
Pov. Bu Tri
Semenjak kami berganti Asisten dikarenakan Lenny asisten pertama kami berhenti aku semakin bisa fokus bekerja. Selain itu kesehatan ibu juga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Asisten kami kali ini berasal dari indonesia negara asalku. Aku berharap ibu bisa merasa lebih senang karena bisa dengan mudah memberi tahukan apa kebutuhannya.
Tidak seperti Lenny, dia adalah warga pribumi Hong Kong. Dia beragama konghucu. Sebenarnya berbeda keyakinan tak masalah bagiku. Tapi yang aku tidak suka dari Lenny ia sering membawa laki-laki yang tidak jelas kerumah kami dan itu hampir setiap hari. Awalnya aku tidak percaya dengan omongan tetangga. Tapi setelah kami pasang CCTV ternyata benar, Lenny memberi obat tidur kepada ibu. Dan saat ibuku terlelap tidur Lenny memasukan pria-pria hidung belang itu kerumah kami. Dengan bukti rekaman CCTV itulah aku bisa memberhentikannya. Lalu kawan yang juga berasal dari indonesia ia bekerja di kedutaan indonesia untuk Hong Kong sebagai duta disana. Ia mengusulkan supaya aku mencari asisten dari indonesia saja, katanya untuk mempermudah pengobatan ibu. Dan kalau sesama orang indo akan semakin mudah juga untuk berkomunikasi dengan ibu.
Sekarang sudah dua bulan ia bekerja dengan kami. Sikapnya sangat baik. Ia sopan, penurut dan juga lemah lembut. Namanya Aini. Ibuku juga sepertinya sudah akrab dengan Aini. Ibu bahkan kadang ku perhatikan tak sungkan-sungkan meminta Aini membuatkan kue-kue khas indonesia. Seperti kue lambang sari, kelepun, dan cenil. Aku juga senang karena Aini bisa membuat semua apa yang diminta oleh ibuku. Tapi untuk makanan yang terlalu banyak menggunakan minyak atau santan, aku melarang Aini untuk membuatkannya. Karena demi kesehatan ibu. Suamiku juga bilang katanya dia sangat percaya pada Aini.
Karena Aini anak yang baik dan jujur juga penyayang itu menurut penilaian suamiku. Sedangkan menurut Nasya, Aini seperti kawannya. Nasya bilang ia sudah beberapa kali curhat dengan Aini. Dan katanya Aini anak yang asyik saat diajak ngobrol. Tapi entah kalau menurut anakku yang laki-laki. Sejauh ini aku belum pernah menanyakan bagaimana penilaian Farenzy terhadap Aini. Tapi sepertinya Farenzy juga akrab dengan Aini.
Karena melihat kebaikannya aku dan suamikupun sepakat untuk mendaftarkannya kursus komputer dan kursus bahasa ingris. Sebenarnya kami punya tujuan lain. Kami punya rencana yang Aini sendiri tidak tahu. Karena kami butuh waktu untuk memberi tahunya. Ya, kami berencana untuk mempekerjakan Aini di perusahaan milik suamiku. Tapi itu ada syaratnya yaitu hanya apabila ibuku sembuh total dari stroke yang dideritanya.
Walaupun saat ini kesembuhan ibuku baru sekitar 45%, tapi aku dan suamiku benar-benar yakin dan percaya bahwa ibuku akan sembuh total dari sakitnya meski diusianya yang sudah lanjut saat ini sangat rentan akan komplikasi-komplikasi penyakit akan tetapi harapan ibu untuk sembuh sangatlah besar.
"Bagaimana Ai kursus mu, apa kamu bisa memahami materi-materinya?". Tanyaku pada Aini.
" Iya bu. Saya rasa itu nggak terlalu sulit karena pernah belajar juga waktu masih sekolah dan pernah belajar di tempet les dulu bu." Terang Aini padaku.
"Owh.. syukurlah kalau begitu Ai.. semoga kamu bisa cepat lancar ya kedua-duanya."
__ADS_1
"Iya bu.. semoga saja."
