Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 77. Megetahui Kabar Kepergian Aini.


__ADS_3

Pov. Farenzy


"Renzy, semalam mamamu mengusir Aini dari rumah ini." Kalimat nenek itu seperti pedang yang


menghunus kejantungku. Tanpa basa-basi aku langsung menutup telepon dan langsung bergegas


keluar rumah. Dalam hatiku aku tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri, seharusnya kemarin


aku tidak membiarkan Aini pulang sendirian.


Saat tiba di tempat parkir aku segera menuju kearah mobilku lalu masuk dan mulai menyetir meski


aku belum tahu kemana arah harus mencari Aini. Sambil berjalan perlahan berharap menemukan


sosok Aini aku terus mengingat-ingat kira-kira siapa yang akan Aini mintai pertolongan dalam


keadaan seperti yang sedang ia alami saat ini. Agennya. Iya mungkin saja Aini akan segera


menghubungi agennya dan meminta pertolongan kesana. Akan tetapi ada sebuah rasa bantahan


dalam jiwaku. Aini tidak akan langsung mengubungi agennya. Mungkin saja ia akan lebih dahulu


menghubungi temannya lalu meminta pendapat dan pertolongan dengan temannya tersebut.


Tapi siapa temannya?. Disini akalku seolah buntu. Sangat sulit bagiku untuk mengingat siapa


kawan akrab Aini yang ada di Hong Kong ini. Karena selama ini ia lebih sering menghabiskan


waktu luangnya bersamaku saja atau paling tidak dengan Nasya adikku. Selain aku dan Nansya


aku mengingat-ingat lagi siapakah yang akrab dengan Aini.


Namun setelah berpikir dengan keras dan masih juga tidak menemukan jawabannya. Akhirnya aku


memutuskan untuk berhenti mencari Aini dengan mobil. Mungkin sebaiknya berjalan kaki saja. Aku


mulai mencari Aini di sekitar taman bermain dan juga taman bunga. Kemudian aku juga


menanyakan dengan beberapa orang yang kutemui disana. Lalu setelah itu aku juga bertanya


dengan para penjual makanan yang ada dibpinggir halan mungkun saja mereka pernah melihat


kegadiran Aini seteidaknya sejak tadi malam hingga pagi ini. Namun dari semua yang kutemui dan


kutanyai tak satupun dari mereka yang mengaku pernah melihat Aini.


Hari semakin siang matahari semakin meninggi. Ku lirik arlojiku ternyata sudah pukul sebelas


siang. Namun hingga detik ini aku belum juga memukan keberadaan Aini. Sejenak aku duduk


beristirahat melepas penat didalam mobil, kemudian aku kembali terpikir untuk menghubungi


pihak agen penyalur tenaga kerja yang dulu menaungi Aini. Mungkin saja Aini meminta bantuan


kepada mereka.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama akhirnya teleponku terhubung dengan kantor agensi tersebut. Aku


meminta untuk berbicara dengan Nyonya Lili. Syukur aku masih menyimpan nomor telepon agensi


ini. Gumamku.


Kemudian Nyonya Lili menyambut teleponku. Dia menanyakan ada masalah apa. Kemudian aku


memberirahunya bahwa Aini saat ini sedang dalam masalah. Apakah dia saat ini sedang berada


disana ataukah paling tidak pernah menelpon mereka sejak tadi malam.


Tapi sayang Nyonya Lili mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mengetagui perihal masalah Aini.


Nyonya Lili juga mengarakan kalau belum ada telepon masuk dari Aini sejak semalam hingga


siang ini. Mendengar jawavan yang diberikan oleh Nyonya Lili tersebut aku seolah semakin


dikuasai oleh keputus asaan yang mendera dalam batinku.


'Dimana kamu Ai?' Tanyaku sendiri dalam hati. Sudah beberapa kali juga aku menghubungi Aini


melalui telepon tapi nomor milik Aini masih tidak aktif. Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku takut


terjadi sesuatu yang buruk lagi dengannya. Mesku dia sudah satu tahun disini namun ia masih


belum terlu hapal dengan semua seluk beluk kota Hong Kong yang kejam ini. Apalagi dia pergi


sejak semalam. Entah apa yang ia alami sejak kepergiannya dari rumah.


