Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.82. Belum Menemukan Aini


__ADS_3

Pov. Farenzy


"[Ai, kamu dimana sayang?]" Kukirimkan pesan itu pada Aini.


"[Apa kabar kamu sayang?]" Kembali kukirimkan lagi pesan masih kepada nomor Aini.


"[Aini aku sangat merindukanmu]" Pesan berikutnya kembali aku kirimkan.


Lalu ku coba untuk menelpon kenomor Aini, namun hasilnya masih sama. Nihil. Nomor telepon


Aini masih belum aktif.


Aku tahu semua pesan dan panggilan telepon ku sama saja semua pasti tidak akan terkirim dan


tidak akan terhubung. Aini tidak mengaktifkan nomornya semenjak kepergiannya dari rumah


mama. Hanya dihari pertama kepergiannya saja sesekali ia aktifkan dan setelah itu tidak pernah


lagi. Aku merasa sudah hampir semua seluk beluk Victoria City aku kunjungi untuk mencari


keberadaan Aini namun hasilnya masih sama saja. Aku masih belum juga menemukan titik terang


keberadaan Aini. Entah dimana dia saat ini. Kekhawatiranku semakin memuncak dari waktu ke


waktu.


***


Ini adalah hari kelima pasca Aini diusir oleh mama dari rumah. Dan sudah lima hari juga aku


kehilangan semua seleraku. Ya, kukatakan semua selera karena benar aku bahkan sehari hanya


memakan sepotong roti dan segelas air putih saja di pagi hari dan keesokan harinya baru makan


sepotong roti dengan segelas air putih lagi. Selama lima hari ini aku juga kehilangan selera kerjaku.


Selama lima hari ini pula aku bahkan sama sekali tidak merasakan kantuk. Yang ada aku seolah


ling-lung.


Semua orang boleh membenciku, semua orang boleh menyalahkan aku karena terlalu lemah


dikalahkan begitu saja oleh cinta. Tapi walau bagaimanapun aku adalah seorang manusia yang


mencintai dan terpaut rasa dalam keindahan cinta kepada seorang wanita.


Aku kembali melangkah meninggalkan rumah, pagi ini aku paksakan diriku untuk masuk kerja


meski hanya sebentar saja. Karena sejujurnya aku sama sekali belum bisa berfokus dalam


pekerjaan tapi ini juga penting aku lakukan karena jangan sampai kehilangan Aini lalu kehilangan


perusahaanku juga. Namun harapanku akan menemukan Aini masih belum pudar. Aku masih tetap


melakukan pencarian terhadap Aini. Kali ini aku mencoba untuk meminta bantuan kepada


beberapa orang Asisten yang selama ini memang bekerja untuk keamanan perusahaan dan kali ini


mereka aku perintahkan untuk mencari Aini keseluruh pelosok kota Hong Kong.


Sesampainya aku dikantor aku mencoba untuk mengecek beberapa berkas-berkas penting dan

__ADS_1


menandatangani yang harus ku tandatangani, lalu aku melakukan meeting sebentar dengan para


karyawanku dan setelah itu aku menyerahkan semua urusan kepada sekretarisku. Kukatakan


padanya bahwa aku akan ada perjalanan keluar kota selama beberapa hari dan ini sangat penting


sehingga kemungkinan aku tidak akan masuk kantor untuk beberapa hari tersebut. Itu sebenarnya


hanyalah alasanku saja karena sesungguhnya aku akan kembali pergi untuk mencari keberadaan


Aini. Kemudian setelah menyerahkan semua tugas kepada sekretarisku aku kembali keluar


meninggalkan kantor.


Tentang keluargaku saat ini aku sedang malas berurusan dengan mereka. Terutama mama dan


Nasya. Namun terkadang aku sering mengkhawatirkan keadaan nenek. Tapi kekhawatiranku akan


nenek masih bisa aku tepis. Karena ada Dina disana yang menggantikan pekerjaan Aini untuk


menjaga nenek.


Sedangkan untuk papa sendiri entahlah aku juga belum mengetahui apakah papa sendiri sudah


tahu ataukah belum perihal kejadian yang menimpa Aini. Ataukah mungkin mama dan Nasya bisa


menyembunyikan semua ini dari papa. Atau kalau tidak mungkin juga mama akan memutar balik


cerita kepada papa. Entahlah sampai saat ini aku belum pernah ada komunikasi dengan papa.


