Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Patr.28. Hanya Kesembuhan yang kudamba.


__ADS_3

Pov. Aini


Ternyata sudah sebulan pasca kejadian mengerikan tersebut. Dan berarti sudah sebulan juga aku tidak menjalankan tugasku sebagaimana mestinya menjadi asisten untuk keluarga pak Saeful dan Bu Tri. Tak ada hal lain yang ku harapkan saat ini selain kesembuhanku. Hanya itu saja. Karena aku tak ingin lebih lama lagi dalam keadaan tidak bisa apa-apa seperti ini.


Setelah beberapa hari kejadian gempa bumi yang menimpa tanah Hong Kong, Agen ku datang menjenguk ku bersama beberapa orang dari kedutaan besar RI untuk Hong Kong. Mereka mendapat data seluruh WNI yang terkena dampak akibat terkena gempa bumi tersebut. Kedatangan mereka sangat berarti bagiku. Aku merasa sangat senang sekali. Mereka bilang bahwa mereka akan mengunjungi setiap WNI yang terdata terkena dapak dari gempa bumi Hong Kong kali ini.


Keluarga ku di indonesia juga sudah ku kabari. Tangis tak bisa ku bendung kala itu. Saat aku memberitahu kejadian yang ku alami dengan ibuku, ibuku langsung menangis begitu pun dengan ayahku. Aku menelfon mereka setelah aku dipulangkan dari rumah sakit. Aku meminta maaf kepada ayah dan ibu karena tak langsung mengabari mereka. Ku katakan bahwa aku tak ingin mereka terlalu mencemaskan keadaanku. Ayah dan ibu ku meminta ku supaya selalu mengabari mereka tentang bagaimana keadaanku. Tak ada yang ku harapkan dari mereka selain doa untuk kesembuhanku.


Sementara saat ini aku perlahan bisa bangun dari posisi berbaring kemudian duduk. Untuk berdiri aku belum bisa. Tulang di area pinggang ku masih terasa ngilu. Aku tak ingin selaluerepotkan keluarga majikanku. Maka dari itu aku berusaha untuk melakukan segala keperluanku sendiri di batu dengan kursi roda yang sudah dari awal bu Tri sediakan untukku.


Beberapa kawan ku sesama pekerja sepertiku juga pernah beberapa kali datang menjenguk ku. Mereka mengetahui apartemen tempat ku bekerja ini dari Melly dan Rara. Karena mereka yang paling dekat dengan tempatku, sekaligus mereka berdua juga yang sering bertemu denganku.


"Cepat sembuh ya Ai.." kata melly pada ku.


"Iya, terikasih ya kalian semua sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk ku disini." Kataku pada mereka semua saat itu.


"Iya Aini, ini semua memang sudah seharusnya karena kita sesama saudara yang bekerja disini harus saling membantu siapa saja dianatara kita yang membutuhkan. Dan saling mendukung serta saling menyemangati antara salah satu kita dengan yang lainnya." Terang Arin. Tenaga kerja indinesia juga yang katanya ia sudah bekerja di Hong Kong ini selama dua belas tahun. Dan tempat kerjanya juga tidak jauh dari apartemen tempatku bekerja ini juga.


Arin bercerita banyak tentang pengalaman kerjanya di Hong Kong ini. Ia tak henti-henti menyemangatiku. Aku benar-benar bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku.


***


Sudah beberapa kali secara tidak sengaja aku mendengar perdebatan demi perdebatan antara pak Saeful dengan bu Tri. Sepertinya mereka sedang dalam masalah besar.

__ADS_1


Tapi entah apa aku juga tidak jelas mendengar apa yang mereka perdebatkan, karena aku juga tidak mau terlalu peduli dengan permasalahan rumah tangga mereka. Yang jelas setiap kali sehabis terjadinya perdebatan itu selalu ku dapati mata mu Tri yang sembab akibat terlalu banyak menangis.


Dan ku perhatikan pak Saeful selalu pergi dengan terburu-buru dan diam tanpa sepatah katapun yang ia ucapkan, lalu membanting pintu dan pergi kemudian malam berikutnya baru ia akan pulang.