Orang yang saat ini sedang aku khawatirkan dan sedang ku cari keberadaanya. Tanpa sadar aku


tersenyum dan membuka pesan tersebut berharap Aini akan membertahu keberadaannya.


"[Mas maaf sekarang aku sudah tidak dirumah mamamu lagi. Aku pergi sejak semalam. Nggak


usah kamu cari  dimana aku saat ini yang jelasaku baik-baik saja. Dan saat ini kita harus menjaga


jarak terlebih dahulu ini demi kebaikan kita semua]." Itu bunyi pesan yang Aini kirimkan padaku.


Membuat senyumku hilang seketika dan berganti airmata yang mengalir dengan derasnya.


"


Ainiiiii.......!!!!"


"Mengapa kamu pergi? Mengapa kamu lakukan ini padaku Ai?"


Aku menjerit memanggil nama Aini tanpa sadar dan tanganku memukul stir mobilku. Hancur.


Remuk. Perasaan hatiku semakin tak menentu. Kemudian aku kembali mencoba untuk


menghubunginya melalui telepon namun lagi-lagi nomor teleponnya kembali tidak aktif. Lalu aku


kirimkan pesan berharap semoga nanti kapan saja jika ia kembali mengaktifkan handphonnya

__ADS_1


mungkin nanti pesankunakan teekitim dan akan ia baca.


"[Baiklah Ai jika itu keputusanmu. Tapi tolong beritahu aku dimana kamu saat ini.]" Aku


mengirimkan pesan itu kepada Aini.


Masih dengan posisi semula didalam mobilku aku tertunduk didepan setir. Tubuhku terasa begitu


lemas seperti hilang keseimbangan. Tapi tetap mencoba untuk kuat. Perasaan bersalah terus


menghukumku. Karena tindakanku ini semua terjadi, dan Aini yang harus menanggung semuanya.


Tak terasa air mataku jatuh dan menetes dipipi. Meski aku adalah seorang laki-laki namun untuk


saat ini air mataku tak bisa aku bendung. Aku juga memaki perbuatan mama dan adikku. Mereka


sangat keterlaluan,  Perlakuan mereka kepada Aini sudah berlebihan. Aini tidak pantas disalahkan


disini. Dia benar-benar tidak tahu siapa aku dari awal perkenalan kami. Ia hanyalah seorang gadis


desa yang polos. Dan aku lah yang telah menjeratnya dengan cintaku.


Aku tahu badanku terasa lemas karena sedari tadi pagi belum ada sebutir nasi atau setetes air pun


yang mengisi perutku. Namun selera makan dan minumku kini telah tersita. Aku lebih memilih


fokus pada pencarian Aini dari pada makan ataupun minum. Hidupku benar-benar terasa hampa


tanpa kehadirian Aini. Aku merasa semakin sedih ketika detik demi detik dan menit juga berlalu


tapi belum juga ada kabar selanjutnya dari Aini.


Tak terasa waktu sudah mulai sore, entah akan kemana lagi aku harus mencari keberadaan Aini.


Berulang kali aku mencoba menelponnya namun hasilnya masih saja sama. Nomor telepon Aini


tidak aktif.


Malam menyapa dengan  keangkuhannya. Semakin gelap dan semakin gelap. Kelap kelip lampu


dijalanan tak lagi kurasa indah. Semua telah berubah menjadi kesedihan bagiku. Selarut ini, sejauh


ini aku telah mencoba mengelilingi kota Hong Kong untuk mencari keberadaan Aini namun masih


belum juga aku temui. Entah dimana Aini saat ini berada. Entah bersama siapa dia saat ini


meminta perlindungan. Tapi aku sendiri yakin Allah pasti akan selalu menyelamatkannya karena


Aini adalah gadis baik. Dan Aini pasti dulindungi oleh Sang Maha Baik.


Aku memutuskan untuk pulang, dan melanjutkan pencarian Aini besok saja. Semoga aku akan


mendapatkan kabar tentang keberadaan Aini. Hanya itu saja yang kuharapkan.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2