Cinta Made In Hong Kong

Cinta Made In Hong Kong
Part. 88. Pesona Si Pemuda Tampan


__ADS_3

Acara Isro' Mi'raj hampir saja dimulai, aku masih duduk di tempat tadi namun belum ada satu orang pun yang kukenal hadir sini. Dimana mereka? Bukankah kemarin Latifa mengatakan jika hari ini mereka akan pergi kesini juga. Tapi dimana? Tapi kemudian aku merasakan mulas disekitar perutku sehingga memaksaku untuk segera bangun dari tempat dudukku dan pergi mencari toilet. Aku berjalan dengan sedikit terburu-buru karena ingin segera sampai di tempat tujuanku sehingga aku tidak mempedulikan situasi disekelilingku saat ini.


"Assalamualaiku.." Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara seseorang yang memberi salam.


"awalaikumsalam.." Spontan saja aku menjawab lalu melihat kearah sumber suara yang tadi menyapaku.


Ternyata seorang laki-laki muda, tapi sepertinya dia adalah penduduk pribumi sangat nampak dari ciri fisiknya. Kulitnya yang terang, mata sipit, dan berambut hitam. Peria itu menyapaku dengan bahasa kantonisnya namun kareta rasa mules yang kian menguasai perutku sehingga aku tidak konsentrasi untuk memberikan jawaban padanya. Yang terpikir saat ini hanyalah secepatnyan sampai ditoilet, hanya itu saja.


Setelah sampai di toilet wanita aku langsung menunaikan hajatku. Lalu setelah selesai aku keluar dan berjalan kembali melalui jalan yang tadi ku lalui. Sebenarnya aku sudah lupa dengan seorang peria yang tadi menyapaku. Dengan santai aku berjalan lalu tiba-tiba seseorang menyapaku dengan bahasa kantonis. Sepertinya dia adalah peria yang sebelumnya menyapaku.


Orang ini menanyakan apakah aku sudah selesai dari toilet. Aku menjawab 'iya'. Lalu peria ini mengikuti dan hingga kami berjalan bersama. Ia mengatakan apakah aku orang baru disini, karena katanya dia baru pertama ini melihatku. Karena menurutnya dia gampir mengenal semua gadis muslim didaerah ini baik yang penduduk pribumi maupun yang pendatang.


Lalu aku mengatakan benar bahwa aku adalah orang baru disini. Dia bertanya apakah aku tinggal di asrama putri aku menjawab iya. Kemudian kami berpisah tepat didepan pintu masuk bagi wanita. Aku berpamitan untuk masuk dan kemudian aku tidak melihatnya lagi. Kemanakah dia? Mungkin saja dia telah membaur bersama ratusan peria lainnya di bagian sisi kiri tempat wanita.


Ah, sudahlah untuk apa aku memikirkan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Tapi jujur dia sangat tampan. Oh ya, aku sampai lupa mencari keberadaan teman-temanku. Kemudian aku sedikit bergeser lalu membiarkan pandanganku berkeliling merayap satu demi satu kedalam keramaian orang, tujuanku ialah agar aku bisa menemukan rombongan kawan-kawanku.


"Hussst...Husssttt...! Aini, Aini..!" Ada suara seseorang memanggilku tiba-tiba memaksaku untuk sedikit memutar badan serarus delapan ouluh derajat. Aku menoleh kearah belakang.


Oh, ternyata dia adalah Latifa. Kulihat Latifa duduk di barisan belakang dengan beberapa kawan kami. Latifa melambaikan tangan pertanda ia memintaku untuk berpindah tempat kearah mereka. Kemudian perlahan aku bangun dari dudukku dan bergeser ketempat dimana teman-temanku ada disana.


"Hei kami kira kamu tidak jadi datang. Tapi di Asrama kamarmu sudah tutup sejak pagi. Dari mana saja kamu Ai?" Latifa bertanya padaku dengan nada sedikit berbisik.

__ADS_1


"Eh, iya maaf tadi pagi aku pergi duluan." Jawabku.


"Waw... Semangat sekali kamu Ai." Latifa mengejekku dan diikuti oleh teman-teman yang lain.


"Memangnya ada siapa disini yang kamu kenal selain kami. Ada pacar mu?" Latifa kembali mencandaiku.


"Ah, kalian ini ada-ada saja. Apa kalian tahu kalau aku punya pacar? Apa aku pernah tidak terbuka dengan kalian?" Jawabku atas pertanyaan Latifa tadi tentunya dengan nada gurauan juga.


