Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.65. Terpaksa Jujur Dengan Pertanyaan Aini


__ADS_3

Pov. Farenzy


Dari kemaren aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Semalam aku bahkan lembur sampai tengah malam. Meski aku kerjakan dari rumah namun pekerjaan ini sangat melelahkan. Sampai-sampai aku tak sempat melihat gawaiku yang mana sengaja aku buat hening untuk nada panggilan dan juga pesannya. Hingga pagi hari saat aku hendak berangkat kerja aku pun tak sempat membukanya. Entah ada pesan atau pun panggilan dari siapa aku tak sempat melihatnya.


Sesampai dikantor aku segera melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai, lalu meeting dengan karyawan untuk pembahasan tentang perkembangan dan kemajuan perusahaan. Sungguh sangat menyita konsentrasiku. Hingga saat waktu istirahat siang hampir tiba aku baru sempat melihat apa yang terjadi dengan gawaiku. Dan ternyata ada beberapa pesan dari Aini dan panggilan berpuluh-puluh kali.


Ya Tuhan..! Ada apa ini? Apa Aini mendapat masalah? Apa ada hal penting yang ingin Aini katakan? Aku sangat merasa bersalah akan hal ini. Akubkhaeatir dengan Aini. Jangan-jangan ada apa-apa dengan Aini.


Lalu sejenak aku berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan. Kemudian aku memmutuskan untuk menghubungi mama. Aku ingin menyelidiki apa yang terjadi dengan Aini sehingga ia begitu sering melakukan panggilan kepadaku.


"[Halo Assalamualaikum ma..]" Sapaku pada mama melalui sambungan telepon.


"[Iya halo Ren Waalaikumsalam, ada apa?]"


"[Maaf ma kalau Renzy mengganggu. Renzy cuma mau tanya apa semua yang dirumah baik-baik saja?]"


"[Iya Ren semua baik-baik saja. Ada apa ya?]"


"[Ah, tidak ma. Tidak ada apa-apa. Tapi benarkan ma semua baik-baik saja. Mama, papa, nenek, Nasya, Aini dan juga Dina?]"


"[Iya Ren kamu ini ada apa sebenarnya nak, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?]"


"[ Ah, tidak ma. Renzy cuma hanya ingin tahu kabar kalian semua saja. Karena akhir-akhir ini Renzy sangat sibuk ma. Sehingga Renzy tidak sempat bertandang kerumah. Syukurlah kalaubkalian semua baik-baik saja]".


"[Owh begitu. Ya sudah mama masih ada meeting. Mama lanjut kerja dulu ya Ren]".


"[Oke ma. Assalamualaikum]"


"[Iya nak Waaliakumsalam]".

__ADS_1


Oh syukurlah kalau mereka semua baik-baik saja. Tapi hatiku sepertinya masih merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ada apa dengan Aini sehingga ia melakukan panggilan telepon kepadaku sampai berpuluh-puluh kali seperti ini. Apa ada hal penting lain yang ingin ia sampaikan padaku dan mama tidak tahu akan hal itu.


Aku pikir ya sudahlah, biarkan dulu semoga ini hanya sebuah bentuk kerinduan Aini kepadaku. Mungkin ia rindu denganku sehingga ia menelponku berkali-kali dan kebetulan nada teleponku aku diamkan. Tapi apa Aini tidak akan marah padaku. Semoga saja tidak.


Aku kemudian beristirahat dan aku pikir nanti saja menghubungi Aini saat hendak pulang dari kantor ketika semua pekerjaan ini sudah selesai. Aku akan mengajaknya bertemu. Aini pasti tidak akan bisa menolak ajakanku itu. Setelah beristirahat sejenak aku kembali masuk kekantor dan melanjutkan beberapa pekerjaanku yang memang belum selesai tadi.


Tak ada prasangka buruk apapun dengan Aini. Aku yakin Ainiku disana baik-baik saja. Ia hanya tak bisa menahan kerinduannya padaku makanya dia melakukan panggilan telepon sesering itu sejak semalam hingga tadi pagi. Ini justru membuatku malah ingin melakukan keusilan lagi untuknya. Tapi ah, tidak. Aku tak mau Ainiku menangis.


Tak terasa waktu jam pulang kantor telah tiba. Segera ku raih Hpku dan aku kemudian langsung menghubungi Aini. Aku menfatakan padanya bahwa sebentar lagi aku akan menjemputnya untuk pulang bersama denganku. Dan ternyata benar apa yang tadi telah kupikirkan. Aini langsung mengiyakan ajakanku. Sama sekali tak ada penolakan darinya. Persis sama seperti yang tadi ku katakan dalam hatiku.


Lima menit sebelum jam pulang kantor aku telah tiba dikantornya dengan mobilku. Aku menunggu Aini di lobi. Dan tak butuh waktu lama kulihat Aini berjalan sendiri menuju kearahku. Tapi sepertinya ada sesuatu yang berbeda di wajah cantiknya. Ia sangat terlihat beda dari pada biasanya.


Kali ini Aini seperti sangat pucat dan lesu. Juga tak ada senyum yang mengambang dibibir manisnya seperti biasa disaat ia melihat aku sudah menunggunya. Ada apa dengan Ainiku? Apa mungkin dia sedang marah padaku karena panggilan teleponnya sejak semalam tidak aku jawab. Ataukah Aini sedang sakit.


