
Aku tetap melangkah pergi meninggalkan rumah yang sudah sejak setahun lebih lalu telah
memberikan perlindungan dan harapan begitu besar untukku. Juga telah merubah keadaan serta
setatusku. Yang tadinya aku hanya sebagai asisten dengan gaji standar tapi kemudian menjadi
anak angkat mereka, lalu masuk kursus dan kemudian bekerja di perusahaan milik keluar Tuan
Syaeful. Semua fasilitas aku berhak memakai dan menggunakannya sesuai kebutuhanku. Tapi
karena aku telah salah menjatuhkan hatiku yang ternyata adalah Tuan Muda dalam keluarga
angkatku ini, karena semula aku tidak mengetahui statusnya namun apa yang ia sembunyikan
akhirnya ku ketahui juga. Dengan dalih takut aku kehilangan pekerjaan dan kepercyaan dari
keluarganya Farenzy menybunyikan hubungan kami.
Setelah keluar dari lingkungan apartemen, ake menuju ke lingkungan apartemen dimana Sri tinggal
sesuai dengan alamat yang dulu ia berikan padaku. Angin malam bertiup membelai rambutku
dengan lembut membuat langkahku sejenak terhenti untuk merapikan rambutku. Rasa sedih
seolah tak mampu untuk aku singkirkan dari hatiku. Tiap kali kusapu tiap kali itu juga air mataku
berderai.
Sesampai depan apartemen yang menjadi tempat tinggal Sri bersama dengan majikannya aku
menghentikan langkahku. Aku mencoba untuk menghubungi Sri. Beberapa kali aku menelponnya
tapi sama sekali tidak bisa tersambung. Kemudian aku mencoba untuk bertanya dengan scurity-
nya tentang bagaimana jika saya ingin bertemu dengan teman saya malam ini. Dan scurity otu
menanyakan siapa nama temanku tersebut. Aku menjelaskan sejelas-jelasnya dan aku sungguh
berharap untuk bisa bertemu dengan Sri paling tidak menumpang minap malam ini saja dan besok
semoga aku bisa menghubungi pihak agen kami untuk meminta pertolongan.
Tapi sayang, sang scurity mengatakan bahwa penghuni apartemen yang bernama Sri sudah pindah
alamat bersama keluarga majikannya sejak dua bulan yang lalu. Mungkin ini sebabnya Sri sudah
tidak bisa lagi aku hubungi. Pindah kemanakah dia? Lalu sekarang aku akan pergi kemana? Siapa
yang akan aku mintai pertolongan sebelum aku bisa menghubungi agenku. Aku benar-benar
bingung saat ini. Sementara untuk meminta pertolongan dengan Farenzy sepertinya itu hal yang
sangat berat untuk aku lakukan. Aku sedang ingin menjauh dulu darinya untuk beberapa waktu.
Bukan aku tidak mencintainya lagi tapi ini demi kebaikan kami. Aku dan Farenzy harus menjaga
jarak dulu untuk sementara waktu.
Akhirnya kuputuskan untuk tetap berjalan-jalan saja meski tanpa arah dan tujuan. Hingga akhirnya
__ADS_1
aku tiba di sebuah taman bermain. Aku terduduk disebuah kursi sejenak melepaskan penat dan
lelahku. Entah sudah berapa jauh aku melangkahkan kaki pergi dari rumah milik keluarga Tuan
Syaeful. Angin malam bertiup menyapa tubuhku hingga hawa dingin kian terasa. Ku keluarkan
sebuah sweeter dari dalam koperku untuk sekedar melapisi bajuku supaya hawa dingin ini tidak
terlalu menusuk kedalam tulang-tulang tubuhku. Kemudian aku kembali melanjutkan perjalananku,
hingga tanpa kusadari kakiku mulai terasa berat seolah tak mampu lagi untuk melanjutkan
perjalanan dan disaat itu pula sayup-sayup aku mendengar kumandang azan. Pertanda waktu
subuh telah tiba.
Kini aku kembali melanjutkan perjalananku untuk menuju ke sumber suara azan tersebut yang
ternyata berasal dari sebuah masjid besar. Air mataku lemvali berlinang, perasaan rindu seketika
menyeruak menyelubungi hatiku. Aku rindu padaMu ya Robb..!
