Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.36. Menjadi anak angkat


__ADS_3

Pov. aini


Farenzy sudah datang dari Turki. Bukan oleh-oleh yang kuharapkan. Tapi pertemuan dengannya meski sebentar sekedar mengobati rasa kerinduan yang ada di hatiku selama hampir seminggu ini. Namun, dari tadi aku mencoba untuk menghubunginya tapi Farenzy tidak mengangkat telephone dari ku. Ataukah mungkin di kelelahan lalu tertidur. Ah, mungkin saja begitu.


Hingga datang malam, belum juga ada kabar darinya. Selain itu setiap kali aku menghubunginya tak pernah satupun telephone ku yang ia angkat. Semoga besok pagi ia akan menghubungi ku. Itu harapan yang ada dalam hatiku.


Tok..tok..tok..


Suara pintu kamar ku di ketok dari luar.


"Assalamualaikum, Aini..kamu belum tidur kan?" Suara Nasya memanggilku dari luar kamar.


"Waalaikumsalam, iya belum Nas." Lalu aku segera membuka pintu dan ku dapati Nasya tersenyum manis padaku. Tanpa aku tahu maksudnya, ia langsung menaruk tanganku.


"Ayo sini ikut aku, mama dan papa ada perlu sama kamu Ai." Nasya berkata sambil berjalan menarik tanganku, kini ia berada selangkah didepanku.


"Ada perlu apa ya Nas?" Tanyaku penasaran.


"Enggak tahu juga, yang jelas aku minta sama kamu apa yang mereka tawarkan ataupun yang akan mereka berikan sama kamu tolong untuk diterima ya Ai. Kamu anggap aku saudara mu kan?"


"Iya Nas, tapi apa?"


"Udah nggak usah banyak tanya ayo cepat kita kesana, sebenarnya aku juga nggak tahu Ai apa yang akan mereka katakan yang jelas mereka memanggilmu. Dan ini pertanda baik untuk mu."


Aku hanya diam mendengar apa yang baru saja Nasya katakan, dan aku tetap mengikuti tuntunannya yang menarik tanganku. Dan saat kami tiba di ruang keluarga tersebut memang benar disana sudah ada bu Tri dan pak Saeful juga nenek.


"Mama, papa, nek.. ini Aini sudah aku panggilkan..!" Seru Nasya dengan penuh nada ceria.


Emm.. mungkin mereka akan segera memberiku pekerjaan baru. Pikirku.


" Aini, ayo sini duduk dekat nenek." Nenek memanggilku.Dan aku pun segera duduk disamping nenek.


Aku masih diam, tak berani memulai pembicaraan. Kurang sopan rasanya kalau aku terlalu sering bertanya. Hingga akhirnya pak Saeful yang memulainya.


"Aini, saya dan saya punya isteri akan sda yang mau kami sampaikan sama kamu. Biar saya punya isteri saja yang jelaskan mungkin akan lebih mudah untuk kamu pahami jika dia yang menyampaikan." Pak Saeful berkata dengan bahasa indonesia yang agak sedikit kaku. Kemudian bu Tri langsung menyambungnya.

__ADS_1


"Jadi begini Aini. Kami sudah pikirkan dan sudah kami perrimbangkan sejak beberapa bulan yang lalu semenjak nenekmu dinyatakan sembuh dari strokenya. Saya dan Bapak mu punya niat baik untuk kamu, sebagai tanda terimakasih kami karena sudah merawat ibu kami dengan baik dan sebagai tanda persaudaraan kita sesama orang dari Indonesia maka saya dan suami saya ingin mengangkat kamu menjadi anak angkat kami. Itu pun kalau kamu setuju. Iya kan Pa?"


"Iya tentu saja."


"Nah, bagaimana Aini apa kamu bisa menerima apa yang ingin kami berikan ini?"


Sejenak aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa kepada bu Tri dan juga pak Saeful. Tapi bagaimana mungkin aku bisa menolaknya. Dan bagaimana pula aku akan mengiyakannya. Lidah ini pun terasa kaku.


"Aini, bagaimana? Apa jawaban dari mu?" Kini nenek juga ikut bertanya.


Sungguh, aku bingung. Otak ku seakan terhenti tak mampu berpikir sesuatu apa jawaban yang tepat untuk ku berikan pada kelaurga yang terlalu baik untuk menjadi majikan ini. Sekarang mereka berniat untuk mengangkat aku menjadi anak angkat mereka. Dan meminta persetujuanku saat ini juga. Aku mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya lagi.