Sedangkan Nasya ku lihat bersikap biasa saja, atau mungkin ia tidak tahu apa masalah yang tengah dihadapi oleh kedua orang tuanya. Dan tentang anak laki-laki mereka hingga sekarang sepertinya sama sekali tak pernah mereka sebut-sebut siapa namanya, dan bagaimana keadaannya.


Hanya nenek yang pernah sekali aku pergoki sedang menangis dikamarnya sesaat setelah pak Saeful pergi dengan membanting daun pintu dengan kasar. Ini menurutku mungkin karena ia adalah seorang wanita yang bergelar ibu, jadi ia merasakan betul bagaimana perasaan dan keadaan yang mungkin tengah dialami oleh putrinya yaitu bu Tri sendiri.


Aku mencoba perlahan sedikit demi sedikit untuk berdiri dari kursi roda. Aku tak ingin terlalu lama dalam keadaan seperti ini. Aku harus sembuh secepatnya supaya aku bisa kembali menjalankan pekerjaanku.


"Aini.. hei.. apa yang sedang kamu lakukan?". Tiba-tiba Nasya datang menghampiri ku, saat aku sedang berlatih berdiri dari kursi roda. Ia menyapa ku dengan nada khawatir.


"Ehhemm.. nggak Nas, aku cuma sedang berlatih berdiri saja." Jawabku dengan senyuman untuk meyakinkannya bahwa apayang ku lakukan tidak lah salah.


"Iya, Nasya.. aku tahu, tapi aku harus bisa berlatih sendiri karena aku tahu bagian mana yang masih terasa sakit, dan bagian mana yang sudah tidak sakit lagi."


"Ah.. sudahlah Ai,aku tidak mau debat. Yang jelas kalau ada apa-apa lagi yang terjadi dengan mu mama dan papa pasti akan sangat marah."


"Iya, iya, aku ngerti. Kamu ngak usah khawatir gitu ya Nasya." Kata ku pada Nasya dengan nada menggodanya.


Aku senang Nasya begitu peduli dengan ku. Meski aku hanya seorang asisten rumah tangga biasa. Tapi dia memperlakukan aku seperti sahabatnya bahkan seperti saudaranya. Semoga persahabatan dan persaudaraan ini berlanjut hingga nanti atau selamanya. Itu harapan yang ada dibhatiku.


Sedangkan tentang hubunganku dengan kekasihku Farenzy, hubungan kami baik-baik saja bahkan sangat baik. Ia selalu menyempatkan untuk sekedar vidio call dengan ku meski kami belum bisa bertemu secara langsung. Entah sampai kapan hubungan ini akan kami rahasiakan dari majikanku. Kadang aku berharap mereka akan tahu sebelum aku finish kontrak kerja dengan mereka. Karena aku ingin tahu seperti apa respon mereka selanjutnya jika itu terjadi. Tapi aku juga takut bagaimana jika terjadi sebaliknya seperti yang pernah Farenzy katakan. Aku bakalan lehilangan kepercayaan dari mereka atau bahkan akan kehilangan pekerjaanku. Tentang pekerjaan mungkin aku akan mendapat majikan baru di tempat yang baru juga, tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa jika aku berganti majikan, maka majikanku yang baru akan lebih sayang padaku. Ah.. sudahlah, aku akan ikuti saja alurnya.

__ADS_1


"Halo sayang? Kamu sedang apa?" Tanya Farenzy saat kami vidio call.


"Iya halo, ini aku baru saja mengobrol dengan Nasya." Jawabku.


"Memangnya Nasya tidak kuliah?"


"Tidak katanya hari ini ia sedang libur kuliah."


"Oya sayang, bagaimana dengan keadaan nenek?"


"Nenek juga baik-baik saja, bahkan sekarang ia bertambah sehat dan bugar."


"Kamu sendiri bagaimana kesehatanmu? Apa sudah bisa berdiri?"


"Ya itulah yang masih menjadi fokus ku saat ini. Aku belum bisa berdiri, karena tulang punggangku masih terasa nyeri."


"Ya sudah jangan dulu terlalu dinpaksakan nanti malah susah sembuhnya. Oya sayang udah dulu ya aku mau kembali bekerja lagi. Dah.. sayang.."


"Dah.."


Lalu kami sama-sama menutup saluran telephone.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2