Ku langkahkan kaki memasuki masjid itu, sebuah masjid yang terletak di shely street yaitu masjid
JAMIYA. Setelah mengambil air wudhu aku melakukan sholat berjamaah bersama para umat
muslim lainnya yang ada disana. Sejenak aku tertegun menyaksikan betapa indah peradaban islam
yang ada di tanah Hong Kong ini. Setelah sholat hatiku merasakan sebuah kehangatan dan
kelegaan yang mendalam. Seolah beban yang menghimpit batinku selama beberapa waktu terakhir
Ku keluarkan gawaiku dari dalam tas kecil yang ku jinjing. Tapi aku tak tahu siapa yang harus aku
hubungi untuk meminta pertolongan. Karena Sri satu-satunya temanku yang kuharapkan akan bisa
membantuku namun ternyata sudah pindah alamat dan mungkin juga sudah mengganti nomor
teleponnya tanpa mengabari aku.
Lama aku terdiam dan berpikir kemudian terlintas kembali untuk menghubungi agenku. Semoga
ini bisa membantu untuk aku bisa menemukan tempat tinggal baru. Karena walau bagaimanapun
aku masih harus tetap bertahan di Hong Kong ini hingga nanti batas akhir visaku atau sesuai
dengan perjanjian kontrak pertama ku dulu dengan pihak agen penyalur tenaga kerja Indonesia
untuk Hong Kong.
Suasana semakin terang, matahari datang menyinari bumi dengan cerahnya. Susana musim gugur
sangat terasa, pepohonan berdiri tegak dengan dedaunannya yang jatuh berserakan menumpuk
dibawah hingga menutupi beberapa meter ruas jalanan didepan masjid Jamiya. Aku mulai
merogoh kantung sweterku dan kuambil gawai lalu aku mulai mencari nomor telepon agenku. Dan
tidak butuh waktu lama akhirnya teleponku tersambung. Ada rasa yang membaur bergejolak dalam
__ADS_1
diriku. Antara khawatir agenku akan memarahiku dan dengan rasa penuh harap bahwa aku akan
mendapat pertolongan atas masalah yang kini sedang menderaku.
"Wei..!" (Halo).Suara seorang wanita menyapa dari seberang sana.
Suara sapaan lembut itu semakin membuatku gemetar, hingga kugigit bibirku kemudian kuhela
napas panjang lalu kuhembuskan sejenak untuk sekedar mengurang rasa khawatir dan was-was
yang seolah semakin menguasaiku. Dan aku harus bisa mengendalikan emosiku supaya tidak ada
lagi rasa tegangku.
"Wei, Chau san dai dai..!(Halo, Selamat pagi nyonya..!)" Jawabku.
Tapi aku kembali tidak bisa menahan tangisku. Aku terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Air
mataku berderai seolah tak bisa berhenti.
"Tolong, aku nyonya..! Aku saat ini sedang dalam masalah besar." Kataku lirih. Memohon
pertolongan kepada Nyonya Lili.
Aku tahu dia akan tetap memahami apa yang kukatakan meski dengan menggunakan bahasa
Indonesia karena dia aslinya memang orang Indonesia yang menikah dengan orang Hong Kong
dan menetap juga di Hong Kong ini.
"
Apa ini kamu Aini?" Tanya Nyonya Lili.
"Iya Nyonya." Jawabku masih sambil terisak.
"
Ada masalah apa? Bukankah kamu baik-baik saja? Dan bahkan nasibmu jauh lebih beruntung dari
pada kawan-kawanmu yang lain?" Nyonya Lili kembali bertanya, dab pertanyaannya membuat
lidahku terasa kaku untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi segingga aku hanya bisa terdiam
saja.
"Halo, Aini? Apa kamu mendengar saya?" Tanya Nyonya Lili memastikan.
"Iya Nyonya." Jawabku singkat.
"Ya sudah kalau terlalu sulit bagimu untuk menjelaskan apa yang kamu alami melalui telepon
silahkan datang saja ke kantor Agensi kita ya. Saya tunggu kamu disini." Pinta Nyonya Lili.
Apa yang baru saja Nyonya lili katakan seolah memberikan angin sejuk penuh harapan bagiku.
Kemudian tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke halte, untuk menuju ke kantor Agensi kami
seperti yang tadi Nyonya Lili katakan.
__ADS_1
Bersambung...