Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 90. Kebaikannya Menyentuh Hati


__ADS_3

Wing..wing...wing..


suara sirine mobil polosi terdengar semakin jelas. Dan benar saja ada mobil polisi sedang menuju ke bangunan kosong dimana saat ini Lim sedang dikeroyok oleh kedua preman yang tadi berniat jahat padaku. Seorang warga tadi sudah menelpon kantor polisi dan melaporkan kejadian yang sedang terjadi saat ini.


Ada sedikit rasa lega dihatiku karena kedatangan pihak polisi ini kelokasi, namun aku masih saja khawatir dengan keadaan Lim saat ini didalam bangunan kosong itu, maka dari itu aku dan beberapa warga segera berlarian menuju lokasi. Sesampainya kami disana salah seorang warga langsung masuk dan diikuti oleh pihak dari kepolisian. Begitupun dengan aku, aku ikut masuk mengikuti mereka.


Saat kami masuk keadaan begitu tegang karena Lim nampak sedang melakukan pululan terhadap salah satu pemuda sedangkan salah satu pemuda yang lain tengah terkapar dan kesakitan. Entah apa yang sudah dilakukan Lim kepadanya sehingga bangun saja dia tidak bisa.


"Lim..!" Aku memanggilnya.


Kemudian Lim menghentikan pukulannya dan melihat kearah kami yang sudah betdiri didepan pintu masuk. Lalu salah seorang polisi melepaskan tembakannya hingga membuat Lim dan juga kedua peria itu diam tak berkutik.


Karena sebelumnya aku sudah menjelaskan bahwa Lim adalah orang yang menyelamatkan aku sedangkan kedua peria itu adalah yang melakukan kejahatan terhadap aku. Maka polisi membawa kedua pemuda tersebut mekantor polisi sedangkan Lim diperbolehkan untuk pulang.


***


Setelah kejadian menakutkan pagi ini aku memutuskan untuk izin dan tidak masuk kerja dulu. Kunci Restoran aku titipkan pada temanku. Lim tidak langsung pulang melainkan aku sarankan untuk berobat terlebih dahulu ke klinik kesehatan yang tidak jauh dari situ. Dokter mengobati beberapa luka di tangan, kaki dan juga diwajah Lim. Aku menemaninya disana.


'Maafkan aku Lim, karena menolongku kamu harus seperti ini.' Gumamku saat Lim tertidur mungkin karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter tadi.


Aku terenyuh melihat mebaikan Lim, walaupun sebenarnya kami tidak saling kenal namun ia rela berkorban seperti ini demi menyelamatkan aku. Tidak saling kenal maksudku ialah kami tidak saling tahu siapa dan bagaimana. Kami hanya saling tahu nama saja, tapi tidak untuk urusan yang lainnya.


Aku tidak tahu dari mana dia berasal, apakah dia asli dari Sherly Street ini ataukah dari tempat lain. Atau bahkan mungkin dari luar Hong Kong aku tidak tahu karena dia belum pernah memberi tahuku. Dia juga hanya tahu bahwa aku adalah orang Indoneaia dan tidak tahu persis detailnya dari Indonesia mana, dan sebagai apa aku disini.

__ADS_1


Ku tatap kembali sekujur tubuhnya yang terkulai lemah, dengan memar yang seolah menjadi saksi bahwa dia berjiwa kesatria. Demi mrnyelamatkan aku dia rela melakukan pergelutan dengan kedua preman tdi. Terimakasih Lim. Bisikku pada telinganya.


***


Aku merasakan ada sentuhan tangan dikepalaku. Ya ampun tadi aku tertidur. Dan Lim mencoba untuk membangunkan aku dengan cara mengelus-elus rambutku. Kuangkat kepalaku dan kulihat Lim tersenyum padaku dan senyumannya itulah yang membuat aku menjadi merasa malu hingga kurasakan pipiku memerah.


"Lim?"


"You tired and slepy?" (Kamu Lelah dan ngantuk?) Tanya Lim padaku.


"Hemm.. Sorry.." (Hemm.. Maaf). Hanya jawaban itu yang bisa keluar dari mulutku saat ini.


Duh.. kenapa bisa aku ketiduran disamping Lim seperti ini? Dasar kamu Aini bikin malu saja. Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Kali ini aku benar-benar dibuat tersipu malu oleh Lim. Bagaimana tidak, dia menatapku seolah penuh arti namun aku sendiri tidak tahu apa maksudnya lalu ia tersenyum dan senyumannya itu duh... manis sekali.


