
Pov. aini
Untuk beberapa hari ini Farenzy sedang berada di Turki. Ia sedang menjalankan tugas yang diberikan oleh pak Saeful untuk meninjau keadaan cabang perusahaan mereka yang ada disana. Sebenarnya ada sedikit kegalauan du hatiku karena dengan demukian aku pastu akan berjauhan dengan kekasihku, Farenzy.
Tapi aku berusaha untuk menenangkan hatiku. Kukatakan pada diriku sendiri bahwa ia pergi hanya untuk beberapa hari saja. Dan jika aku merindukannha aku bisa menghubungi melalui WA atau medsos lainnya. Hah..? Medsos lainnya? Owh.. aku lupa, aku sama sekali tidak terhubung dengan medsos Farenzy yang manapun kecuali hanya WA nya saja. Aku sendiri juga lupa apakah aku pernah memintanya atau tidak. Bagiku kami menjalin komunikasi melalui WA saja itu sudah membuatku merasa nyaman.
Tapi tidak, kadang juga terselip rasa cemburu dan curiga yang tak jelas. Mengapa Farenzy tidak memberitahu ku tentang medsos-medsos nya yang lain selain dari pada WA. Apa ada yang ia sembunyikan atau ia rahasiakan dari aku? Atau ada hal-hal lain tentang dirinya yang tidak mau ia beritahukan pada ku?. Ah..pikiran ku semakin tak menentu saja. Sudah lah Aini, kamu harus percaya bahwa tidak ada yang Farenzy rahasiakan dan sembunyikan. Aku berusaha untuk menenangkan sendiri suasana hatiku.
"[Sayang, aku sudah sampai]." Itu bunyi pesan dari Farenzy yang ia kirimkan di WA. Dan aku pun segera membalasnya.
"[Owh.. syukurlah mas kalau sudah sampai dengan selamat]."
"[Iya sayang]."
Aku tak membalasnya lagi. Sengaja supaya ia menelphone ku. Tapi setelah beberapa saat aku tunggh tak juga kunjung ada telepon dari Farenzy akhirnya ku putuskan untuk menaruh ponsel ku diatas tempat tidur. Kemudian aku keluar kamar dan menui nenek.
"Ada apa nduk?" Tanya nenek pada ku.
"Nggak ada apa-apa nek?" Jawabku.
"Owh.. kalau begitu yuk ikut nenek." Ajak nenek padaku.
"Mau kemana nek?" Aku bertanya pada nenek akan kemana tujuannya hingga ia mengajak ku.
"Kita makan di luar. Sebentar nenek telephone Nasya dulu siapa tahu dia mau ikut bersama kita."
"Iya nek."
Kemudian nenek menelphone Nasya, sementara itu aku pergi ke kamarku sebentar untuk mengambil handphone milik ku. Sejenak kulihat ada panggilan tak terjawab. Ternyata dari Farenzy. Aku tidak menelphone balik padannya karena mengingat aku akan segera pergi bersama nenek. Maka aku hanya mengieiminya pesan saja.
"[Ada apa mas? aku mau pergi nemani nenek cari makan diluar]."
"[Owh.. ah, nggak cuma kangen saja. Kamu kangen nggak sama aku]?"
"[Iya mas, aku juga kangen sama mas]"
"[Sungguh..?]"
__ADS_1
"[Iya lah mas pasti itu]"
Tanpa aku sadari ternyata nenek memperhatilan aku. Mungkin dari tadi mungkin juga baru saja. Yang jelas aku terkejut saat nenek tiba-tiba menyapa ku dengan gurauannya.
"Eheeem.. kamu lagi kangen kangenan sama pacar kamu nduk?" Sambil nenek sedikit menoleh ke arah ponsel ku.
"Iih.. nenek, nggak kok cuma teman saja."
"Ah,masa??"
"Iya nek sungguh..!"
"Orang mana Ai, pacara mu? Apa dia bekerja di Hong Kong ini juga?"
"Sama seperti kita nek dia asli orang Indo juga. Hanya saja kalau saat ini di sedang di mintai untuk meninjau keadaan perusahaan bosnya di suatu tempat."
"Owh.. begitu."
"Iya nek. Oya apa kata Nasya nek apa dia mau ikut kita makan di luar."
" Nggak nduk katanya dia mssih belum lapar. Yuk kita berdua saja."
Aku dan nenek hanya pergi dengan berjalan kaki karena memang restourant yang kami tuju tidak lah jauh. Setelah makan, aku dan nenek pun langsung pulang. Diperjalanan sesekali kami isi dengan candaan. Aku senang karena nenek benar-benar memperlakukan aku seperti cucunya sendiri.
