
Pov. Farenzy
Pagi-pagi ketika aku bangun tidur, kuraih handphone ku yang berada di meja samping tempat tidur. Kulihat ada beberapa pesan. Oya, tadi sewaktu aku bangun subuh, setelah sholat aku langsung tidur lagi. Mata rasanya masih sangat berat namun tetap ku paksakan untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Kulihat pesan itu dari mama, dari Nasya, juga ada dari Aini dan satu dari benadaharaku di kantor memberitahuku bahwa hari ini dia tidak bisa masuk kerja karena anaknya masih sakit dan ia harus merawatnya katanya.
Ku buka pesan berikutnya dari Nasya, adikku.
"[Kak, kakak mau kesini tidak malam ini?]"
"[Kak, Aini ulang tahun kita kerjain yuk]".
"[Kak nenek sembuh]."
Hhhuh..
Nasya ini ada-ada saja. Pikirku.
Tapi apa benar Aini ulang tahun? Aku tidak tahu benar atau hanya candaan Nasya saja. Nenek sembuh? Sembuh seperti apa? Bukankah nenek memang sudah bisa dikatakan sembuh karena darinhari kehari kesehatannya semakin membaik. Lalu kubuka pesan dari mama.
"[ Ren, besok ke sini ya. Ada kabar baik. Nenekmu sudah sembuh]." Itu bunyi pesan dari mama. Aku semakin penasaran tentang bagaimana kesembuhan nenekku.
Aku berangkat kekantor setelah selesai mandi dan sarapan. Tak lama aku di kantor setelah meeting pagi dengan semua staff dan karyawan, aku memeriksa agenda kerjaku hari ini. Tidak terlalu padat. Aku segera memberi tahukan sekretaris ku bahwa aku akan pergi sebentar dan akan kembali sebelum jam makan siang.
Kemudian aku mengambil mobilku yang berada di parkiran, lalu langsung ku setir melaju menuju rumah orang tuaku. Tapi sebelum sampai disana aku ingat pesan dari Nasya semalam yang baru ku buka tadi pagi katanya Aini ulang tahun. Aku memikirkan kado apa yang kira-kira tepat untuk ku berikan pada Aini. Sambil menyetir aku terus memikirkan apa isi kado yang harus ku berikan sebagai kado ulang tahun untuk Aini.
Tiba-tiba lampu hijau tanda penyeberangan menyala, aku mengerem mobilku. Tak sengaja ku tolehkan kepalaku kearah samping jalan. Tepat disana ada sebuah toko perhiasan. Ya, aku ingin memberikan sebuah kado berupa kalung untuk Aini. Setelah lampu penyeberangan kembali menyala berwarna merah aku segera meneyir mobilku memutar me arah toko perhiasan tersebut.
Aku masuk kedalam toko dan melihat-lihat kira-kira model apa yang bagus untuk ku lingkarkan di leher Aini. Dan karyawan toko itu menunjuk kearah barisan perhiasan kalung yang katanya model keluaran terbaru. Aku memilih salah satu diantaranya.
Lalu si pemilik toko membungkusnya dengan rapi dan memasukannya kedalam kotak kado. Aku lega. Sekarang di saku celana ku sudah ku kantongi sebuah kado kecil untuk hadiah ulang tahun Aini. Tapi Aini sendiri belum aku beri tahu bahwa aku akan memberinya sesuatu.
Sesampai di depan apartemen tempat rumah orangtuaku, aku memarkirkan mobil. Kemudian sebelum keluar dari mobil aku mencoba untuk mengirimi Aini pesan.
"[Assalamualaikum. Kamu sekarang dimana Ai]." Tanya ku.
"[Waalaikumsalam. Aku masih di tempat kursus, sebab masih akan ada ujian lagi setelah ini.]." Balas Aini.
"[Owh.. kalau begitu berarti kita bisa ketemuan donk]."
"[ Memang ada perlu apa?]."
"[ Nggak ada apa-apa, aku cuma mau mengajak kamu makan siang. Kamu mau kan?]."
__ADS_1
"[Ya, nanti aku tungguin di taman dekat tempat kursus bahasa ingrisku ya]."
"[Oke, siap]."
Akunlangsung turun dan menuju ke rumah orangtuaku. Sesampai disana aku menjumpai mama, dan nenek sedang duduk santai sambil berbincang-bincang.
"Assalamualaikum. Ma..!!"
"Walaikumsalam.. eh ada anak mama baru datang. Sini sayang coba lihat ini."
"Wah..nenek sudah sehat?"
"Alhamdulillah Ren.." jawab nenek dengan senyum simpul khasnya.
