
Saat hendak merebahkan tubuhnya kembali, Arin ingat Brian. Buru-buru Arin mengambil hpnya.
" Cling...cling...cling.." Beberapa pesan wa masuk, dan sudah pasti itu dari Brian, karena tidak ada nomor lain yang dia simpan di hp itu.
Brian yang seharian tadi bete menunggu kabar dari Arin, hendak masuk ke rumah, namun diurungkannya karena tiba-tiba pesan yang dia kirim terlihat centang biru. Dia sengaja tidak langsung menghapus pesannya, menunggu Arin membalasnya, atau minimal membacanya. Bagai gurun panas yang tersiram air hujan, perasaan Brian yang sedari tadi gelisah langsung lega.
Dia terus memantau hp Arin dan masih terlihat online.
" Sayang, maaf tadi ada mertua aku tidur sini, jadi aku nemenin beliau terus."
" Deg...!!"
Perasaan Brian sedikit sakit mendengar kata "mertua".
Arin melihat statusnya langsung dibaca, itu berarti Brian sedang stand by di depan hpnya. Arin menunggu kekasihnya membalas pesannya.
" Oh ya sudah!" Brian menjawabnya singkat.
Arin bengong, tidak biasanya Brian akan membalas pesannya sesingkat itu kecuali jika hatinya sedang tidak mood.
" Idiiihhh...gitu aja jawabnya? singkat banget?"
" Emang harus nanya apa lagi?"
" Nanya apalah terserah."
" Nggak penting!"
" Ehhhh kenapa nih cowok?? kok bete gitu?" Bathin Arin.
" Sayang kenapa sih? kok bahasanya nggak enak gitu? lagi M ya?" Mencoba menetralisir suasana yang sedikit ksku itu.
" Duhhh kok aku jadi sebel gini ya?" Kata Brian dalam hati.
" Ya udah kalau ada mertuanya, maaf kalau aku ganggu. Assalamualaikum."
" Lho....kok ditutup? ada yang nggak beres nih pasti."
Tsnpa menunggu lama, Arin kemudian memencet tombol call. Terdengar nada sambung beberapa kali, namun tidak diangkat, lalu diulanginya sekali lagi. Barulah Brian mau mengangkatnya.
" Katanya sibuk ada mertuanya, kok malah telfon? nanti dipecat jadi menantunya lho." Sindir Brian tanpa basa-basi. Wajahnya terlihat cemberut.
Arin mengernyitkan dahi sebentar, kemudian dia tersenyum.
" Kok senyum?"
" Nggak papa, pengen senyum aja. Lihat wajah kamu rasanya hatiku tenangaaanggg banget kayak lagi di dalam ruang ujian." melirihkan suaranya, agar tidak terdengar dari luar. Walaupun jarak dari tempat Yuda duduk sekarang sedikit jauh, namun Arin tetap antisapi agar bisa mendengar langkah kaki Yuda jika mendekati kamarnya.
Brian hampir tergelak mendengar Arin menyamakan wajahnya dengan ruang ujian, namun ditahannya dan masih sok jaim.
" Seharian nggak ngabarin, aku pikir kemana. Emang enak dicuekin."
" Maaf sayang, aku kan harus nemenin mama selama di sini, masak aku tinggal chatan sama kamu?"
" Ya minimal ngabarin lewat status dong, biar aku nggak bingung."
" Ohhh iya aku lupa...kamu kan menantu yang baik, istri dari anak lelakinya ya...lupa..lupa..maaf." Ada nada menyindir dalam kalimat Brian.
" Cieeee...ada yang cemburu nih...!!"
Brian baru sadar bahwa dia tanpa sengaja menunjukkan rasa cemburunya pada Arin.
__ADS_1
" Ehhh bukan gitu maksudku." Meralat kalimatnya.
" Iya..iya nggak cemburu juga nggak papa kok..aku cuma bercanda...maaf ya sayang sempat mengabaikan kamu."
" Terus mana suamimu? kok bisa telfon aku? tidur sama ibunya?"
" Nggaklah emang masih anak-anak tidur sama ibunya ...?? tuh lagi di depan tv."
" Ohhhh..."
" Kangen ya sama aku? sampe sebete itu." Menggoda Brian.
