CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MERINDU


__ADS_3

Sementara itu Arin dan asisten rumah tangganya masih asyik menyaksikan acara televisi dari layar datar didepannya.


Arin melihat jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul 11 lebih, tapi Yuda belum juga pulang.


" Mbak masuk kamar yuk!! Udah malem."


" Tapi bapak belum pulang bu, nggak nunggu bapak dulu?"


" Biarin aja. Bapak kan punya kunci cadangan. Lagian kita nggak tau bapak datengnya nanti jam berapa, nanti malah kita begadang semslaman di sini."


" Tolong periksa jendela sama pintu ya mbak, saya masuk kamar duluan." Bangun dari tempat duduk dan berjalan ke arah kamarnya.


" Baik bu." Kemudian mematikan televisi dan segera memeriksa pintu serta jendela.


Arin yang sudah ada di kamarnya langsung mengambil hp yang biasa dia gunakan komunikasi bersama Brian. Sudah ada beberapa chat masuk. Arin kemudian membalasnya. Di saat seperti ini dia sangat rindu Brian, dia ingin mengobati hatinya yang merasa sepi, namun apa yang bisa dilakukannya, hanya sebatas menuliskan status. Tidak bisa sewaktu-waktu menghubunginya, seperti seorang sepasang kekasih yang sebenarnya, atau jika itu tetap dilakukannya maka cap sebagai wanita pelakor akan disematkan padanya yang notabene sebenarnya Arin adalah wanita baik-baik, namun sedang terjebak dalam situasi cinta yang buta.


Namun entah kenapa, di saat kondisi yang sedang genting seperti itu, setan selalu saja ikut campur dalam urusan mereka. Entah secara kebetulan atau memang hati mereka berdua yang memiliki ikatan kuat, Brian langsung membalas status Arin. Sepertinya dia memang sedang menunggu Arin. Bak oase ditengah gurun yang panas, Arin begitu antusias saat tahu Brianpun merindukannya. Tanpa harus berlama-lama akhirnya merekapun saling bertatap mesra melalui layar kecil di hp masing-masing.


" Aku kangen banget." Kalimat singkat yang keluar dari mulut Brian membuat hati Arin berbunga-bunga. Ternyata dia tidak bertepuk sebelah tangan.


" Aku juga, tapi aku takut istrimu." Jawab Arin menyelipkan sedikit candaan, dan hal itulah yang membuat Brian selalu rindu mengobrol bersama Arin.


" Hahaha....salah sendiri mau pacaran sama suami orang."


" Sebenernya nggak mau sih, tapi gimana lagi udah terlanjur basah."


" Hahaha ngeles melulu."


" Mana Arjunanya? kok bisa telfon?"


" Lagi pergi makan malem ama kliennya."


" Kok nggak diajak?"


" Nggaklah...itu kan urusan para lelaki, ibu-ibu di rumah, duduk manis, sambil nunggu uang hasil lobbynya."


" Hemmmm....gitu ya!!"


" Hihihi....bercanda sayang."


" Lagian itu urusan kerjaan, nggak harus ikut juga kan, ntar malah ganggu lagi."


" Gimana tokonya?"

__ADS_1


" Alhamdulillah rame. Kayaknya aku harus bergerak cepat nih buat cari reseller."


" Emang kuota permintaan udah banyak?"


" Lumayan sih, kalau ada reseller kan otomatis cepet perputarannya. Aku bisa nambah jenis barang lainnya, untung dikit yang penting terus."


" Hemmmm...ada bakat juga kamu jadi pedagang."


" Ya semuanya kan bisa dipelajari yank, walaupun aku nggak pernah terjun di bidang itu, tapi kalau udah dapet jalan pasti akan berkembang dengan sendirinya."


" Iya..yang penting tetep nggak lupa kodrat kamu sebagai seorang istri."


" Iyalah pasti."


Arin dan Brian mengobrol hingga malam hari. Sesekali mereka tertawa bersama, walaupun sebentar-sebentar mata Brian tidak fokus karena sembari berjaga-jaga jika tiba-tiba Mirna datang.


" Hihihi....kamu udah kayak maling aja yank." Kata Arin merasa geli memperhatikan Brian yang sedari tadi melirik ke arah pintu rumahnya.


" Ya emang lagi maling yank, cuma yang dicuri beda."


" Kasian banget sih nasib kita berdua, ini kayak judul lagu waktu yang salah."


" Hahaha...diri sendiri dikasihani."


