Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part.29. Hanya demi sebuah keutuhan keluarga?


__ADS_3

Pov.Bu Tri


Aku menunggu suami ku selesai meeting, rasanya detik demi detik terasa berjalan sangat lambat. Dengan nafas yang naik turun dan emisi yang memuncak ku genggam erat flashdisk yang tadi ku gunakan untuk menyimpan rekaman dari cctv. Tiga puluh menit lebih aku menunggunya dan akhirnya terdengar derap langkah beberapa orang keluar dari ruangan suamiku. Meteengnya sudah selesai. Bisik ku dalam hati. Aku segera menemui suamiku diruang kerjanya. Aku menggetok pintunya. Lalu terdengar suara suamiku mempersilahkan masuk. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka pintu tersebut.


"Ah, mama ada apa lagi ma?" Tanya suamiku seolah tanpa salah sedikit pun.


" Mama mau bicara pa."


"Sialahkan, mama mau bicara apa?"


"Papa harus jujur sama mama, apa hubungan papa dengan Lina Wong sekreraris papa itu?"


"Emm..hubungan yang bagaimana ya maksud mama?"


"Papa nggak usah mengelak lagi pa, mama punya bukti perselingkuhan papa dengan Lina."


"Bukti apa?, Mana barang buktinya kalau benar mama punya bukti?"


Aku langsung menarik lengan suamiku dan membuka lap top, lalu membuka file isi rekaman cctv tadi yang sudah aku copy. Lalu aku mulai menjelaskan tentang apa yang aku ketahui.


"Pa, apa papa tadi tidak sadar, sewaktu papa berjalan mesra dengannya sedangkan mama ada didalam mobil tepat didepan kalian?"


"Maksud mama, mama melihat akubdan Lina berjalan dimana?"


"Keluar dari swalayan, dan menuju parkiran."

__ADS_1


"Apa mama yakin? Sedangkan dari tadi papa berangkat dari rumah langsung menuju kantor. Lalu bendahara memberi tahukan papa bahwa sekretaris Lina Wong hari ini tidak masuk kantor sedangkan masih banyak jadwal meeting hari ini dengan beberapa klien. Jadi papa terpaksa menggantikan Lina untuk mengisi meeting perusahaan kita hati ini. Sudahlah ma, mama nggak usah berpikiran kotor tentang papa. Selama ini papa selalu menjaga kesetian papa hanya untuk mama."


"Owh.. jadi begitu? Tapi dengan bukti rekaman cctv ini papa tidak bisa mengelak lagi."


Lalu aku segera menghadapkan posisi laptop kearah suamiku.


"Ini pa, pada menit dan detik ini papa terlihat keluar dari ruangan papa dan menuju ke ruangan dapur. Dari ruangan dapur ini papa keluar menuju jalan raya melalui pintu belakang yang ada di sebelah pojok ruangan dapur ini. Di bagian ini mememang tadak terpasang cctv, tapi mama tahu betul kalau kelanjutan dari pintu tersevut adalah langsung menuju ke jalan raya. Dan dari rekaman pertama ini ada lagi rekaman kedua kelanjutannya. Berjarak empat puluh menitan dari rekaman cctv yang menunjukan kepergian papa melalui pintu belakang tadi. Ini coba lihat ini pa..! Papa masuk lagi dari arah pintu tersebut setelah lebih dari empat puluh menit. Baru papa kembali ke dalam ruangan papa."


"Lalu apa hubungannya ma, papa keluar itu ya memang betul tapi papa keluar untuk mencari makanan. Karena papa lapar."


"Bohong..! Tadi dengan jelas mama melihat papa berjalan di area parkiran swalayan itu dengan bergandengan mesra bersama Lina Wong. Mama mengikuti kalian pa, tapi lalu mama kehilangan jejak karena lampu merah yang menyala."


"Silahkan mama tanya dengan semua sekurity dan seluruh karyawan disini kalau mama tidak percaya dengan papa."


"Untuk apa lagi mama tanyakan, sementara semuanya sudah jelas. Semua scurity dan karyawan tidak ada yang tahu kalau tadi papa telah keluar selama itu. Karena papa keluar melalui pintu belakang dan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya."


