Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.83. Tak Sengaja Bertemu Farenzy


__ADS_3

Pov. Aini


Ini adalah hari kedua aku bekerja di restoran yang merupakan tempat kerja baruku. Semangat


dalam jiwaku seolah menggebu-gebu. Aku sangat senang karena dalam waktu sehari aku sudah


memiliki beberapa orang kenalan disana. Karyawan-karyawan di restoran itu ternyata baik-baik


semua. Diantara mereka ada tiga orang perempuan yang berasal dari Indonesia, dua orang dari


Filipina, empat orang dari Malaysia dan tiga orang lainnya dari India juga lima orang lainnya juga


merupakan warga tiongkok lokal dari Hong Kong ini saja. Kami semua karyawan di restoran ini


adalah umat muslim.


Ini salah satunya yang membuatku semakin merasa nyaman dan tenang. Siempunya restoran ini


adalah seorang muslim yang berasal dari Saudi Arabia. Meski kami bekerja dengan penuh


keberagaman namun justru menambah eratnya rasa persaudaraan yang terjalin diantara kami.


Kemarin sore saat bertemu dengan Nia di taman, Nia memberitahuku bahwa didaerah ini memang


merupakan tempat terbanyak umat muslimnya di kota Hong Kong. Nia memberitahuku meski dia


sendiri masih belum lama tinggal disini tapi dia sudah memiliki banyak kenalan itu karena umat


muslim disini terkenal dengan keramahannya.


Dan siang ini ketiga temanku yang juga berasal dari Indonesia mengajakku untuk sholat Dzuhur du


masjid Jamiya. Yang konon katanya masjid ini adalah salah satu masjid yang paling tersohor


dikota Hong Kong ini. Ketiga teman baruku itu ialah Laila, Tina, dan juga Rina. Dari restoran tempat


kami bekerja kami hanya berjalan kaki beberapa meter saja karena jarak antara restoran dan


masjid yang memang tidak begitu jauh. Sekalian pikirku supaya aku bisa lebih  mengenal daerah


ini yang merupakan tempat baru bagiku.


"Aini kita mau sholat di masjid Jamiya. Kamu mau ikut?" Tanya Laila padaku.


"Masjid Jamiya?" Tanyaku. Sepertinya aku tertarik dengan ajakan Laila tadi.


"Iya. Ayo kalau mau kita kesana bersama-sama. Tina dan Rina juga mau." Laila meyakinkanku.


Aku mengangguk pertanda menyetujui ajakan Laila. Sementara itu Tina dan juga Rina sudah


bersiap menunggu kami berdua. Lalu kami berempat berjalan bersama menuju masjid Jamiya.


Sesampainya kami dipelataran Masjid Jamiya dari kejauhan aku melihat seseorang yang


sepertinya sudah sangat tidak asing lagi bagiku. Tapi aku berusaha untuk menepis apa yang ada


dalam pikiranku. Farenzy. Ya semakin memasuki area masjid maka semakin dekat jarak antara dan


teman-temanku dengan orang itu. Dan ternyata benar saja dia adalah Farenzy. Ada apa? Mengapa

__ADS_1


dia ada disini? Apa yang ia lakukan? Apakah dia tahu aku ada disini? Apakah ia memata-matiku?


Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosiku.


Aku tidak mau Farenzy menyadari


keberadaanku. Dan aku juga tidak mau kalau sampai teman-temanku tahu saat ini aku sedang ada


dalam dilema. Saat kami berpapasan, aku sadar kalau Farenzy sedang memperhatikan aku. Maka


aku berbisik dengan Laila memberitahunya kalau saat ini sedang ada orang dari keluarga


majikanku terdahulu yang memata-matiku dan ia sedang mengikuti kami. Maka dari itu aku


memohon kepada Laila supaya ia bisa membantuku.


"Dubruuuk.." kulirik ternyata Farenzy terjatuh, kakinya terkilir."


Aini ini kesempatanmu." Laila berbisik laly menarikku kearah yang berbeda. Dan entah dari mana


tiba-tiba secepat kilat Laila menggantikan posisiku tadi dengan seseorang yang juga berpakaian


sama seperti kami. Ya, dia adalah Sheera. Teman kami juga yang berasal dari India. Laila memberi


isyarat kepadaku agar tetap diam bersembunyi disudut yang sedikit gelap itu.


Sementara aku menyaksikan Farenzy meringis karena kesakitan akibat kakinya yang baru saja


terkilir. Kemudian dia kembali berjalan dengan menyeret kakinya yang mungkin masih terasa sakit.


