
Pov. Aini
Siang ini cuaca sangat terik, matahari berada tepat diatas ubun-ubun. Keadaan ini menjadi alasan restoran tempat ku bekerja menjadi semakin ramai pengunjungnya karena banyak orang memilih untuk melipir sejenak meski hanya sekedar memesan minuman dingin. Kami semua para pekerja restoran ini sangat sibuk dan tidak ada waktu sedikit saja untuk berlengah-lengah. Hingga seorang memanggilku dari salah satu arah dan dia adalah salah satu rekan kerjaku. Ia menunjuk kesalah satu sudut katanya ada seorang pelanggan yang baru datang dan memesan minuman sedangkan ia masih sibuk dengan pesanan yang lain segingga belum bisa melayani pelanggan tersebut dan ia melempar tugasnya padaku.
Kemudian aku segera datang menghampiri pelanggan yang tadi ia tunjuk, tapi ada sesuatu yang membaut aku sangat terkejut tapi tidak bisa mengelak lagi yaitu karena pelanggan tersebut tak lain ialah Farenzy dan ia terlanjur sudah melihat dan mengenaliku. Aku terjebak.
"Aini..!" Tiba-tiba ia menyebut namaku dan itu membuatku semakin tak bisa melangkahkan kaki untuk menjauh darinya. Hingga aku pun terpaksa menjawabnya.
"Iii, iya mas." Aku masih gugup karena tak percaya dengan pertemuan ini.
"Dari mana saja kamu selama ini Ai?" Farenzy bertanya padaku seraya ia menatap lekat padaku kemudian ia pun langsung menarik tubuhku kedalam pelukannya. Tapi aku merasa risih karena tak selayaknya ini ia lakukan padaku.
"Mas sedang apa disini?" Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana.
"Kamu yang sedang apa disini Ai?" Ia malah balik bertanya padaku.
"Aku kerja disini mas." Jawabku.
Dan untuk beberapa saat kami hanya saling diam mungkin kami larut dalam perasaan kami masing-masing. Sepertinya ia sedang tak percaya dengan pertemuan kami ini. Ada raut bahagia yang tersirat diwajahnya namun sepertinya ia sedang berusaha untuk menyembunyikannya dariku.
"Kamu bisa keluar sebentar Ai?" Tiba-tiba Farenzy memintaku untuk keluar.
"Ada apa mas?" Aku bertanya karena tak tahubapa maksudnya memintaku untuk keluar sebentar.
"Aku ada perlu Ai." Jawabnya.
"Emm lima belas menit lagi waktu istirahat untukku, mas bisa tunggu dulu ya." Aku memberitahunya.
__ADS_1
"Baiklah Ai kalau begitu aku akan menunggu." Jawabnya dengan senyuman yang sulit untuk ku artikan.
Kemudian aku pergi meninggalkan Farenzy, dan kembali melayani pesanan para tamu yang lainnya. Sesekali aku melirik kearahnya ku lihat ia sepertinya sangat gusar. Farenzy nampak sangat gelisah entah apa yang ingin ia sampaikan padaku. Hingga lima belas menit yang tadi kujanjikan padanya sudah sampai. Dan aku mengambil waktu istirahatku. Aku menghampirinya.
"Mas, aku sudah bisa istirahat sekarang." Aku menyapanya.
"Ayo Ai kita bicara diluar." Farenzy mengajak ku dan menuntun tanganku keluar dari restoran tempat kerjaku.
Kami berjalan disekitaran taman yang ada disamping restoran tersebut, udara yang sejuk menyapa dengan lembut membelai, sangat terasa. Lalu kami duduk disebuah kursi yang memang ada di taman itu. Farenzy menatapku dengan sangat lekat dengan senyumannya yang terus mengembang.
Ini membuatku semakin merasa rikuh, aku tak mampu menghindari tatapannya. Perlahan namun pasti ada sebuah debaran yang seolah menggema didadaku. Darahku berdesir namun seluruh tubuhku seakan kaku. Mungkinkah ini pertanda rindu yang telah lama tersimpan. Lalu aku mencoba untuk menarik tubuhku sehingga ada jarak antara kami.
"Ada apa mas, tadi katanya ada yang perlu dibicarakan?" Aku bertanya pada Farenzy mencoba untuk mencairkan suasana.
