengundang kecurigaan Mirna.


" Mas, tolong tungguin laci toko ya, aku mau pergi arisan ke rumah Bu Samsi." Kata Mirna sambil meletakkan kuci laci di meja yang ada di depan Brian, kemudian langsung pergi. Padahal Brian belum mengiyakan.


Brian sempat spot jantung sejenak, karena baru beberapa detik dia menghapus chatnya bersama Arin, dan tidak menyadari Mirna sedang berjalan ke arahnya. Untungnya Mirna tidak mendekatinya langsung, telat beberapa detik saja bisa terjadi perang dunia ke 3.


Brian menatap punggung Mirna yang berjalan masuk rumah. Dia dari dulu sudah berpesan pada istrinya itu, bahwa tokonya itu sudah terlalu besar, dan harus mempercayakan pada pegawainya. Apalagi barang-barang di tokonya sudah harga pas, lebih mudah jika dilakukan barkot pada tiap jenis barang sehingga lebih gampang mengadakan pengawasan, khususnya masalah keuangan.


Namun Mirna selalu menolak dengan alasan, masih bisa dikerjakan sendiri, terlalu banyak biaya, dan masih banyak alasan lain. Entah kenapa, Mirna seperti enggan meninggalkan toko tersebut untuk dipercayakan pada orang lain.


Tak lama Mirna sudah keluar lagi dari dalam rumah, penampilannya berubah 160°, sangat kontras dengan penampilannya saat masuk rumah tadi. Bibirnya terlihat merah merona, dan bau parfum meringsek masuk ke dalam indra penciuman pada setiap orang yang berpapasan dengannya.


" Mas!??Kok masih di situ sih?? itu nanti ada yang beli lacinya masih dikunci lho!!" Sambil mematut wajah di spion motor sekali lagi.


Brian kemudian berdiri dan berjalan ke arah toko.


" Udah cantik, nggak usah ngaca terus, ntar kacanya retak. Tapi percuma cantiknya buat orang, kalau di depan suami aja nggak pernah dandan seheboh itu." Sambil berlalu.


" Apaan sih mas? Kalau tiap hari aku disuruh dandan kayak gini, yang ada aku cuma rempong ngurusin muka, nggak jadi nyari duit." Jawab Mirna kemudian pergi bersama sepeda motornya.


Brian kembali menarik nafas. Istrinya itu pikirannya sudah seperti dipenuhi nafsu untuk memburu uang. Lupa kodratnya untuk menyenangkan suami terutama lupa mengurusi penampilannya sendiri.

__ADS_1


Brian lalu berjalan menuju toko besarnya. Cukup besar dan sudah tidak layak jika istrinya masih pontang panting mengurus sendiri, karena dia sangat mampu membayar orang. Mirna seolah tidak paham jika sebenarnya Brian sangat ingin memuliakannya.


__ADS_2