
Setelah insiden kegagalan makan siang di daerah X, Yuda sengaja lama tidak menghubungi Maya, dia ingin melihat apakah ada inisiatif Maya untuk berbaikan dengannya. Namun setelah ditunggu berhari-hari, Maya ternyata tidak juga menghubungi Yuda.
" Hehhhh....itu orang, masih sama ternyata sifatnya." Gerutu Yuda.
Tangannya begitu gatal untuk segera menekan nomor hp Maya, namun dirinya ragu, ditambah juga rasa gengsi gede-gedeannya.
" Telfon apa nggak ya?"
" Kalau aku telfon duluan, pasti dia kepedean. Tapi kalau aku nggak telfon, mana mau dia nelfon aku dulu?? Bisa sampai tahun monyet nungguin dia ngubungi aku."
Padahal sebenarnya Yudalah yang merasa sangat kehilangan jika saja Maya tidak lagi menghubunginya, dan saat ini dia seperti kebakaran jenggot melihat sikap Maya yang tidak perduli itu.
" Telfon? nggak? telfon? nggak?" Yuda malah sibuk mempertimbangkan antara menelfon Maya atau tidak. Namun tanpa sengaja malah ibu jarinya menekan nomor hp Maya yang sedari tadi dipandanginya.
" Aduuuhhhh malah kepencet!!" Seru Yuda panik. Namun apa mau dikata, mau dibatalkanpun, nomor panggilannya sudah masuk di hp Maya.
Entah kenapa, jantung Yuda malah berdetak kencang menanti Maya mengangkat telfonnya.
" Tuuuuttt....tuuutttt...tuuuttt..!!" Bunyi nada panggilan terdengar berkali-kali, namun Maya tidak juga mengangkatnya.
" Hehhhh...kemana dia??? kenapa tidak juga diangkat?? apa dia benar-benar marah padaku??" Yuda malah semakin penasaran dan akhirnya terus menelfon Maya, namun tetap juga tidak diangkatnya.
" Hehhhh...sepertinya dia benar-benar marah kali ini." Gumam Yuda sambil meletakkan hpnya di meja.
Sementara itu Maya terlihat sedang sibuk di dalam butiknya merekap pembukuan yang kemarin sempat terbengkalai gara-gara Jenny marah padanya. Dia begitu konsentrasi menatap angka-angka yang telah ditulisnya rapi di dalam buku besarnya.
Tangannya begitu cekatan menekan tombol-tombol kalkulator. Maya sedari dulu memang begitu teliti untuk urusan pekerjaan. Dia paling tidak suka jika ada sedikit saja kesalahan dalam manajemen kerjanya. Makanya semua pegawai yang ada di butiknya sudah sangat hafal dengan sifat bosnya yang super duper perfeck itu.
" Mon, kamu tolong kode ulang yang stok barang lama ya, pajang di depan, dan kasih tulisan diskon yang sedikit besar biar menarik pelanggan."
" Terus yang barang retur kemarin bu?"
" Barang retur itu dibungkus yang rapi, terus kamu kirim balik ke distributornya, kemarin saya udah telfon."
" Ok bu siyaaapp."
Mona yang bertindak sebagai asisten Maya bergerak cepat menyelesaikan tugasnya.
" Akhirnya selesai juga." Gumam Maya sembari meregangkan seluruh badannya. Dia menatap hasil pembukuannya sambil tersenyum puas.
__ADS_1
" Hemmmm alhamdulillah...ada kemajuan pesat keuntungan bulan ini. Kayaknya nggak sia-sia deh menambah jenis barang biar lebih komplit dan pelanggan nggak lari ke toko lain." Batinnya.
Kemudian Maya mengambil hp di dalam laci mejanya. Sedari tadi dia telah mensilencenya. Maya paling tidak suka saat dia bekerja konsentrasinya terganggu hal-hal yang menurutnya tidak penting.
" Hemmm...Yuda...ngapain dia telfon lagi? Kirain aku cuekin dari kemarin udah nggak bakalan ngubungin lagi, taunya belum kapok juga tuh orang." Katanya dalam hati saat tau beberapa panggilan tidak terjawab dari Yuda beberapa menit yang lalu.
" Ahhh biarin aja. Kalau penting pasti dia bakalan telfon lagi." Sambil meletakkan hpnya dan melanjutkan pekerjaan yang lain.
" Kriiiinggg.....kringgg....!!!" Baru hendak melangkah dari tempat duduknya, hpnya kembali berdering. Dan saat dilihat, ternyata Yudalah yang kembali menelfonnya. Yuda benar-benar penasaran karena panggilannya sedari tadi tidak dijawab oleh Maya.
" Halloo...!"
" Hallo...May?? Alhamdulillah..akhirnya diangkat juga."
