
Yuda menatap arloji di tangannya, dia datang lebih cepat 10 menit dari waktu yang dijanjikan. Biarlah pikirnya, dia harus memberikan kesan yang baik pada Maya, karena telah on time untuk datang memenuhi undangannya.
Tak lama pesan kopinyapun datang. Pelayan yang beda dari yang pertama dan kedua tadi.
" Silahkan Pak."
" Terimakasih Mas."
Kemudian Yuda menyibukkan diri kembali. Namun entah mengapa, kali ini semua aplikasi sosmed yang ada di dalam hpnya jadi tidak begitu menarik. Sedari tadi dia hanya membuka-bukanya tanpa bisa konsentrasi membaca, ataupun memperhatikannya. Sesekali dia melihat arlojinya.
Sudah 20 menit dia duduk di cafe, namun Maya bahkan belum menampakkan batang hidungnya.
" Ahhh..mungkin dia sedang terjebak macet." Menghibur diri sendiri.
Sementara itu Maya sendiri sedang begitu serius mendengarkan materi rapat yang sedang dibahas oleh kepala sekolah.
" Jadi begitulah kira-kira rencana kami ke depan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Kami memang sengaja mengundang bapak dan ibu demi kelancaran program sekolah, dan bisa membantu kami untuk lebih mendukung jalannya program tersebut. Semua hal yang menyangkut keberhasilan dan kesuksesan kegiatan belajar mengajar yang kami adakan, tidak akan mungkin berhasil tanpa ada dukungan dari bapak dan ibu sekalian selaku orang tua murid. Untuk lebih jelasnya, nanti akan ada selebaran yang kami bagikan, agar dapat dipelajari di rumah." Suara kepala sekolah terdengar lantang memenuhi seluruh penjuru ruangan.
__ADS_1
Semua hadirin mendengarkan dengan khidmat, tidak terkecuali Maya. Walaupun Maya seorang single parent, dan sangat sibuk, namun dia tidak ingin absen sedikitpun jika itu menyangkut kepentingan anaknya. Dia selalu memberikan yang terbaik untuk masa depan Jenny, dan tidak ingin anaknya itu merasa rendah diri karena memiliki orang tua yang tidak utuh lagi.
Maya terus fokus pada rapat, dia tidak memperhatikan beberapa panggilan masuk di hpnya.
Sedangkan Yuda terus sabar menunggu Maya datang, bahkan ini sudah lebih setengah jam dari waktu yang dijanjikan.
" Kenapa dia lama sekali? apa dia lupa bahwa tadi pagi dia janji akan bertemu denganku di cafe ini? Ahh tidak, Maya bukan tipe orang yang suka melupakan sesuatu, sekecil apapun itu. Apalagi ini melibatkan orang lain."
" Aku harus menelfonnya. Jangan-jangan dia ada apa-apa di jalan." Bathinnya khawatir.
" Tutt...tuuutt...tuttt..!!" Sekali Yuda menelfon, dan panggilan itu terputus begitu saja, pertanda sang pemilih hp tidak mengangkatnya.
" Tuuuttt...tuuuttt...tuuuttt." Terdengar nada panggil kembali, namun tetap tidak diangkat.
" Kenapa dia tidak mengangkatnya?? sedang dimana dia sebenarnya?" Kembali Yuda menelfonnya hingga berulang kali, dan berakhir sama tanpa ada jawaban dari Maya.
Kemudian Yuda mengirimkan pesan pada Maya.
__ADS_1
" May, kamu dimana sih?? aku tunggu dari tadi kok belum dateng-dateng?? telfonku juga nggak kamu angkat??"
Lalu Yuda meletakkan hpnya. Kembali dia menyeruput kopi yang tinggal setengah. Hatinya gusar bukan kepalang, ditambah kepalanya berdenyut, pertanda dia mulai emosi.
" Ahhh sabar...!! Aku tunggu setengah jam lagi." Pikirnya menenangkan diri sendiri.
Kemudian dia mengirim pesan lagi.
" Aku nungguin kamu dari jam 1 kurang tadi, tapi kamu bukannya ngabarin kalau nggak bisa dateng, malah ngilang gitu aja."
" Kalimat Yuda mulai bernada marah."
Kembali dia berkutat dengan hpnya dan berharap chatnya dibaca Maya kemudian membalasnya. Namun sedari tadi Maya tidak terlihat online, bahkan chat yang dikirim masih centang 1, itu berarti dia memang tidak mengaktifkan internetnya, dan hanya mengaktifkan telfon biasa.
Lewatlah satu jam dari waktu yang dijanjikan, Yuda sudah sangat meradang. Rasanya emosi dia sudah mencapai di ubun-ubun. Bagaimana tidak, dia bahkan sudah berjalan jauh dari kantornya hanya untuk memenuhi janji, namun hingga sekarang yang ditunggu belum datang juga, bahkan tidak ada kabar berita dari Maya untuk membatalkan pertemuan itu.
Akhirnya setelah membayar minumannya di kasir, dengan perasaan dongkol, Yuda segera meninggalkam cafe tersebut. Ditambah lagi dengan perut yang lapar, menambah emosinya semakin naik ke ubun-ubun. Namun selera makannya hilang seketika, berganti rasa marah luar biasa.
__ADS_1
Dia menancap gasnya tanpa terkendali, tidak seperti awal berangkat tadi. Kali ini dia melampiaskan kemarahannya pada kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Dia menekan belnya dalam-dalam setiap ada kendaraan yang menghalangi jalannya, membuat pengemudi lain berteriak mengeluarkan sumpah serapah.