
Pov. Aini
Sesampainya dirumah setelah menyapa nenek dan Dina aku langsung masuk kekamarku. Ku hempaskan tubuhku diatas tempat tidurku. Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Seakan aku tak percaya dengan pengkuan Farenzy tadi. Tuhan..! Apakah aku sedang bermimpi?
Mengapa semua terjadi begitu saja. Mampukah aku bertahan diatas segala perbedaan ini? Aku terlalu bodoh, hingga terlambat menyadari dengan siapa aku jatuh cinta. Tuan Muda, maafkan aku karena telah mencintaimu.
Anganku berkelana, pikiranku melayang tak tentu arah tujuan. Berjuta tanya kembali hadir menghantui hatiku. Bagaimana jika mama dan papa mengetahui akan hubunganku dengannya. Apakah ada rasa curiga yang begitu besar pada Nasya sehingga ia sampai mengatakan itu padaku.
Entah sebenarnya apa tujuan Nasya malam itu aku juga kurang paham akan hal tersebut. Tapi tadinya aku sempat berharap bahwa Nasya salah berkata atau aku yang salah mendengar. Atau hanya sekedar candaan Nasya saja namun ternyata itu semua benar. Aku tidak salah mendengar dan Nasya pun tidak salah berkata. Juga ia tidak sedang bercanda. Farenzy telah mengakui segalanya.
Meski Farenzy telah berjanji padaku bahwa ia akan tetap mencintaiku dan tidak akan pernah mengakhiri hubungan kami namun kadang masih terselip rasa was-was dihatiku. Bagaimana jika ia berbohong. Bagaimana jika mama, papa, Nasya dan juga nenek tahu akan hubungan yang selama ini telah terjalin antara aku dan Farenzy.
Mungkinkah mereka semua akan tetap mempercayaiku seperti sekarang ini ataukah mereka justru akan mengusirku dari kehidupan mereka dan berpikir bahwa aku bersalah atau mereka akan berpikir bahwa aku telah memanfaatkan kebaikan yang keluarga mereka berikan.
Hari ini sungguh sangat melelahkan bagiku, belum ditambah lagi semalam aku kurang tidur. Sehingga lelah dan kantuk ini menyatu membuat aku terbuai dalam lamunan hingga berlayar kealam mimpi. Aku tertidur. Entah untuk berapa lamanya. Hingga saat ku buka mataku rasa dingin menyeruak membuat sekujur tubuhku kedinginan. Ku raba Handphone-ku kulihat jam ternyata pukul dua pagi waktu Hong Kong.
Ternyata aku tertidur sejak sore dan belum mengganti pakaian kerjaku. Aku tidur masih menggunakan pakaian kerja lengkap dengan sepatu. Aku bangun dan duduk di tepiab tempat tidur masih ada sisa kantuk namun ku paksakan untuk bangun dan melepaskan pakaian kerja menggantinya dengan pakaian rumah. Lalu aku kembali tidur.
Tok..tok..tok..
Suara pintu kamarku diketok.
"Assalamualaikum Aini, apa kamu baik-baik saja?" Suara mama mengikuti ketokan pintu tadi yang memaksaku untuk membuka mata. Dengan malas aku menjawab sapaan mama tersebut.
"Waalaikumsalam ma, iya ma Aini baik-baik saja." Jawabku dengan suara serak dan segera bangun meski malas masih menyelubungi hatiku. Aku bangun dan membukakan pintu untuk mama.
"Benar kamu baik-baik saja nak?" Tanya mama dengan nada khawatir.
"Iya ma." Jawabku.
__ADS_1
"Nenekmu dan Dina mengatakan kalau kamu sejak pulang kerja kemaren sore tidak mau keluar kamar, mereka bilang saat kamu pulang kerja wajahmu sangat kusut. Apa kamu sakit Ai?" Tanya mama panjang lebar.
"Ah, nenek sama Dina mengada-ada saja ma. Aini cuma kecapean saja kok ma. Kemaren Aini pulang sangat ngantuk lalu Aini tertidur." Aku menjelaskan pada mama.
"Sungguh? Apa kamu yakin sedang tidak ada masalah Aini?" Mama kembali bertanya sepertinya ia masih kurang yakin dengan jawaban yang aku beri.
"Sungguh ma." Jawabku.
"Boleh mama masuk?" Mama bertanya apakah ia boleh masuk kejamarku. Dengan spontan aku menjawab dengan anggukan.
"Iya boleh ma, silahkan ma." Jawabku sambil mengangguk.
