
Pov. Farenzy
Hari ini mungkin aku telah melakukan sebuah kesalahan karena telah mempermalukan mama dan adikku sendiri. Tapi ini aku lakukan supaya mereka tidak keterlaluan dalam memperlakukan Aini. Dan supaya mereka tidak usah ikut campur dalam urusan percintaan antara aku dan Aini. Intinya aku hanya memberi pelajaran untuk mama dan adikku Nasya. Tapi disisi lain hatiku aku juga merasa khawatir kepada Aini, aku takut Aini kenapa-napa. Karena biar bagaimanapun mereka tinggal satu rumah.
Mama dan Nasya akan dengan mudah melakukan segala hal yang mereka inginkan kepada Aini. Dan Aini tentunya tidak akan bisa berbuat banyak jika mereka menyiksanya dirumah. Namun itu juga sepertinya tidak mungkin karena dirumah ada nenek dan juga Dina. Nenek, aku belum tahu apakah nenek juga tahu akan hubungan aku dan Aini. Dan jika nenek tahu apakah nenek akan berpihak kepadaku dan Aini ataukah mama dan Nasya. Begitupun dengan papa aku juga belum tahu apakah papa mendukung hubungan aku dan Aini ataukah sepakat dengan mama dan Nasya untuk menolak hubungan yang telah terjalin antara aku dan Aini.
Setelah kejadian tadi siang dikantin yang berada dikantor tempat Aini bekerja, pikiranku semakin kacau tak menentu. Aku tahu Ainipun meresakan hal yang sama denganku. Aku kembali kekantorku dan meninggalkan Aini sendirian dikantornya. Kukatakan pada Aini bahwa kami harus kembali fokus menjalankan pekerjaan kami. Dan Ainipun mengiyakan apa yang kukatakan padanya. Meski aku sendiri tidak yakin kalau ia bisa fokus menjalankan pekerjaannya.
Aku juga tidak tahu apa rencana mama dan Nasya selanjutnya. Setelah mama dan Nasya pulang dari kantin tersebut aku sama sekali tidak terpikir untuk menghubungi mereka. Hatiku masih dipenuhi oleh rasa sedih dan kekecewaan terhadap mama dan adikku itu. Mengapa sampai saat ini mereka masih suka mengatur kehidupanku terutama untuk masalah percintaanku. Mama selalu operselektif terhadap gadis-gadis yang menjadi kekasihku. Mama selalu mengatakan kalau aku harus menikah dengan wanita yang sederajat dengan kami. Itulah salah satu penyebab mengapa diusiaku yang saat ini aku masih belum juga berumah tangga.
Tapi untuk kali ini aku benar-benar sangat tidak setuju dengan cara penolakan yang dilakukan oleh mama dan Nasya. Perbuatan mereka terlalu berbahaya bagi keselamatan orang lain. Keselamatan Aini maksudku. Biar bagaimanapun aku sangat mencintainya. Untuk kali ini sunggu aku tidak bisa mengikuti permintaan mama yaitu mencari wanita lain dan meninggalkan Aini. Karena mau dengan siapapun aku menjalin hubungan entah itu dengan gadis yang sederajat denganku ataupun tidak jika mama masih suka ikut campur mengatur hubungan yang kujalin pastilah akhirnya akan kandas juga. Jujur aku sangat merasa malu dengan perlakuan mamaku yang berlebihan seperti ini. Bukan hanya malu dengan kawan-kawan wanita saja bahkan dengan sesama periapun aku merasa sangat malu apalagu diusia sekarang ini banyak teman-temanku yang sudah menapaki dunia baru yaitu bernama rumah tangga. Sedangkan aku, entah kapan.
Waktu pulang kantor telah tiba, aku berniat untuk menjemput Aini dan mengantarnya pulang seperti biasanya tapi aku jadi ragu. Aku khawatir nanti malah akan menambah masalah yang sudah ada. Sejenak aku termenung diruang kerjaku. Mataku menerawang ke langit-langit ruangan. Pandanganku hampa sehampa suasana hatiku saat ini.
