
Masih Pov. Aini
Setelah Farenzy membukakan pintu mobil lalu kemudian aku masuk dan duduk tapi sengaja ku pasang wajah murung didepan Farenzy aku berharap ia akan bertanya ada apa denganku dan mengapa aku hanya diam saja. Dan ternyata semua rencanaku berjalan sesuai dengan yang kuinginkan. Ia benar-benar bertanya padaku.
"Eheeem.. Sayang kamu kenapa? Apa sedang ada masalah?"
"Emmm.. iya mas benar saat ini aku sedang dihadapkan dengan sebuah masalah."
"Masalah apa? Karena siapa? Apa ada orang-orang dikantor tempat mu bekerja yang menjahatimu? Katakanlah sayang.. Biar aku urus orang itu." Aku benci mendengar omong kosongnya itu.
Aku hanya diam dan tak menjawab satupun dari pertanyaannya tadi.
"Ayo donk sayang katakan ada apa sebenarnya." Farenzy memintaku untuk mengatakan masalah apa yang saat ini sedang aku hadapi. Ia memandang lekat ke wajahku. Lalu ia menggenggam jari jemariku.
Tapi karena rasa kesal dihatiku seolah semakin memuncak maka segera saja ku tarik tanganku. Lalu kuhempaskan genggamannya hingga terlepas.
"Mas aku mau minta kamu jawab aku dengan sejujur-jujurnya." Kataku pada Farenzy.
"Iya sayang silahkan tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan." Jawabnya.
"Mas apa benar kamu adalah anak dari mama Tri dan papa Saeful?" Kuberanikan diriku untuk menanyakan perihal itu pada Farenzy.
"Hahahaa... Aini, sayang kamu ini kenapa? Kamu sakit?" Ia tertawa dan bahkan seolah mengejekku.
"Aku serius mas. Tolong jawab jujur pertanyaanku." Pintaku pada Farenzy.
"Hahaha.. kamu ini ada-ada saja." Dia kembali menertawaiku.
"Mas.."
"Apa sayang?"
"Tolonglah mas jawab aku jujur."
"Ah, sudahlah Aini sayang itu semua tidak penting. Yang pentingkan aku dan kamu bahagia."
"Aku nggak bisa bahagia mas. Aku butuh jawaban pasti dari kamu."
__ADS_1
"Lha apa benar kalau selama kita menjalin hubungan kamu tidak merasa bahagia?"
"Bukan begitu maksudku mas."
"Lalu bagaimana lagi?"
"Yang jelas sekarang aku butuh jawaban atas pertanyaanku tadi. Apa benar kamu adalah putra mereka?"
"Mengapa kamu baru menanyakan itu sekarang? Siapa yang mendesak mu?"
"Karena aku baru mendengar dari Nasya tadi malam. Dan kamu, aku berusaha untuk ku hubungi namun tak pernah bisa mas. Dan ini tidak ada desakan dari siapapun. Aku hanya butuh jawaban pasti dari mu mas. Hanya itu saja."
"Apa yang kamu lakukan selama ini sayang? Bagaimana mungkin kamu tidak menyadari akan hal itu?"
"Maksudmu mas?"
"Iya. Aku adalah putra mereka. Putra mama dan papa. Aku adalah tuan muda yang selama ini ingin kamu kenali Aini. Dan ini sudah lebuh dari perkenalan. Bahkan kita sudah menjalin hubungan selama beberapa bulan ini. Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahui siapa aku dari awal pertemuan kita dulu."
Aku terdiam mendengar semua pengakuan Farenzy itu. Detakan jantungku seolah terhenti. Air mataku seketika terjatuh. Entah siapa yang salah dalam hal ini, mengapa aku tak menyadarinya. Mengapa ia tak pernah berterus terang memberitahukan padaku? Aku kah yang bersalah karena telah mencintainya? Ataukah dia yang bersalah karena telah membohongiku? Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku terkejut saat ia menggenggam tanganku dan menghentikan laju mobilnya ditepi jalan.
"Tapi apa mungkin kita akan tetap menjalin hubungan ini secara diam-diam mas. Sampaikapan?"
"Sampai kita menemukan cara terbaik untuk memberitahu mereka semua akan cinta yang telah ada diantara kita."
