Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.76. Ketika Tak Menemukan Alamat Sri


__ADS_3

Aku tetap melangkah pergi meninggalkan rumah yang sudah sejak setahun lebih lalu telah


memberikan perlindungan dan harapan begitu besar untukku. Juga telah merubah keadaan serta


setatusku. Yang tadinya aku hanya sebagai asisten dengan gaji standar tapi kemudian menjadi


anak angkat mereka, lalu masuk kursus dan kemudian bekerja di perusahaan milik keluar Tuan


Syaeful. Semua fasilitas aku berhak memakai dan menggunakannya sesuai kebutuhanku. Tapi


karena aku telah salah menjatuhkan hatiku yang ternyata adalah Tuan Muda dalam keluarga


angkatku ini, karena semula aku tidak mengetahui statusnya namun apa yang ia sembunyikan


akhirnya ku ketahui juga. Dengan dalih takut aku kehilangan pekerjaan dan kepercyaan dari


keluarganya Farenzy menybunyikan hubungan kami.


Setelah keluar dari lingkungan apartemen, ake menuju ke lingkungan apartemen dimana Sri tinggal


sesuai dengan alamat yang dulu ia berikan padaku. Angin malam bertiup membelai rambutku


dengan lembut membuat langkahku sejenak terhenti untuk  merapikan rambutku. Rasa sedih


seolah tak mampu untuk aku singkirkan dari hatiku. Tiap kali kusapu tiap kali itu juga air mataku


berderai.


Sesampai depan apartemen yang menjadi tempat tinggal Sri bersama dengan majikannya aku


menghentikan langkahku. Aku mencoba untuk menghubungi Sri. Beberapa kali aku menelponnya


tapi sama sekali tidak bisa tersambung. Kemudian aku mencoba untuk bertanya dengan scurity-


nya tentang bagaimana jika saya ingin bertemu dengan teman saya malam ini. Dan scurity otu


menanyakan siapa nama temanku tersebut. Aku menjelaskan sejelas-jelasnya dan aku sungguh


berharap untuk bisa bertemu dengan Sri paling tidak menumpang minap malam ini saja dan besok


semoga aku bisa menghubungi pihak agen kami untuk meminta pertolongan.


Tapi sayang, sang scurity mengatakan bahwa penghuni apartemen yang bernama Sri sudah pindah


alamat bersama keluarga majikannya sejak dua bulan yang lalu. Mungkin ini sebabnya Sri sudah


tidak bisa lagi aku hubungi. Pindah kemanakah dia? Lalu sekarang aku akan pergi kemana? Siapa


yang akan aku mintai pertolongan sebelum aku bisa menghubungi agenku. Aku benar-benar


bingung saat ini. Sementara untuk meminta pertolongan dengan Farenzy sepertinya itu hal yang


sangat berat untuk aku lakukan. Aku sedang ingin menjauh dulu darinya untuk beberapa waktu.


Bukan aku tidak mencintainya lagi tapi ini demi kebaikan kami. Aku dan Farenzy harus menjaga


jarak dulu untuk  sementara waktu.


Akhirnya kuputuskan untuk tetap berjalan-jalan saja meski tanpa arah dan tujuan. Hingga akhirnya

__ADS_1


aku tiba di sebuah taman bermain. Aku terduduk disebuah kursi sejenak melepaskan penat dan


lelahku. Entah sudah berapa jauh aku melangkahkan kaki pergi dari rumah milik keluarga Tuan


Syaeful. Angin malam bertiup menyapa tubuhku hingga hawa dingin kian terasa. Ku keluarkan


sebuah sweeter dari dalam koperku untuk sekedar melapisi bajuku supaya hawa dingin ini tidak


terlalu menusuk kedalam tulang-tulang tubuhku. Kemudian aku kembali melanjutkan perjalananku,


hingga tanpa kusadari kakiku mulai terasa berat seolah tak mampu lagi untuk melanjutkan


perjalanan dan disaat itu pula sayup-sayup aku mendengar kumandang azan. Pertanda waktu


subuh telah tiba.


Kini aku kembali melanjutkan perjalananku untuk menuju ke sumber suara azan tersebut yang


ternyata berasal dari sebuah masjid besar. Air mataku lemvali berlinang, perasaan rindu seketika


menyeruak menyelubungi hatiku. Aku rindu padaMu ya Robb..!


