
Pov. Farenzy
"Renzy, semalam mamamu mengusir Aini dari rumah ini." Kalimat nenek itu seperti pedang yang
menghunus kejantungku. Tanpa basa-basi aku langsung menutup telepon dan langsung bergegas
keluar rumah. Dalam hatiku aku tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri, seharusnya kemarin
aku tidak membiarkan Aini pulang sendirian.
Saat tiba di tempat parkir aku segera menuju kearah mobilku lalu masuk dan mulai menyetir meski
aku belum tahu kemana arah harus mencari Aini. Sambil berjalan perlahan berharap menemukan
sosok Aini aku terus mengingat-ingat kira-kira siapa yang akan Aini mintai pertolongan dalam
keadaan seperti yang sedang ia alami saat ini. Agennya. Iya mungkin saja Aini akan segera
menghubungi agennya dan meminta pertolongan kesana. Akan tetapi ada sebuah rasa bantahan
dalam jiwaku. Aini tidak akan langsung mengubungi agennya. Mungkin saja ia akan lebih dahulu
menghubungi temannya lalu meminta pendapat dan pertolongan dengan temannya tersebut.
Tapi siapa temannya?. Disini akalku seolah buntu. Sangat sulit bagiku untuk mengingat siapa
kawan akrab Aini yang ada di Hong Kong ini. Karena selama ini ia lebih sering menghabiskan
waktu luangnya bersamaku saja atau paling tidak dengan Nasya adikku. Selain aku dan Nansya
aku mengingat-ingat lagi siapakah yang akrab dengan Aini.
Namun setelah berpikir dengan keras dan masih juga tidak menemukan jawabannya. Akhirnya aku
memutuskan untuk berhenti mencari Aini dengan mobil. Mungkin sebaiknya berjalan kaki saja. Aku
mulai mencari Aini di sekitar taman bermain dan juga taman bunga. Kemudian aku juga
menanyakan dengan beberapa orang yang kutemui disana. Lalu setelah itu aku juga bertanya
dengan para penjual makanan yang ada dibpinggir halan mungkun saja mereka pernah melihat
kegadiran Aini seteidaknya sejak tadi malam hingga pagi ini. Namun dari semua yang kutemui dan
kutanyai tak satupun dari mereka yang mengaku pernah melihat Aini.
Hari semakin siang matahari semakin meninggi. Ku lirik arlojiku ternyata sudah pukul sebelas
siang. Namun hingga detik ini aku belum juga memukan keberadaan Aini. Sejenak aku duduk
beristirahat melepas penat didalam mobil, kemudian aku kembali terpikir untuk menghubungi
pihak agen penyalur tenaga kerja yang dulu menaungi Aini. Mungkin saja Aini meminta bantuan
kepada mereka.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama akhirnya teleponku terhubung dengan kantor agensi tersebut. Aku
meminta untuk berbicara dengan Nyonya Lili. Syukur aku masih menyimpan nomor telepon agensi
ini. Gumamku.
Kemudian Nyonya Lili menyambut teleponku. Dia menanyakan ada masalah apa. Kemudian aku
memberirahunya bahwa Aini saat ini sedang dalam masalah. Apakah dia saat ini sedang berada
disana ataukah paling tidak pernah menelpon mereka sejak tadi malam.
Tapi sayang Nyonya Lili mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mengetagui perihal masalah Aini.
Nyonya Lili juga mengarakan kalau belum ada telepon masuk dari Aini sejak semalam hingga
siang ini. Mendengar jawavan yang diberikan oleh Nyonya Lili tersebut aku seolah semakin
dikuasai oleh keputus asaan yang mendera dalam batinku.
'Dimana kamu Ai?' Tanyaku sendiri dalam hati. Sudah beberapa kali juga aku menghubungi Aini
melalui telepon tapi nomor milik Aini masih tidak aktif. Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku takut
terjadi sesuatu yang buruk lagi dengannya. Mesku dia sudah satu tahun disini namun ia masih
belum terlu hapal dengan semua seluk beluk kota Hong Kong yang kejam ini. Apalagi dia pergi
sejak semalam. Entah apa yang ia alami sejak kepergiannya dari rumah.
