
Pov. Pak Saeful
Malam ini giliran aku dan Tri isteriku yang menjaga dan menemani Aini asisten kami yang kemaren telah mengalami kecelakaan saat gempa bumi mengguncang tanah Hong Kong ini. Sebenarnya aku sangat keberatan melakukan ini. Tapi isteriku sama sekali tidak mau peduli. Aku bukan kebertan untuk menjaga Aini, tapi aku keberatan menjaga Aini berasama dengan isteriku. Akhir-akhir ini entah kenapa aku merasa sepertinya aku sudah tidak cocok lagi dengan Tri. Dia semakin hari semakin membosankan.
Dan hanya saat di kantorlah aku bisa merasa bahagia. Terutama semenjak kedatangan sekretaris baruku. Dia wanita muda yang sangat mempesona. Penampilannya, gaya bucaranya, dan semua yang ada padanya benar-benar mampu membuatku mereasa nyaman. Namanya Lina Wong. Dan tadinya aku harapkan bisa menjaga Aini dirumah sakit ini bersama dengannya, atau paling tidak aku bisa menelphone nya sepanjang malam. Tapi ternyata tidak bisa karena Tri ngotot untuk ikut bersamaku malam ini. Dan ini yang membuatku merasa semakin kesal.
Setelah anak kami Farenzy pamit pulang dan tinggallah aku dan Tri bersama Aini. Bosan melai menyerang kepala dan hatiku.
"Pa, kita beli makan dulu yuk.. dari tadi papa belum makan." Tri membujuk ku.
Aku hanya diam, malas untuk menjawab ajakannya.
"Pa, ayuk kita makan dulu." Ajaknya lagi.
"Papa masih belum lapar ma.." Jawabku ketus.
Kemudian dokter datang memeriksa Aini. Dan dokter itu menyarankan supaya hanya boleh satu orang saja yang ada dalam ruangan perawatan Aini.
"Gimana ini pa? Siapa yang akan menjaga Aini dalam ruangan ini?" Tanya Tri padaku.
__ADS_1
"Ya sudah mama saja, kan mama sesama perempuan Aini akan lebih leluasa kalau dengan mama. Biar papa tunggu duluar saja." Kataku pada Tri.
Hemmm.. Syukurlah aku jadi punya kesempatan untuk menelpon Lina, pikirku. Memang ini yang aku tunggu-tunggu. Ah.. kalau rejeki tak akan kemana. Aku keluar ruangan itu dengan hati yang lega.
***
Sebenarnya hubungan ku dengan Trihapsah yang kini menjadi isteri ku dan ibu dari anak-anak ku dulu bermula sangat indah. Awalnya kami adalah sama-sama Mahasiswa/i pertukaran antar negara. Kami bertemu di Den Haag Belanda. Saat itu aku adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi perwakilan dari negara asalku yaitu Turki. Sedangkan Trihapsah adalah Mahasiswi Fakultas Bisnis, ia perwakilan dari negara asalnya yaitu Indonesia. Kami berkesempatan bersama selama dua semester. Asrama kami juga tidak berjauhan.
Kami sering berjumpa dalam setiap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Leiden University College, Universitas yang menerima pertukaran Mahasiswa dari berbagai negara seperti kami saat itu. Kami mengamalami kisah percintaan yang sangat indah, dimana kami saling mendukung dalam segala hal. Baik yang berkaitan dengan study kami masing-masing maupun pertemanan, bisnis, dan kegiatan-kegiatan sosial.
Hingga akhirnya tiba waktunya kami harus kembali ke negara kami masing-masing. Aku dan kawan-kawanku pulang ke negara asal kami Turki begitu pun dengan Tri dan kawan-kawannya. Mereka pulang ke negara asal mereka Indonesia. Namun hubungan ku dengan Tri tetap berlanjut hingga kami sama-sama menyelsaikan study kami. Meski dengan jarak ribuan kilometer namun tak pernah bisa memisahkan cinta kami. Hingga suatu hari aku menjemput Tri untuk mengenalkannya dengan keluargaku di Turki.
