Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.31. Sungguh Sesuatu yang tak terduga


__ADS_3

Dan betapa terkejutnya aku, bahkan jantungku hampir saja copot bahwa yang menikah itu ternyata adalah orang yang sangat aku kenal. Sejenak langkah ku terhenti menyaksikan kenyataan yang sedang aku lihat saat ini. Tapi tangan nenek dengan sigap menariku untuk masuk dan membaur kedalam ratusan tamu undangan yang hadir.


Tuhan..! Apa aku tidak salah lihat? Aku mencoba untuk mendekati sebuah papan yang tertulis nama kedua mempelai. Benar-benar diluar dugaan. Ada rasa tak percaya yang begitu besar di hatiku, tapi ada juga rasa haru yang teramat dalam yang kini sedang aku rasakan.


Bagaimana tidak sangat jelas tertulis di papan nama itu bahawa nama mempelai wanitanya adalah 'Irma Vania', ya benar ia adalah irma teman ku yang dulu pertama kali memberiku informasi tentang pekerjaan sebagai tenaga kerja wanita seperti aku saat ini. Tapi bukankah dulu negara tujuan Irma adalah Taiwan bikan Hong Kong? Lalu mengapa sekarang ia ada di Hong Kong dan menikah. Dengan siapa ia menikah?


Aku mencoba untuk mencubit diriku sendiri, pertanda bahwa ini bukanlah sebuah mimpi. Ternyata cubitan itu masih terasa sakit meski pun aku sendiri lah yang menyubit tangan ku. Berarti sekaeang aku tidak sedang bermimpi. Lalu bagaimana caranya supaya aku bisa menghampiri Irma dan mengintrogasinya tentang bagaimana ia bisa sampai di Hong Kong ini dan dengan siapa ia menikah sehingga diadakan semeriah dan semewah ini.


"Aini, ayo sini. Ini orang kita dapat jodoh dari Hong Kong. Kemaren nenek mendapatkan undangannya dari salah satu kerabat yang sudah menetap lama juga di sini." Nenek membuyarkan lamunan ku.


"Hei.. Aini, kamu kenapa? Kok malah bengong aja disitu." Nenek kembali menarik lengan ku. Dan aku hanya bisa diam lalu balik bertanya juga pada nenek.


" Nenek kenal mereka?"


"Maksud mu kedua mempelai itu?"


"Iya nek."


"Tidak, hanya karena mendapat undangan dari salah satu kerabat saja. Dan nenek ingin melihat langsung pernikahan dari anak orang terkaya di Hong Kong ini. Itu saja." Ujar nenek.


"Nek, Aini ingin mendekat ke mempelai wanita iti. Tapi bagaimana ya nek caranya?".


"Begini saja, nanti kalau acara lempar bunga kamu dekat-dekat dengannya. Oya memangnya kenapa kok kamu sebegitu pengennya dekat dengan mempelai wanitanya. Apa kamu mengenalnya?"


"Iya nek, aku mengenalnya."


"Siapa dia? Apa dia teman mu?"


"Iya nek. Dialah orang yang sudah membantuku untuk bisa pergi bekerja disini. Bahkan dulu dia juga yang pertama kali mengajak ku. Namanya Irma nek."


"Owalah, kok kebetulan banget ya Ai. Kamu nenek ajak pergi ke sini."


Kemudian sampailah pada waktunya untuk acara lempar dan tangkap bunga oleh si mempelai wanita kepada para single, seperti yang nenek katakan aku segera mendekat kearah Irma. Aku berharap Irma bisa melihat ku. Kalau tadi mungkin saja ia tidak memperhatikan kehadiran ku karena terlalu banyak orang yang datang sebagai tamh undangan sedangkan saat ini tidak lagi hanya para single saja yang ada dalam lempar tangkap bunga ini.


Tak menunggu waktu lama akhirnya Irmanpun keluar bersama pasangannya. Sebelum acara lempar tangkap bunga itu dimulai aku segera meng hampiri Irma.


"Irma..!" Aku memanggilnya.


"A..Aini..?" Sepertinya Irma terkejut dengan kehadiranku di pestanya.


Aku mengambil beberapa langkah lagi sehingga bisa lebih dekat dengannya.

__ADS_1


"Irma, kenapa kok kamu bisa ada di Hong Kong? Bukankah dulu negara tujuan mu Taiwan? Lalu baru berapa bulan saja kamu bekerja kok malah sudah menikah.. bagaimana ceritany ir?"


"Hehee..iya Ai, aku juga tadinya tidak tahu kalau bakalan sampai menikah seperti ini."


"Lho kok begitu?"