"Andai mereka tiba-tiba tahu sebelum kita sempat memveritahunya apa kamu akan tetap mempertahankan aku untuk menjadi kekasihmu mas?"
"Iya sayang itu pasti."
"Walaupun kamu harus menerima kemarahan mereka?"
"Siapa yang akan marah? Tidak ada yang berhak atas cinta kita selain hanya kita berdua saja. Segala keputusan hanya ada di hati kita saja Aini."
"Lalu andai mereka mengancam akan mencoretmu dari penerima waris karena telah melakykan kesalahan yaitu mencintaiku apa yang akan kamu lakukan mas?"
"Aku hanya akan mempertahankan cintaku Aini. Aku sama sekali tidak peduli akan segala hak waris itu. Aku sudah membangun dan mengembangkan perusahaanku sendiri sejak dulu jadi hidupku tidak akan berpengaruh apapun dengan harta papa dan mama."
__ADS_1
Ku hela napasku, ada sedikit kelegaan dari ganjalan yang tadi ada didadaku. Kembali ku seka air mataku. Semoga apa yang baru saja Farenzy katakan adalah benar.
"Mas sungguh-sungguh dengan apa yang baru saja kamu katakan mas?" Aku kembali bertanya padanya untuk menghilangkan keraguan dihatiku.
"Iya sayang. Harus dengan apa aku akan membuktikan bahwa apa yang baru saja aku katakan adalah benar. Katakanlah Aini apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkanmu?"
"Ya sudah mas, tidak perlu kamu lakukan apa-apa lagi. Cukup tepati saja janjimu mas."
"Baiklah sayang akan kulakukan sesuai apa yang kamu pinta."
"Terimakasih mas."
"Iya sayang. Tapi aku minta sama kamu supaya untuk saat ini jangan dulu memberitahu mama, papa, nenek dan juga Nasya ya atas hubungan yang kini kita jalin. Karena untuk itu kita perlu cara dan waktu yang tepat memberitahu mereka."
"Iya mas."
Lelah aku dengan masalah ini, hingga ku iyakan saja apa yang dipinta oleh Farenzy. Baiklah, sekarang aku akan jalani hubungan kami ini dengan mengikuti arus dan jalan takdir yang ada.
"Yuk sekarang kita pulang dulu ya sayang, jangan sampai ada masalah baru lagi karena kamu pulang telat." Ajak Farenzy padaku sambil ia kembali menyetir mobilnya dan melaju menuju arah rumah kami.
Aku turun dari mobilnya dengan masih membawa kekesalan dihatiku. Aku masih kesal dengan Farenzy mengapa sedari awal ia tak pernah mau jujur mengakui siapa dia yang sebenarnya. Mungkin aku tak akan mencintainya sedalam ini. Mungkin aku juga tak akan pernah membukakan pintu hatiku untuknya. Tapi kalau sudah seperti saat sekarang ini apa yang harus kulakukan selain mengikuti arah takdir saja. Bahkan aku sangat takut jika harus kehilangannya. Rasanya aku tak akan mampu menjalani hidupku tanpanya.
Dulu kukira dia adalah sama seperti halnya aku. Yang hanya seorang pesuruh atau seorang asisyen untuk keluarga ini tapi ternyata aku sudah salah besar dalam menilai. Mama, papa, nenek dan juga Nasya tak pernah sedikitpun menyebut Farenzy adalah tuan muda dalam keluarga tuan Syaeful.
Sesampainya aku dirumah seperti biasa ada Dina dan nenek yang memang ada dirumah seharian tidak kemana-mana.
"Assalamualaikum.." aku mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." Jawab nenek.
"Waalaikumsalam." Dina juga ikut menjawab.
"Sudah pulang Ai?" Tanya nenek.
"Iya nek." Jawabku.
"Hei.. Mengapa wajahmu begitu kusut Aini?" Tanya Dina dengan nada seolah ia kaget.
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa aku hanya sedang cape saja. Seharian ini banyak sekali pekerjaan dikantor yang aku kerjakan." Jawabku. Aku mengelak dari apa.yang sebenarnya telah terjadi.
Bersambung..