" Emangnya kenapa? Kok kayaknya lega banget??" Pura-pura tidak tau dengan reaksi sumringah Yuda.
" Dari tadi aku nelfon kamu, tapi nggak diangkat, kirain kamu udah nggak mau ngangkat telfon dari aku."
" Aku lagi di butik Yud, lagi banyak kerjaan, jadi hp aku silence."
" Ohhh kirain nggak mau ngangkat telfon dari aku karena masih marah gara-gara kejadian waktu itu."
" Ihhh nada bicaranya kok nggak ramah gitu sih?? beneran masih marah nih??"
" Pleas deh Yud, kalau nggak ada pembicaraan yang penting, aku matiin nih. Aku masih banyak kerjaan!!"
" Ehhh tunggu..tunggu May...maaf jangan dimatiin!!"
" Kenapa lagi?"
" Aku itu mau nawarin kerjasama nih ke kamu." Alih Yuda.
" Kerjasama apa?"
" Ya kerjasama di bidangmulah."
" Pakaian??"
" Ya iya, emang bidang kamu apa?"
__ADS_1
" Hahaha...jangan becanda deh. Sejak kapan kamu bisnis di bidang pakaian?? Kamu kan cuma terjun di alat berat dan properti."
" Ya aku pengen coba terjun ke dunia itu. Kran itu kan tidak boleh satu May, jika yang satu mati yang satunya bisa menggantikan yang mati itu. Begitu juga sumber ekonomi, kalau kita cuma punya satu saja, saat yang satu itu tidak menghasilkan, kita masih punya harapan pada yang lain. Dan aku lihat kamu bisa aku jadikan partnerku, maka aku ingin mencoba peruntungan di bisnis pakaian." Yuda yang memang semenjak awal bertemu ternyata masih menyimpan perasaan yang dulu pernah ada, sengaja membuat peluang, agar dengan adanya kerjasama itu hubungan mereka bisa kembali dekat.
" Alasanmu memilih usaha itu apa?"
" Kamu tau sendiri jaman sekarang, apalagi perempuan, nggak bisa cukup dengan satu jenis baju. Baju ke pasar sendiri, baju tidur sendiri, baju pengajian sendiri, belum lagi ibu-ibu sosialita yang selalu memakai dress code kembaran.
Maya hanya mengangguk-angguk tanda setuju dengan pemikiran Yuda.
" Lalu apa rencana bisnis yang kamu tawarkan ke aku? Nggak mungkin kan kamu mau jualan baju skala kecil kayak aku??"
" Ya nggaklah May. Aku pengen kita berdua bikin branded sendiri. Aku liat kamu punya bakat di bidang desain-desain pakaian. Dan seleramu dalam memilih busana juga oke. Kebetulan aku punya chanel yang memproduksi kain. Kita tinggal nego, cari tim-tim yang membantu proses kerja, selesai."
" Hahaha...emang segampang itu memproduksi pakaian jadi? kayak bikin onde-onde aja sekali jadi."
" Lagian kamu juga harus mikirin target pemasaranmu, nggak sembarangan juga asal bikin produk."
" Itu tugas kamu. Kalau kamu sudah tau mana yang lebih menjanjikan untuk menjadi target pasar kita, baru kita fokus ke situ aja. Tugasku menyediakan segala sarana prasarana, dan promosi penjualan."
" Biayanya nggak sedikit Yud!! Gila kamu!!"
" Kamu meragukan keuanganku?"
" Bukan meragukan sih. Cuma kalau kita belum punya tempat untuk memasarkan barang kita, itu namanya sama aja bunuh diri."
" Hahaha...itu perkara gampang May. Itu urusanku. Chanelku dimana-mana."
" Intinya kamu mau apa nggak dengan penawaranku ini?"
Maya berpikir kembali. Untuk memulai sebuah usaha itu memang sangat berat. Walaupun sebenarnya di dalam butiknya, Maya juga sering membuat desain-desain sendiri, namun hanya skala kecil, dan penikmatnya hanya sebatas pelanggan butiknya saja. Itupun jika ada yang memintanya untuk mendesainkan pakaian.
" Hemmmm tapi apa salahnya dicoba?? Aku dari dulupun sudah memimpikan memiliki brand sendiri." Kata Maya dalam hati. Namun Maya tidak buru-buru mengiyakan penawaran Yuda, dia harus mengantongi ijin dulu dari anak semata wayangnya, karena dia tidak mau, Jenny salah paham lagi padanya.
" Oke Yud, aku pikir-pikir dulu ya."
" Ya udah May, kalau kamu udah ada jawaban, tinggal hubungi aku aja."
" Ok Yud siap."
__ADS_1
Yuda mematikan hpnya. Ada senyum yang begitu manisnya tersungging di bibirnya.