"Ya tidak sih, tapikan siapa tahu? Ya kan teman-teman." Lanjut Latifa dan kemudian kamipun tertawa bersama namun dengan nada tawa yang kami tahan karena acara sebentar lagi akan dimulai.


Kemudian beberapa saat setelah itu acarapun dimulai. Kami duduk dengan seksama menyaksikan susunan demi susunan acara. Sesekali pembawa acaranya mengganti bahasanya dengan bahasa ingris itu karena mungkin ia tahu bahwa yang hadir dalam acara ini tidak hanya mereka warga lokal namun juga banyak dari kalangan warga pendatang.


Hingga tibalah pada sebuah acara sambutan yaitu sambutan dari ketua pelaksana kegiatan Isro' Mi'raj ini. Dan betapa membuatku sedikit berdelik karena ternyata ketua pelaksananya adalah peria yang tadi menyapaku saat aku ketoilet.


Namum aku hanya bisa diam saja tanpa ekspresi dengan kata yang baru saja Latifa bisikan padaku itu. Ya, memang benar aku akui dia sangat tampan. Dan bahkan membuat mataku seolah tak bosan-bosan memandangnya. Dan yang membuat aku sedikit salah tingkah namun ku sembunyikan ialah aku lebih dahulubertemu dengannya bahkan tadi dialah yang lebih dahulu menyapaku. Tapi aku tidak mau memberi tahukan ini kepada teman-temanku karena percuma saja mereka tidak akan percaya jika ku katakan. Mereka pasri hanya akan menganggap aku sedang bercanda.


Hingga acara sambutannya selesai para peserta Majlis dalam masjid itu seketika riuh, terutama bagi yang wanita. Mereka memuji ketampanan peria yang menjadi ketua pelaksanaan acara ini. Tidak hanya kami yang merupakan pendatang, bahkan mereka yang juga warga lokal yang mungkin memang mengenal peria itu juga ikut memuji-muji ketampanannya.


Kemudia acara berlanjut hingga ketausiah agama dan penutup. Setelah selesai dari acara tersebut aku dan teman-temanku tidak langsung pulang. Kami bermain-main dahulu disekitaran Masjid Jamiya meski hanya sekedar untuk berpoto-poto. Tempat kami berpoto memang tidak terlalu dekat dengan Masjid Jamiya namun masih termasuk pelataran Masjid Jamiya. Kemudian Latifa dan dua orang teman kami berpamitan untuk membeli minuman. Sedangkan aku bersama dua orang teman kami yang lain tetap menunggu.


Aku duduk dikursi taman yang membelakangi Masjid Jamiya sedangkan teman-temanku masih asyik saj berpoto-poto. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mendekatiku.

__ADS_1


"Assalamualaikum..! Suara sapaan itu membuatku terpaksa harus sedikit memutar posisi tubuhku untuk melihat siapakah dia.


"Walaikumsalam.." Jawabku.


Ternyata dia lagi yang datang. Peria yang tadi menyampaikan kata sambutan. Dia yang katanya tadi adalah ketua pelaksana kegiatan. Dia yang tadi ketampanannya di puji oleh semua orang.


"Hai.. Miss, What are you doing ?" Ia bertanya padaku dalam bahasa ingris. Bukankah tadi pagi ia menyapaku dengan bahasa kantonis tapi sekarang mengapa ia menyapaku dengan bahasa ingris? Apa dia lupa jika tadi pagi kami telah bertemu? Ah, sudahlah biarkan saja mungkin benar dia lupa jika tadi pagi kami telah bertemu.


"Iam waiting for my friends." Jawabku.


"Oh, are you malay?" Dia kembali bertanya padaku.


"Yes, Iam malay." Jawabku.


"From Malaysia." Ia kembali bertanya.


"No isn Malaysia, but Iam fom Indonesia."


"Woow, Indonesia.." Ia seperti kagum saat aku mengatakan jika aku berasal dari Indonesia bukan dari malaysia.


Namun tiba-tiba teman-temanku datang menggerombol mendekatiku. Mereka serentak bertanya dia siapa. Dan bagaimana bisa aku mengobrol dengan peria setampan ini. Kemudian yang membuat aku sedikit merasa malu ialah teman-temanku meminta peria itu untuk berpoto dengan mereka satu persatu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2