
Pov. Farenzy
"[Ai, kamu dimana sayang?]" Kukirimkan pesan itu pada Aini.
"[Apa kabar kamu sayang?]" Kembali kukirimkan lagi pesan masih kepada nomor Aini.
"[Aini aku sangat merindukanmu]" Pesan berikutnya kembali aku kirimkan.
Lalu ku coba untuk menelpon kenomor Aini, namun hasilnya masih sama. Nihil. Nomor telepon
Aini masih belum aktif.
Aku tahu semua pesan dan panggilan telepon ku sama saja semua pasti tidak akan terkirim dan
tidak akan terhubung. Aini tidak mengaktifkan nomornya semenjak kepergiannya dari rumah
mama. Hanya dihari pertama kepergiannya saja sesekali ia aktifkan dan setelah itu tidak pernah
lagi. Aku merasa sudah hampir semua seluk beluk Victoria City aku kunjungi untuk mencari
keberadaan Aini namun hasilnya masih sama saja. Aku masih belum juga menemukan titik terang
keberadaan Aini. Entah dimana dia saat ini. Kekhawatiranku semakin memuncak dari waktu ke
waktu.
***
Ini adalah hari kelima pasca Aini diusir oleh mama dari rumah. Dan sudah lima hari juga aku
kehilangan semua seleraku. Ya, kukatakan semua selera karena benar aku bahkan sehari hanya
memakan sepotong roti dan segelas air putih saja di pagi hari dan keesokan harinya baru makan
sepotong roti dengan segelas air putih lagi. Selama lima hari ini aku juga kehilangan selera kerjaku.
Selama lima hari ini pula aku bahkan sama sekali tidak merasakan kantuk. Yang ada aku seolah
ling-lung.
Semua orang boleh membenciku, semua orang boleh menyalahkan aku karena terlalu lemah
dikalahkan begitu saja oleh cinta. Tapi walau bagaimanapun aku adalah seorang manusia yang
mencintai dan terpaut rasa dalam keindahan cinta kepada seorang wanita.
Aku kembali melangkah meninggalkan rumah, pagi ini aku paksakan diriku untuk masuk kerja
meski hanya sebentar saja. Karena sejujurnya aku sama sekali belum bisa berfokus dalam
pekerjaan tapi ini juga penting aku lakukan karena jangan sampai kehilangan Aini lalu kehilangan
perusahaanku juga. Namun harapanku akan menemukan Aini masih belum pudar. Aku masih tetap
melakukan pencarian terhadap Aini. Kali ini aku mencoba untuk meminta bantuan kepada
beberapa orang Asisten yang selama ini memang bekerja untuk keamanan perusahaan dan kali ini
mereka aku perintahkan untuk mencari Aini keseluruh pelosok kota Hong Kong.
Sesampainya aku dikantor aku mencoba untuk mengecek beberapa berkas-berkas penting dan
__ADS_1
menandatangani yang harus ku tandatangani, lalu aku melakukan meeting sebentar dengan para
karyawanku dan setelah itu aku menyerahkan semua urusan kepada sekretarisku. Kukatakan
padanya bahwa aku akan ada perjalanan keluar kota selama beberapa hari dan ini sangat penting
sehingga kemungkinan aku tidak akan masuk kantor untuk beberapa hari tersebut. Itu sebenarnya
hanyalah alasanku saja karena sesungguhnya aku akan kembali pergi untuk mencari keberadaan
Aini. Kemudian setelah menyerahkan semua tugas kepada sekretarisku aku kembali keluar
meninggalkan kantor.
Tentang keluargaku saat ini aku sedang malas berurusan dengan mereka. Terutama mama dan
Nasya. Namun terkadang aku sering mengkhawatirkan keadaan nenek. Tapi kekhawatiranku akan
nenek masih bisa aku tepis. Karena ada Dina disana yang menggantikan pekerjaan Aini untuk
menjaga nenek.
Sedangkan untuk papa sendiri entahlah aku juga belum mengetahui apakah papa sendiri sudah
tahu ataukah belum perihal kejadian yang menimpa Aini. Ataukah mungkin mama dan Nasya bisa
menyembunyikan semua ini dari papa. Atau kalau tidak mungkin juga mama akan memutar balik
cerita kepada papa. Entahlah sampai saat ini aku belum pernah ada komunikasi dengan papa.
