Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.23. Saat Aku Sadar.


__ADS_3

Pov. Aini


Hawa dingin sangat terasa sehingga membuat sekujur tubuhku menggigil rasanya. Kepalaku terasa sangat berat, namun sedikit ku paksakan untuk membuka mataku. Langit-langit kamar yang berwarna pitih itu yang pertama kali kulihat.


"Aini.. kamu sadar Ai?" Suara seseorang membuatku semakin tersadar. Farenzy. Ya itu suara farenzy aku mengenalinya.


"Aini kamu harus kuat." Suara perempuan itu juga sepertinya aku mengenalnya. Ya itu suara Nasya. Ya Allah ada apa dengan ku. Dimana aku sekarang?. Mengapa tubuhku terasa sakit semua. Ku coba mebolehkan kepala ku kearah sumber suara Farenzy dan Nasya.


"Mas Farenzy..!" Aku mencoba untuk mengeluarkan suaraku dengan memanggil Farenzy.


"Iya Ai.. ini aku ada disini." Jawabnya.


"Sebentar ya Aini aku panggilkan dulu dokternya." Kata Nasya. Lalu kemudian Nasya pergi. Ia keluar dari dalam ruangan perawatanku. Tinggallah hanya aku dan Farenzy saja didalam.


Aku menangis. Tak mampu menahan pilu yang saat ini sedang kurasakan.


"Ayah.. ibu... Aini mau pulang..!" Entah kenapa hatiku tiba-tiba merasakan sebuah ketakutan. Takut karena jauh dari orang tuaku. Khawatir kalau aku menemui ajalku di tanah rantau nun jauh dari tanah air. Tanah kelahiranku.


"Tenang Ai... Ini ada aku disini. Aku akan menjaga kamu. Aku sayang kamu Aini." Farenzy menggenggam tangan kananku lalu menempelkan di wajahnya. Dan ternyata wajahnya juga basah. Basah karena air matanya. Farenzy menangis.


Aku berusaha untuk memiringkan posisi tubuhku. Tapi tak bisa. Cukup seriuskah lukaku?. Tanyaku sendiri dalam hati.


"Aini ini dokternya datang, ia akan memeriksa mu." Nasya datang bersama seorang dokter laki-laki dan dua orang perawat wanita.


Lalu dokter itu memeriksaku. Ia menyuntikan sebuah suntikan pada aliran infus yang terpasang ditanganku. Tak lama setelah itu mataku terasa sangat berat. Aku mengantuk. Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.

__ADS_1


***


Saat aku kembali terbangun, aku mendengar derap langkah beberapa orang sepertinya mereka menghampiriku.


"Pa.. panggil dokternya Aini sudah sadar." Pinta bu Tri pada pak Saeful.


Perlahan ku buka mataku, yang pertama kali kulihat disana ada wajah nenek, Farenzy, Nasya, dan juga Bu Tri. Kulihat nenek tersenyum padaku lalu ia menyapaku.


"Syukurlah kalau kamu sudah siuman Ai. Nenek sangat khawatir." Kata nenek sambil ia mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang.


"Selamat ya Aini operasi kamu sudah selesai dan berjalan lancar." Nasya mepali.


"Apa, operasi? Aku operasi apa?" Tanyaku gugup karena kaget baru sadar kalau ternyata saat aku disuntik bius untuk dioperasi.


"Tenang Aini. Kamu cuma operasi ringan kok. Dan sekarang kamu sudah tidak apa-apa. Semoga dalam waktu dekat kamu akan pulih. Dan bisa bekerja seperti dulu lagi. Farenzy menenangkan aku.


"Kapan saya pulang dari sini bu?" Tanyaku pada bu Tri.


"Sabar Ai, sebaiknya jangan dulu buru-buru mau pulang. Kita tunggu apa keputusan tim dokter yang menanganimu. Luka di tulang punggung mu itu cukup parah. Tapi jangan khawatir aku sudah meminta supaya mereka memberilan pelayanan terbaik untuk mu." Jelas bu Tri.


"Tapi bu.. biaya rumah sakit ini kan mahal. Saya nggak mau terlalu merepotkan ibu dan bapak."


"Sudah..! Nggak usah dipikirkan masalah biaya rumah sakit. Itu adalah kewajiban kami sebagai majikanu dan sekaligus pengganti orang tua mu disini. Kamu harus tetap tenang ya, dan tetap fokus pada kesembuhan mu. Sudah itu saja, jangan mikir yang macam-macam."


