
Pov. Bu Tri
"Ma, mobil kita sudah papa siapkan." Suamiku datang menemui aku dan Aini di ruang administrasi. Aku baru saja selesai mengurus administrasi pengobatan untuk Aini.
"Iya pa, ayok kita pulang." Ajakku.
Lalu kami keluar rumah sakit itu dengan di bantu oleh seorang suster untuk mendorong Aini di kursi rodanya dsn membantu menaikan Aini ke mobil. Selama diperjalanan pulang kami bertiga aku, Aini dan sumaiku lebih banyak diam. Mungkin kami sedang tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Hingga tak terasa sudah sampai didepan apartemen kami. Lalu kami turun dan sesampai di rumah ada ibuku dan kedua anakku yaitu Nasya dan Farenzy. Mereka sudah bersiap menunggu kepulangan kami. Aku memencet tombol bell kemudian Nasya membukakan pintu.
"Assalamualaikum.." Aku mengucap salam.
"Waalaikumsalam.." Jawab Nasya dari dalam.
"Wah.. kalian sudah pulang?, Nenek.. Mereka sudah pulang bersama Aini..!" Seru anakku Nasya.
Kemudian ibuku dan anak bujangku Farenzy keluar secara bersamaan dari arah dapur. Keduanya saling melempar senyum kepada kami bertiga aku, suamuku dan juga Aini.
"Aini..? Syukurlah nak, kamu sudah boleh pulang." Sapa ibuku kepada Aini.
"Iya nek Alhamdulillah.." jawab Aini.
"Nasya, ayo cepat bawa Aini kekamarnya, biarkan Aini istirahat terlebih dahulu." Perintah suamiku kepada anak kami Nasya.
Lalu Nasya mendorong kursi roda Aini masuk kedalam kamarnya, dan diikuti oleh Farenzy dibelakang Nasya.
__ADS_1
"Sini biar aku bantu membaringkan Aini ke tempat tidur." Pinta Farenzy.
"Hati-hati Ren.. punggung Aini masih sakit." Kataku pada Farenzy.
"Iya.." Jawab Farenzy.
"Ai kamu istirahat dulu ya, kalau kamu butuh apa-apa panggil saja aku. Aku akan selalu bantu kamu Ai." Kata Nasya kepada Aini. Lalu kami keluar dari dalam kamar Aini. Nasya menutup pintu kamar itu. Setelah beberapa saat kemudian suamiku pamit katanya dia mau kerja, sudah tiga hari ini dia tidak masuk kantor.
Sementara aku masih ada cuti sampai besok.
"Tri, Nasya, Farenzy ayok kita makan.. tadi nenek sudah masak banyak lho untuk kita." Ibuku mengajak kami untuk makan bersama.
"Iya ayok.. nenek kalian sudah masak banyak sayang makanannya kalau tidak kita makan bersama." Sanbungku.
"Ayok ma.. kebetulan aku memang sedang lapar-laparnya ini.." Jawab anak ku Farenzy.
"Waaah.. ini ni yang selalu aku kangeni masakan nenek.. dari aromanya saja sudah menggugah selera." Farenzy menggoda neneknya.
"Ah.. kamu Ren bisa aja.." Jawab ibuku.
"Betul itu nek apa yang kakak barusan bilang.. Nasya yakin kakak tidak sedang berbohong." Sahut anak ku Nasya.
"Ya sudah, ya sudah.. ayok lagi kita makan gih.. mama sudah lapar nih.." Aku menengahi keributan mereka.
"Ayok ma.." Jawab Nasya sambil ia menarik piring yang sudah ada di depannya.
__ADS_1
Lalu kami semua makan bersama kecuali suami ku karena ia sudah berangkat ke kantor dan Aini yang masih belum sepenuhnya pulih sehingga ia masih harus banyak-banyak istirahat. Makan kali ini terasa sangat nikmat karena diselingi dengan canda tawa bersama anak-anak dan ibuku.