Papa belum pernah menelponku dan aku juga tidak pernah menelpon papa. Aku hanya sibuk
secepatnya walaupun myngkin ia tidak mau untuk aku ajak kembali pulang kerumah orang tuaku
ataupun kerumahku tak apa. Yang penting bagiku mengetahui keadaan dan keberadaannya saja itu
sudah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku.
***
Kali ini aku menyetir mobilku menuju kearah Herly street, aku tahu didaerah ini merupakan tempat
dimana banyak masyarakat yang beragama islam. 'Mungkin saja Aini ada disini' pikirku. Entah
bagaimana dan siapa yang membawanya tapi sepertinya aku yakin jika masih ada kemungkinan
Aini berada ditempat ini. Yah, semoga saja benar. Harapakanku akan menemukan Aini tidak pernah
pudar. Mungkin begitu pulalah rasa cintaku padanya, akan selalu ada dan ada selamanya. Tak akan
pernah ada yang mampu membuat cinta dalam jiwa ini pudar.
Kemudian dengan orang-orang suruhanku yang sudah kusebar keseluruh kota Hong Kong mereka
semua sudah ku hubungi melalui telepon namun satupun diantara mereka belum ada yang
melaporkan bahwa menemukan keberadaan Aini.
Sambil terus menunggu informasi dari mereka aku pun juga masih tetap terus menyusuri jalanan
sepanjang Herly street, hingga sampailah dihalaman sebuah masjid yang legendaris dikota Hong
__ADS_1
Kong ini yaitu Masjid Jamiya. Kulirik jam pada arlojiku dan ternyata hampir memasuki waktu
dzuhur. Aku memarkirkan mobil lalu turun untuk memunaikan sholat dzuhur di Masjid Jamiya ini.
Harapanku saat ini hanya satu semoga secepatnya aku dipertemukan dengan Aini. Harapan itu
yang selalu menggema setiap saat dalam lamunan dan doa-doaku. Hanya itulah yang kuharapkan
tidak lebih. Karena aku benar-benar merasa berdosa padanya atas apa yang telah mama dan
adikku lalukan padanya.
Sambil menunggu waktu sholat tiba aku duduk sebentar di beranda Masjid, disini banyak para
wanita berjilbab lalu-lalang memasuki area masjid mungkin sama seperti kami para laki-laki
mereka juga akan menunaikan ibadah sholat dzuhur disini.
Lalu mataku tertuju kepada empat orang wanita muda berpakaian seragam sepertinya mereka
adalah karyawan disebuah cafe atau restoran. Mereka berempat juga memasuki area masjid dan
kemudian berjalan hendak menuju kearah tempat wudhu. Namun ada salah satu diantara mereka
yang membuat aku terperangah. Dia sangat mirip dengan Aini.
Lalu tak bisa aku tahan lagi spontan aku bangun dan berlari, kemudian aku langsung memanggil
nama Aini sambil mengikuti keempat wanita tersebut. Sebelum mendekati mereka tiba-tiba kakiku
sedikit keseleo. Tapi itu tidak butuh waktu lama kemudian aku kembali berjalan dengan cepat
meski dengan menyeret kakiku yang masih terasa sakit hingga benar-benar sudah sangat
mendekati mereka.
"
Aini..!" Panggilku samb aku menyentuh pundak salah satu dari mereka yang kurasa tadi kulihat
sangat mirip dengan Aini.
Lalu seketika itu pula wanita yang tadi kusentuh pundaknya membalikkan badan melihat kearahku.
Dan ia seolah menatap aneh kepadaku. Begitupun dengan diriku, aku juga kaget begitu melihat
ternyata dia bukanlah Aini. Lalu keempat wanita muda itu pergi berlalu meninggalkanku yang
masih terpaku dengan rasa sedih dan malu dihatiku. Aku sedih karena ternyata yang ku lihat
bukanlah Aini melainkan orang lain. Aku malu kepada keempat wanita muda itu karena ternyata
aku salah orang.
Kemudian aku kembali ketempatku semula dan pergi ketempat wudhu peria. Setelah berwudhu
aku pun ikut menjalankan sholat dzuhur bersama di Masjid Jamiya. Aku berdoa semoga aku masih
diberi kesempatan untuk menemukan Aini.
Bersambung...
__ADS_1