"Terimakasih bu. Entah nanti harus bagaimana saya membalas kebaikan ibu dan bapak sekeluarga pada saya."

__ADS_1


Lalu seorang dokter datang bersama pak Saeful. Ia memeriksaku. Kemudian dia memanggil pak Saeful dan bu Tri ke salah satu sudut ruangan. Ada sesuatu yang mereka bicarakan. Tapi entah apa aku sendiri juga tudak tahu. Karena aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, sebab mereka berbincang dengan suara yang sangat pelan sekali. Kemudian dokter itu pamit, dan bu Tri juga pak Saeful kembali datang menghampiri ku.


"Aini, tadi dokter yang menangi kamu me ngatakan kepada saya dan Bapak bahwa besok pagi kamu sudah boleh pulang. Tapi kalau sekarang belum." Jelas Bu Tri padaku.


Aku hanya mengangguk pertanda aku mengerti dan memahami kondisi ku saat ini. Walaupun sebenarnya aku sangat keberatan kalau harus kembali bermalam dalam ruangan rumah sakit ini.


"Nanti malam mungkin Farenzy dan Nasya akan bergantian dengan saya dan Bapak yang akan menemani mudisini. Karena kasihan mereka semalam kurang tidur." Jelas bu Tri.


"Iya bu tidak apa-apa." Aku menanggapi ucapan bu Tri.


Hari semakin siang, pak Saeful, bu Tri, nenek,dan juga Nasya pamit untuk membeli makan diluar. Sementara aku dan Farenzy saja yang ada didalam ruangan. Kemudian selang beberapa menit datanglah seorang suster. Ia membawakan menu makan siang untuk ku.


"Sayang, ini makan siang kamu sudah diantar. Yuk dimakan." Farenzy memintaku untuk memakan makan siang yang diantar suster tersebut.


"Aku belum lapar mas." Jawabku.


"Eits.. nggak boleh begitu. Harus makan ya, walaupun sedikit yang penting perut jangan kosong. Kan kamu dari kemarin belum makan sayang." Farenzy membujuk ku.


"Iihh.. nggak mau nggak lapar." Aku benar-benar tidak merasakan lapar. Yang aku rasa hanyalah seribu bahkan mungkin sejuta kesedihan. Bahkan trauma.


Aku mengalami kecelakaan itu tepat di hari kelulusanku. Awalnya semua terasa begitu membahagiakan. Aku menjadi lulusan terbaik di salah satu kursus ku. Tapi bencana itu datang saat aku melanjutkan upacara kelulusan di tempat kursus ku yang lain. Gempa bumi dahsyat itu tiba-tiba saja mengguncang tanah Hong Kong.


Aku masih ingat betul bagai mana aku dan puluhan orang atau bahkan ratusan orang lain menfalami kepanikan yang sangat hebat. Semua berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Awalnya aku berusaha mencari keberadaan majikanku sekeluarga yang ikut serta dalam upacara kelulusanku itu, tapi satupun dari mereka tidak aku temukan. Akhirnya ku putuskan untuk menyelamatkan diriku sendiri. Tapi naas, saat hendak menuruni tangga menuju ke lantai dasar aku mengalami kecelakaan. Entah benda apa yang jatuh menimpaku yang jelas itu adalah reruntuhan bangunan sehingga membuat tulang punggungku patah dan harus di operasi.


Saat aku sadar, ternyata aku berada di rumah sakit. Ada rasa syukur di hatiku, karena ternyata semua anggota keluarga majikanku selamat termasuk juga kekasihku Farenzy. Tapi ada juga rasa penyesalan dan rasa bersalah dihatiku. Yaitu aku terlalu banyak merepotkan mereka. Bukankah kewajibanku sebagai asisten untuk selalu membantu mereka, tapi mengapa justru aku yang selalu menerima bamtuan dari mereka. Aku berharap semoga secepatnya bisa pulih. Sehingga aku bjsa menjalankan tugasku sebagaimana mestinya. Oya keluarga ku di kampung juga belum aku kabari perihal kecelakaab ku ini. Aku juga tidak mau membuat keluargaku disana terlalu merasa khawatir dengan keadaan ku. Biarlah nanti saja mereka ku kabari.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2