"Nek, apa Aini boleh bertanya?"
"Tentu saja boleh. Silahkan nduk kamu mau tanya apa?"
"Seperti apa sih nek cucu laki-laki nenek?"
"Jadi benar kamu belum tahu siapa cucu laki-laki ku itu?"
"Iya nek belum. Aini hanya ingin tahu saja seperti apa sebenarnya tuan muda."
"Owh.. tapi nenek tidak yakin kalau kamu belum mengenal sosok tuan muda mu itu. Tapi bisa jadi juga sih kamu belum mengetahuinya karena dia orang yang supel dan tidak suka sesuatu yang berlebihan bahkan sehari-hari ia hanya terlihat biasa-biasa saja. Makanya walau pun kamu bertemu dengannya kamu tidak tahu kalau sebenarnya dia adalah tuan muda di keluarga kami."
"Owh.. begitu ya nek. Namanya siapa ya nek?"
__ADS_1
Nenek tidak menjawab, ia hanya diam sejenak dan kemudian tersenyum, lalu menatapku dengan sebuah tatapan yang aku tak mengerti apa arti tatapan nenek tersebut. Mungkin nenek tidak mau memberi tahu ku tentang siapa nama tuan muda.
"Ya sudah lah nek kalau nenek tidak mau memberi tahu Aini siapa nama tuan muda itu juga tidak masalah nek. Sebenarnya Aini hanya ingin tahu saja nek."
"Nggak nduk, bukan begitu maksud nenek, tapi nenek tidak yakin kalau kamu benar-benar tidak tahu siapa namanya."
Lalu aku memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan. Aku pikir nanti pasti akan ada satu waktu untuk aku tahu dan mengenal sosok tuan muda yang ada dalam keluarga majikan ku ini. Aku dan nenek berjalan pulang. Sesampainya kami di rumah ternyata sudah ada Nasya. Dia sudah pulang kuliah.
"Kalian dari mana saja?" Tanya Nasya.
"Lho.. kok nanya lagi, tadi sudah nenek ajak katanya nggak mau ikut." Nenek menjawab pertanyaan Nasya.
"Kami baru saja makan di luar Nas." Sambung ku.
"Owh.. iya soalnya tadi sewaktu nenek menelphone aku masih di kampus tugasku belum aku kumpulkan."
"Nah.. itu, berarti bukan salah kami kan..? Bukan kami yang nggak ngajak kamu tapi kamunya yang berhalangan." Timbal nenek lagi.
"Iya deh iya.. nek.."
"Apa lagi Nas?"
"Minta duit nek, aku jugapengen beli makan."
Kemudian nenek mengambil beberapa lembar uang dolar hong kong dari dalam dompetnya dan kemudian memberikannya pada Nasya. Setelah menerima uang pemberian nenek, Nasya berpamitan untuk membeli makan.
Tak terasa hari sudah kembali malam, seperti biasa Nasya memanggilku untuk menonton acara tv bersamanya dan juga nenek. Sambil sesekali kami isi dengan bercanda. Sungguh hangat kebersamaan dengan keluarga majikan ku ini.
"Oya Aini, aku sudah bilang ke mama untuk memberimu sebuah pekerjaan baru. Dan mama juga papa seruju akan hal itu mereka.bilang memang sudah mereka pikirkan sejak dulu makanya mereka memasukan mu di kursus karena mereka pikir hika kesehatan nenek sudah pulih maka mereka harus memberi mu pekerjaan lain. Dan mama akan segera mengurus perubahan datamu di agen. Berdoa saja semoga agen mu mengizinkan kamu untuk berganti pekerjaan dan bukan berganti majikan." Nasya menerangkan.
"Iya Nas. Amiin.. aku juga kalau boleh jujur sangat berat kalau harus berganti majikan. Aku takut malah mendapat perlakuan yang tidak enak. Sesangkan aku disini bekerja untuk membanru perekonomian keluarga ku di kampung."
"Nah.. makanya kita tunggh saja sambil berdoa semoga mama dan papa berhasil membujuk agen mu itu."
"Iya Nas, semoga saja."
Kemudian handphone ku berbunyi, ada telephone dari Farenzy, aku berpamitan pada nenek dan juga Nasya untuk mengangkat telephone nya di kamar. Lalu aku pergi kekamar ku dan bercengkrama dengan Farenzy sekedar melepaskan rindu di hati kami.
__ADS_1
Bersambung...