Papa belum pernah menelponku dan aku juga tidak pernah menelpon papa. Aku hanya sibuk


secepatnya walaupun myngkin ia tidak mau untuk aku ajak kembali pulang kerumah orang tuaku


ataupun kerumahku tak apa. Yang penting bagiku mengetahui keadaan dan keberadaannya saja itu


sudah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku.


***


Kali ini aku menyetir mobilku menuju kearah Herly street, aku tahu didaerah ini merupakan tempat


dimana banyak masyarakat yang beragama islam. 'Mungkin saja Aini ada disini' pikirku. Entah


bagaimana dan siapa yang membawanya tapi sepertinya aku yakin jika masih ada kemungkinan


Aini berada ditempat ini. Yah, semoga saja benar. Harapakanku akan menemukan Aini tidak pernah


pudar. Mungkin begitu pulalah rasa cintaku padanya, akan selalu ada dan ada selamanya. Tak akan


pernah ada yang mampu membuat cinta dalam jiwa ini pudar.


Kemudian dengan orang-orang suruhanku yang sudah kusebar keseluruh kota Hong Kong mereka


semua sudah ku hubungi melalui telepon namun satupun diantara mereka belum ada yang


melaporkan bahwa menemukan keberadaan Aini.


Sambil terus menunggu informasi dari mereka aku pun juga masih tetap terus menyusuri jalanan


sepanjang Herly street, hingga sampailah dihalaman sebuah masjid yang legendaris dikota Hong

__ADS_1


Kong ini yaitu Masjid Jamiya. Kulirik jam pada arlojiku dan ternyata hampir memasuki waktu


dzuhur. Aku memarkirkan mobil lalu turun untuk memunaikan sholat dzuhur di Masjid Jamiya ini.


Harapanku saat ini hanya satu semoga secepatnya aku dipertemukan dengan Aini. Harapan itu


yang selalu menggema setiap saat dalam lamunan dan doa-doaku. Hanya itulah yang kuharapkan


tidak lebih. Karena aku benar-benar merasa berdosa padanya atas apa yang telah mama dan


adikku lalukan padanya.


Sambil menunggu waktu sholat tiba aku duduk sebentar di beranda Masjid, disini banyak para


wanita berjilbab lalu-lalang memasuki area masjid mungkin sama seperti kami para laki-laki


mereka juga akan menunaikan ibadah sholat dzuhur disini.


Lalu mataku tertuju kepada empat orang wanita muda berpakaian seragam sepertinya mereka


adalah karyawan disebuah cafe atau restoran. Mereka berempat juga memasuki area masjid dan


kemudian berjalan hendak menuju kearah tempat wudhu. Namun ada salah satu diantara mereka


yang membuat aku terperangah. Dia sangat mirip dengan Aini.


Lalu tak bisa aku tahan lagi spontan aku bangun dan berlari, kemudian aku langsung memanggil


nama Aini sambil mengikuti keempat wanita tersebut. Sebelum mendekati mereka tiba-tiba kakiku


sedikit keseleo. Tapi itu tidak butuh waktu lama kemudian aku kembali berjalan dengan cepat


meski dengan menyeret kakiku yang masih terasa sakit hingga benar-benar sudah sangat


mendekati mereka.


"


Aini..!" Panggilku samb aku menyentuh pundak salah satu dari mereka yang kurasa tadi kulihat


sangat mirip dengan Aini.


Lalu seketika itu pula wanita yang tadi kusentuh pundaknya membalikkan badan melihat kearahku.


Dan ia seolah menatap aneh kepadaku. Begitupun dengan diriku, aku juga kaget begitu melihat


ternyata dia bukanlah Aini. Lalu keempat wanita muda itu pergi berlalu meninggalkanku yang


masih terpaku dengan rasa sedih dan malu dihatiku. Aku sedih karena ternyata yang ku lihat


bukanlah Aini melainkan orang lain. Aku malu kepada keempat wanita muda itu karena ternyata


aku salah orang.


Kemudian aku kembali ketempatku semula dan pergi ketempat wudhu peria. Setelah berwudhu


aku pun ikut menjalankan sholat dzuhur bersama di Masjid Jamiya. Aku berdoa semoga aku masih


diberi kesempatan untuk menemukan Aini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2