
Pov. Aini
Sejujurnya aku bingung setelah kejadian dikantin siang tadi, apa yang harus aku lakukan. Aku
merasa bersalah pada mama dan juga Nasya. Karena walau bagaimana pun merekalah yang
selama ini telah memberiku perlindungan di tanah rantauan ini. Saat waktu pulang kantor tiba aku
semakin merasakan berbagaimacam perasaan yang berkecamuk luar biasa. Aku tak henti-hentinya
menyalahkan diriku sendiri.
Andaikan aku tidak memberitahu Farenzy tentang rencana mama dan juga Nasya mungkin tidak
akan terjadi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang selanjutnyanakan terjadi. Aku seolah
sepertinkacang lupa kulit, keindahan cinta yang telah membutakan hatiku. Aku bersalah karena
terlalu cepat percaya pada orang yang bahkan sama sekali tidak aku kenal hingga aku menjadi
ssbodoh ini.
Karena kebodohanku aku kehilangan kepercayaan yang dulu tidak mudah untuk aku dapatkan.
Dengan masih diselimuti perasaan bimbang aku melangkahkan kakiku yang seolah terasa semakin
berat karena perasaan bersalah yang menumpuk dihatiku. Namun aku harus tetap pulang kerumah
itu. Aku tahu mama pasti sangat marah padaku dan akubtak tahu nanti dirumah akan seperti apa
lagi sikap dan tidakan mama yang akan aku hadapi.
Tapi papa, nenek dan juga Dina mungkin mereka belum tahu apa-apa dengan masalah pelik yang
kini sedang aku hadapi. Bagaimana aku akan menceritakan semua ininpada mereka khususnya
nenek. Lalu nanti setelah mereka tahu apa juga reaksi mereka terhadap diriku.
Aku dan Farenzy sudah sepakat untuk sore ini aku pulang sendiri dulu dengan menggunakan
kendaraan umum supaya mama dan Nasya tidak bertambah emosi. Kata Farenzy ini demi
keselamatanku, dan aku pun menerima usulnya ini karena aku pikir ini adalah benar. Tapi entah
mengapa hatiku seolah terasa begitu berat untuk pulang dan berjumpa kembali dengan mereka.
Aku sepertinya tidak akan sanggup untuk kembali berekting seolah tidak terjadi masalah apa-apa
antara aku mama dan juga Nasya.
Namun aku tetap berusaha untuk melawan segala gejolak yang timbul dalam jiwaku saat ini. Ku
beranikan diriku untuk melangkah pulang. Aku berharap semoga tidak akan terjadi apa-apa. Dan
aku harus siap menghadapi segala kemungkinan apa pun yang akan terjadi dirumah nanti.
Sebelum sampai didepan pintu rumah aku berusaha untuk mengatur keluar masuk nafasku. Ku
atur juga mood dan perasaan serta raut wajahku. Aku berharap masalah ini bisa kusembunyikan
paling tidak didepan nenek dan juga Dina. Kalau bisa mereka jangan sampai mengetahui
permasalahanku. Kuketuk pintu dan menekan bell. Setelah dua kali kuulangi kemudian pintu
terbuka dan ternyata Dina yang membukakan pintu untukku. Aku mengucapkan salam untuknya
dan dia membalas salamku.
__ADS_1
"
Assalamualaikum Din."
"Iya Waalaikumsalam Ai, kamu baru pulang?" Tanya Dina.
"Iya Din." Jawabku singkat.
Kemudian Dina melangkah lebih dulu dihadapanku, setelah meleas sepatuku aku juga melangkah
mengikuti Dina, tapi saat aku hendak menuju kekamarku tiba-tiba saja mama keluar dari arah
dapur bersama dengan Nasya yang juga keluar dari kamarnya.
"Hai Aini kamu sudah pulang?" Nasya bertanya padaku dengan nada yang kurasakan pedas
ditelingaku.
"Iya Nas." Jawabku.
wajah mereka.
Aku hanya bisa tertunduk dan tak berani lagi berkata-kata. Lalu mama melangkah semakin dekat
kearahku. Dan mama melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga sebelumnya.
Mama menjambak rambutku menariknya hingga wajahku menghadap tepat didepan wajahnya.
"
Aww.. Sakit ma..!" Aku meringis kesakitan karena jambakan mama terasa begitu kuat.