Malam itu sebelum tidur aku habiskan untuk ngobrol dengan Aini. Untuk mengorek kepribadian serta asal usulnya diindonesia. Aku tanya mulai dari keadaan keluarganya, alasan mengapa ia mau kerja di Hong Kong ini, siapa orang tuanya, ia anak ke berapa dari berapa bersaudara. Hingga ke makanan dan minuman kesukaannya. Memang sepintas hal semacam ini terlihat sepele, tapi ini penting menurutku agar aku tidak kecewa mempekerjakannya dirumah kami.
"Oya Ai, besok ada jadwal kamu antar ibuku terapi lagi ke rumah sakit ya. Aku akan kabari Farenzy supaya ia bisa mengantarmu dan menemanimu disana hingga selesai." Aku memberi tahukan Aini bahwa besok akan ada jadwal pengobatan untuk ibuku.
"Iya bu, besok akan saya antar nenek." Jawab Aini penuh semangat. Aku senang melihat Aini pun seakan begitu semangat untuk mengantar ibu berobat.
"Ya sudah besok kamu persiapkan segalanya sendiri ya. Aku mau berangkat kerja pagi-pagi sekali. Jadi tolong jangan sampai ada yang ketinggalan. Sebelum berangkat kamu perisa ulang lagi ya Ai apa-apa saja yang nanti akan di butuhkan di rumah sakit seperti yang biasa saja kita bawa." Aku menerangkan pada Aini.
"Iya bu. Akan saya siapkan semuanya." Jawab Aini.
Urusan ibu sudah aku serahkan seutuhnya pada Aini. Aku yakin Aini bisa mengurus ibuku dengan baik. Sedangkan untuk membimbing Aini aku minta bantuan pada putraku Farenzy.
"Ren, hari ini tolong kamu temani Aini ngantar nenek mu berobat ya nak. Kerjaan mu lagi nggak sibukkan?"
"Iya ma, aku lagi nggak sibuk kok. Nanti aku temani Aini."
Mendengar jawaban pasti dari putraku aku makin lega. Aku berharap bisa lebih konsentrasi mengerjakan semua pekerjaanku hari ini. Dalam benak ku aku berpikir bahwa aku beruntung memilih Aini sebagai Asisten kami untuk menjaga ibu. Aini benar-benar anak yang baik dan cerdas serta mudah bergaul. Buktinya dengan putraku saja, yang super cuek dia malah bisa akrab.
__ADS_1
"Ai,kamu jangan dulu berangkat ya sevelum Farenzy datang. Tunggu dia dulu." Kataku pada Aini di telephone.
"Iya bu. Saya akan tunggu Farenzy dulu." Jawab Aini.
"Oya untuk sarapan, kamu beli saja ya uangnya sudah aku tarok di meja makan. Sekalian beli juga untuk Nasya." Aku memberitahu Aini karena pagi ini aku tidak sempat membuatkan sarapan. Ya untuk urusan masak memang tidak aku serahkan ke Aini. Aini aku khususkan hanya untuk mengurus ibu. Sedangkan untuk beberes rumah itupun aku izinin dia hanya kalau ia benar-benar ada waktu luang.
"Iya bu. Nanti saya beli." Jawab Aini
"Oya Ai kalau Nasya mau berangkat kuliah, kamu bilang ke dia uang jajannya nanti aku transfer saja."
"Iya bu nanti saya sampaikan."
"Jangan lupa ya Ai."
" Iya bu."
Aku dan suamiku berangkat kerja bersama. Tiba di kantor, aku berjalan di belakang suamiku. Tapi tiba-tiba aku pengen pergi dulu ke kamar kecil. Kubiarka suamiku mendahuluiku masuk ke ruangannya. Setelah kekamar kecil, aku buru-buru menyusul suamiku. Dan begitu aku membuka pintu ruangan suamiku ternyata didalam ruangan suamiku ada seseorang juga disana selain suamiku. Seorang gadis bermata sipit dengan kulit tetang, rambut hitam lurus, dengan tubuh tinggi semampainya. Dia sangat cantik. Dia sekertaris baru suamiku namanya Lina Wong. Aku memang belum pernah berjumpa dengannya. Hanya tahu sepintas saja dari sumiku. Tapi bukan itu yang membuat ku terkejut.
Bersambung..
__ADS_1