Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.53. Gema Rindu Untuk Aini


__ADS_3

Pov. Farenzy


Bulan pertama di tahun 2020 ini berlalu dengan kelabu. Bukan hanya karena adanya sebuah wabah penyakit baru tersebut namun juga karena kecerobohan papaku. Ya, papaku sangat ceroboh. Mengapa dia harus melakukan perselingkuhan itu. Apa yang ia anggap kurang dari wanita seperti mamaku. Dia cantik, cerdas, dan bertalenta. Itu sudah papaku buktikan dan rasakan selama berpuluh tahun membina rumah tangga dengan mama.


Meski mungkin apa yang ia lakukan mungkin baginya hanyalah sebuah keisengan semata namun tanpa ia sadari buah dari perbuatannya itu berakibat sangat buruk untuk dirinya sendiri, keluarga kami dan bahkan perusahaan yang sudah sejak dulu ia dan mamaku rintis.


Andai saja papa tidak menghianati mama, pasti ia tak akan pernah terjebak kedalam masalah yang sehina ini. Kadang jika rasa kekecewaanku dengan papa muncul, rasanya aku ingin sekali berteriak. Dan memaki papa. Karena tindakan bodohnya kini aku, mama dan juga adikku Nasya harus menambah kesibukan kami. Yang tadinya tidak pernah terpikirkan tapi kini justru harus kami lakukan. Seperti kesana-kesini mencari pengacara dan kuasa hukum untuk papa itu juga sudah sangat menyita waktu. Dan tak hanya menyita waktu kami tapi juga menyita banyak pemikiran.


Dalam hal ini sebenarnya mamaku lah yang paling menderita. Kasihan mamaku. Ia ternyata telah ditipu dan dimanfaatkan oleh suminya sendiri.


***


Ah, sudahlah lupakan dulu urusan dengan papaku. Kini aku hanya ingin membicarakan segalanya tentang Aini.


Semenjak merebaknya wabah penyakit yang disebut sebagai Corona ini aku dan Aini nyaris tak pernah bertemu. Bisa dibayangkan betapa rindunya hatiku pada Aini. Aku rindu kemanjaan-kemanjaannya, rindu bersenda gurau dengannya. Apa lagi semenjak papaku terseret kasus aku bahkan jarang berkomunikasi dengannya meski hanya melalui pesan ataupun telepon.


Itu bukan sengaja aku lakukan, tapi suasana hatiku sungguh masih kacau. Meskiinim komunikasi namun bukan berarti berkurang perasaanku pada Aini. Sama sekali tidak. Aku bahkan sesungguhnya sangat merindukannya dan rindu itu semakin terasa disaat aku termenung sendiri.


Aku mencoba mencari cara bagaimana agar aku dan Aini bisa bertemu. Nun sepertinya keadaan memang belum mengizinkan adanya lertemuan antara aku dan Aini. Selain jarak yang lumayan jauh dan harus melalui beberapa kali pos penjagaan syarat yang harus dilakukanpun ku rasa masih terlalu sibuk. Dan suasana kota Hong Kong akhir-akhir ini memang masih mencekam seolah menjadi kota mati.


Namun biarlah begitu tapi jangan sampai cintaku dan Aini ikut terpengaruh oleh buruknya keadaan yang kini sedang terjadi. Maka aku mencoba untuk menghibungi Aini meski sesungguhnya ini sudah hampir tengah malam dan mungkin saja Aini sudah terlelap dalam tidurnya namun hasrat kerinduanku memaksa untuk tetap menghubinginya.


Tut..tut..tut..


Telepon ku tersambung, tapi belum ada tanda-tanda Aini mengangkatnya.

__ADS_1


Aku coba lagi mengulang panggilan namun hasilnya sama saja. Setelah tiga kaliengulang panggilan dan semua hasilnya sama tak ada jawaban dari Aini maka akupun pasrah saja. Bungkin benar saat ini Aini sudah tidur. Pikirku.


Akan aku ulangi menelponnya besok pagi-pagi agar aku bisa mendengar suara Aini yang sangat aku rindukan. Malam sampaikan salam rinduku untuknya. Peluklah ia dan berilah ia kehangatan dalam dinginnya cuaca musim dingin ini. Semoga bayangku akan hadir dan menghiasi mimpi dalam tidurnya malam ini. Sehingga ia bisa merasakan kerinduan yang menggema dihatiku.