"
Apa sakit?" Tanya mama dengan nada sinis dan matanya melotot kearahku serta ia menarik lebih
kencang lagi rambutku yang memang sedang berada digenggamannya.
ramvutku seperti ini meski sebenarnya aku tahu.
"Dasar kamu gadis kampung tidak tagu malu. Dimana rasa terimakasihmu kepadaku? Kamu
sengaja ya mau memanfaatkan kebaikan yang selama ini aku dan keluargaku berikan?" Kata
mama dengan nada marah yang semakin meninggi. Mama melepas jambakannya dengan
kerashingga membuat kepalaku seolah melayang kearah depan.
"Maaf ma, sekali lagi maafkan Aini ma..!" Aku mencoba untuk memohon pada mama.
"
Apa maaf? Enak saja kamu minta maaf." Mama kembali menggertakku.
Kemudian Nasya juga datang menghampiriku dari samping, ia menyentuh pipiku hingga membuat
wajahku berputar kearahnya dan bertatatapan mata dengannya.
"Heh.. dasar kamu tidak tahu diri." Kata Nasya padaku, dan kemudian.
Plakkk..
Nasya menampar pipiku.
Seketika itu juga tangiskupun pecah. Aku tak mampu lagi untuk membemdungnya. Lalu tanpa
kusadari ternyata nenek dan Dina juga menyaksikan apa yang tengah terjadi diantara aku mama
__ADS_1
dan Nasya.
"
Ada apa ini Tri?" Tanya nenek dengan nada khawatir.
Aku yang masih menyentuh pipiku yang terasa panas karena tamparan Nasya tadi spontan melihat
kearah nenek. Air mataku spintan mengalir tak bisa lagi aku bendung. Tangisku pecah. Aku berlari
memeluk nenek.
"Neneek.. maafkan Aini nek." Aku terisak dalam pelukan nenek.
"
Ada masalah apa sebenarnya?" Tanya nenek.
" Ibu harus tahu siapa dia. Dia itu penipu bu. Dia memanfaatkan kebaikan kita untuk mendekati
Farenzy." Kata mama sambil memaki ku.
"Nggak nek, semua ini tidak seperti itu. Aku sama sekali tidak tahu kalau Farenzy adalah putra dari
mama dan papa." Jelasku.
"Bohong..! Jangan percaya omongannya bu..!" Bentak mama.
"Dasar penji*at..!" Teriak Nasya ditelingaku.
"Diam..diam..diam...!" Nenek berteriak membuat suasana rumah menjadi hening sesaat.
" Ayo sini kalian semua duduk.. ceritakan baik-baik apa sebenarnya yang sudah terjadi sehingga
membuat keributan seperti ini?" Nenek bertanya sambil mengelilingkan pandangannya kepada
aku, mama, Nasya dan juga dina secara bergantian.
Kami mengikuti apa yang tadi nenek perintahkan. Aku memilih duduk didekat Dina dan nenek.
Sementara mama dan Nasya duduk di sofa yang berhadapan dengan kami. Lalu nenek kembali
menengahi keributan antara kaminyang tadi terjadi.
"Tri ayo sekarang kamu dulu yang bercerita. Tolong ceritakan semua masalah yang telah terjadi."
Pinta nenek kepada mama.
"Iya bu. Jadi begini bu, selama ini kita sudah menerima Aini sebagai keluarga kita khususnya saya
sendiri. Bahkan dengan kelapangan hati saya mengangkat Aini sebagai anak saya dan Syaeful.
Bukan lagi sebagai asisten melainkan anak. Kita telah memberikan semua yang terbaik untuk Aini.
Tapi ternyata Aini telah memanfaatkan kebaikan yang kita sekeluarga berikan untuknya. Aini malah
menggoda dan merayu cucumu Farenzy hingga mereka menjalin hubungan pacaran secara diam-
diam. Tentunya ini adalah sebuah rencana licik darinya dan saya sendiri menolak atas hubungan
percintaan yang terjalin antara putraku dengan perempuan kamp*ngan ini." Tutur mama panjang
lebar pada nenek dan dihadapan kami semua.
Aku benar-benar tersentak mendengar penururan dari mama tersebut. Begitu hina dan rendahnya
dia menyebutku. Ku beranikan diri untuk mengangkat kepalaku dan menatap ke arah mama yang
__ADS_1
saat itu sedang menatap tajam kearahku hingga pandangan kami beradu.
Bersambung..