
Pov. Aini
Ini adalah hari kedua aku bekerja di restoran yang merupakan tempat kerja baruku. Semangat
dalam jiwaku seolah menggebu-gebu. Aku sangat senang karena dalam waktu sehari aku sudah
memiliki beberapa orang kenalan disana. Karyawan-karyawan di restoran itu ternyata baik-baik
semua. Diantara mereka ada tiga orang perempuan yang berasal dari Indonesia, dua orang dari
Filipina, empat orang dari Malaysia dan tiga orang lainnya dari India juga lima orang lainnya juga
merupakan warga tiongkok lokal dari Hong Kong ini saja. Kami semua karyawan di restoran ini
adalah umat muslim.
Ini salah satunya yang membuatku semakin merasa nyaman dan tenang. Siempunya restoran ini
adalah seorang muslim yang berasal dari Saudi Arabia. Meski kami bekerja dengan penuh
keberagaman namun justru menambah eratnya rasa persaudaraan yang terjalin diantara kami.
Kemarin sore saat bertemu dengan Nia di taman, Nia memberitahuku bahwa didaerah ini memang
merupakan tempat terbanyak umat muslimnya di kota Hong Kong. Nia memberitahuku meski dia
sendiri masih belum lama tinggal disini tapi dia sudah memiliki banyak kenalan itu karena umat
muslim disini terkenal dengan keramahannya.
Dan siang ini ketiga temanku yang juga berasal dari Indonesia mengajakku untuk sholat Dzuhur du
masjid Jamiya. Yang konon katanya masjid ini adalah salah satu masjid yang paling tersohor
dikota Hong Kong ini. Ketiga teman baruku itu ialah Laila, Tina, dan juga Rina. Dari restoran tempat
kami bekerja kami hanya berjalan kaki beberapa meter saja karena jarak antara restoran dan
masjid yang memang tidak begitu jauh. Sekalian pikirku supaya aku bisa lebih mengenal daerah
ini yang merupakan tempat baru bagiku.
"Aini kita mau sholat di masjid Jamiya. Kamu mau ikut?" Tanya Laila padaku.
"Masjid Jamiya?" Tanyaku. Sepertinya aku tertarik dengan ajakan Laila tadi.
"Iya. Ayo kalau mau kita kesana bersama-sama. Tina dan Rina juga mau." Laila meyakinkanku.
Aku mengangguk pertanda menyetujui ajakan Laila. Sementara itu Tina dan juga Rina sudah
bersiap menunggu kami berdua. Lalu kami berempat berjalan bersama menuju masjid Jamiya.
Sesampainya kami dipelataran Masjid Jamiya dari kejauhan aku melihat seseorang yang
sepertinya sudah sangat tidak asing lagi bagiku. Tapi aku berusaha untuk menepis apa yang ada
dalam pikiranku. Farenzy. Ya semakin memasuki area masjid maka semakin dekat jarak antara dan
teman-temanku dengan orang itu. Dan ternyata benar saja dia adalah Farenzy. Ada apa? Mengapa
__ADS_1
dia ada disini? Apa yang ia lakukan? Apakah dia tahu aku ada disini? Apakah ia memata-matiku?
Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosiku.
Aku tidak mau Farenzy menyadari
keberadaanku. Dan aku juga tidak mau kalau sampai teman-temanku tahu saat ini aku sedang ada
dalam dilema. Saat kami berpapasan, aku sadar kalau Farenzy sedang memperhatikan aku. Maka
aku berbisik dengan Laila memberitahunya kalau saat ini sedang ada orang dari keluarga
majikanku terdahulu yang memata-matiku dan ia sedang mengikuti kami. Maka dari itu aku
memohon kepada Laila supaya ia bisa membantuku.
"Dubruuuk.." kulirik ternyata Farenzy terjatuh, kakinya terkilir."
Aini ini kesempatanmu." Laila berbisik laly menarikku kearah yang berbeda. Dan entah dari mana
tiba-tiba secepat kilat Laila menggantikan posisiku tadi dengan seseorang yang juga berpakaian
sama seperti kami. Ya, dia adalah Sheera. Teman kami juga yang berasal dari India. Laila memberi
isyarat kepadaku agar tetap diam bersembunyi disudut yang sedikit gelap itu.
Sementara aku menyaksikan Farenzy meringis karena kesakitan akibat kakinya yang baru saja
terkilir. Kemudian dia kembali berjalan dengan menyeret kakinya yang mungkin masih terasa sakit.