"Semalam mama dan Nasya kirim pesan ke Renzy, tapi Renzy sudah tidur nek. Maklum kecapen sehatian kerja."
"Ya sudah nenek ambilkan minum ya." Kata nenek sambil berdiri dan berjalan ke arah meja yang berada disamping TV disana memang ada sebuah teko dengam beberapa gelas. Spontan aku kaget melihat pemandangan ini.
"Ma.. nenek?" Kata ku sambil terpelongok melihat apa yang baru saja nenek ku lakukan. Sungguh bagiku ini merupakan sebuah keajaiban yang luar biasa.
"Iya, nenek mu sudah sembuh." Mama meyakinkan aku sekali lagi.
Aku langsung berlari mendekati nenek dan langsung memeluk nenekku. Alhamdulillah ya Rob.. terimakasih atas nikmatMu ini. Bisik ku dalam hati. Aku benar-benar terharu hingga tak terasa air mataku menetes karena sangkin harunya. Perasaan senangku tak bisa aku ungkapkan atas kesembuhan nenekku ini.
"Sangkin senang dan bahagianya Renzy nek, makanya air mata Renzy tak visa lagi Renzy bendung." Ungkapku pada nenek.
"Ayo sini minum teh dulu sama nenek dan mama mu." Ajak nenek. Aku langsung duduk di samping nenek dengan bergelayut manja di pundaknya seperti saat dulu waktu masih sekolah di indo.
"Nasya mana ?" Tanyaku.
"Adik mu masih kuliah. Nanti sore dia baru pulang." Jawab mama.
Setelah lumayan lama aku minum teh dan bercengkrama bersama nenek dan mama, aku langsung pamit untuk kembali kekantor lagi. Ets.. aku bohong..! Sebenarnya kan aku sudah janji dengan Aini mau bertemu dengannya di taman.
"[Sudah selesai ujiannya?]." Aku mengirimkan pesan pada Aini. Beberapa menit kemudian ia membalas.
"[Iya nih baru mau keluar ruangan.]" Balasnya.
"[Aku kesana sekarang ya]."
"[Iya. Aku tunggu ditaman]."
"[Oke]". Balasku. Kemudian aku langsung menyetir mobilku menuju taman yang berada tidak jauh dari tempat kursus Aini.
__ADS_1
Sesampai di taman aku langsung memarkirkan mobilku, lalu mencari Aini. Aku mengiriminya pesan menanyakan keberadaannya. Apakah dia sudah ada di taman ataukah belum. Tanpa menunggu lama mataku langsung tertuju pada sesosok sederhana yang anggun. Aini. Dia berada di sebuah kursi taman. Disana ia duduk sendirian pastilah menunggu kedatanganku. Aku langsung mengarahkan langkahku menuju tempat Aini berada.
"Hei.. sudah lama menunggu?" Sapaku pada Aini.
"Nggak kok baru saja." Jawabnya dengan senyuman manisnya.
Aku dan Aini berbincang-bincang beberapa saat. Aku masih mengatur kata-kata yang tepat untuk menberikan kado tersebut pada Aini.
"Ai, kamu ulang tahun ya?" Tanyaku.
"Nggak ah.. siapa yang ylang tahun?"
"Kamu lah.."
"Iih..kata siapa?"
"Lho kok kata siapa, kamu lupa ya, kalau dari awal kedatanganmu di Hong Kong ini aku yang menjenputmu dari agen. Berartikan aku melihat berkas-berkasmu. Nah .dari situlah aku tahu kalau hari ini adalah hari ylang tahunmu."
"Masa iya? Memang mas Farenzy masih ingat?"
"Iya donk.. selamat ulang tahun ya Aini.."
"Iya terimakasih mas." Jawabnya sambil tersenyum simpul.
"Oya aku punya sesuatu untuk kamu."
"Sesuatu apa?"
"Ada deh.. Coba kamu tutup mata dulu dan ulurkan tangan kananmu." Pintaku. Lalu Aini menuruti kata-kataku. Ia memejamkan matanya. Saat itu ku tatap lekat-lekat wajahnya. Sangat cantik. Bisikku dalam hati. Lalu aku mengeluarkan kadi kecil yang kusimpan di saku celanaku tadi dan memberikannya di tangan Aini. Kemudian Aini membuka matanya.
"Apa ini mas?"
"Bukalah."
Lalu ia membuka kado itu. Dan nampak sekali ia sangat terkejut bercampur bahagia.
"Waah.. kalung? Terimakasih mas ..!"
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Lalu kemudian aku memakaikannya di keher Aini. Dan Aini kembali mengulang kata-katanya.
"Sekali lagi terimakasih mas." Kata Aini padaku.
Bersambung..
__ADS_1