" Nggak penting deh ditanyain."
" Idiihhh...judes amat..kayak emak-emak kompleks."
" Maaf sayang..beneran deh aku tadi pagi jemput mertuaku ke rumahnya, terus beliau nginap di sini, jadi aku nemenin beliau seharian ini."
" Udah deh nggak usah dibahas lagi, males aku dengernya." Brian bete lagi-lagi Arin menyebut kata mertua di hadapannya.
" Iya..iya piss ya, senyum dong...cemberutnya maksimal amat ampe bibir bisa dikepang gitu."
" Kamu pikir bibirku sepanjang itu ampe bisa dikepang?"
" Liat sendiri tuh, manyunnya satu meter hihihi." Tertawa sambil menutup mulutnya karena takut terdengar hingga keluar kamar.
" Dihhh...lebay."
" Nungguin ya dari tadi?"
" Kalau tau lagi ama mertua, nggak akan aku tungguin yank. Aku cuma khawatir aja kok nggak ada kabar."
" Iya...aku paham kok, aku juga kalau kamu nggak ada kabar seharian pasti bingung."
" Hihihi.....bukannya nggak sempet yank, tapi karena keasyikan jadi kelupaan deh."
" Hemmm...lupa ya."
" Ihhhh udah deh jangan dibahas, namanya kelupaan, itu berarti nggak sengaja kan."
" Istri udah tidur belum?"
Brian lalu melihat ke arah pintu rumahnya.
" Mungkin udah, tadi aku keluar dia udah di dalem kamar."
" Nggak curiga dia tiap malem kamu nungguin gazebo sendirian?"
" Nggak.. sebelum kenal kamupun aku udah sering begadang sendirian di sini."
" Ngapain aja?"
" Ya ngapain kek udah gede ini."
" Bukan udah gede, udah tua tau!!"
" Isshhh...kayak yang ngomong nggak."
" Kalau aku mah dewasa, bukan tua."
" Idihhh lupa umur dia."
__ADS_1
" Belajar melupakan itu lebih sulit dibanding belajar mengingat hahaha."
" Suka-suka kamu aja deh."
" Ngapain seharian tadi? di rumah aja?"
" Ya kerjaanku kan emang di rumah, jadi ya di rumah terus dong."
" Asyik dong 24 jam bareng ama istri terus?"
" Udah deh nggak asyik kalau bahas pasangan, tar ngambek lagi."
" Terus bahas apa?"
" Bahas masa depan kita berdua aja."
" Emang kita berdua punya masa depan?"
" Ya kan berharap boleh."
" Boleh sih...emang harapan kamu buat kita berdua apa?" Sambil serius menatap Brian.
" Kalau Allah mengijinkan, aku pengen nikah sama kamu."
" Yakin kamu sama aku?"
" Yakin banget."
" Sejauh mana?"
" Sejauh aku berpikir bahwa kamu pantas jadi istriku."
" Kenapa yakin banget aku pantas?"
" Karena itulah keyakinanku, dan sebuah keyakinan itu letaknya ada di hati, tidak perlu alasan."
" Ciiee...udah kayak pujangga aja."
" Aku kangen yank." Kata Brian tiba-tiba.
" Kok diem sih?" Melihat reaksi Arin yang diam saja.
" Aku juga kangen banget, cuma kita bisa apa?"
" Kisah cinta yang menyedihkan."
" Bukan cuma menyedihkan, tapi mencemaskan hahaha."
" Husss...jangan keras-keras ketawanya." Mengingatkan Arin yang lepas kontrol.
" Ups...lupa!!" Sambil menutup mulutnya.
" Hihihi..suka lupa diri aku kalau lagi sama kamu, kharismamu memabukkan."
" Mulai..mulaii...kumat." Sahut Brian yang mulai jadi bulan-bulanan kegombalan Arin.
" Hihihi..."
" Kalau gitu udah dulu ya, besok lagi inshaallah kalau ada kesempatan." Kata Arin kemudian.
" Hemmmm....gini ya rasanya jadi yang kedua, nungguin lama, telfon bentar cuma buat pamitan aja."
__ADS_1
" Hemmm...iya ya...kok sama sih kita?"
" Hahahaha!" Dan mereka tertawa bersama.