" Hihihi...daripada nggak ada yang mengasihani."


" Udah ngantuk?" Tanya Brian sambil melihat jam di hpnya.


" Udah jam 1 lebih yank, suamimu kok belum pulang sih?"


" Mungkin urusannya belum selesai, dia udah bawa kunci sendiri kok."


" Nyantai banget sih suami pergi sampai malem gitu?"


" Emang harusnya gimana?"


" Ya ditelfonlah."


" Emang istrimu begitu ya?"


" Ya iya...masak suami pergi sampai malem nggak khawatir."


" Hemmm...beruntung dong punya istri kayak dia. Perhatian banget." Ada nada cemburu di kalimat Arin.

__ADS_1


" Bukan begitu maksudku yank, ya namanya suami istri kan sewajarnya emang begitu. Nanti kalau aku yang jadi suamimu dibegitukan juga lagi." Mencoba meralat kalimatnya saat sadar itu sudah sedikit melukai perasaan Arin.


" Ya itu tergantung permintaan yank. Type lelaki itu kan beda-beda. Mungkin kamu type laki-laki yang suka diberi banyak perhatian, yang nggak pernah mempermasalah jika istri pengen tau urusan kamu di luar rumah. Tapi kan suamiku beda."


" Ohhh itu artinya suamimu marah kalau kamu pengen tau kegiatan dia di luar rumah?"


" Hehehe...itu rahasia rumah tanggaku yank." Jawab Arin.


" Ohhh iya maaf. Semoga rumah tanggamu baik-baik aja ya." Brian segera menyadari bahwa dia sudah terlalu jauh kepo dengan rumah tangga Arin.


Walaupun Arin mencintai Brian, namun dia masih bisa berpikir waras untuk tidak mengumbar aib rumah tangganya sendiri yang bisa memberi celah besar Brian semakin masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Walaupun sekarang itu sudah terjadi. Namun Arin mau Brian taunya rumah tangga dia baik-baik saja agar dia tidak berpikiran macam-macam untuk jauh dan mengambil keputusan bodoh agar mereka bisa bersatu. Arin ingin semua berjalan seperti ini, dan jika memang berjodoh jangan ada satu orangpun yang tersakiti dengan mengorbankan salah satu pasangan.


" Aku mah serahin ama yang di atas aja yank biar Dia yang jaga suamiku. Percuma juga ditelfonin terus. Kalau emang mau macem-macem pasti ada aja caranya. Lebih pinter malingnya daripada pencurinya."


" Iya ya...kayak kita berdua."


" Kamu sih ngerayu aku terus."


" Hahaha...nggak salah nih?"


" Nggak salah gimana?"


" Bukannya kita saling merayu?"


" Hiiihhh...nyebelin." Kata Arin sambil memonyongkan bibirnya. Ekspresi yang membuat Brian langsung tergelak. Arin sungguh menyenangkan. Dia tidak pernah malu berekspresi di hadapan Brian dan sok selalu tampil cantik. Dia selalu menjadi dirinya sendiri. Dan itu yang membuat Brian selalu merasa rindu.


" Hoaaaammmm...." Arin menguap lagi.


" Idihhh itu mulut apa goa, lebar amat. Udah ngantuk ya?"


" Ini terowongan Mina, puas!!"


" Hahaha....!!"


" Tidur yuk, besok pagi mau ada masuk barang lagi." Ajak Arin.


" Udah selesai nih kangennya?"


" Belum sih, kalau bisa sampe pagi ngobrolnya, tapi itu kalau mau ketahuan istri kamu."


" Hahaha...suami kamu juga."


" Ya udah ayo!!"

__ADS_1


" Mimpi indah ya sayang." Ucap Brian diakhiri kalimat cinta dan dibalas Arin dengan kalimat yang sama. Setelah itu telfonpun ditutup.


Brian kemudian masuk ke dalam rumahnya, dan langsung menuju kamar. Dilihatnya Mirna sudah terlelap. Entah kenapa istrinya itu tidak pernah bisa tidur dengan posisi manis, bahkan sering menguasai ranjang mereka berdua hingga tidak jarang Brian harus mengalah dan berpindah di kasur lantai karena tidak betah tubuhnya jadi sasaran tingkah luar biasa istrinya saat tidur. Tidak terkecuali malam ini. Akhirnya dia hanya mengambil satu buah bantal saja dan segera merebahkan diri di bawah.


__ADS_2