Ada sedikit rasa tegang yang menghampiriku. Terutama saat Farenzy melintasi tempat
persembunyianku. Aku khawatir dia melihatku. Tapi ternyata tidak. Dia tetap berjalan dengan
"Aini..!" Farenzy menyebut namaku. Membuat aku sejenak menoleh kearah Farenzy dan teman-temanku ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ternyata Farenzy menyentuh lengan Sheera sambil menyebutkan namaku. Lalu kemudian Sheera
membalikan badannya hingga membuat Farenzy bisa melihat wajah Sheera. Dan sangat nampak
sekali betapa terkejutnya Farenzy saat melihat bahwa ternyata yang ia panggil tadi adalah orang
lain bukan aku. Ada rona malunpada raut wajahnya. Kemudian kulihat ia meminta maaf kepada
Sheera karena ia sudah salah orang. Dan kemudian Farenzy kembali pergi mungkin ia kembali
ketempat semula ia duduk. Yaitu diberanda Masjid Jamiya ini.
Tak lama setelah Farenzy berlalu meninggalkan teman-temanku aku pun segera keluar dari tempat
persembunyian ku tadi. Ada rasa kasihan yang kurasakan dihatiku tapi ada juga sebuah rasa sedih
yang tak bisa untuk ku dustai. Aku kasihan karena melihatnya menyapa orang yang salah.
Namun
rasa sedih itu juga hadir karena ternyata Farenzy masih mencariku. Bahkan ia mencariku hingga
hari ini dan sampai ketempat ini.
__ADS_1
Aku sedih karena rasa kekecewaan terhadap keluarganya mampu menghalangiku untuk
melangkah menemuinya. Aku tahu seharusnya tadi aku menemuinya. Aku tahu sebaiknya aku
tidak bersembunyi dan harus menemuinya lalu kami saling bercerita dan melepas rindu dalam
segala penat yang telah memisahkan kami. Tapi tidak. Aku tidak mau menemuinya. Egoku juga tak
tak bisa untuk aku halangi.
Aku harus menjauhinya, entah sampaikapan aku juga belum tahu pasti. Yang kelas saat ini aku
belum siap untuk bertemu dengannya. Rasa kekesalanku terhadap mama dan Nasya belum juga
reda. Namun bukan berarti aku sudah tidak mencintainya. Perasaanku hingga saat ini tidak ada
yang berubah padanya. Aku masih sangat mencintainya dan sangat merindukannya tapi
menghilang sejenak agar hati ini tenang itu pun sangat aku butuhkan.
Terlebih aku juga harus
membuktikan pada mama dan Nasta khususnya bahwa aku masih bisa bertahan hidup di Hong
Kong ini meski tanpa bantuan dan pertolongan dari mereka.
Masih banyak orang-orang baik yang mau membantuku dan mau menerima kehadiranku disini. Itu
yang harus aku tunjukan pada mama dan Nasya. Aku juga bisa mendapat pekerjaan meski bukan
bekerja dengan mereka dan bukan pula bekerja diperusahaan mereka.
"Hei Aini, siapa dia?" Tiba-tiba Tina bertanya padaku.
"Dia anak majikanku terdahulu." Jawabku.
"Mengapa dia mencarimu? Kamu masihbada urusan dengannya atau dengan keluarganya?" Rina
juga ikut bertanya.
"Ah, tidak. Kami sama sekali tidak ada urusan lagi." Jawabku pada Rina.
"Oh, aku kira kalian sedang ada masalah. Tapi sepertinya dia sangat berharap bisa bertemu
denganmu. Atau mungkin dia kesini memang hanya untuk mencarimu." Tambah Rina lagi.
"Ah, kamu ini Rin ada-ada saja. Untuk apa dia mencariku. Sudah kukatakan tadi alubsudah tidak
ada urusan dengan mereka jadi untuk apa lagi dia mencariku hingga sampai kesini. Hanya buang-
buang waktunya saja." Tegasku.
"Iya, ya benar juga." Rina memahami apa yang baru saja aku katakan.
Syukurlah teman-temanku bisa menerima alasan yang baru saja aku sampaikan. Aku sungguh
belum ingin ada pertemuan dengan Farenzy. Biarlah untuk saat ini kami hanya menyimpan segala
kerinduan kami masing-masing dan mungkin kelak suatu saat kami akan kembali berjumpa meski
__ADS_1
entah kapan waktunya aku juga belum tahu.
Bersambung...