Ku langkahkan kaki memasuki masjid itu,  sebuah masjid yang terletak di shely street yaitu masjid


JAMIYA. Setelah mengambil air wudhu aku melakukan sholat berjamaah bersama para umat


muslim lainnya yang ada disana. Sejenak aku tertegun menyaksikan betapa indah peradaban islam


yang ada di tanah Hong Kong ini. Setelah sholat hatiku merasakan sebuah kehangatan dan


kelegaan yang mendalam. Seolah beban yang menghimpit batinku selama beberapa waktu terakhir


Ku keluarkan gawaiku dari dalam tas kecil yang ku jinjing. Tapi aku tak tahu siapa yang harus aku


hubungi untuk meminta pertolongan. Karena Sri satu-satunya temanku yang kuharapkan akan bisa


membantuku  namun ternyata sudah pindah alamat dan mungkin juga sudah mengganti nomor


teleponnya tanpa mengabari aku.


Lama aku terdiam dan berpikir kemudian terlintas kembali  untuk menghubungi agenku. Semoga


ini bisa membantu untuk aku bisa menemukan tempat tinggal baru. Karena walau bagaimanapun


aku masih harus tetap bertahan di Hong Kong ini hingga nanti batas akhir visaku atau sesuai


dengan perjanjian kontrak pertama ku dulu dengan pihak agen penyalur tenaga kerja Indonesia


untuk Hong Kong.


Suasana semakin terang, matahari datang menyinari bumi dengan cerahnya. Susana musim gugur


sangat terasa, pepohonan berdiri tegak dengan dedaunannya yang jatuh berserakan menumpuk


dibawah hingga menutupi beberapa meter ruas jalanan didepan masjid Jamiya. Aku mulai


merogoh kantung sweterku dan kuambil gawai lalu aku mulai mencari nomor telepon agenku. Dan


tidak butuh waktu lama akhirnya teleponku tersambung. Ada rasa yang membaur bergejolak dalam

__ADS_1


diriku. Antara khawatir agenku akan memarahiku dan dengan rasa penuh harap bahwa aku akan


mendapat pertolongan atas masalah yang kini sedang menderaku.


"Wei..!" (Halo).Suara seorang wanita menyapa dari seberang sana.


Suara sapaan lembut itu semakin membuatku gemetar, hingga kugigit bibirku kemudian kuhela


napas panjang lalu kuhembuskan sejenak untuk sekedar mengurang rasa khawatir dan was-was


yang seolah semakin menguasaiku. Dan aku harus bisa mengendalikan emosiku supaya tidak ada


lagi rasa tegangku.


"Wei, Chau san dai dai..!(Halo, Selamat pagi nyonya..!)" Jawabku.


Tapi aku kembali tidak bisa menahan tangisku. Aku terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Air


mataku berderai seolah tak bisa berhenti.


"Tolong, aku nyonya..! Aku saat ini sedang dalam masalah besar." Kataku lirih. Memohon


pertolongan kepada Nyonya Lili.


Aku tahu dia akan tetap memahami apa yang kukatakan meski dengan menggunakan bahasa


Indonesia karena dia aslinya memang orang Indonesia yang menikah dengan orang Hong Kong


dan menetap juga di Hong Kong ini.


"


Apa ini kamu Aini?" Tanya Nyonya Lili.


"Iya Nyonya." Jawabku masih sambil terisak.


"


Ada masalah apa? Bukankah kamu baik-baik saja? Dan bahkan nasibmu jauh lebih beruntung dari


pada kawan-kawanmu yang lain?" Nyonya Lili kembali bertanya, dab pertanyaannya membuat


lidahku terasa kaku untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi segingga aku hanya bisa terdiam


saja.


"Halo, Aini? Apa kamu mendengar saya?" Tanya Nyonya Lili memastikan.


"Iya Nyonya." Jawabku singkat.


"Ya sudah kalau terlalu sulit bagimu untuk menjelaskan apa yang kamu alami melalui telepon


silahkan datang saja ke kantor Agensi kita ya. Saya tunggu kamu disini." Pinta Nyonya Lili.


Apa yang baru saja Nyonya lili katakan seolah memberikan angin sejuk penuh harapan bagiku.


Kemudian tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke halte, untuk menuju ke kantor Agensi kami


seperti yang tadi Nyonya Lili katakan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2