
Lim menceritakan apa yang tadi kami alami, aku baru tahu jika tadi ternyata Lim tidak sengaja lewat didepan bangunan kosong itu dan katanya ia mendengar ada sesuatu yang aneh. Lim mendengar suaraku minta tolong. Maka Lim perlahan masuk dan menyelidiki apa yang terjadi disana dan ternyata ia melihat seorang wanita sedang disekap oleh para preman. Tanpa tahu siapa itu hati Lim tergerak untuk menyelamatkan wanita yang disekap itu. Dan ternyata wanita itu adalah aku. Yang kebetulan sudah Lim kenal.
Namun Lim lupa harus meminta tolong dengan warga sehingga ia harus menghadapi ketiga preman itu seorang diri. Mendengar cerita cucunya nenek Lim merasa haru hingga ia menitikkan air mata. Ia mengusap bagian wajah Lim yang masih di perban. Nenek Lim menasehatiku katanya lain kali aku harus levih hati-hati lagi karena daerah yang kulewati untuk menuju ke tempat kerjaku adalah daerah yang rawan kejahatan.
Setelah lama berbincang dengan neneknya Lim, kemudian aku dan Lim berpamitan. Kami kembali menyusuri gang untuk keluar dari lingkungan tempat tinggal nenek Yoo Nei. Lalu kami kembali menyewa taxi kali ini Lim lagi yang menentukan arahnya. Aku tidak tahu kami akan kemana lagi. Maka aku mencoba untuk memberanikan diri bertanya pada Lim.
Aku bertanya pada Lim kami akan kemana, Lim bilang katanya kali ini ia memintaku untuk mengantarnya pulang kerumahnya. Aku bertanya padanya dimana. Lim bilang ia dan orangtuanya tinggal didaerah yang tidak jauh dari Masjid Jamiya.
Setelah beberapa lama akhirnya kami tiba diHerly Street. Lalu Lim memberitahu kepada pengemudi taxi alamat rumahnya. Kemudian taxi itu berhenti didepan sebuah rumah yang kental dengan corak budaya masyarakat chinase. Akan tetapi juga berpadu dengan arsitektur arabia. Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukan hati.
"Assalamualaikum.." Lim mengucap salam sembari mengetuk pintu rumah tersebut.
"Waalaikumsalam.." Seorang gadis berhijab datang dan membukakan kami pintu.
Lim berbisik padaku bahwa itu adalah adiknya. Lalu gadis yang merupakan adik Lim itu menatap Lim penuh heran setelah membukakan kami pintu. Gadis yang menyebut Lim dengan sebutan Koko (abang) ini spontan bertanya pada Lim apa yang terjadi sehingga wajah, tangan dan kaki Lim penuh memar dan luka.
Lim tidak langsung menjawabnya, akan tetapi Lim malah bertanya dimana ibu (mama) dan juga ayah (papa) mereka. Kemudian adinya mengatakan bahwa ayah dan ibu mereka ada di dalam. Lim langsung menarikku untuk masuk mengikutinya dan diikuti juga oleh adiknya.
__ADS_1
Sesampainya disebuah ruangan Lim menghentikan langkahnya. Disana nampak ada dua orang laki-laki dan perempuan. Nampaknya merekalah kedua orang tua Lim. Ya, benar mereka adalah orangtua Lim.
Lim menyapa kedua orangtuanya, yang membuat mereka terkejut melihat meadaan putra mereka. Mamanya Lim ( Min You Lee) dan Papanya (Park Chou You) tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka melihat keadaan Lim yang penuh dengan memar dan luka. Mereka serentak bertanya apa yang terjadi pada putra mereka.
Namun Lim berhasil menenangkan orangtuanya. Dan menjelaskan apa yang terjadi, kemudian Lim juga mengenalkanku dengan orangtua dan juga adiknya. Mamanya Lim tidak memperbolehkanku pulang sebelum makan terlebih dahulu bersama keluarga mereka.
Mereka sangat baik, aku sungguh terharu melihat kebaikan dan keramahan keluarga ini. Mamanya Lim bercerita banyak tentang keadaan rakyat muslim di Hong Kong ini.
"Xièxiè nǐ, nǚshì, suǒyǒu zhèxiē kuǎndài. Xiànzài wǒ yào gàobié huí jiāle."(Terimakasih bu, atas semua suguhan ini. Dan sekarang saya akan pamit untuk pulang). Kataku pada mamanya Lim.