Ada sedikit rasa tegang yang menghampiriku. Terutama saat Farenzy melintasi tempat


persembunyianku. Aku khawatir dia melihatku. Tapi ternyata tidak. Dia tetap berjalan dengan


"Aini..!" Farenzy menyebut namaku. Membuat aku sejenak menoleh kearah Farenzy dan teman-temanku ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.


Ternyata Farenzy menyentuh lengan Sheera sambil menyebutkan namaku. Lalu kemudian Sheera


membalikan badannya hingga membuat Farenzy bisa melihat wajah Sheera. Dan sangat nampak


sekali betapa terkejutnya Farenzy saat melihat bahwa ternyata yang ia panggil tadi adalah orang


lain bukan aku. Ada rona malunpada raut wajahnya. Kemudian kulihat ia meminta maaf kepada


Sheera karena ia sudah salah orang. Dan kemudian Farenzy kembali pergi mungkin ia kembali


ketempat semula ia duduk. Yaitu diberanda Masjid Jamiya ini.


Tak lama setelah Farenzy berlalu meninggalkan teman-temanku aku pun segera keluar dari tempat


persembunyian ku tadi. Ada rasa kasihan yang kurasakan dihatiku tapi ada juga sebuah rasa sedih


yang tak bisa untuk ku dustai. Aku kasihan karena melihatnya menyapa orang yang salah.


Namun


rasa sedih itu juga hadir karena ternyata Farenzy masih mencariku. Bahkan ia mencariku hingga


hari ini dan sampai ketempat ini.

__ADS_1


Aku sedih karena rasa kekecewaan terhadap keluarganya mampu menghalangiku untuk


melangkah menemuinya. Aku tahu seharusnya tadi aku menemuinya. Aku tahu sebaiknya aku


tidak bersembunyi dan harus menemuinya lalu kami saling bercerita dan melepas rindu dalam


segala penat yang telah memisahkan kami. Tapi tidak. Aku tidak mau menemuinya. Egoku juga tak


tak bisa untuk aku halangi.


Aku harus menjauhinya, entah sampaikapan aku juga belum tahu pasti. Yang kelas saat ini aku


belum siap untuk bertemu dengannya. Rasa kekesalanku terhadap mama dan Nasya belum juga


reda. Namun bukan berarti aku sudah tidak mencintainya. Perasaanku hingga saat ini tidak ada


yang berubah padanya. Aku masih sangat mencintainya dan sangat merindukannya tapi


menghilang sejenak agar hati ini tenang itu pun sangat aku butuhkan.


Terlebih aku juga harus


membuktikan pada mama dan Nasta khususnya bahwa aku masih bisa bertahan hidup di Hong


Kong ini meski tanpa bantuan dan pertolongan dari mereka.


Masih banyak orang-orang baik yang mau membantuku dan mau menerima kehadiranku disini. Itu


yang harus aku tunjukan pada mama dan Nasya. Aku juga bisa mendapat pekerjaan meski bukan


bekerja dengan mereka dan bukan pula bekerja diperusahaan mereka.


"Hei Aini, siapa dia?" Tiba-tiba Tina bertanya padaku.


"Dia anak majikanku terdahulu." Jawabku.


"Mengapa dia mencarimu? Kamu masihbada urusan dengannya atau dengan keluarganya?" Rina


juga ikut bertanya.


"Ah, tidak. Kami sama sekali tidak ada urusan lagi." Jawabku pada Rina.


"Oh, aku kira kalian sedang ada masalah. Tapi sepertinya dia sangat berharap bisa bertemu


denganmu. Atau mungkin dia kesini memang hanya untuk mencarimu." Tambah Rina lagi.


"Ah, kamu ini Rin ada-ada saja. Untuk apa dia mencariku. Sudah kukatakan tadi alubsudah tidak


ada urusan dengan mereka jadi untuk apa lagi dia mencariku hingga sampai kesini. Hanya buang-


buang waktunya saja." Tegasku.


"Iya, ya benar juga." Rina memahami apa yang baru saja aku katakan.


Syukurlah teman-temanku bisa menerima alasan yang baru saja aku sampaikan. Aku sungguh


belum ingin ada pertemuan dengan Farenzy. Biarlah untuk saat ini kami hanya menyimpan segala


kerinduan kami masing-masing dan mungkin kelak suatu saat kami akan kembali berjumpa meski

__ADS_1


entah kapan waktunya aku juga belum tahu.


Bersambung...


__ADS_2