
"[Alhamdulillah kabar aku baik-baik saja mas.]" Itu pesan balasan yang aku kirim untuk mas Farenzy.
"[Oh.. syukurlah kalau begitu. Maaf ya sayang beberapa hari yang lalu aku sangat sibuk mengurus semua pekerjaan sendiri dari rumah]." Pesan darinya kembali masuk.
"[Iya mas, nggak apa-apa aku maklum kok, kan sedang ada masalah pasti banyak pekerjaan yang dilimpahkan ke mas. Aku ngerti mas pasti sangat sibuk]." Balasku terhadap pesannya tersebut.
Meski hanya sekedar pesan seperti itu, namun itu saja sudah sangat berarti bagiku. Aku sangat lega mendapatkan kabar darinya.'Syukurlah dia baik-baik saja.' Bisikku dalam hati.
Bagiku permasalahan yang kini sedang menimpa papa, bukan hanya sekedar permasalahan biasa. Dan ini adalah permasalahan besar yang sedang kami sekeluarga di Hong Kong ini hadapi. Mama saat ini masih sibuk mengurus perusahaan dan mencarikan pengacara serta kuasa hukum untuk papa.
Sementara itu, keadaan Hong Kong yang semakin memburuk terutama di bidang ekonomi diakibatkan oleh adanya sebuah wabah penyakit baru ini belum juga berakhir. Bahkan Lock-down semakin diperketat. Segala gerak-gerik masyarakat sangat dibatasi. Peningkatan pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan. Segala kebiasaan kini telah banyak berubah. Dan bahkan buruknya lagi banyak kabar beredar bahwa stok makanan sudah sangat menipis. Pasar-pasar dan supermarket sangat jarang yang diberiizin operasi oleh pemerintah ini semua guna menghambat perkembangan Virus penyebab penyakit tersebut. Kematian kian banyak terjadi. Kondisi ini sangat mengerikan.
Papa belum diperbolehkan pulang dan kami sebagai keluarganya juga tidak diperbolehkan untuk sekedar melihat keadaannya dari dekat. Sekolah-sekolah, kantor-kantor dan usaha-usaha kecilpun dihentikan pengoperasiannya.
Kini Hong Kong bak sebuah kota mati. Jalanan renggang, lalu lalang masyarakat dijalanan tak lagi nampak terlihat. Kerumunan disana-sini pun sudah tak ada. Semua taman wisata, dan tempat hiburan ditutup. Sunyi. Hanya kabar kematian yang kian menambah setiap harinya serta kompanye-kompanye kesehatan yamg disiarkan dalam semua acaradi televisi.
Aku dan mama mengerjakan semua pekerjaan kantor dari rumah. Begitupun dengan Nasya menjalankan kuliahnya dari rumah pula. Diluar terlihat sepi namun didalam rumah sesungguhnya kami sedang berkumpul. Hanya nenek yang sesekali memandang kearah luar apartemen melalui jendela. Sedangkan Dina ia semakin sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Sesekali aku dan Nasyapun membantunya menyiapkan keperluan kami sehari-hari dirumah itu kalau aku dan Nasya sedang ada waktu luang.
__ADS_1
Hari-hari belalu begitu saja, jemu mulai menyerang kepala setiap orang yang sebelumnya telah terbiasa beraktifitas diluar rumah namun karena keadaan ini memaksa semua orang untuk tetap berada dirumah. Tapi semua orang tentunya mencari hingga menemukan cara sendiri-sendiri untuk mengatasi rasa jemu tersebut. Begitupun dengan aku sendiri.
Diwaktu istirahatku aku mencoba untuk datang menghampiri Nasya. Berbincang-bincang meski kadang sebenarnya entah kemana arah obrolan kami namun ini bisa membuat suana hati kami menjadi cair.
Selain berbincang dengan Nasya, dilain waktu aku juga berbincang dengan nenek. Tapi jika dengan Nasya kami berbincang seputaran obrolan anak muda, lain halnya dengan nenek. Saat berbincang dengam nenek biasanya nenek akan memberi petuah-petuah yang berisi pelajaran-pelajaran dalam menjalani kehidupan. Ah, namanya juga nenek-nenek..hehehe..
Tapi kali ini saat aku menghampirinya nenek seperti sedang terlihat murung. Ya, kemurungan itu sangat nyata dari tatapan mata dan naik turun napas tuanya.