Ku biarkan ia datang hingga mendekatiku lalu langsung kuajak keluar dari lobi dan segera masuk kemobil. Aini mengikuti apa yang ku pinta tapi dengan bibir yang terkatub rapat. Dia hanya diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Keadaan ini semakin membuat aku penasaran dan juga semakin banyak pertanyaan yang timbul dihatiku. Aku bingung. Tapi tetap berusaha untuk mengontrol keadaan. Aku tidak boleh terlalu cepat terpancing oleh perubahan sikapnya.


Lalu ku beranikan diri untuk bertanya pada Aini ada apa sebenarnya apakah sedang ada masalah dan jika iya masalah apakah itu?. Namun sejenak Aini diam lalu ia kembali berbicara padaku. Ia mengajukan sebuah pertanyaan untukku.


Deg. Ada apa ini mengapa Aini tiba-tiba bertanya masalah ini padaku. Apa sebenarnya yang telah terjadi. Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan.


"Hahahaa... Aini, sayang kamu ini kenapa? Kamu sakit?" Elakku.


Ya, aku mencoba mengelak dari pertanyaan Aini tersebut. Berharap ini adalah sebuah pertanyaan konyol yang sengaja Aini katakatan untuk mengerjaiku.


"Aku serius mas. Tolong jawab jujur pertanyaanku." Pinta Aini lagi. Ia sangat kelihat serius dalam mengajukan pertanyaan ini padaku. Sepertinya ia tidak sedang main-main.


Aku kembali menertawainya, ku katakan kalau ia sedang mengada-ada. Lalu ia seakan memelas padaku. Ku perhatikan matanya yang indah terlihat sembab sepertinya ia telah banyak mengeluarkan air matanya. Aini telah menangis. Mungkin semalaman ia tidak tidur. Mungkin ia menelponku berkali-kali karena ingin menanyakan akan hal ini.


Siapa yang telah memberitahunya bahwa akubadalah anak dari papa dan mama.

__ADS_1


"Ah, sudahlah Aini sayang itu semua tidak penting. Yang pentingkan aku dan kamu bahagia." Aku kembali mencoba untuk mengelak dari pertanyaan menakutkan itu.


"Aku nggak bisa bahagia mas. Aku butuh jawaban pasti dari kamu." Sergah Aini.


"Lha apa benar kalau selama kita menjalin hubungan kamu tidak merasa bahagia?" Tanyaku dengan nada candaan.


"Bukan begitu maksudku mas."


"Lalu bagaimana lagi?"


"Yang jelas sekarang aku butuh jawaban atas pertanyaanku tadi. Apa benar kamu adalah putra mereka?" Aini semakin mendesakku.


"Mengapa kamu baru menanyakan itu sekarang? Siapa yang mendesak mu?" Aku mencoba untuk balik bertanya pada Aini.


"Karena aku baru mendengar dari Nasya tadi malam. Dan kamu, aku berusaha untuk ku hubungi namun tak pernah bisa mas. Dan ini tidak ada desakan dari siapapun. Aku hanya butuh jawaban pasti dari mu mas. Hanya itu saja."


Aduh. Aku benar-benar kehilangan kata-kata untuk mengelak dari pertanyaan ini. Owh, ternyata Nasya adikku sendiri yang sudah membocorkan rahasiaku pada Aini. Ada masalah apa dengannya sehingga ia setega ini? Atau mungkin Nasya tidak sengaja memberitahu Aini? Ya, bukankah Nasya tidak tahu menahu akan hubunganku dengan Aini.


"Apa yang kamu lakukan selama ini sayang? Bagaimana mungkin kamu tidak menyadari akan hal itu?" Pilihanku hanya satu yaitu jujur saja mengakui siapa aku sebenarnya kepada Aini.


"Maksudmu mas?" Tanya Aini seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Iya. Aku adalah putra mereka. Putra mama dan papa. Aku adalah tuan muda yang selama ini ingin kamu kenali Aini. Dan ini sudah lebuh dari perkenalan. Bahkan kita sudah menjalin hubungan selama beberapa bulan ini. Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahui siapa aku dari awal pertemuan kita dulu." Jawabku jujur dan mencoba untuk melempar kesalahan pada Aini.


Sejenak Aini terdiam, aku tak tahu entah apa yang ia sedang pikirkan. Kulihat air matanya bening menetes disudut pipinya. Dan Aini buru-buru menyeka air mata itu.


Lalu kungenggam tangannya untuk meyakinkan dan terpaksa ku hentikan laju mobilku ditepi jalan. Kukatakan padanya bahwa aku memohon agar ia jangan mengakhiri hubungan kami. Karena aku sangat mencintainya. Sungguh aku sangat takut kalau harus kehilangannya.


Aku tidak mau perjuangan cinta kami selama ini menjadi sia-sia. Sekuat tenaga aku berusaha untuk meyakinkan Aini. Dan saat kulihat emosinya sudah mulai reda aku kembali menyetir mobilku aku mengajaknya pulang. Kuantarkan ia pulang hingga kedepan apartemen dimana ia tinggal bersama keluargaku. Aku mencoba pasrah dengan segala keadaan yang akan terjadi. Semoga setelah mengetahui akan hal ini Aini tidak akan pernah berubah.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2