__ADS_1
"[Aini sayang, kali ini kita jangan ketemuan dulu ya. Maaf aku hanya tidak mau masalah ini menjadi semaki besar dan rumit. Kamu.pulang dengan angkutan umum dulu ya sayang..]" Aku mengirim pesan kepada Aini. Dan tanpa menunggu waktu lama kemudian Ainipun langsung membalas pesanku itu.
"[Iya mas,nggak apa-apa aku mengerti dengan keadaan kita saat ini]" Pesan balasan dari Aini masuk.
Kemudian dengan malas aku beranjak dari dudukku. Lalu aku membereskan berkas-berkas yang berserakan diatas meja kerjaku dan kemudian aku keluar kantor, aku berniat untuk langsung pulang saja. Aku berjalan dengan gontai menuju area parkir kemudian sesampainya akunlangsung masuk ke mobilku dan menyetirnya menuju kearah rumahku. Sesekali pikiranku melayang kepada Aini. Aku tak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Tapi semoga saja kekhawatiranku tidak berpengaruh apa-apa terhadap keadaan Aini. Aku yakin Allah selalu melindungi Aini. Dia wanita baik. Semoga kebaikannya selalu bisa menghindarkannya dari segala bala dan bencana, itu harapan yang kuselipkan dalam rintih doa disetiap kerinduan yang menjalar dihatiku.
Ku hentikan mobilku di area parkir depan apartemenku. Aku melangkah gontai menuju rumahku. Hatiku tak henti-henti bertanya 'Aini sedang apa sekarang? Apa ia baik-baik saja? Apa mama dan Nasya tidak akan mencelakainya?' itu pertanyaan yang timbul dan selalu timbul meski tiap kali itu pula aku berusaha untuk mengusirnya.
Sesampainya dirumah, aku langsung menghubungi Aini. Beberapa kali aku menghubunginya namun satu pun panggilanku tidak ada yang ia angkat. Ada apa dengannya? Apa ia sedang menghadapi masalah? Tuhan..! Lindungilah Aini. Semoga ia selalu selamat.
Ketika pagi hari datang dan aku sudah terbangun dari tidurku semalam. Aku kembali bersiap-siap untuk pergi kekantor namun tiba-tiba saja telepon dirumahku berdering. Lalu aku angkat dan ternyata yang menelepon adalah nenek.
"Halo Assalamualaikum Ren..!" Sapa nenek diseberang sana.
__ADS_1
"Iya Waalaikum salam nek,ada apa nek tumben nenek meneleponku pagi-pagi sekali?" Tanyaku pada nenek.
"Iya Ren, emm.. maaf sebelumnya kalau nenek lancang karena ada sesuatu yang ingin nenek tanyakan." Kata nenek lagi.
"Iya nek tidak apa-apa, nenek mau bertanya apa?" Aku semakin penasaran.
"Begini Ren tolong kamu jawav jujur ya pertanyaan nenek. Apa benar kamu pacaran dengan Aini?" Pertanyaan nenek semakin membuat hatiku merasa khawatir akan keadaan Aini saat ini.
"Iya nek, kami saling mencintai." Jawabku lirih.
"Renzy, mengapa kamu tidak memberitahu nenek dari dulu. Kalau seperti ininkan kasihan Aini. Kamu tahu sendirikan mama dan adikmu Nasya seperti apa." Kata-kata nenek seolah menambah kegetiran dalam aliran darahku.
"Maksud nenek?" Tanyaku.
__ADS_1
"Renzy, semalam mamamu mengusir Aini dari rumah ini." Kalimat nenek iru seperti pedang yang menghunus kejantungku. Tanpa basa-basi aku langsung menutup telepon dan langsung bergegas keluar rumah. Dalam hatiku aku tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri, seharusnya kemarin aku tidak membiarkan Aini pulang sendirian.
Bersambung...