"Hemm.. Emmm.. Iya Ai, benar ada yang perlu kita bicarakan." Jawabnya masih dengan nada gugup.
"Nenek sakit lagi Ai. Dia menunggumu untuk kembali kerumah." Farenzy merubah posisi duduknya, kini kami saling berhadapan dan ia menantapku lekat seolah metakinkanku bahwa apa yang baru saja ia katakan adalah benar. Tapi hatiku tak mudah percaya begitu saja.
"Oh, jadi kalau tidak karena nenek mas Farenzy tidak akan mencari aku?" Aku bertanya padanya.
"Tidak. Bukan begitu maksudku. Sejak kepergianmu aku bahkan melalaikan semua pekerjaanku hanya untuk mencarimu Aini. Aku bahkan kehilangan semua seleraku, hanya menemukanmu adalah satu-satunya tujuanku. Dan ditambah lagi nenek kembali jatuh sakit karena kehilangan kamu Ai." Farenzy meraih kedua tanganku dan mengenggamnya erat. Sangat erat.
"Mengapa mas begitu yakin kalau nenek sakit karena merasa kehilangan aku? Bukankah ada Nasya cucu kandungnya?" Aku mencoba untuk mengelak dari penjelasan Ferenzy tentang nenek.
"Aini, kumohon percayalah ! Apa kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?" Farenzy kembali menatapku lekat dan kini ada genangan yang mengambang di kedua sudut matanya. Lalu ia tertunduk dan perlahan mengusap matanya.
"Kamu dan Nasya tidak akan pernah sama di mata nenek. Kamu spesial Ai. Terlebih lagi bagiku. Kamu adalah segalanya. Bagaimana mungkin aku bisa menjalani hidupku tanpamu?" Farenzy kembali meyakinkan aku.
__ADS_1
"Hahahaa.."
Aku tertawa, geli rasanya mendengar ucapan Farenzy tadi. Sepertinya ia terlalu berlebihan.
"Aini? Apa yang kamu tertawakan? Baik. Terserah kamu mau menertawakanku seperti apapun aku tidak peduli karena aku baru saja berkata apa adanya, yang sebenarnya terjadi tanpa kamu ketahui Ai."Farenzy menimpali tawaku.
"Mas Farenzy, jika kedatangan mas hanya untuk itu maka sekarang juga mas silahkan pergi. Dan beri tahu nenek bahwa aku tidak akan bisa kembali lagi bersama keluarga kalian. Aku sudah punya pekerjaan yang lain sekarang. Dan aku sangat senang bisa keluar dari lingkungan keluarga kalian. Oh ya, terimakasih atas segala yang dulu pernah kalian berikan padaku. Terimakasih atas semua kebaikan hati kalian." Terangku.
Lalu aku bangun dan bangkit dari dudukku, aku berniat untuk pergi saja meninggalkan mas Farenzy yang hanya membuat hatiku semakin kesal saja. Aku muak dengan semua kata-kata dan juga bujuk rayunya. Tapi tiba-tiba Farenzy menarik tanganku. Hingga aku tertahan dan kembali ke posisi dudukku semula.
"Aini, aku mohon." Ia meratap dihadapanku.
"Duh mas maaf waktu istirahatku tinggal sebentar lagi dan aku harus kembali masuk." Aku memberitahunya.
"Baiklah Ai, lupakan saja dengan rasa yang ada atau pernah ada diantara kita. Anggap saja kamu tidak pernah mengenalku atau anggaplah aku ini sebagai saudaramu saja. Tapi tolong kembalilah demi nenek. Dan jika kamu belum bisa memberiku jawaban sekarang maka hubungi saja aku kapanpun kamu siap untuk kembali. Aku dan nenek selalu menunggumu." Kilahnya.
"Iya nanti aku kabari biamsa atau tidaknya aku kembali pada kalian. Tapi tolong jangan terlalu berharap untuk itu." Jawabku.
"Baiklah Ai, aku menunggu mu." Mas Farenzy menatapku lirih.
"Oke, saya rasa cukup dan sekarang boleh saya pergi?" Aku berpamitan padanya.
"Baiklah, silahkan." Jawabnya.
Lalu aku pergi begktu saja meninggalkannya, entahlah hatiku benar-benar pedih dan belum sanggup untuk menyembuhkanya walau dengan terpaksa.
Bersambung
__ADS_1