
Sore ini sehabis mandi, Arin sengaja menemani Yuda duduk di taman samping rumah mereka. Tempat favorit yang saat awal membangun rumah memang sudah mereka rencanakan. Dulu Arin dan Yuda memang punya keinginan untuk memiliki sebuah taman dihiasi berbagai jenis bunga sebagai tempat santai dalam melepas lelah. Karena dulu saat rumah mereka masih sederhana, tempat favoritnya satu-satunya hanyalah kamar kecil mereka saja. Di sanalah tempat untuk melepas lelah setelah seharian bekerja, bersenda gurau sembari membicarakan banyak hal.
Jika dulu saat awal kepindahan mereka ke rumah baru, duduk berdua di tempat itu diiringi obrolan-obrolan ringan, namun sekarang mereka duduk berdua namun sibuk sendiri-sendiri dengan hpnya masing-masing.
Arin menengok sebentar ke arah Yuda, dan dilihatnya dia masih terus asyik dengan benda pipihnya itu. Entah apa yang sedang dikerjakan, sehingga sama sekali tidak menganggap keberadaan Arin di sebelahnya. Sebenarnya Arin sangat tidak menyukai jika sedang berduaan seperti ini, suaminya itu lebih asyik memainkan hpnya dibanding mengobrol dengannya. Namun Yuda seolah tidak perduli, sehingga akhirnya Arinpun ikut-ikutan menyibukkan diri bermain android.
Hubungannya dengan Yuda memang tidak berubah sama sekali, masih dingin dan kaku. Apalagi semenjak kemarahan suaminya beberapa waktu yang lalu, membuat hubungannya semakin jauh saja dengan Yuda. Arin merasa hatinya sama sekali tidak memiliki ikatan bathin, bahkan terkesan masa bodo. Yang dia lakukan saat ini hanyalah sebisa mungkin tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri tidak lebih, karena Yudapun sendiri bersikap demikian pada Arin. Tidak ada obrolan ringan, tidak ada gelak tawa apalagi bercanda mesra. Mereka akan berbicara jika ada kepentingan dan membutuhkan sesuatu saja.
" Bikinin kopi jangan terlalu pahit!!" Kalimat pertama yang diucapkan Yuda setelah beberapa saat duduk berdua. Dan itupun lebih kepada ucapan perintah.
" Memangnya kapan aku bikinin mas kopi pahit??"
" Tadi pagi yang kamu buat terlalu pahit, apa uang bulanan yang aku kasih kurang sampai kamu nggak mampu beli gula??" Katanya ketus tanpa memandang Arin.
" Hehhhh...astagfirullah hal adzim!!" Kata Arin pelan sambil berdiri kemudian berjalan kearah dapur.
" Memang kayaknya Mas Yuda itu lebih baik diam dan mending bermain hp, daripada sekalinya berbicara tapi menyakitkan." Kata Arin dalam hati.
Entah kenapa, saat berada di dekat Yuda tidak pernah ada yang namanya rasa nyaman, tenang apalagi romantis. Berbicara sedikit saja jawaban Yuda bisa membuat telinga Arin mendadak panas.
" Sekalian ambilkan rokokku!!" Kali ini Arin tidak menjawab, karena jika menjawab pasti bakalan kena skak lagi dia. Padahal Arin tidak tau dimana suaminya itu menyimpan rokoknya. Namun jika Yuda sudah memintanya membawakan ke hadapan dia, itu artinya Arin harus menemukannya sampai dapat, walaupun sebenarnya terkadang Yudapun sudah lupa dimana dia meletakkan rokoknya itu. Bahkan tidak jarang Arin membelikannya lagi yang baru jika sudah mencari-cari dan tidak menemukannya.
Sembari meracik kopi dan menunggu air mendidih, Arin memulai petualangannya untuk mencari benda candu milik suaminya itu. Mulai dari kamar tidur, ruang tamu, hingga di kolong-kolongpun dia amati, dan hasilnya tetap nihil. Biasanya Yuda sering melempar benda itu ke sembarang tempat dan tidak jarang terjatuh ke bawah hingga masuk di kolong meja, namun ternyata Arin tidak juga menemukannya.
" Duhhhh...kemana sih kamu rokok??? jangan bikin susah aku dong!! Gara-gara kamu, nanti aku bisa diomeli tuan besar, ayo dong muncul!!" Gerutunya sambil terus mencari kesana kemari.