"Assalamualaikum nek.." Aku mencova untuk mendekat dan berharap kedatanganku akan merubah suasana hati nenek.
"Waalaikumsalam..eh ada Aini cucu nenek. Sini duduk dekat nenek!" Ajaknya padaku. Sepertinya nenek sedang menyembunyikan apa sebenarnya yang sedang ia rasakan.
"Ah, kata siapa nenek sedang murung. Justru sebaliknya. Nenek sangat senang karena saat ini kita sedang berkumpul dirumah ini. Hanya cucu laki-laki nenek yamg belum bisa hadir disini. Mungkin dia sangat sibuk."
"Masa iya nek? Tapi apa nenek tidak sedang berbohong pada Aini?" Aku coba menyelidik.
"Iya tentu saja tidak nduk." Jawab nenek.
__ADS_1
"Nek, tolong kasih tahu Aini donk. Apa sebenarnya yamg membuat nenet terlihat sangat murung seperti itu?"
Tanyaku lagi pada nenek.
"Baiklah Ai, nenek akan cerita. Tapi sebelumnya ku harus berjanji dulu untul tidak memberitahukan ini pads siapapun terutama Nasya." Pinta nenek.
"Iya nek, Aini janji. Kasih tahu Aini yang sebenarnya ya nek." Aku memohon pada nenek untuk memberitahuku apa hal yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah Ai, sebenarnya nenek sudah sejak lama tahu perihal perselingkuhan Syaeful papamu itu. Sejak dulu sebelum kedatanganmu kesini." Sejenak nenek diam dan mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Baru kemudian nenek melanjutkan pembicaraannya.
"Bahkan sebenarnya dulu nenek pertama kali terserang setrouke itu penyebabnya karena nenek tidak tahan melihat perbuatan Syaeful dibelakang Tri anakku. Waktu itu aku baru beberapa bulan datang dan tinggal disini bersama cucu-cucuku. Dia dengan berani pulang dengan membawa wanita lain kerumah ini. Sedangkan aku ada dirumah. Dia bahkan tidak sungkan-sungkan mengancam akan membunuhku jika aku memberi tahukan perbuatannya ada Tri." Nenek diam, matanya memandang jauh keluar jendela.
"Lalu nenek tetap merahasiakannya dari mama?" Aku bertanya memecah lamunan nenek.
"Tidak. Nenek pernah mencoba untuk memberi tahu mamamu tapi dia tak pernah percaya dengan apa yang nenek katakan. Karena Syaeful begitu pandai bersandiwara didepannya jadi seolah-olah aku lah yang tidak suka dengan Syaeful dengan cara memfitnahnya. Padahal nenek berkata benar apa adanya. Sejak saat itu nenek sering sedih, takut, khawatir secara berlebihan. Tensi darah nenek sering naik, jantung juga semakin melemah hingga suatu hari ketika nenek keluar dari kamar mandi seluruh pandangan nenek jadi gelap. Badan nenek lemas. Lalu nenek terjatuh. Metika nenek sadar ternyata nenek sudah dirumah sakit dan saat nenek.menxoba untuk menggerakkan tangan ternyata juga tidak bisa. Nenek ingin bicara namun lidah nenek terasa berat dan kaku. Ternyata nenek menderita sakit strouke." Nenek kembali diam dan menghela napasnya. Kemudian baru melanjutkan ceritanya.
"Dan ketika nenek sedang sakit strouke-pun papamu pernah juga membawa wanita lain merumah ini. Tapi sepertinya wanita-wanita itu selalu berganti-ganti. Bukan hanya satu wanita. Melainkan ada beberapa orang yang pernah secara langsung nenek lihat. Dan akhir-akhir ini saja entah apa yang bisa membuka mata Tri anakku sehingga ia bisa tahu tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Syaeful. Tapi ia selalu berusaha menutupinya dari cucu-cucuku. Namun yang namanya bangkai tidak akan pernah bisa disimpan baunya pasti akan kemana-mana. Dan akhirnya saat Syaedul di tanfkap puhak kepolisian barulah kedua anak mereka tahu tentang lenghianatan yang papa mereka lakukan pada Tri selama ini." Tutur nenek. Lalu ia kembali menarik napas panjang sepertinya kini nenek sudah jauh lebih lega dari pada sebelumnya. Semoga dengan bercerita padaku nenek tidak akan merasa terbebani lagi.
__ADS_1
Bersambung...