Lim mengejutkanku dari lamunanku, dia memintaku untuk memanggilkan susuter atau dokter. Lalu aku meburuti seperti yang Lim pintakan. Kemudian datanglah seorang dokter bersama dua orang suster. Dan Lim meminta untuk segera pulang karena ia merasa sudah baikan katanya dia bisa dirawat jalan saja. Setelah mengurus administra Lim lalu aku mengantarnya pulang. Untung saja aku masih memiliki uang simapanan sehingga aku bisa membayar pengobatan Lim di Klinik tadi sebagai rasa terimakasihku padanya.


Lim memintaku untuk mencarikannya taxi, setelah itu aku mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak salaing bicara namun lebih sering diam dengan angan kami masing-masing saja. Aku menikmati kekagumanku terhadapnya. Yang membuat aku kagum bukan hanya tentang ketampanannya saja namun juga kebaikan hati dan juga ketulusannya.


Lim memberikan sebuah alamat kepada si pengemudi taxi tersebut, sebuah nama tempat yang kedengaran asing ditelingaku. Yaitu Nathan Road, Tsim Sha Tsui, tapi aku tak mau berpikiran buruk. Aku yakin Lim adalah orang baik ia tidak akan mencelakaiku.


"Where we will to go?" (Kemana kita akan pergi). Aku bertanya pada Lim.


" We will to go to my grandma house." (Kita akan pergi kerumah nenekku). Jawabnya.

__ADS_1


Oh, ternyata kami akan pegi kerumah orangtuanya. Sejenak aku merasa lega, tapi kemudian kembali merasa khawatir. Bagaimana nanti reaksi keluarganya jika mereka tahu bahwa Lim tadi telah di keroyok oleh para preman karena menyelamatkan aku. Tapi dihadapan Lim aku mencoba untuk menyembunyikan segala kekgawatiran yang kurasa. Aku menarik napas panjang lalu perlahan membuangnya sebagai salah satu cara untuk bisa kembali merasa tenang.


"Qǐng zài qiánmiàn tíng xià..."(Mohon berhenti didepan ya). Pinta Lim kepada si pengemudi taxi.


"Hǎo de xiānshēng."(Baiklah Tuan). Jawab si pengemudi taxi tersebut.


Lalu taxi itu berhenti didepan sebuah gang, dan Lim mengajakku untuk turun. Setelah turun dari taxi Lim berjalan selangkah berada didepanku, aku mengikuti langkahnya dari belakang. Kami berjalan beriingan menapaki lekukan gang tersebut. Hingga kami tiba didepan sebuah rumah, Lim menghentikan langkahnya dan menatapku lalu ia tersenyum. Senyum yang sulit untuk ku artikan.


"Xiǎojiě qǐng jìn." (Silahkan masuk nona). Lim berkata padaku sambil ia membukakan gerbang besi setengah dada yang ada dihadapan kami.


Kali ini aku yang melangkah lebih dulu dari padanya. Meski ragu namun aku tetap melangkah masuk. Lalu Lim menyusul dibelakangku. Dan sejurus kemudian ia menggandeng tanganku lalu menuntunku untuk masuk. Sesampai didepan pintu Lim mengetok pintu rumah tersebut.


"Assalamualaikum.." Lim mengucapkan salam.


Dan tak menunggu lama ada balasan dari salamnya tadi dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam.." Seorang wanita tua keluar dan membukakan pintu untuk aku dan Lim. Kemudian ia mempersilahkan kami untuk masuk.


Ternyata ini adalah neneknya Lim, dia sangat ramah. Lim menjelaskan padaku bahwa ini adalah nenek dari pihak ayahnya. Dulu sewaktu kecil Lim banyak menghabiskan waktu disini. Keluarga Lim sering berkumpul dirumah ini pada saat-saat tertentu seperti pada puasa pertama dibulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan juga Idul Adha. Serta pada saat-saat hari besar keagamaan lainnya juga pada saat liburan sekolah atau cuti bekerja.


Nenek Lim memberikan sambutan yang hangat terhadap kedatangan kami. Sangat nampak bahwa ia sangat menyayangi Lim sebagi cucunya. Nenek Lim sangat ramah, namanya nenek Yoo Nei.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2