"I..i..iya, sa..saya menerimanya dan saya setuju. Terimakasih Bu, pak, nenek atas segala kepercayaan yang kalian berikan. Sungguh, saya tidak tahu lagi harus bagaimana membalas mebaikan yang telah saya dapatkan ini." Akhirnya aku menjawab pertanyaan mereka meski dengan sedikit terbata-bata.


"Alhamdulillah.., nah Aini sekarang kamu jangan panggil saya dan suami saya Ibu dan Bapak lagi. Mulai sekarang kamu panggil kami mama dan papa ya."


"Baik bu, eh maaf maksudku mama."


"Iya Ai. Kalau kamu ada apa-apa jangan sungkan ya nak, buat kasih tahu ke mama dan papa."


" Jadi sekarang kita adik kakak, donk Ai.. hehe." Timbal Nasya.


"Ehemm.." Aku mengangguk.


"Iya sekarang mama punya dua anak perempuan." Tambah papa.


Suasana malam ini benar-benar terasa hangat seakan tak terasa hawa menggigil di musim dingin ini. Terimakasih Tuhan..! Kau telah memberikan tempat perlindungan terbaik untuk ku di tanah rantauan ini.


Malam semakin larut akhirnya kami semua memutuskan untuk masing-masing kembali ke kamar dan terlelap dalam keindaham mimpi yang menghangatkan di hati dimusim dingin. Sementara itu, di luar salju terus berjatuhan menciptakan hamparan putih berkilauan bak mutiara diatas permadani yang indah. Segala keindahan itu menghantarku dalam mimpi penuh cinta dimalam sunyi yang dingin ini.


Hemmm.. Ku sambut pagi ini dengan posisi baru dalam keluarga baruku. Tapi aku masih sedikit canggung dan perlu latihan serta keberanian lagi bagiku untuk menyapa mereka berdua dengan sebutan mama dan papa. Ah, aku ini siapalah, hanya seorang gadis kampung dengan bermodalkan mimpi dan cita-cita besar hingga aku bisa sampai di sini. Lalu apa aku pantas mendapatkan penghargaan setinggi itu sedangkan aku belum ada apa-apa yang ku beri untuk mereka.


Ya sudahlah, semua terserah hanya padaMu saja Tuhanku, aku hanyalah hambaMu yang tak tahu apa-apa. Hanya Engkau sang pemilik takdir dan keputusan terbaik. Semoga Engkau selalu membimbing dalam setiap langkahku.


Aku sudah selesai mandi dan bersiap untuk sarapan pagi. Saat ku dengar gawaiku berdering tanda panggilan masuk. Ada telephon dari Farenzy.

__ADS_1


"Halo, Assalamualaikum.." Aku menyapanya yang ada di seberang sana.


"Iya halo sayang, Waaliksalam.. bagaimana kabarmu pagi ini?" Farenzy menjawab salamku dan bertanya padaku.


"Alhamdulillah kabar baik mas." Jawabku.


"Wah.. sekarang sudah jadi anggota keluarga baru di Saeful Family nih.. Asyik donk.."


"Ih..Apa-apaan sih mas ini?"


"Lho.. kok apa-apaan. Tapi memang benar kan?"


"Mas Farenzy tahu dari siapa?"


"Ah.. nggak penting aku tahu dari siapa. Yang penting sekarang kamu sudah jadi keluarga Saeful Family. Selamat ya sayang.."


"Ah.. mas ini ada-ada saja."


"Hehee.. Maaf deh.. oya sayang nanti siang kita ketemuan yuk. Ada oleh-oleh buat kamu, kemaren belum sempat aku berikan. Aku terlanjut cape jadi pulang dan langsung tidur deh.."


"Oleh-oleh apa mas?"


"Ada deh.. yang jelas nanti kita ketemuan dulu aja ya. Supaya kamu nggak penasaran lagi."


"Oke deh mas."


"Oke sayang sekarang aku berangkat kerja dulu ya."


"Iya mas, hati-hati ya."


"Oke siap..!"


Lalu kami sama-sama menutup saluran telephone. Aku keluar, dan dimeja makan kutemui sudah ada mama, papa dan juga Nasya serta nenek disana.


"Aini hari ini kami juga akan memberi tahumu bahwa besok kamu mulai bekerja di perusahaan kita." Mama memberitahuku prihal pekerjaan baru ku.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2