" Bu, itu airnya udah mendidih!!" Panggil asistennya.
" Iya mbaj kecilin aja apinya." Jawab Arin tanpa menengok, sambil terus kepalanya menengok kesana kemari mencari benda yang entah sedang bersembunyi dimana.
Hanya Arin yang paham seberapa takaran air yang pas untuk membuat kopi yang bisa memenuhi selera suaminya, walaupun sebenarnya kadang suaminya masih sering protes yang katanya kurang inilah kurang itulah, namun karena Arin bukan seorang chef yang ahli meramu masakan ataupun meracik minuman, makan dia hanya diam saja jika suaminya itu mulai ngomel panjang kali lebar kali tinggi.
" Ibu lagi nyariin apa sih? kok kayaknya bingung gitu?"
__ADS_1
" Tebakan mbak apa yang lagi saya cari??"
" Hemmmm....jangan-jangan ibu lagi nyariin rokok bapak!!"
" Hahaha kok tau bik?"
" Ya siapa lagi yang bisa ngerjain ibu sampai masuk ke kolong-kolong segala kalau bukan nyariin rokok punya bapak."
" Hahhhh....!!"
Arin kemudian berdiri sembari menepuk-nepukan kedua telapak tangannya berusaha menghilangkan debu yang menempel.
" Sampai hafal ya mbak??"
" Hafal bangetlah bu. Udah ketemu belum bu?? Apa perlu saya beliin yang baru daripada bapak nanti keburu marah?" Merasa kasihan dengan majikan perempuannya yang mendadak berubah jadi seorang paranormal yang dengan kemampuannya bisa menemukan sebungkus rokok yang suaminya sendiripun lupa dimana letaknya.
" Hehhhhh...ya udah deh mbak, beliin ke warung sebelah ya." Akhirnya menyerah, sembari mengambil dompetnya ke dalam kamar.
" Baik bu." Lalu langsung berjalan keluar.
" Siyaaappp bu!!"
Arin hanya tersenyum kecil.
" Ada rokoknya nggak ada koreknya bisa ngamuk lagi nanti pak bos." Gumam Arin sambil mematikan kompor, lalu menyeduh kopi dengan air panas.
" Ini bu!!"
" Cepet amat?? emang lewat mana tadi?"
" Itu bu tadi kebetulan ada Syahrini lewat bawa jet pribadinya, terus saya numpang sampe ke warung."
" Hahaha....mbak ini ada-ada saja." Tidak marah sedikitpun, bahwa merasa lucu dengan jawaban asistennya itu.
__ADS_1
" Ya ibu lagian aneh-aneh aja pertanyaannya."
" Bu kalau ada waktu, lain kali ibu mendingan belajar ilmu sama orang pinter deh biar sakti."
Arin hanya mengernyitkan dahinya mendengar kalimat sang ART.
" Maksudnya mbak?"
" Biar kalau pas bapak nyuruh ibu nyariin rokoknya yang nggak tau dimana rimbanya itu, dengan sekali sembur langsung deh ketemu!!"
" Hahaha...mbak nih ya!!"
" Habis saya kasihan kalau liat ibu kebingungan muter kesana kemari cuma nyariin rokonya bapak."
" Hihihi...biar aja mbak, sekalian olahraga."
" Yang penting jangan setres aja bu!!"
" Ehhh iya, jangan-jangan mbak juga belajar ilmu sakti ya??"
" Maksud ibu??"
" Tadi beli rokoknya cepet banget?? punya ilmu menghilang ya??"
" Haehhh...ibu ini ya...Saya tadi itu sambil lari biar cepet, daripada ibu kena omel bapak gara-gara bikin kopi kelamaan."
" Hahhhh...ohh iya..duhhh pasti bapak nungguin ini....!! bibik sih ngajakin ngobrol....ya udah bawa sini buruan mbak!!" Baru ingat jika Yuda paling tidak suka menunggu.
" Yaelah ibu, kok malah nyalahin saya. Itu bu, dari tadi saya taruh di samping ibu."
" Hehehe...makasih ya mbak." Lalu buru-buru mengantarkan kopi untuk suaminya.
" Hati-hati bu jangan lari, nanti tumpah lho!!"
__ADS_1
" Ok bik!!" Sambil terus berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun.