Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.74. Saat Aku Tiba Dirumah


__ADS_3

Pov. Aini


Sejujurnya aku bingung setelah kejadian dikantin siang tadi, apa yang harus aku lakukan. Aku


merasa bersalah pada mama dan juga Nasya. Karena walau bagaimana pun merekalah yang


selama ini telah memberiku perlindungan di tanah rantauan ini. Saat waktu pulang kantor tiba aku


semakin merasakan berbagaimacam perasaan yang berkecamuk luar biasa. Aku tak henti-hentinya


menyalahkan diriku sendiri.


Andaikan aku tidak memberitahu Farenzy tentang rencana mama dan juga Nasya mungkin tidak


akan terjadi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang selanjutnyanakan terjadi. Aku seolah


sepertinkacang lupa kulit, keindahan cinta yang telah membutakan hatiku. Aku bersalah karena


terlalu cepat percaya pada orang yang bahkan sama sekali tidak aku kenal hingga aku menjadi


ssbodoh ini.


Karena kebodohanku aku kehilangan kepercayaan yang dulu tidak mudah untuk aku dapatkan.


Dengan masih diselimuti perasaan bimbang aku melangkahkan kakiku yang seolah terasa semakin


berat karena perasaan bersalah yang menumpuk dihatiku. Namun aku harus tetap pulang kerumah


itu. Aku tahu mama pasti sangat marah padaku dan akubtak tahu nanti dirumah akan seperti apa


lagi sikap dan tidakan mama yang akan aku hadapi.


Tapi papa, nenek dan juga Dina mungkin mereka belum tahu apa-apa dengan masalah pelik yang


kini sedang aku hadapi. Bagaimana aku akan menceritakan semua ininpada mereka khususnya


nenek. Lalu nanti setelah mereka tahu apa juga reaksi mereka terhadap diriku.


Aku dan Farenzy sudah sepakat untuk sore ini aku pulang sendiri dulu dengan menggunakan


kendaraan umum supaya mama dan Nasya tidak bertambah emosi. Kata Farenzy ini demi


keselamatanku, dan aku pun menerima usulnya ini karena aku pikir ini adalah benar. Tapi entah


mengapa hatiku seolah terasa begitu berat untuk pulang dan berjumpa kembali dengan mereka.


Aku sepertinya tidak akan sanggup untuk kembali berekting seolah tidak terjadi masalah apa-apa


antara aku mama dan juga Nasya.


Namun aku tetap berusaha untuk melawan segala gejolak yang timbul dalam jiwaku saat ini. Ku


beranikan diriku untuk melangkah pulang. Aku berharap semoga tidak akan terjadi apa-apa. Dan


aku harus siap menghadapi segala kemungkinan apa pun yang akan terjadi dirumah nanti.


Sebelum sampai didepan pintu rumah aku berusaha untuk mengatur keluar masuk  nafasku. Ku


atur juga mood dan perasaan serta raut wajahku. Aku berharap masalah ini bisa kusembunyikan


paling tidak didepan nenek dan juga Dina. Kalau bisa mereka jangan sampai mengetahui


permasalahanku. Kuketuk pintu dan menekan bell. Setelah dua kali kuulangi kemudian pintu


terbuka dan ternyata Dina yang membukakan pintu untukku. Aku mengucapkan salam untuknya


dan dia membalas salamku.

__ADS_1


"


Assalamualaikum Din."


"Iya Waalaikumsalam Ai, kamu baru pulang?" Tanya Dina.


"Iya Din." Jawabku singkat.


Kemudian Dina melangkah lebih dulu dihadapanku, setelah meleas sepatuku aku juga melangkah


mengikuti Dina, tapi saat aku hendak menuju kekamarku tiba-tiba saja mama keluar dari arah


dapur bersama dengan Nasya yang juga keluar dari kamarnya.


"Hai Aini kamu sudah pulang?" Nasya bertanya padaku dengan nada yang kurasakan pedas


ditelingaku.


"Iya Nas." Jawabku.


wajah mereka.


Aku hanya bisa tertunduk dan tak berani lagi berkata-kata. Lalu mama melangkah semakin dekat


kearahku. Dan mama melakukan  sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga sebelumnya.


Mama menjambak rambutku menariknya hingga wajahku menghadap tepat didepan wajahnya.


"


Aww.. Sakit ma..!" Aku meringis kesakitan karena jambakan mama terasa begitu kuat.