"Iya Ai, aku memang bekerja di Taiwan. Dan bertemu dengan suamiku ini disana. Dia adalah anak dari majikan ku. Kami saling jatuh cinta. Tapi keluarganya tidak menyetujui hubungan kami, dan akhirnya ia memutuskan supaya kami berpindah ke Hong Kong untuk melangsungkan pernikahan disini."


"Lalu bagaimana dengan Visa dan workvermit mu?"


"Iya, nanti kami akan kembali lagi ke Taiwan setelah menikah dan akan mengurus segala berkas ku."


"Oya acara lempar tangkap bunga sudah mau mulai, ayo aku kesana dulu ya Ir."


"Iya nanti kamu jangan dulu pulang ya Aini. Aku mau cerita banyak sama kamu."


"Oke."


Kemudian acara lempar tangkap bunga itupun di mulai semua single sudah berkumpul berbaris di depan irma dan suaminya. Tak ketinggalan juga aku. Aku berada di barisan paling depan berharap bida menangkap bunga yang Irma lemparkan. Yup.. irma mantap melemparkan bunganya, tapi aku tak bisa menangkap bunga itu. Ada gadis lain yang berhasil menangkapnya. Lalu acara tersebut pun berakhir. Kemudian Irma kembali menemuiku.


"Hei.. Aini"


"Ada apa Ir?"


"Sini dulu..!"


"Iya."


"Kita belum ngobrol-ngobrol, aku mau cerita banyak hal sama kamu Ai."


"Wah.. aku mau donk dengar cerita kamu, pasti seru bisa menikah dengan anak saudagar kaya dari Taiwan."


"Ah kamu Ai, bisa aja."


"Siapa nama suami mu Ir?"


"Namanya Lee khang ji."


"Lalu bagaimana dengan keyakinan kalian?"


"Sampai saat ini kami masih menjalani keyakinan kami masing-masing, Ai."

__ADS_1


"Dan bagaimana dengan keluarga mu di Indonesia apa kamu memberi tahu mereka tentang pernikahan mu ini?"


"Aku hanya memberi tahu kakak ku dan kakak ku pun tidak menyetujui pernikahan ku. Tapi aku tetap melanjutkannya."


"Nekat kamu Ir."


"Ya mau gimana kalau cinta."


"Lah, terus gimana dengan agen mu di Taiwan apa kamu nggak di kasih sanksi atau denda. Karena menikah kan di larang dalam kontrak kerja."


"Iya sebenarnya aku dapat sanksi. Aku di denda yang lumayan besar tapi suami ku tidak masalah dia sudah melunasi semua denda ku."


"Owh.. begitu."


"Iya Ai. Mungkin ini keputusan terlalu cepat ku ambil, tapi aku yakin dengan keputusan ku aku yakin aku tidak akan menyesal di kemudian hari. Aku lakukan ini Ai karena aku siap menerima segala resikonya."


"Ya sudah Ir kalau itu benar sudah keputusan mu dan kalau benar sudah kamu pikirkan matang-matang. Aku tadu hanya kaget saja melihat mu."


"Ehhemm.. Nggak.usah khawatir ya Ai doa kan saja yang terbaik untuk ku. Oya kamu kesini dengan siapa? Dan siapa yang memberitahu mu?"


"Aku ikut nenek ku, tadi aku tidak tahu kalau ternyata kami mau pergi kesini. Soalnya nenek tidak memberi tahu ku. Begitu masuk betapa kagetnya aku saat melihat kamu yang ada di altar itu."


"Owh.. nenek mu tahu dari siapa?"


"Dia tahu dari salah satu kerabatnya yang juga sudah lama tinggal disini."


"Ehheeem.. aku sama sekali nggak nyangka kalau bakalan bertemu dengan mu Ai. Oya apa job mu di Hong Kong ini?"


"Sebenarnya job ku adalah menjaga dan mengurus nenek ku itu. Yang mana tadinya dia sakit stroke tapi alhamdulillah sekarang dia sudag sembuh total."


"Terus pekerjaanmu sekarang?"


"Entahlah sebenarnya pekerjaanku sekarang ini masih mengambang. Tugas ku menjaga nenek yang stroke sudah selesai karena nenek sudah sembuh. Dan masih menunggu pekerjaan baru ku dari majikan ku. Sekarang aku berharap semoga saja mereka akan memperkerjakan aku sebagai pegawai di perusahaan mereka."


"Owh.. semoga saja ya Ai, aku juga mendoakan yang terbaik untukmu."


"Terimakasih Ir."


Tak lama setelah itu aku di panggil nenek. Kemudian aku dan nenek pulang.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2