Orang yang saat ini sedang aku khawatirkan dan sedang ku cari keberadaanya. Tanpa sadar aku
tersenyum dan membuka pesan tersebut berharap Aini akan membertahu keberadaannya.
"[Mas maaf sekarang aku sudah tidak dirumah mamamu lagi. Aku pergi sejak semalam. Nggak
usah kamu cari dimana aku saat ini yang jelasaku baik-baik saja. Dan saat ini kita harus menjaga
jarak terlebih dahulu ini demi kebaikan kita semua]." Itu bunyi pesan yang Aini kirimkan padaku.
Membuat senyumku hilang seketika dan berganti airmata yang mengalir dengan derasnya.
"
Ainiiiii.......!!!!"
"Mengapa kamu pergi? Mengapa kamu lakukan ini padaku Ai?"
Aku menjerit memanggil nama Aini tanpa sadar dan tanganku memukul stir mobilku. Hancur.
Remuk. Perasaan hatiku semakin tak menentu. Kemudian aku kembali mencoba untuk
menghubunginya melalui telepon namun lagi-lagi nomor teleponnya kembali tidak aktif. Lalu aku
kirimkan pesan berharap semoga nanti kapan saja jika ia kembali mengaktifkan handphonnya
__ADS_1
mungkin nanti pesankunakan teekitim dan akan ia baca.
"[Baiklah Ai jika itu keputusanmu. Tapi tolong beritahu aku dimana kamu saat ini.]" Aku
mengirimkan pesan itu kepada Aini.
Masih dengan posisi semula didalam mobilku aku tertunduk didepan setir. Tubuhku terasa begitu
lemas seperti hilang keseimbangan. Tapi tetap mencoba untuk kuat. Perasaan bersalah terus
menghukumku. Karena tindakanku ini semua terjadi, dan Aini yang harus menanggung semuanya.
Tak terasa air mataku jatuh dan menetes dipipi. Meski aku adalah seorang laki-laki namun untuk
saat ini air mataku tak bisa aku bendung. Aku juga memaki perbuatan mama dan adikku. Mereka
sangat keterlaluan, Perlakuan mereka kepada Aini sudah berlebihan. Aini tidak pantas disalahkan
disini. Dia benar-benar tidak tahu siapa aku dari awal perkenalan kami. Ia hanyalah seorang gadis
desa yang polos. Dan aku lah yang telah menjeratnya dengan cintaku.
Aku tahu badanku terasa lemas karena sedari tadi pagi belum ada sebutir nasi atau setetes air pun
yang mengisi perutku. Namun selera makan dan minumku kini telah tersita. Aku lebih memilih
fokus pada pencarian Aini dari pada makan ataupun minum. Hidupku benar-benar terasa hampa
tanpa kehadirian Aini. Aku merasa semakin sedih ketika detik demi detik dan menit juga berlalu
tapi belum juga ada kabar selanjutnya dari Aini.
Tak terasa waktu sudah mulai sore, entah akan kemana lagi aku harus mencari keberadaan Aini.
Berulang kali aku mencoba menelponnya namun hasilnya masih saja sama. Nomor telepon Aini
tidak aktif.
Malam menyapa dengan keangkuhannya. Semakin gelap dan semakin gelap. Kelap kelip lampu
dijalanan tak lagi kurasa indah. Semua telah berubah menjadi kesedihan bagiku. Selarut ini, sejauh
ini aku telah mencoba mengelilingi kota Hong Kong untuk mencari keberadaan Aini namun masih
belum juga aku temui. Entah dimana Aini saat ini berada. Entah bersama siapa dia saat ini
meminta perlindungan. Tapi aku sendiri yakin Allah pasti akan selalu menyelamatkannya karena
Aini adalah gadis baik. Dan Aini pasti dulindungi oleh Sang Maha Baik.
Aku memutuskan untuk pulang, dan melanjutkan pencarian Aini besok saja. Semoga aku akan
mendapatkan kabar tentang keberadaan Aini. Hanya itu saja yang kuharapkan.
Bersambung..
__ADS_1