"


Apa sakit?" Tanya mama dengan nada sinis dan matanya melotot kearahku serta ia menarik lebih


kencang lagi rambutku yang memang sedang berada digenggamannya.


ramvutku seperti ini meski sebenarnya aku tahu.


"Dasar kamu gadis kampung tidak tagu malu. Dimana rasa terimakasihmu kepadaku? Kamu


sengaja ya mau memanfaatkan kebaikan yang selama ini aku dan keluargaku berikan?" Kata


mama dengan nada marah yang semakin meninggi. Mama melepas jambakannya dengan


kerashingga membuat kepalaku seolah melayang kearah depan.


"Maaf ma, sekali lagi maafkan Aini ma..!" Aku mencoba untuk memohon pada mama.


"


Apa maaf? Enak saja kamu minta maaf." Mama kembali menggertakku.


Kemudian Nasya juga datang menghampiriku dari samping, ia menyentuh pipiku hingga membuat


wajahku berputar kearahnya dan bertatatapan mata dengannya.


"Heh.. dasar kamu tidak tahu diri." Kata Nasya padaku, dan kemudian.


Plakkk..


Nasya menampar pipiku.


Seketika itu juga tangiskupun pecah. Aku tak mampu lagi untuk membemdungnya. Lalu tanpa


kusadari ternyata nenek dan Dina juga menyaksikan apa yang tengah terjadi diantara aku mama

__ADS_1


dan Nasya.


"


Ada apa ini Tri?" Tanya nenek dengan nada khawatir.


Aku yang masih menyentuh pipiku yang terasa panas karena tamparan Nasya tadi spontan melihat


kearah nenek. Air mataku spintan mengalir tak bisa lagi aku bendung. Tangisku pecah. Aku berlari


memeluk nenek.


"Neneek.. maafkan Aini nek." Aku terisak dalam pelukan nenek.


"


Ada masalah apa sebenarnya?" Tanya nenek.


" Ibu harus tahu siapa dia. Dia itu penipu bu. Dia memanfaatkan kebaikan kita untuk mendekati


Farenzy." Kata mama sambil memaki ku.


"Nggak nek, semua ini tidak seperti itu. Aku sama sekali tidak tahu kalau Farenzy adalah putra dari


mama dan papa." Jelasku.


"Bohong..! Jangan percaya omongannya bu..!" Bentak mama.


"Dasar penji*at..!" Teriak Nasya ditelingaku.


"Diam..diam..diam...!" Nenek berteriak membuat suasana rumah menjadi hening sesaat.


" Ayo sini kalian semua duduk.. ceritakan baik-baik apa sebenarnya yang sudah terjadi sehingga


membuat keributan seperti ini?" Nenek bertanya sambil mengelilingkan pandangannya kepada


aku, mama, Nasya dan juga dina secara bergantian.


Kami mengikuti apa yang tadi nenek perintahkan. Aku memilih duduk didekat Dina dan nenek.


Sementara mama dan Nasya duduk di sofa yang berhadapan dengan kami. Lalu nenek kembali


menengahi keributan antara kaminyang tadi terjadi.


"Tri ayo sekarang kamu dulu yang bercerita. Tolong ceritakan semua masalah yang telah terjadi."


Pinta nenek kepada mama.


"Iya bu. Jadi begini bu, selama ini kita sudah menerima Aini sebagai keluarga kita khususnya saya


sendiri. Bahkan dengan kelapangan hati saya mengangkat Aini sebagai anak saya dan Syaeful.


Bukan lagi sebagai asisten melainkan anak. Kita telah memberikan semua yang terbaik untuk Aini.


Tapi ternyata Aini telah memanfaatkan kebaikan yang kita sekeluarga berikan untuknya. Aini malah


menggoda dan merayu cucumu Farenzy hingga mereka menjalin hubungan pacaran secara diam-


diam. Tentunya ini adalah sebuah rencana licik darinya dan saya sendiri menolak atas hubungan


percintaan yang terjalin antara putraku dengan perempuan kamp*ngan ini." Tutur mama panjang


lebar pada nenek dan dihadapan kami semua.


Aku benar-benar tersentak mendengar penururan dari mama tersebut. Begitu hina dan rendahnya


dia menyebutku. Ku beranikan diri untuk mengangkat kepalaku dan menatap ke arah mama yang

__ADS_1


saat itu sedang menatap tajam kearahku hingga pandangan kami beradu.


Bersambung..


__ADS_2