Kemudian mama masuk kekamarku dan aku mengikutinya setelah menutup kembali pintu kamarku. Dalam hati aku bertanya ada apa sebenarnya? Sepertinya ada sesuatu yang ingin mama sampaikan padaku tapi aku juga belum tahu apakah itu. Lalu tanpa aku persilahkan mama langsung duduk di tepian ranjangku.
Aduh, jangan sampai mama marah. Atau apa mungkin mama sudah tahu perihal hubunganku dengan Farenzy putranya. Ah, aku tak tahu dari pada aku menebak-nebak lebih baik aku tanyakan saja pada mama ada perlu apa.
"Ah, tidak ada apa-apa Ai. Mama cuma mau tanya sesuatu saja padamu. Boleh?"
"Tentu saja boleh ma. Silahkan ma tanya saja apa yang ingin mama tanyakan."
"Eemmm.. jadi begini Ai. Sekarang kamu sudah satu tahun bersama kami. Apa ada keluhan yang kamu rasakan selama tinggal bersama keluarga kami ?" Tanya mama padaku.
"Iya ma, Alhamdulillah Aini sangat senang berada ditengah-tengah keluarga ini. Dan sampai sejauh ini sama sekali tidak ada keluhan yang Aini rasakan ma." Terangku pada mama.
"Sungguh?"
"Sungguh ma."
"Baiklah syukur kalau benar begitu. Tapi apa kamu sudah punya teman laki-laki?"
__ADS_1
"Maksud mama?"
"Emm.. apa kamu sudah punya pacar di sini Aini?"
"Ah, mama ada-ada saja. Sejak awal kedatangan Aini ke Hong Kong ini adalah untuk bekerja ma. Mencari uang untuk masa depan." Tegasku.
"Owh, baiklah. Sejauh mana perkenalanmu dengan Farenzy?" Tiba-tiba mama juga menanyakan perihal Farenzy. Jangan-jangan mama juga mulai mencurigai hubungan kami aku harus menyembunyikannya rapat-rapat jangan sampai mama tahu.
"Mengapa mama bertanya seperti itu? Aku dan mas Farenzy hanya sekedar teman biasa saja ma. Tidak ada hubungan spesial apa pun." Jawabku.
"Apa kamu tahu siapa kekasih Farenzy?" Mama kembali bertanya. Sepertinya kali ini aku dituntut untuk sedikit berkata bohong pada mama. 'Maafkan Aini ya ma'.
"Sejelasnya Aini tidak tahu ma, tapi dulu pernah sekali Aini bertemu dengan mas Farenzy dia sedang bersama dengan seorang gadis bermata sipit mungkin gadis itu orang pribumi Hong Kong ini ma." Jawabku mengarang cerita.
"Owh, begitu. Iya gadis itu asli orang Hong Kong ini. Dan mama tidak menyetujui hubungan mereka. Mama meminta Farenzy untuk menjauhi wanita tersebut. Mama ingin Farenzy kelak bisa menikah dengan orang kita dari Indonesia. Tapi harus yang sederajat dengannya. Mama tidak mau sembarangan memilih menantu. Semua harus sesuai persetujuan mama." Tegas mama.
"Lalu bagaimana jika misalnya mas Farenzy mendapat jodoh orang indonesia namun bukan berasal dari keluarga kaya, apa mama akan menolaknya?" Aku bertanya pada mama untuk menyelidiki kesetujuan mama.
"Iya pasti itu. Mama pasti akan menolaknya."
"Tapi bagaimana jika mereka saling mencintai?"
"Halah Aini.. jaman sekarang ini nak, mana ada lagi cinta-cintaan. Yang penting ialah uang dan kedudukan." Jawab mama.
Jawaban mama itu seolah menyudutkan aku. Aku terenyah mendengarnya. Secara tidak langsung mama telah memberitahuku bahwa ia tidak menyetujui hubunganku dengan mas Farenzy. Secara jelas ia memberitahuku bahwa derajat kami berbeda. Dan ia tidak peduli akan cinta yang telah hadir di antara aku dan Farenzy putranya.
Mama pamit untuk keluar dari kamarku setelah perbincangan kami seputar persetujuannya dengan hubungan yang putranya jalani selesai. Kata mama aku harus menyelidiki dengan siapa mas Farenzy menjalin hubungan percintaan. Tapi kurasa itu tidak perlu karena akulah yang ia maksud. Tapi dihadapan mama ku iyakan saja permintaannya itu.
Bersambung ...
__ADS_1