
Pov. Bu Tri
Semula aku mengira apa yang sudah aku dan putriku Nasya rencanakan akan berjalan mulus dan lancar, tapi ternyata diluar dugaan semua itu gagal total tanpa hasil sama sekali. Aku benar-benar merasa sangat kesal sekali dengan apa yang baru saja terjadi. Semula aku dan puteiku berniat untuk menjebak Aini tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku dan putrikulah yang terjebak.
Entah siapa yang memberi tahu Farenzy anak laki-laki ku sehingga ia bisa tahu akan semua rencana yang sudah matang kubuat bersama Nasya. Atau apa mungkin Aini yang memberitahunya, tapi Aini bagaimana bisa tahu akan rencana kami itu. Karena aku yakin betul bahwa tidak ada yang tahu selain hanya aku dan Nasya saja. Kalau Nasya yang memberi tahunya aku rasa itu sama sekali tidak mungkin. Lalu bagaimana ini semua bisa terjadi, semua masih menjadi teka-teki dan PR untukku. Dan aku harus memecahkannya sendiri. Aku harus mencari tahu sendiri bagaimana rencana ini bisa bocor bahkan sampai putraku Farenzy tahu.
Setelah merasa ada sesuatu yang tidak beres sehingga rencanaku dan Nasya bisa gagal aku berpikir keras untuk bagaimana mencari tahu jalan keluarnya supaya bisa tahu siapa biang dari kebocoran ini. Saat ini aku berencana untuk menyelidi Ibuku dan Dina orang yang ada di rumah malam itu selain aku dan Nasya juga Aini. Pertama aku harus mendatangi Ibuku lalu jika belum menemui titik terangnya maka aku akan menemui Dina dan menyelidikinya.
"Assalamualaikum bu.."sapaku pada ibu.
"Waalaikumsalam Tri, ada apa nduk?" Tanya ibu.
"Ah, nggak ada apa-apa bu. Tri cuma kangen saja sudah beberapa hari ini tidak bercengkrama dengan ibu." Aku berpura-pura pada ibu.
"Owh.. sini temani ibu, kebetulan ibu sedang minum teh hangat. Kamu tidak minum?" Ibu menyeruput teh yang ada didalam gelas kecilnya.
"Ah, tidak bu. Tri belum pengen minum teh. Oya bu tadi malam apa ibu nyenyak tidurnya?" Aku mulai menyelidiki Ibu.
"Owhh.. iya Alhdulillah ibu sangat nyenyak sekali begitu masuk kamar ibu langsung tidur karena memang sudah sangat ngantuk." Jawab Ibu.
"Apa ibu pernah bangun lagi setelah itu? Emm.. mungkin kekamar mandi atau hanya sekedar melihat jam saja?" Tanyaku lagi.
"Sepertinya tidak juga. Ibu bablas tidur nyenyak sampai pagi nduk." Tegas ibuku.
Aku hanya mengangguk, laluengalihkan pembicaraan seputaran kemajuan perusahaan yang telah tercapai selama ini. Dari sini aku yakin kalau orang yang membocorkan rencanaku dan Nasya bukanlah Ibuku. Lalu siapa?. Entahlah aku akan menyelidiki Dina. Mungkin saja Dina, atau setidaknya mungkin aku akan mendapat informasi tambahan dari Dina.
__ADS_1
"Assalamualaikum Din." Sapaku pada Dina.
"Eh.. iya Waalaikumsalam bu..!" Jawab Dina.
"Sedang apa kamu dari tadi kok didapur saja." Aku mulai mengajaknya bercengkrama dengan gaya santai supaya ia tidak merasa curiga dengan apa yang sebenarnya menjadi tujuanku.
"Ah tidak bu, ini saya baru selesai membersihkan peralatan dapur yang tadi sudah saya pakai untuk memasak." Jawab Dina.
"Owh.. kalau begitu apa saat ini kamu merasa terganggu oleh ku?" Aku tersenyum pertanda kata-kataku tadi hanyalah sebuah gurauan saja sehingga ia tidak merasa tegang.
"Ah ibu, ya tidaklah bu." Jawab Dina lagi.