Tak lama setelah kami makan Farenzy anak bujangku pamit katanya ia juga mau kekantornya sekedar memeriksa keadaan perusahaannya dan karyawan-karyawannya. Aku bangga pada anak ku Farenzy, selain pewaris untuk perusahaan papanya dia juga adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Dia tidak hanya memiliki banyak relasi dengan perusahaan-perusahaan lain yang ada di Hong Kong ini, tapi juga memiliki relasi di Turki dan beberapa juga dengan perusahaan yang ada di Indonesia, Brunai, Malaysia dan Singapura. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan terutama bagi diriku sendiri sebagai mamanya.
Aku kembali ke kamar dan mengambil handphone milik ku. Aku mencoba untuk menelpon suamiku, beberapa kali aku melakukan panggilan keluar namun satu pun tak ads yang diangkatnya. Kuingat sepertinya suamiku tidak memiliki jadwal yang sangat padat dan sangat lenting hari ini. Karena aku sebagai isterinya dan juga bekerja di perusahaan kami aku tahu persis jadwal-jadwal kegiatan suamiku di perusahaan.
Jadi kalau tidak ada kegiatan yang teramat sibuk dan lenting mengapa ia tidak mau mengangkat telephone dari ku? Hemmm.. dari pada aku makin kesal dengan suamiku aku berpikir untuk refresing keluar rumah. Segera ku ambil tas kecil dengan merk ternama yang ku punya dari dalam lemariku, lalu aku berencana untuk sekedar berjalan-jalan ke pasar swalayan sambil berbelanja beberapa kebutuhan.
"Nasya, mama mau pergi dulu ya.." Aku memberi tahu anakku Nasya.
"Iya ma, mama mau pergi kemana?" Tanya Nasya.
"Nggak, cuma keluar sebentar saja." Jawabku. Aku tidak menerangkan secara pasti kemana aku akan pergi.
"Owh.. ya sudah hati-hati ya ma sekarang masih sering ada gempa-gempa susulan."
"Iya sayang.. kamu dirumah saja temani nenek mu dan juga Aini ya."
"Iya ma."
Kemudian aku pergi menuju swalayan yang ingin ku kunjungi, siapa tahu ada barang-barang promo yang menarik. Ku pacu laju mobilku dengan semangat. Di sepanjang jalan kota Hong Hong masih nampak terlihat beberapa bangunan dengan puing-puing nya runtuh karena guncangan gempa dahsyat yang telah terjadi beberapa hari yang lalu. Begitupun dengan pepohonan besar yang tumbang, beberapa diantaranya sudah di bersihkan dan beberapa pohon yang lain masih tergeletak di bahu-bahu jalan. Berita di TV lokal pun beberapa hari ini masih menyiarkan tentang keadaan kota Hong Kong pasca terjadinya gempa.
Sesampai di parkiran swalayan itu aku langsung memilih tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Tapi sebelum aku mematikan mesin mobilku, aku melihat seorang laki-laki dengan perawakan sama persis dengan suamiku sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita. Mereka berjalan persis didepan mobil yang sedang ku parkir. Ya, seperti aku tidak salah lihat kali ini aku yakin betul bahwa itu adalah suamiku.
Dan wanita itu tadi adalah Lina Wong sekretris di kantor kami. Deg.. Jantung ku terasa terhenti seketika. Ada apa ini? Tuhan.. apa yang harus aku lakukan? Spontan aku langsung mematikan mesin mobilku, dan kemudian aku langsung keluar dari dalam mobil. Otakku terasa kosong. Tak mampu berpikir apa pun. Yang ku tahu hanyalah aku harus segera menghampiri mereka sekarang juga. Dengan langkah yang ku percepat hingga nampak sedikit berlari kecik berniat untuk mengejar dan melabrak mereka. 'Sungguh ini tidak bisa dibiarkan'. Pikirku.
__ADS_1
Dengan jarak tinggal beberapa meter saja antara aku dan mereka tapi lalu mereka tiba-tiba langsung masuk kedalam sebuah mobil. Tapi itu bukan mobil milik suamiku juga bukan mobil milik Lina Wong,dan juga bukan mobil inventaris kantor. Jadi itu mobil siapa. Kemudian mobil itu langsung melaju. Mereka pergi.
Bersambung..