
Pov. Aini
Malam ini entah mengapa aku sulit untuk memejkan mataku. Setelah makan malam aku masuk kamar karena merasa ngantuk. Tapi setelah dikamar kantuk yang tadi kurasakan seakan hilang begitu saja, aku mencoba untuk sekedar berselancar didunia maya dengan ponselku. Asyik, hingga tanpa kusadari entah sudah berapa lama mataku teruju dilayar ponsel dengan jari enscrol perlahan-lahan. Sejenak aku terhenti menatap layar ponselku karena seperti mendengar suara orang bercengkarama dengan nada yang senghaja di rendahkan tapi sepertinya aku mengenali suara-suara orang itu.
Lalu kucoba untuk bangun dari pembaringanku dan mengintip perlahan dari balik jendela kaca kamarku, karena memang kamarku berada tepat didepan balkon bersampingan dengan kamar nenek. Dan dari kamarku dan juga kamar nenek bisa langsung melihat kearah balkon tersebut. Dan ternyata saat kulihat siapa mereka yang sedang bercengkrama perlahan ituereka adalah mama dan Nasya. Aku semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka perbincangkan malam-malam seperti ini. Tidak seperti biasanya, hatiku mulai curiga karena pemandangan seperti ini jarang terjadi dan bahkan selama aku berada di tengah-tengah keluarga mereka kejadian seperti ini baru kali ini aku jumpai.
Buka aku berprasangka buruk, tapi karena sikap mama dan Nasya akhir-akhir ini seolah ada sesuatu yang berbeda terhadapku. Dalam batin aku berkata mungkin saja.aku bisa menemukan jawaban atas perubahan sikap mereka tang selalu saja ingin mencongkel perihal hubunganku dengan Farenzy.
Karena penasaran aku mencoba untuk lebih mendekatkan lagi telingaku kearah jendela kaca kamarku tersebut. Mereka bercengkrama dengan pelan dan perlahan namun masih jelas juga terdengar dari jendela kamarku tempat aku berdiri saat ini.
"Jadi bagaimana ma, apa mama sudah menukan apa dan bagaimana kita akan menjeratnya. Nasya sudah tak tahan ma. Pengen deh Nasya secepatnya memberi pelajaran ke dia. Supaya dia tahu diri." Nasya bertanya pada mama dengan nada geram.
"Sabar Nasya cantik anak mama.. Ya memang benar mama sudah menukan sebuah rencana yang mama anggap tepat untuk kita kasih ke dia." Jawab mama.
"Rencana seperti apa ma?" Nasya kembali bertanya pada mama.
"Bagaimana kalau besok kamu curi Hp-nya sebentar lalu kamu cek apa saja bunyi pesan antara Aini dan kakakmu lalu kamu minta kakakmu untuk menemui Aini dikantor cabang tempat Aini bekerja, lalu apapun balasan dari kakakmu kamu screnshoot kirim ke mama." Mama menjelaskan pada Nasya.
__ADS_1
"Tapi ma bagaimana caranya Nasya mengambil hp Aini? Bagaimana kalau dia tahu? Bagaimana kalau ternyata hpnya dipassword oleh Aini?" Tanya Nasya beruntun pada mama.
"Ah kamu ini Nas, ya kamu pelan-pelanlah ngambilnya. Perhatikan kapan ia lengah atau kalau tidak sewaktu dia mandi kamu ambil hpnya. Kamu lakukan seperti yang mama perintahkan. Begitu saja kok susah." Mama mengertu.
"Iya deh ma besok pagi Nasya coba." Nasya menyetujui usul mama.
"Oya ma, setelah itu apa lagi rencana kita selanjutnya?" Nasya kembali bertanya lagi pada mama.
"Nah, kan nanti kakak mu pasti datang menemui Aini seperti yang diminta. Kemudian saat itu kita ikuti mereka dan saat ada momen-momen mesra dan romantis yang mereka lakukan maka kita poto dan saat Aini pulang kerumah kita akan perlihatkan bukti-bukti yang kita punya itu. Mau tidak mau Aini pasti akan mengakui semuanya." Mama menjelaskan panjang lebar pada Nasya.
"Owh.. begitu ya ma.. baiklah ma kalau begitu." Jawab Nasya
Kemudian kulihat Nasya hanya menjawab perkataan mama tadi dengan anggukan. Lalu beberapa menit kemudian maereka masuk, dan mungkin pergi kekamar masing-masing. Aku teemangu mengingat apa yang baru saja aku lihat dan aku dengar. Seolah ada rasa tak percaya yang besar menghinggapi pikiranku. Mama dan Nasya berusaha untuk menjebakku.