"Owh.. begitu? Lalu siapa yang tadi mama lihat di area parkiran swalayan itu kalau bukan papa?"


"Mana papa tahu. Mungkin saja orang lain yang sedang bersama dengan Lina dan itu mungkin berpakaian sama dengan papa sehingga mama mengira bahwa itu adalah papa. Sudah cukup ma..! Lina juga mungkin diluar sana mempunyai pasangan. Mama jangan bawa-bawa cemburu buta mama itu pada Lina. Lina sama sekali tidak bersalah dsn tidak tahu apa-apa."


Sejenak aku ternganga mendengar pembelaan suamikubitu untuk sekretaris barunya tersebut.


"Apa? Papa membela dia?"


"Iya papa membela dia karena memang dia tidak bersalah."

__ADS_1


"Pa..!"


"Apa lagi ma?"


"Tidak ada gunanya berdebat karena kecemburuan buta mama itu. Ini kantor ma.. jadi toling kita profesional, jangan bahas masalah rumah tangga kita disini."


"Apa papa bilang profesional? Kenapa baru sekarang?"


"Ah... Sudah sudah..cukup ma..! Yang jelas papa tidak melakukan apa-apa dan tidak punya hubungan apa-apa dengan Lina Wong. Sedangkan rekaman cctv yang mama sebut-sebut sebagai barang bukti itu sama sekali tidak falit."


"Nggak pa, mama mau kita selesaikan masalah ini sekarang. Disini..! Terserah papa mau bilang mama tidak profesional tidak apa-apa, mama tidak mau masalah kita sampai diketahui anak-anak."


"Apa lagi yang harus diselesaikan. Semua sudah selesai ma. Dan jawabannya apa yang mama sampaikan itu tidak benar.. itu hanya ilusi mama saja. Sekarang bagaimana, apa sudah puas? Papa minta maaf kalau papa sudah membentak mama, tapi itu papa lakulan supaya mama jangan berpikiran yang macam-macam lagi. Lain kali kalau mau ngasih barang bukti itu harus yang jelas dan pasti pas menuju pada sasaran pembicaraan. Jangan hanya setengah-setengah seperti rekaman cctv itu."


Aku hanya diam, dan tidak menanggapi sedikitpun lagi pembicaraannya. Karena aku pikir percuma saja. Semua pasti tidak akan menemui hasil. Karena memang benar hanya bukti rekaman cctv itulah yang aku punya saat ini. Tapi aku berjanji kalau sampai terulang lagi akan aku kumpulkan bukti yang sebanyak-banyaknya. Dan aku pastikan perpisahan pasti akan terjadi jika sampai aku menemukan barang bukti yangblebih akurat untuk perselingkuhan suamiku ini. Baiklah, untuk saat ini aku menerima kekalahanku. Tapi bukan bersrti aku menyerah, tidak.


"Sekarang terserah mama masih mau percaya papa atau tidak, yang jelas lakukanlah yang terbaik demi rumah tangga kita."


"Jangan hanya selalu menuntut mama untuk melakukan yang terbaik untuk rumah tangga kita pa, tapi papa juga harus melakukannya juga."


Kemudian aku keluar ruangan suamiku dan berlari menuju keluar kantor. Mungkin beberapa karyawan kami yang bepapasan dengan kuerasa heran dengan apa yang nampak padaku saat ini. Sesampai diluar kantor aku langsung menuju parkiran, lalu ku buka pintu mobilku. Aku masuk mobil dan menangis sejadi-jadinya didepan stir mobil. Ku tutupi wajahku dengan kedua tangan.


Tuhan..! Lelah rasanya aku mengahadapi kenyataan yang ada saat ini. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Harus sampai kapankah aku berpura-pura bahagia menjalani rumah tangga ini. Terutama didepan ibuku, dan juga kedua anak ku. Didepan mereka semua selalu seolah semua tak ada masalah apa-apa antara aku dan suamiku. Padahal jauh di lubuk hatiku tak henti-hentinya menjerit. Aku menangis sepanjang hari dan malam tanpa seorang pun yang tahu.


Ya, tak ada lagi alasan lain, selain seperti yang tadi suamiku pinta. Yaitu melakukan semuanya hanya demi sebuah keutuhan rumah tangga.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2