Lalu pada hari yang sudah sama-sama disepakati kami datang ke indonesia untuk melamarnya. Kemudian dengan jarak waktu yang tak begiti lama pula kami meresmikan hubungan kami dengan tali pernikahan. Dan itu berlangsung hingga kami dikaruniai dua orang anak putra dan putri, hingga sekarang anak-anak kamk sudah dewasa.
Dalam perjalanan rumah tangga kami sebenarnya tidak terlalu banyak aral melintang. Rumah tangga kami nyaris berjalan mulus selama lebih dari tiga puluh tahun.
Namun entah kenapa tahun-tahun terakhir ini aku sering merasa bosan dengan Tri. Sebenarnya aku juga tidak terlalu paham apa alasan kebosanan ku ini. Dan untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan serta kejengkelan ku dengan Tri. Aku mencoba untuk mendekati beberapa wanita muda yang kurasa jauh lebih menarik dari pada Tri isteriku sendiri. Dan ternyata itu benar. Aku bisa lebih merasa bahagia dan bersemangat saat aku memiliki hubungan dengan para wanita muda itu. Mungkin Tri pernah merasa curiga dengam sikap dan tingkah lakuku tapi aku tidak peduli. Aku hanya berusaha untuk menghilangkan kejenuhan dalam rumah tangga kami. Ku rasa itu lumrah.
Saat ini aku sedang menjalin hubungan gelap dengan sekretaris baru ku di kantor. Dan sepertinya baru kali ini aku menemukan wanita seperti Lina Wong. Di benar-benar wanita yang lembut dan menarik. Dia sangat pandai dalam memuaskan segala hasrat ku. Dia sangat cerdas dia tahu apa yang aku mau tanpa harus aku beri tahu terlebih dahulu.
__ADS_1
Tentang kehambaran cinta dalam hubungan rumah tangga ku dengan Tri yang kini ku rasa tak ada seorang pun yang tahu. Bahkan Tri sendiri dia tkdak pernah secara jelas ku beri tahu. Aku sengaja masih merahasiakannya karena aku masih memikirkan bagaimana sikap dan perasaan kedua anak kami andai mereka tahu dengan apa yang sudah ku lakukan kepada ibu mereka. Aku masih berusaha bersandiwara sebaik mungkin di hadapan Tri dan anak-anak kami.
***
Ketika aku selesai menelpon Lina, sengaja aku mengintip Tri dan Aini dari balik pintu ruangan tersebut. Ternyata mereka berdua sedang tertidur pulas. Syukurlah, jadi tak perlu ada keributan atau pun pertengkaran dengan Tri. Sangkin asyiknya aku tadi menelpon Lina, hingga aku tak sadar kalau ternyata ini sudah lebih dari larut malam bahkan sudah dekat dengan waktu subuh. Pantas saja mata ku sudah mulai terasa berat. Lalu aku mencoba untuk membaringkan tubuh ku di kursi panjang yang ada didepan ruang perawatan Aini. Kemudian aku pun terlelap entah dalam waktu berapa lama. Yang ku tahu terbangun saat seorang petugas kebersihan rumah sakit mengepel lantai didekat tempat ku tertidur kemudian mungkin tanpa sengaja ia mengenai ujung kursi tersebut sehingga menimbulkan suara dentingan yang mengagetkan ku.
"Toi em cui, sin sang..!( Maaf tuan..!)" Katanya pada ku.
"Mo man thai.(tidak apa-apa)." Jawabku.
"Emkoi. (Terimakasih)." Katanya, dan ke.udian ia pergi ke sudut yang lain.
Aku bangun dan berdiri ku buka perlahan pintu ruangan perawatan Aini dan ternyata Tri sedang menyuapi Aini sarapan.
"Assalamualaikum.." Aku masuk kedalam ruangan itu.
"Waalaikumsalam.." jawab mereka berdua secara bebrsamaan.
"Pa, sebentar lagi kita akan pulang membawa Aini. Papa siapkan mobilnya ya." Pinta Tri padaku.
__ADS_1
Bersambung..