Aku kembali melangkah kearah pembaringanku dengan lemah dan gontai. Lalu aku duduk disebuah sudutnya. 'apa yang harus kulakukan?' tanyaku sendiri dalam hati. Sesaat kemudian aku menemukan jawabannya. Ya, aku harus memberitahu Farenzy terlebih dahulu tentang rencana yang tadi mama dan Nasya buat. 'Semoga saja Farenzy belum tidur,' gumamku. Saatku hubungi dengan telepon melalui whatshapp ternyata statusnya tersambung. Dan benar tidak menunggu waktu lama kemudian Farenzy mengangkat telepon dariku. Awalnya aku seperti ragu untuk memberitahunya namun tekat yang kuat mendorongku untuk menyampaikan apa yang aku ingin sampaikan. Dan syukur Farenzy mau percaya padaku hingga ia memberikan sebuah solusi untukku. Aku dan Faremzy bersepakat untuk mengikuti saja apa yang tadi mama dan Nasya rencanakan supaya mereka tidak mencurigai bahwa kami sebenarnya sudah mengetahui apa yang mereka rencanakan tersebut.
Banar apa yang tadi Nasya katakan bahwa ponselku sengaja aku beri pasword, dan karena usul dari Farenzy untuk sementara tidak mempasword ponselku maka aku mengikutinya.
__ADS_1
Seperti biasa aku bamgun subuh, setelah selesai sholat subuh, aku kembali membaringkan tubuhku. Hingga tak terasa hari sudah pagi. Aku menunggu kedatangan Nasya dikamarku untuk meluncurkan aksinya yang terlanjur sudah lebih dahulu aku ketahui. Dan ternyata benar, Nasya datang. Ia menggetok pintu kamarku. Dan aku pun mau-tidak mau harus membukakannya dan berpura-pura bersikap manis seolah-olah tak tahu apa-apa.
"Eh Nas, ada apa? Tumben pagi-pagi kekamarku. Apa ada yang bisa aku bantu untuk kamu Nas?" Tanyaku seakan dengan penuh nada heran pada Nasya.
"Emm..eh, nggah ada apa-apa Ai. Cuma aku pengen kekamarmu saja." Jawab Nasya meyakinkanku.
"Owh, aku kira ada keperluan apa? Oh ya kalau begitu aku tinggal mandi dulu ya. Kamu sendirian disini nggak apa-apa kan Nas?" Tanyakunpada Nasya
"Oh.. ya nggak apa-apa Ai. Silahkan lanjut aja mandinya. Aku tiduran dikasurmu boleh ya." Halah..dasar penjilat, kamu pikir aku sebo*oh itu? Percaya begitu saja denganmu. Aku menggerutu dalam hati.
"Hehe..ya tentu saja boleh Nasya.. ah sudahlah.. aku mandi dulu nanti telat mau kerja." Aku berlalu meninggalkannya sendiri.
"Ya sudah sana mandi..!" Perintahnya padaku.
Aku berlalu kekamar mandidan meninggalkan Nasya sendirian menjalankan apa yang sudah ia dan mama rencanakan semalam. Aku hanya tersenyum getir menyaksikan semua ini. Sebenarnya aku sudah selesai mandi namun aku sengaja untuk diam sejenak dikamar mandi untuk memastikan Nasya sudah selesai menjalankan misinya. Baru kemudian aku keluar dari kamar mandi. Saat aku keluar dari kamar mandi kulihat Nasya berbaring ditempat tidurku seolah ia sedang tertidur pulas namun aku tahu bahwa ia sedang perpura-pura saja jadi aku pun seolah tidak tahu akan keberpura-puraannya tersebut.
Aku memvangunkan Nasya, lalu ia seolah terkejut dan bangun. Kemudian ia berpamitan padaku untuk keluar dari kamarku. Nasya keluar dari kamarku dan aku bersiap-siap untuk pergi kekantor. Kubiarkan mama dan Nasya menjalankan apa yang sudah mereka rencanakan aku bersikapviasa saja seolah sama sekalu tidak ada yang kuketahui meski sebenarnya aku mengetagui semuanya dan akunpun sudah menyiapkan cara untuk membuat mereka merasa.bahwa segala rencana jahat mereka akan gagal.
__ADS_1
Bersambung...