"Oya Din tadi malam saya kurang enak badan sehingga kurang tidur. Mau membangunkan kamu untuk meminta kamu memijitiku tapi khawatir malah mengganggu tidur kamu saja." Aku berpura-pura pada Dina.
"Kamu sendiir apa tadi malam nyenyak tidurmu Din?" Aku mulai menyelidiki Dina.
"Iya bu, malah setelah sholat Isya saya merasa sangat ngantuk dan kudian langsung tidur. Bangun-bangun pas waktu subuh saja bu." Terang Dina padaku.
"Owh.. apa kamu tidak pernah bangun sekalipun sesaat sesudah tidur Din?" Aku kembali bertanya pada Dina.
"Tidak bu. Memangnya ada apa ya bu?" Dina bertanya balik padaku.
"Ah, tidak ada apa-apa. Kalau begitu untung saya tidak bangunkan kalau saya bangunkan pasti tidurmu tidak akan sepulas itu." Elakku.
"Ah ibu bisa saja." Dina tersenyum.
__ADS_1
Dalam benak aku menyimpulkan kalau Dina juga bukan orang yang kucari. Dia dan Ibuku sama-sama tidak tahu tentang lercakapan antara aku dan Nasya tadi malam. Lalu kubiarkan Dina melanjutkan pekerjaannya dan aku pun berlalu pergi kekamarku. Teka-teki ini masih belum juga terpecahkan. Hatiku masih diluputi tanda tanya. Siapa orang yang memberi tahu Farenzy?. Aku belum juga menemukan jawabannya. Apa mungkin ada kecerobohan yang dilakukan putriku Nasya? Ataukah Aini sendiri yang mengetahui rencana yang aku dan Nasya buat tersebut.
Setelah kejadian tadi siang, aku merasa sangat benci dengan Aini. Bukan karena jebakanku gagal tapi karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ia berani bermesraan dengan putraku di tempat umum. Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan Aini dari kehidupan putraku. Tapi sebelum itu aku terlebih dahulu harus memberinya pelajaran keras supaya ia sadar siapa dirinya.
Tapi semenjak pulang tadi aku belum sempat lagi bertemu dengan Aini. Aku sama sekali tidak melihat kelabat bayangannya dirumah ini. Apa mungkin dia belum pulang karena takut dengan aku dan Nasya atau dia juga sedang mempersiapkan cara untuk membalas yang telah aku dan Nasya lakukan terhadapnya. Tapi aku tidak peduli apa pun yang akan ia lakukan kepada ku dan Nasya karena aku yakin dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Akan ku buat dia tak bisa berkutik lagi. Tinggal tunggu saja waktunya yang tepat. Aku akan mulai permainan dengannya.
Saat aku tengah asyik berpikir tentang Aini, tiba-tiba saja dia pulang. Dia menyapa semua orang yang ada dirumah tak terkecuali juga denganku seperti tak ada masalah apa-apa. Disini aku semakin bingung dengan sikap Aini. Apa sebenarnya yang akan ia lakukan. Dan sikapnya itu membuat aku semakin berpikir keras untuk menyingkirkannya dalam waktu secepat-cepatnya. Aku sudah muak dan tak tahan lagi melihat kehadirannya dirumah kami.
"Hai ma.. sedang apa ma?" Ia menyapaku.
"Eh.. iya ini sedang menunggumu." Jawabku.
"Wah.. Kebetulan sekali kalau begitu. Memangnya ada perlu apa mama sampai menunggu saya pulang?" Tanya Aini kembali, seolah ia tak bersalah. Dan aku semakin kesal dibuatnya.
"Ada masalah yang harus kita selesaikan." Jawabku dengan nada sedkit meninggi.
"Oya? Masalah apa ya ma?" Aini kembali mengajukan pertanyaan padaku.
"Sana bersihkan dulu badanmu setelah itu temui mama di balkon." Pintaku sambil berusaha menutupi kekesalankubkepada Aini dihadapan Ibuku dan juga Dina.
"Baiklah ma kalau begitu." Jawabnya lagi.
Kemudian Aini berlalu meninggalkanku yang masih mentimpan rasa kesal tak terhingga dihatiku. Akan ku lampiaskan semua api kemaragan yang membara ini pada Aini sebentar lagi. Dan tifak ada yang bisa untuk menghalangiku.
Bersambung...
__ADS_1