Kemudian setelah itu Lim mengantarku pulang ke asrama. Hari ini sungguh sangat berkesan bagiku. Lim sudah membawaku berkenalan dengan keluarganya. Mulai dari neneknya kedua orangtua dan juga adiknya. Keluarga Lim sangat ramah dan baik. Aku seolah kembali menemukan keluarga baruku disini.
"Ài nī jīntiān gǎnjué rúhé?"(Aini apa yang kamu rasakan hari ini?" Lim bertanya padaku.
"Nǐ de yìsi shì?"(Maksudmu?). Aku balik bertanya pada Lim.
"Wǒ shì shuō nǐ kuàilè ma?”(Maksudku apakah kamu bahagia?).
__ADS_1
"Wǒ bù zhīdào wǒ de xīnqíng hěn fùzá. Wǒ hěn gāoxìng, yīnwèi nǐ bǎ wǒ jièshào gěile nǐ de jiārén. Dàn wǒ yě hěn nánguò, yīnwèi wǒ wèi ràng nǐ shòudào zhèyàng de shānghài ér gǎndào nèijiù."(Entahlah perasaanku campur aduk. Aku bahagia karena kamu telah mengenalkanku dengan keluargamu. Tapi aku juga sedih karena merasa bersalah sudah membuatmu terluka seperti ini). Terangku padanya.
"Zhè bùshì nǐ de cuò, ài nī. Wǒ zhīqián suǒ zuò de, shì yìwù jiāng nǐ cóng nàxiē dǎshǒu shǒuzhōng jiù chūlái.(ini bukan salahmu Aini. Apa yang ku lakukan tadi adalah sebuah kewajiban untuk menyelamatkan mu dari preman itu). Jawab Lim.
Tak terasa akhirnya kami sampai juga didepan gerbang asrama putri tempat tinggalku. Dan kamipun berpisah disini. Lim berpamitan untuk kembali pulang. Dan aku melangkah masuk kedalam asrama. Sesampainya aku dikamar langsung saja kurebahkan tubuhku. Lelah sangat terasa karena seharian sudah banyak melewati beberapa hal. Bahkan tadi pagi hampir saja aku kehilangan nyawaku.
Beberapa kali aku mencoba untuk memejamkan mataku, namun tidak bisa. Bayangan Lim sangat nyata di pelupuk mataku. Aku benar-benar telah terpesona dengan keramahan dan kebaikannya. Aku kembali mengingat-ingat apa saja yang sudah ku lalui selama sehari ini bersama Lim, seolah aku tak ingin semua itu berakhir. Entah apa jadinya andai saja tadi pagi Lim tidak datang membantuku.
Tapi karena itu juga aku menjadi sedih dan khawatir sebab sudah membawanya kedalam masalahku. Mungkin dia tidak akan terluka andai dia tidak nekat menyelamatkan aku. Karena lukanya sudah membuat seluruh keluarganya menjadi sedih dan khawatir. Oleh karena itu aku jadi merasa bersalah pada Lim. Entah bagaimana aku akan membalas jasa padanya. Dia yang sudah begitu baik dan tulus sedangkan kami baru saja saling mengenal.
Sebelumnya aku kira tidak akan ada lagi yang mau bersahabat dan berteman denganku, karena aku tengah mengalami permasalahan yang rumit dengan keluarga Farenzy. Dan ternyata Allah itu benar Maha baik. Dia menghantarkanku ketempat ini dimana aku kini mengenal lebih banyak lagi orang-orang baik dan menyayangiku. Aku bersyukur karena pihak agensiku telah memberiku kesempatan bekerja disini jadi aku merasa lebih lega dan nyaman daripada sebelumnya.
Tentang preman-preman itu aku harus waspada dan jangan sampai hal semacam tadi pagi terulang lagi. Aku tidak mau berangkat merja terlalu pagi lagi seperti tadi dan sebisa mungkin aku jangan sampai berjalan sendirian diarea yang rawan kejahatan itu.
Malam semakin larut membawaku terhanyut dalam mimpi indah bersama kesejukan bayangan wajah Lim peria China Muslim yang tampan, sholeh dan juga ramah itu.
Bersambung...
__ADS_1