Saat cahaya sang fajar menyongsong memerah menghapus embun pada butiran salju, dahan kering patah karena tak kuat menahan salju yang menempel sejak semalam dan belum juga mencair dan mungkin tak akan pernah cair karena meski cuaca terang namun suhu dingin masih tetap saja terasa. Hingga dahan itu memilih untuk menyerah dan patah saja. Mungkin ini jalan keluar terbaik menurutnya.


Meski sebenarnya mataku masih ada sisa kantuk semalam namun demi mendengar suara Aini, orang yang sangat aku rindukan maka segera ku ambil gawaiku. Aku akan menelponnya sekarang juga. Tuhan..! Gerakan hatinya untuk mau mengangkat telepon dariku.


Tut..tut..tut..


Pertanda teleponku masuk dan tersambung. Dan tak lama kemudian yang sejakmsemalam aku tunggu akhirnya tiba juga. Aini benar mengangkat telepon dariku.


"Halo, Assalamualaikum mas." Sapanya dari seberang sana dengan nada lembut khas Aini. Nada suara yang sangat aku rindukan dan selalu aku rindukan.


"Eh, iya mas ini aku baru saja bangun tidur. Ada apa ya mas kok tumben pagi-pagi seperti ini sudah menelpon?"


"Hehehe... Iya sayang maaf ya kalau aku mengganggumu. Sebenarnya nggak ada apa-apa cuma aku kangen banget sama kamu."


"Tu.. kan mas ini pagi-pagi sudah menggombal saja kerjaannya."


"Aku tidak menggombal, kalaupun kamu merasa aku gombali itu cuma perasaan kamu saja sayang."


"Uh.. dasar. Awas kamu ya mas."


"Awas gimana?"

__ADS_1


"Ya awas saja kalau nanti kita ketemu."


"Lalu kalau kita ketemu kamu mau apa hayo?"


"Aku mau cubitin pipinya mas."


"Jangan di cubitin donk.. kan nanti sakit."


"Biarinlah.."


"Kok kamu tega. Kalau gitu aku nggak mau lah ketemuan sama kamu.hehee"


"Tadi katanya kangen.. kok malah nggak mau ketemu."


Yah, kurang lebih begitulah percakapan kami pagi ini. Sebenarnya masih banyak lagi yang kami bicarakan karena durasi telepon yang kami lakukan tadi lebih dari dua jam. Rasanya tak ingin aku mengakhiri percakapan ditelepon tadi. Sangat menyenangkan meski hanya obrolan-obrolan kosong dan biasa namun sangat berarti bagiku untuk sekedar mengurangi beratnya kerinduan yang terpendam.


Semoga kondisi pandemi ini secepatnya berakhir sehingga aku bisa cepat pula bertemu dengan pujaan hatiku. Wabah penyakit yang berasal dari Wuhan ini sangatlah berbahaya, setiap hari kematian akibatnya terus saja bertambah. Tapi ada kabar terbaru katanya vaksin untuk Corona ini sudah ditemukan oleh tim dokter yang didatangkan dari berbagai negara. Dan di China yangmana merupakan negara asalnya telah direncanakan pembuatan rumah sakit khusus untuk para pasien penyakit ini.


Dan satu lagi yang menyedihkan adalag kabarnya Corona juga telah menginfeksi tak hanya dinegara-negara yang ada didataran China saja melainkan juga sudah menyebar hampir keseluruh Asia, dan bahkan dunia kini sedang mengantisipasi masuknya penyakit ini ke negara-negara yang belum terindikasi.


Ini adalah awal Februari, yangmana kondisi kami disini sedang gawat-gawatnya. Banyak tenaga kerja dan Mahasiswa yang berasal dari negara-negara lain dipulangkan kenegara asal mereka. Kami sekeluarga juga tak kalah khawatir mendengar kabar ini. Bagaimana jika kami terpaksa harus dipulangkan juga ke Indonesia lalu bagaimana nasib papa. Sedangkan papa yang statusnya bukan tersangka namun masih menunggu persidangan dan tidak diperbolehkan pulang apakah harus kami tinggalkan, itu yang menjadi pikiranku saat ini.


Namun ada sedikit kelegaan disaat pihak KEDUBES Indonesia menyatakan bahwa tidak ada pemaksaan bagi warga negara Indonesia yang ada di Hong Kong untuk dipulangkan karena Hong Kong bukan merupakan pusat dari adanya wabah penyakit ini. Maka kami sekeluarga memilih untuk tetap bertahan saja meski dalam kondisi sulit seperti ini sekalipun.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2